
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Keberuntungan didapat oleh Janda Belia dan Bayu Semilir. Mereka dibayar tunai oleh Lolongo dengan masing-masing mendapat sekantung kepeng.
Ketika rombongan sudah sampai di kediaman Demang Mahasugi, Lolongo langsung meminta uang untuk membayar kedua wanita cantik tersebut.
Namun, sambutan berbeda diberikan oleh Putri Cicir Wunga kepada Ratu Siluman. Istri Demang Mahasugi itu memutuskan, ia baru akan bernegosiasi dengan Alma Fatara jika gadis pemilik Bola Hitam itu mau memenuhi tantangannya.
Maka kini, pinggiran halaman rumah Demang Mahasugi dipenuhi oleh jejeran Pasukan Genggam Jagad serta pasukan prajurit dan centeng Demang Mahasugi.
Sementara itu, semua panglima Pasukan Genggam Jagad dan Lima Dewi Purnama berada di teras rumah bersama Demang Mahasugi, yang juga didampingi oleh Ronga Kamboja.
Betok, Kungkang dan Jungkrik juga ikut nimbrung di pinggir halaman sebagai penonton.
Kini, di tengah halaman yang dikelilingi oleh pagar manusia yang menonton, telah berdiri berhadapan antara Alma Fatara dengan Putri Cicir Wunga.
Bagi prajurit dan centeng kademangan, ini adalah pagelaran yang begitu langka karena terlalu jarang mereka melihat sang nyonya turun tarung. Bahkan ada di antara mereka yang baru tahu bahwa “Nyonya Besar” memiliki kesaktian. Sebab, selama ini Putri Cicir Wunga selalu tampil anggun meski terkadang tegas.
“Silakan, Bibi,” kata Alma Fatara.
“Baik,” ucap Putri Cicir Wunga.
Clap!
“Waw!” ucap sebagian penonton terpukau serentak, saat mereka melihat sosok Putri Cicir Wunga tahu-tahu hilang dari tempat berdirinya.
Dadak! Pak!
Tahu-tahu sosok Putri Cicir Wunga sudah muncul tepat di udara, di atas tubuh Alma Fatara. Kedua kakinya bersusulan mengapak ke arah kepala Alma Fatara.
Ratu Siluman cepat menangkis dengan batang tangan kanannya. Ketika kedua tendangn itu menghantam batang tangan Alma Fatara, tubuh atas gadis belia itu tertekan jatuh ke bawah. Namun, dia menggunakan tangan kirinya menahan agar badannya tidak jatuh ke tanah.
Semendaratnya di tanah halaman, Putri Cicir Wunga langsung menyerang Alma Fatara dengan kecepatan yang sangat tinggi. Penonton jadi bingung memandangnya. Mereka hanya melihat tubuh Putri Cicir Wunga tanpa bisa melihat dengan jelas gerakan tangan dan kakinya.
Mau tidak mau, Alma Fatara harus meladeni dengan kecepatan yang seimbang pula.
Benar-benar terlihat seperti pertarungan enam dimensi. Karena terlalu cepatnya, terkadang tangan dan kaki Putri Cicir Wunga terlihat banyak, sama halnya ketika mereka melihat Alma Fatara.
Bek! Sreeet!
Setelah pertarungan berlangsung agak lama tanpa ada hasil, akhirnya terdengar suara serangan masuk. Awalnya penonton tidak mengetahui serangan siapa yang masuk, tetapi setelah melihat Alma Fatara terdorong mundur dengan kedua telapak kaki menggesek tanah, barulah mereka tahu bahwa yang terkena serangan adalah Ratu Siluman.
“Holeee!” sorak para prajurit dan centeng kademangan bersamaan.
“Hahahal!” Alma Fatara justru tertawa terbahak memperlihatkan gigi ompongnya. Ia merasa lucu dengan sorakan para prajurit dan centeng tersebut.
“Hahaha …!” tawa orang banyak yang baru tahu bahwa Ratu Siluman ternyata ompong sejati.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara pun kian gila karena ditertawakan.
“Bersiaplah, Gusti Ratu!” seru Putri Cicir Wunga yang mulai unjuk kesaktian.
__ADS_1
Wesss!
Putri Cicir Wunga tiba-tiba melepaskan seberkas sinar biru berpijar dan berekor sebesar bola kasti. Sinar itu melesat seperti seekor binatang terbang ke arah Alma Fatara. Gerakannya tidak lurus, tapi bisa berbelok-belok.
Alma Fatara bertindak cepat menghindari serangan sinar itu.
Gagal mengenai target, ternyata sinar itu bisa berbelok semau dia, lalu kembali menyerang Alma Fatara. Namun, serangan ilmu Ikan Alam Hantu itu bukan perkara sulit bagi Alma Fatara.
Sepertinya sinar biru berekor itu berjenis kelamin laki-laki, sebab dia terus mengejar Alma Fatara seperti mendesak mau kawin saja.
Namun, kondisi seketika berubah saat Putri Cicir Wunga terlibat langsung dalam menyerang Alma Fatara. Nyonya Demang kembali maju dan menyerang Alma Fatara langsung dengan serangan bertenaga dalam tinggi, dan tentunya berkecepatan setan.
Mau tidak mau Alma Fatara harus meladeni agresi Putri Cicir Wunga dengan tetap siaga terhadap sinar Ikan Alam Hantu.
“Bibi masuk jebakanku!” seru Alma Fatara sambil tiba-tiba melompat mundur menghindari serangan sinar biru. Perkataannya membuat Putri Cicir Wunga terkejut.
Pusss!
Hindaran itu membuat sinar biru justru menghantam perut Putri Cicir Wunga.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat serangan makan tuan.
Namun, tawa Alma Fatara berhenti mendadak karena ternyata Putri Cicir Wunga baik-baik saja.
“Apakah ini jebakanmu, Gusti Ratu?” tanya Putri Cicir Wunga dingin.
“Hahaha!” tawa para penonton kubu Demang Mahasugi.
“Akan aku beri dua Ikan Alam Hantu,” kata Putri Cicir Wunga lalu melesatkan dua sinar biru berekor.
Wess! Wess!
Alma Fatara melompat berguling cepat di udara menghindari kedua sinar biru.
“Berakhirlah perlawananmu, Gusti Ratu!” seru Putri Cicir Wunga tiba-tiba sambil melesat cepat menyambar tubuh Alma Fatara yang masih di udara. Tangan kanan Putri Cicir Wunga telah bersinar merah.
Tus tus tus …!
“Akk!” pekik Putri Cicir Wunga nyaring, membuat penonton seketika terkejut, terutama Demang Mahasugi yang cukup tegang menyaksikan pertarungan istrinya.
Jleg!
Putri Cicir Wunga mendarat terhuyung.
“Bibi masuk perangkapku. Hahaha!” kata Alma Fatara sambil mendarat lembut di tanah.
Sementara dua sinar biru lenyap dengan sendirinya.
Apa sebenarnya yang terjadi di udara dalam waktu yang begitu singkat? Padahal, semua penonton bisa melihat bahwa posisi Alma Fatara kalah.
Alma Fatara memang bisa menghindari dua sinar biru yang menyerangnya, tetapi dia tidak bisa menghindari serangan susulan Putri Cicir Wunga di udara. Bisa dipastikan bahwa telapak tangan kanan yang bersinar merah pasti akan menghantam tubuh sang ratu.
Namun, Alma Fatara tidak sendiri. Di balik pakaiannya selalu ada Benang Darah Dewa. Jadi, ketika Alma tidak bisa menghindar, Benang Darah Dewa bisa maju sebagai pertahanan yang menyerang.
__ADS_1
Sebelum telapak bersinar Putri Cicir Wunga menghantam tubuh Alma Fatara, dua ujung Benang Darah Dewa maju menusuki tangan kanan Nyonya Demang yang bersinar.
Serangan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat oleh Putri Cicir Wunga, membuat sang nyonya menjerit kesakitan dan sontak menarik kembali tangannya menjauhi tubuh Alma Fatara. Karena itulah Putri Cicir Wunga mendarat dengan sempoyongan.
Ia cepat memeriksa tangan kanannya yang sudah tidak bersinar. Tangan kanannya dalam kondisi gemetar dan berlumuran darah. Entah berapa banyak tusukan yang Benang Darah Dewa berikan di tangan Putri Cicir Wunga, yang pasti ada banyak dalam sekejap saja.
“Maafkan aku telah membuat Bibi berdarah,” ucap Alma Fatara.
“Senjata apa yang kau miliki, Gusti Ratu?” tanya Putri Cicir Wunga.
“Hanya seutas benang,” jawab Alma Fatara sambil menunjukkan satu ujung Benang Darah Dewa yang terkulai seperti benang biasa.
“Baiklah. Satu serangan lagi!” seru Putri Cicir Wunga tidak mau menyerah.
Srusss!
Putri Cicir Wunga menghentakkan kesepuluh jari-jari tangannya, melesatkan serombongan sinar kuning kecil tapi panjang-panjang seperti serombongan belut terbang.
Clap!
“Pertarungan berakhir, Bibi,” ucap Alma Fatara pelan yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang punggung Putri Cicir Wunga, tapi membelakangi.
Blar blar blar …!
Ledakan beruntun yang rapat terjadi saat rombongan sinar kuning hanya mengenai tanah kosong karena terget mereka telah menghilang. Tanah halaman dibuat berantakan dengan lubang-lubang besar.
Putri Cicir Wunga terkejut bukan main. Dia tidak bisa melihat pergerakan Alma Fatara yang terlalu cepat. Tahu-tahu Ratu Siluman muncul di belakang tubuhnya. Putri Cicir Wunga tidak berani bergerak dalam ketegangan.
Putri Cicir Wunga merasakan ada benang yang telah melilit di leher mulusnya yang agak berkeringat. Posisi berdiri Alma Fatara sambil kedua tangannya memegang dua sisi benangnya, yang jika dia tarik dengan kencang, maka bisa putuslah leher Nyonya Demang.
“Baik, aku kalah,” ucap Putri Cicir Wunga pelan.
“Terima kasih Bibi sudi mengalah,” ucap Alma Fatara. Ia lalu melepaskan pegangannya pada benang pusakanya.
Hilanglah ketegangan pada diri Putri Cicir Wunga setelah lehernya terbebas dari ancaman Benang Darah Dewa.
Menjerat lawan dengan Benang Darah Dewa sering Alma Fatara lakukan untuk menaklukkan lawan yang sakti.
Alma Fatara mengangkat tangan kanannya sambil memandang ke arah pasukannya, memberi tanda bahwa dialah pemenangnya.
“Hidup Gusti Ratu Siluman!” teriak Panglima Besar Anjengan dari teras rumah Demang Mahasugi.
“Hidup Gusti Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad serentak, seolah sudah menduduki kediaman Demang Mahasugi.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi, membuat Demang Mahasugi yang tidak jauh darinya mengerenyit karena kebisingan.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad.
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
Pasukan prajurit dan centeng kademangan hanya bisa nyengir berjemaah melihat dan mendengar keseruan Pasukan Genggam Jagad. (RH)
__ADS_1