Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 16: Meributkan Alma


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


Para pemuda tampan yang akan memimpin pasukan sedang menunggu perintah keberangkatan pasukan. Mereka sudah melakukan apel terhadap pasukan masing-masing.


Sementara pasukan tetap berbaris meski dalam mode istirahat. Panji-panji pasukan dan perang sudah terangkat berkibar.


Matahari mulai memasuki langit barat. Mereka dipastikan berangkat justru menjelang senja. Jika harus menunggu pagi, itu akan jauh lebih lama. Nyawa para pejabat dan rakyat Kerajaan harus segera diselamatkan. Semakin lama pertolongan datang, mungkin akan ada satu dua nyawa yang bertambah habis masa hidupnya.


Struktur kepemimpinan pada setiap pasukan dipimpin oleh Kepala Pasukan.


Pasukan Pertama dipimpin oleh Kepala Pasukan Pertama yang masing-masing memiliki wakil. Di bawah mereka ada pemimpin prajurit yang masing-masing membawahi seratus prajurit. Masing-masing Pasukan Pertama terdiri dari tiga ratus prajurit pejalan kaki dan lima puluh prajurit berkuda. Mereka membawa bendera kuning berlambang kepala ayam jago berkokok dan panji perang berwarna hitam.


Pasukan gelombang kedua disebut Pasukan Pamungkas yang berjumlah tujuh ratus prajurit pejalan kaki dan lima puluh prajurit berkuda. Pasukan Pamungkas dipimpin oleh Kepala Pasukan Pamungkas. Di bawahnya hanya ada pemimpin prajurit yang masing-masing membawahi seratus prajurit. Pasukan Pamungkas membawa bendera kuning berlambang singa mengaum dan panji perang berwarna merah.


“Kenapa Senopati tidak langsung menyuruh kita pulang agar kita bisa lebih cepat menyerang para keparat laut itu? Kenapa justru memimpin prajurit yang hanya akan memperlambat kita?” gerutu Ariang Banu sambil mengikat tali pedangnya di tubuhnya yang gagah, sama seperti kakaknya, Arung Seto.


“Apakah kalian sudah pernah berurusan dengan para pendekar bajak laut?” tanya Pangeran Sugang Laksama, orang yang derajatnya paling tinggi di antara mereka, karena dia adalah seorang Putra Mahkota.


Para putra Balongan itu saling pandang di antara mereka. Hingga akhirnya mereka menjawab bersamaan.


“Belum, Gusti,” jawab mereka.


“Para bajak laut itu bisa dikatakan bahwa mereka menghadapi maut setiap hari di tengah samudera luas. Karakter mereka terbentuk oleh alam yang ganas, yaitu badai, ombak, air asin, dan makhluk laut. Sekejam-kejamnya begundal perampok di daratan, mungkin tidak akan sekejam para bajak laut,” tutur Sugang Laksama yang juga ternama di dunia persilatan dengan nama Pendekar Pedang Dedemit.


“Itu berarti, kemungkinan besar keluargaku sudah dibantai oleh mereka,” ucap Ujang Barendo, putra juragan jengkol. Ia tampak cemas.


“Mungkin. Namun, jika kita gegabah menyerang tanpa kekuatan yang besar, mungkin kita sama saja akan mengantar nyawa,” kata Sugang Laksama. “Karenanyalah, kalian dibekali pasukan untuk menjadi pahlawan bagi rakyat kalian sendiri.”


“Aku jadi sangat rindu dengan Alma,” celetuk Pangeran Derajat Jiwa tiba-tiba, keluar dari topik obrolan para pemuda ganteng tersebut.


Namun, perkataan Derajat Jiwa itu membuat semuanya jadi memandangnya. Perkataan Derajat Jiwa seketika membuat mereka membayangkan wajah cantik jelita yang masih begitu belia, wanita sakti yang suka tertawa seperti bapak-bapak. Sedikit-sedikit tertawa, sedikit-sedikit tertawa, seolah-seolah dia adalah Dewi Tawa.


“Ah, Pangeran membuat kita semua menjadi rindu,” kata Bandeng Prakas.


“Kau seharusnya memikirkan Ninda Serumi, Bandeng,” kata Arya Mungkara.


“Aku sudah tidak peduli dengannya. Lebih baik aku mencintai Alma meski hanya bisa menghayalkannya,” kata Bandeng Prakas.


“Tidak bisa, jatahmu adalah Ninda Serumi. Kami berdua yang sangat dekat dengan Alma!” tandas Ariang Banu.

__ADS_1


“Kalian semua jangan mengaku-ngaku. Aku sudah pernah meminang Alma. Siapa yang berani merebut hatinya dariku, akan aku pastikan mereka harus melengkahi mayatku dulu!” seru Pangeran Derajat Jiwa yang mengejutkan para pemuda itu, terutama Pangeran Sugang Laksama.


“Aku terkejut, kalian ternyata memiliki satu gadis idaman yang sama,” ujar Sugang Laksama.


“Sudahlah, untuk apa kita meributkan Alma yang sedikit pun kita tidak tahu keberadaannya ada di mana,” kata Arung Seto.


“Jika memang ada, aku pun tidak akan berdiam diri. Aku siap bertaruh nyawa demi Alma, sama seperti saat kita bertaruh nyawa memperebutkan cinta Ninda Serumi,” kata Balingga. “Dan wakil tidak boleh mendahului Kepala Pasukan.”


Balingga melirik kepada Ujang Barendo yang menjadi wakilnya.


“Dengan ditunjuknya kau sebagai Kepala Pasukan, apa kau pikir anak juragan ikan bisa lebih unggul dari putra kesayangan juragan jengkol?” kata Ujang Barendo.


“Apakah kau mau membuktikannya sekarang?” tantang Balingga.


“Hei, apa yang kalian ributkan? Perselisihan kalian justru akan mengancam pasukan kalian sendiri nantinya!” hardik Arya Mungkara.


“Aku sebagai Putra Mahkota punya peluang lebih besar untuk mendapatkan Alma Fatara,” kata Sugang Laksama tiba-tiba, padahal dia bukan orang yang termasuk terlibat dalam pertandingan panah di Kadipaten Balongan dua tahun lalu, di mana Alma memiliki kontribusi besar dalam menggagalkan siasat licik seorang pejabat.


Mendengar kata-kata Putra Mahkota, Derajat Jiwa dan yang lainnya kembali terkejut. Mereka tidak pernah tahu bahwa Putra Mahkota yang sudah beristri juga berminat dengan Alma.


Derajat Jiwa mendadak berubah menatap tajam kepada kakaknya itu.


“Apa yang kau katakan, Kakang Sugang?!” Derajat Jiwa bertanya keras.


“Hahaha …! Tidak perlu marah, tenang. Aku hanya bercanda. Hahaha!”


“Namun, jika kau ternyata punya maksud untuk memikat Alma pada suatu hari, aku akan memberontak atas gelar Putra Mahkota yang kau sandang!” ancam Derajat Jiwa serius dengan wajah marah.


Terkejut Sugang Laksama mendengar ancaman serius dari adiknya. Ia tidak menyangka bahwa candaannya akan membuat adiknya begitu marah.


Dengan gestur tubuh yang menunjukkan kemarahan, Pangeran Derajat Jiwa berbalik pergi dan naik ke kudanya. Ia menuju ke arah barisan pasukannya.


“Sepertinya persaingan cinta ini akan lebih menantang,” kata Ariang Banu sambil tersenyum setan.


“Yang utama harus kita pikirkan adalah nasib Ayah dan Ibu,” kata Arung Seto mengingatkan adiknya. Pemuda tampan yang memiliki tahi lalat di atas alisnya itu menambahkan, “Bagaimana bisa kita mempertengkarkan wanita yang tidak ada di antara kita?”


“Berarti Kakang jangan ikut serta jika Alma muncul di Balongan lagi,” kata Ariang Banu. “Karena aku memimpikannya dua malam lalu. Hahaha!”


“Eh, kenapa kita sama, Banu!” sahut Balingga tiba-tiba sambil menunjuk Ariang Banu.

__ADS_1


“Hah! Kau jangan mengada-mengada, Balingga!” tukas Ariang Banu. “Aku tidak percaya jika kau juga tiba-tiba memimpikan Alma.”


“Mimpiku memang berantakan, tapi di dalam mimpi itu aku merasa Alma hadir!” tandas Balingga berair-air, karena ia berkata sampai-sampai ludahnya muncrat-muncrat.


“Coba ceritakan mimpimu!” pinta Ariang Banu.


“Aku bertemu dengan seorang wanita gemuk yang tidak pernah aku kenal. Namun, dalam mimpi itu aku menganggap dia adalah Alma, sehingga aku merasa bahagia dalam mimpi itu,” kisah Balingga.


“Hahaha …!” tawa mereka mendengar cerita itu.


Fut fut fuuut!


Tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk berirama tertentu.


“Ayo berangkat!” seru Sugang Laksama, karena itu tanda pasukan akan berangkat. Ia pun segera naik ke kudanya.


Kumpulan para pemuda ganteng itu segera membubarkan diri. Mereka pergi naik ke kuda masing-masing, lalu memacu kudanya menuju pasukannya masing-masing.


Seiring itu, Senopati Geruduk Ati datang berkuda bersama Kebo Angel, Panglima Pasukan Hati Besi.


Senopati akan memimpin dua ribu pasukan pejalan kaki dan tujuh ratus prajurit berkuda. Namun, pasukan mereka akan bertambah ketika tiba di basis militer Kerajaan Singayam yang terletak di luar Ibu Kota.


Pasukan yang sebelumnya dalam mode istirahat, kini telah siap sedia dengan membawa bekal semangat masing-masing.


Senopati Geruduk Ati yang sudah berpakaian perang, menghentikan kudanya di depan barisan seluruh pasukan. Sementara Panglima Kebo Angel terus berlari kencang dengan kudanya sambil memastikan kesiapan setiap Kepala Pasukan.


Setelah sampai di depan barisan pasukan paling ujung, Kebo Angel kembali berbalik dan mendatangi Senopati Geruduk Ati.


“Semua pasukan sudah siap, Gusti!” lapor Panglima Kebo Angel lantang.


Senopati mengangguk. Ia lalu mencabut kerisnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


“Pasukan Singayaaam! Berangkaaat!” teriak Senopati Geruduk Ati dengan suara mengandung tenaga dalam.


Fuuut! Fuuut! Fuuut!


Teriakan itu disusul suara sejumlah terompet tanduk yang bersahut-sahutan.


Maka mulailah pasukan berangkat secara tertib. (RH) 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!


__ADS_2