Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 4: Main Kereta-keretaan


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Belik Ludah membuka tambatan tali kekang kuda pada palang kayu yang memang dikhususkan sebagai tempat mengikat tali kuda pengunjung. Sementara Juling Jitu duduk di tempat kusir, di belakang dua kuda penarik kereta. Ia sudah memegang tali kekang dan pecut.


“Murai Ranum! Apakah kau ingin menjadi putri raja?” teriak Juling Jitu kepada Murai Ranum di antara para wanita yang sudah menyelesaikan makan buburnya.


Cukup terkejut Murai Ranum dipanggil oleh Juling Jitu. Ia seketika tersenyum lebar. Ia mengerti apa maunya lelaki suami Penombak Manis itu.


“Hihihi!” tawa genit Murai Ranum.


Gadis cantik pesolek itu segera berjalan melenggak-lenggok seperti burung unta yang membanggakan dirinya ketika sedang melenggang. Sambil tertawa senang, Murai Ranum naik ke atas kursi bagus di bak terbuka kereta kuda berwarna hitam itu.


“Kakang Arung Seto, ayo ikut!” teriak Juling Jitu lagi memanggil kembaran angkatnya.


“Baik!” sahut Arung Seto seraya tersenyum. Karena itu adalah sekedar dagelan, makanya dia mau saja untuk ikut naik ke kereta kuda tersebut.


“Eit! Tidak boleh, Kakang!” seru Nining Pelangi sambil mencekal lengan kanan Arung Seto. “Tidak akan aku biarkan Kakang duduk bersama burung pemangsa itu!”


“Hihihi!” tawa sebagian wanita yang melihat kecemburuan Nining Pelangi.


“Hahaha! Biar aku saja!” teriak Gede Angin girang sambil berlari mendatangi kereta kuda dengan membawa bendera kerajaan. Lelaki besar itu langsung naik ke kereta dan duduk di kursi bagus di sisi Murai Ranum.


Bret!


“Hahaha …!” Meledaklah tawa Pasukan Genggam Jagad mendengar suara robekan yang cukup kencang.


Mereka menduga dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, mereka menduga itu adalah suara celana yang robek. Kemungkinan kedua, mereka menduga itu suara kentut Gede Angin.


“Hihihi …!” tawa Murai Ranum.


Murai Ranum yang awalnya terkejut karena Gede Angin tiba-tiba menggantikan Arung Seto, jadi tertawa setelah mendengar suara kencang tadi. Padahal ia tahu suara apa itu, yaitu suara kain jok yang robek setelah diduduki badan berat Gede Angin.


“Hahaha!” tawa terbahak Juling Jitu.


“Ja-ja-jangan tinggalkan aku!” seru Gagap Ayu pula, lalu berkelebat dan mendarat di antara Juling Jitu dan Belik Ludah yang sudah duduk di tempat kusir. “Ha-ha-hayo be-be-berangkaaat!”


“Hua hua hua!” seru Juling Jitu sambil melecutkan pecutnya ke badan kuda.


“Be-be-berangkaaat!” teriak Gagap Ayu dengan serunya.


Ramailah rekan-rekan yang lainnya tertawa melihat kelima orang itu bermain kereta-kereta kudaan menggunakan kereta kuda orang. Juling Jitu dan keempat rekannya juga terus tertawa seperti anak-anak yang sedang asik bermain-main.


Terlihat Murai Ranum tidak merasa risih duduk berdampingan dengan Gede Angin. Ia menikmati lelucon yang sedang mereka lakoni.


Juling Jitu menggebah kereta kuda tersebut meninggalkan area itu agak jauh, lalu berbalik lagi dan hanya bermain di sekitar luaran desa.


“Geranda, Alis Gaib, Tampang Garang, Senyumi Awan, Kembang Bulan, Kura Pana, ayo ikutan!” panggil Juling Jitu kepada rekan-rekan yang sudah ia hapal namanya.


“Ayo ayo ayo!” sahut Geranda sambil menarik tangan Alis Gaib dan membawanya berlari ke kereta kuda yang berhenti sejenak.

__ADS_1


Melihat Geranda membawa lari anak perempuan orang, Anjengan yang berdiri di undakan tangga tanah desa, jadi kerutkan kening. Entah itu ekspresi apa?


“Ayo, Senyumi!” ajak Tampang Garang kepada Senyumi Awan, ia tersenyum malu-malu tanpa mengulurkan tangan.


Melihat ketua barunya mengajak dengan santun, Senyumi Awan pun tersenyum lebar dan manis, sampai-sampai gigi geraham kanan dan kirinya terbuka bersih.


“Ayo, Panglima!” kata Senyumi Awan pula lalu lebih dulu bergegas pergi ke kereta kuda.


“Hihihi …!” Tertawa ramailah para wanita Anggota Sayap Panah Pelangi melihat panglima baru mereka pergi bersama Senyumi Awan.


Maka penuhlah muatan kereta kuda itu ditambah Geranda, Tampang Garang, Alis Gaib, dan Senyumi Awan. Semakin ramailah mereka tertawa-tawa.


“Kakang Jitu, aku ikut!” teriak Kembang Bulan sambil berlari mendekati kereta.


“Hua hua hua!”


Namun, belum lagi Kembang Bulan mencapai kereta kuda, Juling Jitu sudah lebih dulu meggebah kembali dua kuda penarik. Akhirnya kereta kuda itu justru menjauhi kedatangan Kembang Bulan.


“Kakang Jitu!” panggil Kembang Bulan kesal sambil berhenti dengan wajah merengut.


“Ayo kejar dan lompat!” seru Juling Jitu sambil menengok kepada Kembang Bulan.


Buru-buru Kembang Bulan berlari mengejar belakang kereta kuda. Geranda yang berdiri di bagian belakang kereta kuda, mengulurkan tangan kanannya, sebagai kode bahwa dia siap menangkap jika Kembang Bulan melompat.


“Lompat!” seru Geranda ketika Kembang Bulan sudah mendekati belakang kereta kuda yang berlari sedang.


Kembang Bulan pun melompat dan satu kakinya mendarat pada bemper belakang kereta kuda tersebut. Geranda cepat mengulurkan tangannya agar ditangkap oleh gadis cantik itu.


“Aww!” pekik Kembang Bulan karena tubuhnya justru terlempar ke belakang karena hentakan kecepatan lari kuda. Ia jadi gagal menggapai tangan Geranda.


Seet!


Kembang Bulan saat itu langsung memikirkan bahwa pasti tubuhnya akan sakit menghantam tanah, tetapi itu tidak terjadi.


Tiba-tiba ada sinar biru berbentuk jaring laba-laba besar, melesat cepat beberapa sentimeter di atas permukaan tanah dan menangkap jatuh tubuh Kembang Bulan.


Jeratan jala sinar biru itu membuat jatuh tubuh Kembang Bulan tertahan, baru kemudian jatuh pelan ke tanah.


“Jitu, berhenti!” seru Geranda cepat.


Plok plok plok …!


“Huuu …!” sorak girang para penonton melihat aksi penyelamatan terhadap Kembang Bulan.


Di saat Juling Jitu menghentikan laju kereta kudanya dan melihat apa yang terjadi di belakang kereta, Pasukan Genggam Jagad sudah bertepuk tangan riuh.


Seorang pemuda mantan murid Jerat Gluduk berlari kecil mendatangi Kembang Bulan. Pemuda berambut gondrong yang gantengnya setali dua ikat dengan Geranda itu, datang dengan senyum lebarnya kepada si gadis cantik, membuat dua gigi ginsulnya terlihat menonjol. Pemuda itu bernama Kolong Wowo, Anggota Sayap Laba-Laba.


Kolong Wowo lah yang sigap melesatkan ilmu jeratnya yang bernama Jaring Pengaman Hati untuk menolong Kembang Bulan. Ia segera menyentuhkan tangannya pada jaring sinar yang menjerat Kembang Bulan. Jaring sinar itu lalu lenyap begitu saja setelah mendapat sentuhan.


“Kau tidak apa-apa, Nisanak?” tanya Kolong Wowo menunjukkan perhatiannya. Ia memang belum mengenal nama Kembang Bulan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Terima kasih,” ucap Kembang Bulan seraya tersenyum-senyum manis semanis buah simalakama.


Di saat hati kedua insan itu sedang bersemi-semi seperti capung yang menari-nari di air yang jernih, tiba-tiba ….


“Hei, kalian!” teriak seorang lelaki dengan suara menggelegar.


Teriakan yang terdengar sampai ke mana-mana itu, mengejutkan Juling Jitu dan rekan-rekan yang sama-sama sedang main kereta kuda punya orang.


Seketika itu juga mereka semua menengok ke tanah atas. Mereka melihat Bandar Bumi sudah berkacak pinggang di tengah-tengah Tenggak Telaga dan Golono.


“Berani-beraninya kalian menaiki kereta kuda mahalku!” teriak Bandar Bumi gusar.


“Yang punya kereta mengantuuuk! Eh, mengamuuuk!” teriak Juling Jitu sambil buru-buru melompat berlari meninggalkan kereta kuda di tengah jalan.


“Kabuuur!” teriak Gede Angin pula.


“Yang punya marah!” teriak Geranda pula sambil kabur pula.


“La-la-lariii!” teriak Gagap Ayu pula.


Yang lain pun berkelebatan di udara meninggalkan kereta kuda. Belik Ludah yang gendut berlari terbirit-birit dengan wajah panik, tapi justru memberi kesan lucu dan membuat rekana-rekannya kian tertawa.


Sementara itu, Kolong Wowo meninggalkan jejak pada kereta sebelum dia pergi meninggalkan kereta bersama Kembang Bulan. Diam-diam dia sempat menempelkan telapak tangan kanannya di bawah bagian belakang kereta.


Penombak Manis yang punya penglihatan ajaib, bisa melihat dari jauh bahwa ada sinar hijau dipasang oleh Kolong Wowo pada kereta. Sinar hijau itu sama jenisnya dengan sinar yang dipasang saat pesta di Perguruan Bulan Emas.


Seketika kereta kuda itu kosong.


“Hahaha …!”


Anggota Pasukan Genggam Jagad yang lain tertawa berkepanjangan melihat kepanikan Juling Jitu dan rekan-rekan yang bermain kereta kuda.


Dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, Bandar Bumi dan Tenggak Telaga turun ke bawah dan pergi naik ke kereta kudanya. Ternyata Tenggak Telaga yang mengusiri si kereta.


Sementara Golono, dia pergi dengan kudanya meninggalkan desa itu.


Setelah agak jauh meninggalkan desa, serta keramaian Pasukan Genggam Jagad sudah tidak terlihat dan terdengar, tiba-tiba ….


Blar!


Satu ledakan terjadi cukup keras pada bagian belakang kereta kuda, menghancurkan bodi belakang. Hal itu jelas sangat mengejutkan Bandar Bumi dan Tenggak Telaga, terlebih-lebih dua kuda penarik.


Kedua kuda itu meringkik kencang bersamaan lalu berlari liar menarik kereta kuda. Untung Bandar Bumi tidak terlempar ke belakang karena ia cepat berpegangan.


Seperti itulah kehebatan ilmu Jerat Ledak-Ledak yang dimiliki oleh semua mantan murid Jerat Gluduk. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.

__ADS_1


__ADS_2