
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Karang Genit dan Alis Kuning berlari terus menuju pintu masuk Ibu Kota Balongan.
Di pintu masuk ke Ibu Kota, ada sepuluh kepala manusia digantung di atas pohon. Di bawah pohon, tepatnya di batang pohonnya, ada tiga orang yang dalam kondisi terikat kuat. Ketiga orang itu adalah Bendahara Kadipaten Balongan yang bernama Kepal Kepeng, istrinya, dan Komandan Gendas Pati.
Di sana ada dua lelaki anggota bajak laut lainnya. Keduanya bersenjata panah. Keduanya bernama Jentik Angin dan Kulit Jeruk. Jika Jentik Angin berperawakan dan wajahnya lebih muda dan tampan, maka Kulit Jeruk memiliki wajah yang penuh jerawat karang.
Kedua bajak laut itu heran ketika melihat Karang Genit dan Alis Kuning datang dengan berlari.
“Kenapa kalian datang ke mari?” tanya Kulit Jeruk.
“Rumput Laut dan Keong Racun disergap di atas tebing. Bunuh saja ketiga sandera itu!” kata Karang Genit.
“Jangan bunuh kami!” teriak Kepal Kepeng cepat dengan wajah pucat pasi dan berkeringat dingin, karena Jentik Angin sudah menarik senar busur. “Aku adalah orang terkaya di Kadipaten Balongan. Jika kalian tidak membunuh kami, aku janjikan uang yang banyak untuk kalian!”
“Jika begitu, bawa saja lelaki itu dan bunuh dua lainnya!” kata Alis Kuning.
Set! Tek!
Jentik Angin lalu melepas anak panahnya dari jarak dua tombak untuk memanah istri Kepal Kepeng. Namun, mereka semua terkejut saat tiba-tiba dari atas pohon meluncur turun sosok hitam panjang dan mengilap. Anak panah Jentik Angin mengenai kepala ular besar yang seolah-olah sengaja melindungi istri Kepal Kepeng. Namun, anak panah itu tidak sanggup menembus tebalnya kulit ular.
Arggk!
“Aaak!” jerit Jentik Angin saat ular besar hitam itu melesat cepat menerkam lehernya lalu melilit tubuhnya.
“Lari!” teriak Karang Genit sambil duluan berkelebat pergi masuk ke dalam Ibu Kota.
Kulit Jeruk dan Alis Kuning cepat berkelebat mengikuti Karang Genit.
Meski selamat dari eksekusi panah, tetap saja Kepal Kepeng dan istrinya, juga Gendas Pati, dilanda ketakutan yang tinggi, karena mereka disuguhkan pemandangan mengerikan oleh ular hitam abdi dari Alma Fatara.
Setelah menggigit leher dan meremukkan tulang tubuh Jentik Angin, Mbah Hitam lenggang kangkung meninggalkan tempat itu. Hal itu membuat Kepal Kepeng, istri dan Gendas Pati lega nyawa.
Sementara itu, Karang Genit dan kedua rekannya terus berlari menuju ke alun-alun pinggir sungai. Namun, setibanya di sana, mereka menyaksikan dari jauh Alma Fatara baru saja memulai amukannya. Mereka merunduk dan bersembunyi di balik ilalang yang tumbuh di sekitar alun-alun.
“Ayo, kita harus bergabung bersama Ketua!” kata Kulit Jeruk kepada kedua rekan wanitanya.
“Eh eh eh, tunggu! Lihat Ketua terpental jauh!” kata Karang Genit saat melihat Ronggo Palung. “Sepertinya wanita berjubah hitam itu terlalu sakti!”
“Aku rasa, jika kita bergabung pun, kita tidak akan bisa menang. Melawan satu orang saja Ketua kalah, apalagi melawan pasukan yang jumlahnya besar,” kata Alis Kuning.
“Lalu bagaimana?” tanya Kulit Jeruk.
“Lebih baik kita pergi, jika kalian berdua masih mau hidup!” tandas Karang Genit. “Ayo, jangan sampai ada yang melihat kita, sebentar lagi pasukan Singayam yang lain akan tiba!”
Maka Kulit Jeruk, Karang Genit dan Alis Kuning segera pergi.
__ADS_1
“Lalu ke mana kita harus pergi?” tanya Alis Kuning.
“Jika di laut saja kita bisa bertahan hidup, di darat tidak lebih berbahaya dari laut. Saat ini sangat berbahaya jika kembali ke laut, Angkatan Laut Kerajaan Singayam sangat berbahaya,” jawab Karang Genit.
Akhirnya, Ronggo Palung dan Bajak Laut Ombak Setan ditumpas habis oleh Alma Fatara. Pasukan Pamungkas pimpinan Riring Belanga dan Pangeran Sugang Laksama akhirnya datang bergabung.
Kedua pemimpin pasukan itu lalu menemui Alma Fatara.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara ketika bertemu dengan Sugang Laksama.
“Hahaha!” tawa Sugang Laksama karena terbawa oleh tawa Alma, terlebih melihat keompongan Alma.
“Jika Gusti Pangeran masih mengincar Bola Hitam seperti halnya kakak bercadar itu, aku tidak akan bicara dulu dengan kalian,” kata Alma Fatara sambil memandang sebentar kepada Cucum Mili yang berperan sebagai Putri Angin Merah.
Mendelik sepasang mata Sugang Laksama dan Cucum Mili karena Alma Fatara sepertinya mengetahui siapa si wanita bercadar.
“Kau mengenal Putri Angin Merah, Alma?” tanya Sugang Laksama.
“Oh, dia memakai nama yang cantik sekali. Dari cara dia berjalan sudah bisa aku terka, karena sebenarnya dia adalah lelaki, bukan perempuan. Hahahak!” jawab Alma lalu tertawa terbahak-bahak.
“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili kepada Alma.
“Kurang sopan!” teriak Iwak Ngasin, Juling Jitu, dan Anjengan bersamaan.
“Ku-ku-kurang sopan!” susul Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa keempat sahabat Alma menyusul.
“Bibi, apakah kau murid dari Perguruan Jari Hitam?” tanya Alma Fatara kepada Riring Belanga, karena ia curiga saat melihat kesepuluh jari hitam wanita berusia empat puluh lima tahun itu.
“Benar,” jawab Riring Belanga dingin.
“Aku ada pembicaraan penting dengan Bibi terkait Kakek Rereng Busa dan murid-murid perguruan lainnya,” ujar Alma serius.
Mengerutlah tengah alis Riring Belanga mendengar bahwa Alma sepertinya akrab dengan gurunya.
“Ikut aku!” kata Riring Belanga sambil berjalan pergi.
Alma Fatara lalu meninggalkan Sugang Laksama dan Cucum Mili.
Seorang prajurit berseragam kunyit datang menghadap kepada Sugang Laksama dan menjura hormat.
“Ampuni hamba, Gusti. Gusti Pangeran Derajat terluka parah,” lapor prajurit itu.
“Apakah sudah diobati oleh tabib pasukan?” tanya Sugang Laksama sambil segera berjalan pergi menuju ke kumpulan pasukan pimpinan adiknya.
“Tabib pasukan menyimpulkan bahwa Gusti Pangeran Derajat harus segera diobati oleh Tabib Istana,” jawab prajurit tersebut sambil berjalan cepat mengiringi Sugang Laksama.
__ADS_1
Keempat sahabat Alma memilih mengerumuni Cucum Mili dan menggodanya.
Alma Fatara dan Riring Belanga sedang berdiri berdua di tepi sungai menyendiri dari keramaian.
“Apakah Bibi Riring tidak tahu tentang kabar Kakek Rereng Busa?” tanya Alma yang sudah diberi tahu nama wanita yang diajaknya bicara.
“Sejak aku mengabdi di Kerajaan Singayam, aku jarang mendengar kabar tentang Guru. Jika ada hal yang sangat genting, biasanya Guru mengirim pesan ke Singayam,” jawab Riring Belanga.
“Kabar yang aku dapat dari murid yang menjaga perguruan, Kakek Rereng Busa sedang ditawan di Perguruan Bulan Emas. Mereka menuntut pertukaran nyawa Kakek Rereng dengan Telur Gelap ….”
“Telur Gelap?” sebut ulang Riring Belanga.
“Bibi tidak tahu benda apa itu?” tanya Alma.
“Aku baru kali ini mendengar nama itu,” kata Riring Belanga.
“Hampir semua murid Jari Hitam pergi ke Perguruan Bulan Emas untuk membebaskan Kakek Rereng, tetapi mereka tidak tahu ap aitu Telur Gelap dan tidak membawanya,” jelas Alma.
Riring Belanga terlihat berubah cemas. Ia terdiam berpikir.
“Setelah menyelesaikan para bajak laut ini, aku berencana langsung pergi mencari Perguruan Bulan Emas untuk memastikan kondisi Kakek Rereng dan murid Jari Hitam,” kata Alma lagi.
“Baiklah, aku akan minta izin kepada Gusti Putra Mahkota. Aku akan ikut denganmu ke Perguruan Bulan Emas,” tandas Riring Belanga.
“Ariang Banuuu!”
Tiba-tiba terdengar jeritan histeris yang panjang dari Aning Selasih, ketika jasad putranya tiba. Arung Seto telah tiba dengan membawa mayat adiknya yang tewas oleh serangan racun bajak laut. Aning Sulasih menangis kencang.
Alma Fatara dan Riring Belanga hanya memandang dari kejauhan.
“Bajak Laut Ombak Setan jumlahnya tidak banyak, tetapi mereka tahu cara membunuh banyak orang,” kata Riring Belanga.
Sementara itu, terjadi perdebatan antara Pangeran Sugang Laksama dengan adiknya, Pangeran Derajat Jiwa.
Derajat Jiwa yang awalnya masih bisa berdiri dan berjalan, mengalami pemburukan luka dalam. Kini kondisinya hanya bisa duduk bersandar dengan lemah dan matanya pun telah sayu.
“Tidak, aku harus bertemu dengan Alma lebih dulu!” tandas Derajat Jiwa.
“Kau harus dipulangkan sekarang juga, Adik. Lukamu sangat parah!” tegas Sugang Laksama.
“Tidak … tidak …. Aku harus bertemu … bertemu Alma …” ucap Derajat Jiwa dengan nada melemah dan mata kemudian terpejam.
“Cepat naikkan ke kereta kuda. Langsung kawal Pangeran Derajat pulang!” perintah Sugang Laksama kepada Pasukan Keluarga Kerajaan. “Nanti aku akan menyusul!” (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit parah, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!
__ADS_1