
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
“Pergilah periksa serangan yang dipasang di tempat pesta. Laporkan kepadaku segera hal apa yang bisa kau lakukan, Mbah!” perintah Alma Fatara setelah Tampang Garang menyampaikan laporannya tentang perbuatan rahasia murid-murid Perguruan Bukit Dua.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam.
Clap!
Setelah menjura hormat, tiba-tiba Mbah Hitam menghilang begitu saja.
“Hamba mohon diri, Gusti Ratu!” ucap Tampang Garang pamit.
Di tempat pesta, rombongan Perkasa Rengkah dan kelima muridnya telah tiba. Perkasa Rengkah datang dengan sikap jumawanya sebagai orang tua yang terlihat masih gagah.
Clap!
Tiba-tiba Mbah Hitam muncul begitu saja di samping Penombak Manis. Kemunculan Mbah Hitam yang tiba-tiba itu membuat si pesek manis terkejut.
Mbah Hitam lalu memperhatikan area pesta itu. Ternyata dia bisa melihat sinar-sinar hijau samar yang bertebaran di tempat ramai itu.
“Apakah kau bisa melihat sinarnya, Mbah?” tanya Penombak Manis.
“Bisa,” jawab Mbah Hitam pelan dengan suara tuanya. “Aku harus memeriksanya lebih dulu.”
Clap!
Mbah Hitam kembali menghilang tiba-tiba.
Perhatian para tokoh yang terpusat kepada kedatangan Perkasa Rengkah, membuat mereka tidak mengetahui kemunculan Mbah Hitam.
Pada satu titik, tanpa terlihat oleh pandangan manusia biasa, Mbah Hitam memeriksa satu sinar hijau yang melekat pada tiang penyanggah tribun. Mbah Hitam mendekatkan telapak tangannya kepada sinar itu. Dengan begitu, Mbah Hitam bisa merasakan sifat dari tenaga sakti yang terkandung pada sinar-sinar itu.
Setelah itu, Mbah Hitam kembali menghilang, lalu muncul di belakang Penombak Manis, tapi ia tidak terlihat oleh mata biasa.
“Beri pesan kepada keamanan terlihat agar bersiap untuk menghadapi kekacauan, karena sinar-sinar itu bersifat menghancurkan. Kemungkinan sinar-sinar itu akan meledak jika diinginkan oleh pemiliknya,” kata Mbah Hitam dari belakang Penombak Manis.
“Baik,” ucap Penombak Manis tanpa menengok ke belakang lagi.
Setelah itu, Mbah Hitam telah pergi. Tidak berapa lama, giliran Tampang Garang yang datang kembali ke posnya, yaitu di sisi Penombak Manis. Namun, ia segera mendapat tugas untuk menyampaikan pesan kepada Galak Gigi agar pasukannya bersiap untuk kondisi yang kacau.
Sementara itu di Ruang Purnama, Kawal Rindu sedang menghadap Ratu Siluman ketika Mbah Hitam datang menghadap.
“Semua tamu undangan sudah datang, Gusti Ratu!” lapor Kawal Rindu.
“Baik. Lakukan pertunjukanmu, nanti aku akan muncul di panggung!” perintah Alma Fatara.
__ADS_1
“Hamba undur diri, Gusti Ratu!” izin Kawal Rindu.
“Lapor, Gusti Ratu. Sinar-sinar hijau yang dipasang di berbagai titik di tempat pesta menyimpan tenaga sakti yang siap meledak!” lapor Mbah Hitam.
“Berarti, jika sinar-sinar itu diledakkan, maka pesta kita akan kacau dan berantakan?” terka Alma Fatara.
“Benar, Gusti Ratu.”
“Apa yang bisa kau perbuat terhadap perangkap itu?” tanya Alma Fatara.
“Tidak ada, selain meledakkannya sebelum waktunya. Kita hanya bisa menghindari titik-titik yang ada sinar hijaunya. Namun masalahnya, hanya aku dan Penombak Manis yang bisa melihatnya, Gusti Ratu,” ujar Mbah Hitam.
Alma terdiam sejenak, ia sedang berpikir.
“Di tiang-tiang panggung juga ada beberapa sinar, yang jika meledak bisa menghancurkan tiang dan merubuhkan panggung,” kata Mbah Hitam menambahkan keterangan.
“Pesta ini memang diniatkan untuk kacau, jadi tidak masalah jika memang akan kacau. Namun, aku tidak menginginkan jika murid-murid perguruan ada yang tewas karena ledakan sinar-sinar hijau itu. Mbah Hitam, kau kembali ke pesta, lalu tandai setiap sinar hijau dengan menempelkan helaian janur di dekat sinar. Lalu kabarkan kepada Galak Gigi agar dia bisa mengatur murid-murid menjauhi tanda janur!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam. Ia pun kembali lenyap begitu saja seperti siluman.
“Ayo kita berangkat!” ajak Alma Fatara kepada keempat pengawal wanitanya.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serempak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pendek sambil berjalan biasa meninggalkan singgasananya. Lalu tanyanya kepada para pengawalnya, “Apakah kalian lebih suka di sini atau pergi berpetualang?”
“Berpetualang, Gusti Ratu!” jawab mereka kompak.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka.
“Sekaligus mencari jodoh. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa.
“Hihihi!” tawa para pengawal itu.
Di tempat pesta, Mbah Hitam bergerak cepat. Ia memotong-motong helaian janur lalu ia tempelkan di sisi sinar-sinar hijau yang akan menjadi bom waktu.
“Kakang Aliang, coba lihat sinar-sinar Jerat Telur Penghancur kita,” kata Desah Rindang kepada kakak seperguruannya.
Aliang Bowo pun segera memerhatikan sinar-sinar hijau yang mereka pasang di mana-mana. Mereka berdua melihat, di dekat sinar-sinar hijau milik mereka ada sehelai daun janur pendek yang menempel.
Seiring itu, terlihat jelas bahwa murid-murid Perguruan Bulan Emas dan Jari Hitam yang ramai di sisi bawah, bergerak menjauhi titik-titik yang ada sinar hijaunya.
“Apa yang terjadi?” tanya Galah Larut kepada Lelaki Tombak Petir. Ia melihat ada keanehan dari pergerakan murid-murid tuan rumah.
“Entahlah, sepertinya Jerat Gluduk memasang sesuatu yang tidak kita ketahui,” jawab Lelaki Tombak Petir.
Memang, sinar-sinar hijau yang dipasang oleh murid-murid Jerat Gluduk hanya bisa dilihat oleh Jerat Gluduk dan murid-muridnya sendiri, plus oleh Penombak Manis dan Mbah Hitam. Namun, Jerat Gluduk dan murid-muridnya tidak bisa melihat keberadaan Mbah Hitam, yang memang tidak mau menampakkan wujudnya saat memasang tanda janur.
__ADS_1
“Para tetua dan para guru sekalian, pertunjukan kali ini adalah pertunjukan ilmu langka, ilmu yang hanya dimiliki oleh beberapa tetua di perguruan ini, yaitu ilmu Bulan Kembar Empat!” teriak pembawa acara panggung, yang diperankan oleh Kepala Latih Perguruan Bulan Emas Tangkar Biawak. Lalu teriaknya lagi dengan penuh semangat, “Kesaktian ini akan diperagakan oleh Kepala Penjaga Lantai Tiga, Kawal Rinduuu!”
Tiba-tiba dari belakang panggung berkelebat terbang melayang dengan anggun, meski tanpa sayap dan ekor, wanita separuh baya berpakaian kuning indah. Dialah tetua wanita yang menjadi penyambut para tamu di gerbang utama perguruan, yakni Kawal Rindu.
Plok plok plok …!
Tepuk tangan gemuruh para hadirin menyambut kemunculan Kawal Rindu.
Dengan senyum lebar dan manis untuk wanita seusianya, Kawal Rindu menghormat ke arah panggung tamu.
“Aku pernah mendengar nama ilmu ini, tapi belum pernah melihatnya. Hahaha!” kata Kebo Pute kepada Jongkol Pedih yang duduk di sisi kanannya.
“Untuk urusan raga, kita memang tidak senasib. Namun untuk urusan ini, kita memang senasib. Hahaha!” kata Jongkol Pedih lalu tertawa kencang pula.
“Kalian memang tidak seberuntung aku!” sahut Setan Gagah.
“Kau pernah melihat ilmu itu?” tanya Jongkol Pedih.
“Tidak juga,” jawab Setan Gagah sambil tersenyum.
“Hahaha …!” meledaklah tawa Kebo Pute mendapati lelucon Setan Gagah, membuat Hantu Tiga Anak, Lelaki Tombak Petir dan Galah Larut yang duduk di ujung sana melirik sinis.
Sementara itu di panggung pertunjukan, Kawal Rindu telah melakukan gerakan-gerakan pembukaan sambil mengalirkan tenaga saktinya.
Tidak berapa lama, Kawal Rindu yang kini sudah tidak tersenyum, menghentakkan sepasang lengannya ke arah langit.
Sesss!
Tiba-tiba di atas kepala Kawal Rindu muncul empat bola sinar kuning agak menyilaukan mata, tapi masih bisa dilihat perwujudannya. Keempat bola sinar sebesar bola kaki itu membentuk formasi empat sudut, yang jika ditarik garis lurus ke setiap titiknya akan membentuk persegi empat sama sisi. Keempat bola sinar itu tidak menyebarkan radiasi panas atau dingin, biasa saja.
Mbeeek!
Suana tegang menyaksikan kesaktian Bulan Kembar Empat tiba-tiba dirusak oleh suara embikan kambing yang nyaring. Seketika mereka mencari tahu sumber suara kambing itu. Apakah itu benar-benar kambing atau kambing setan?
Ternyata memang benar-benar kambing. Dua orang murid Bulan Emas muncul dengan menggotong seekor kambing besar. Mereka lalu melompat bersamaan ke atas panggung dengan kambing tetap dalam bekapan yang kuat.
Kambing yang di lehernya ada tali panjang, lalu diikatkan pada pinggir panggung. Kemudian si kambing ditinggalkan. Kedua murid itu kembali melompat turun.
Mbeek! Mbeek!
“Hahaha …!” tawa sebagian tetua dan kebanyakan hadirin melihat adanya seekor kambing yang dipanggungkan.
Kawal Rindu lalu cepat menurunkan kedua tangannya, membuat empat bola sinar kuning itu turun mengurung si kambing yang panik.
Mbeeek!
Si kambing menjerit semakin panik. Namun tiba-tiba, si kambing berdiri diam mengejang dengan bulu-bulu berdiri. Nasib apa yang akan dialami oleh si kambing? (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.