
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Sejumlah dari Pasukan Pedang Biru pimpinan Alis Biru yang baru datang menyerbu, berlompatan dan berlari di udara, langsung melesat ke arah Alma Fatara dan pengawalnya yang masih duduk di punggung kuda.
Swiiit! Wusss!
Alma Fatara meluruskan tangan kirinya ke belakang menyedot udara dengan begitu cepat, membuat pakaiannya mengembung seperti boneka balon. Lalu disusul dengan hentakan tangan kanan ke arah para penyerang yang datang seperti serombongan tawon perang.
Sejumlah lelaki yang berlari di udara tersebut langsung terhempas jauh ke belakang. Bukan hanya mereka yang di udara yang dibuang jauh-jauh, mereka yang berlarian di tanah pun terhempas tidak karuan mundur lagi ke belakang.
“Hahahak ….!” Tawa Alma Fatara melihat orang-orang bertopeng kain biru itu berterbangan seperti rombongan nyamuk terkena badai.
Set set set …!
Keempat anak buah Gagap Ayu, yakni Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari dan Sukma Senja kompak melesatkan kedua piringan peraknya.
Delapan piringan tajam melesat cepat mengiris setiap apa yang ditemuinya. Ketika piringan-piringan itu ditangkis dengan pedang, mereka memang jadi gagal melukai target, tapi justru berbelok mengenai target yang lain.
Cras cras cras …!
“Ak akk akk …!” sejumlah lelaki bertopeng langsung bertumbangan, baik dengan nyawa yang melayang maupun dengan luka sayatan yang lebar.
Setelah mengenai target, piringan-piringan perak itu melesat balik, kemudian dilesatkan kembali ke gerombolan lawan.
Set set set …!
“Ak ak ak …!”
Bukan hanya serangan angin dan piringan maut yang menumbangkan Pasukan Pedang Biru satu demi satu dengan cepat, tetapi menyusul anak panah-anak panah yang datang dari sejumlah arah dan menggugurkan pasukan musuh. Bahkan ada anak panah sinar putih yang melesat dalam jumlah banyak sekaligus.
Setelah melihat jumlah personel Pasukan Pedang Biru gelombang pertama telah terkuras dengan cepat, Panglima Tampang Garang segera memerintahkan pasukannya untuk beralih membantu menghabisi Pasukan Pedang Biru gelombang kedua yang menyerang Alma Fatara.
Jika para wanita cantik dari Pasukan Sayap Panah Pelangi melesatkan anak panah biasa, maka Panglima Tampang Garang melesatkan anak panah-anak panah sinar putih dalam jumlah sepuluh sekali tarikan senar.
Alis Biru segera menahan gerakannya setelah melihat pasukannya bertumbangan dengan cepat, padahal belum mencapai pasukan musuh.
__ADS_1
“Ini benar-benar bunuh diri. Pantas Kanjeng Bandar Bumi memerintahkan bertarung habis-habisan. Berarti Kanjeng Bandar Bumi memang sudah menduga kekuatan Ratu Siluman ini,” batin Alis Biru tegang.
Dilihatnya Alis Merah sedang bertarung melawan Kalang Kabut, Tengkorak Telur Bebek melawan Penombak Manis, dan Tengkorak Bayang Putih melawan Murai Ranum, salah satu murid utama mendiang Hantu Tiga Anak.
Pedang Alis Merah menjadi mentah dalam melawan Kalang Kabut. Murid mendiang Hantu Tiga Anak itu tetap tampil gagah ketika berulang kali mengadu tinjunya dengan tusukan atau tebasan pedang Alis Merah.
Trak! Trang!
Pada satu ketika, tinju Kalang Kabut bersinar kuning dan beradu dengan ujung pedang Alis Merah. Yang terjadi adalah pedang Alis Merah pecah menjadi beberapa kepingan. Sementara Alis Merah terjajar beberapa tindak dan nyaris jatuh.
“Heaaat!” teriak Kalang Kabut sambil melompat ke arah Alis Merah dengan tinju kanan yang bersinar kuning lebih terang dari sebelumnya.
Alis Merah yang sedang kewalahan, mau tidak mau harus beradu kesaktian. Jika Kalang Kabut punya tinju sinar kuning, Alis Merah punya tinju sinar biru.
Booom!
Alis Merah langsung terjengkang dengan punggung menghantam tanah berumput dan mulut mengeluarkan darah. Beda sekali dengan Kalang Kabut yang mendarat dengan mantap dari lompatannya.
Melihat lawannya terjengkang, Kalang Kabut tidak mau melewatkan kesempatan.
Sezz! Paks!
“Aaak!” jerit Alis Merah saat tiba—tiba dari bawah tubuhnya muncul sinar-sinar merah lancip-lancip sepanjang satu hasta, menembus tubuhnya.
Hal itu terjadi ketika sepasang tangan Kalang Kabut bersinar merah, lalu dihantamkan keduanya ke tanah berumput. Ilmu Tulang Bumi Panas itu akan memunculkan sejumlah tombak sinar merah yang panas dan padat pada posisi lawan.
Bagi lawan yang tidak mengenal ilmu Tulang Bumi Panas, itu akan sangat berbahaya.
“Kalang Kabut dilawan. Aku akan buat nyawamu kalang kabut!” desis Kalang Kabut kepada mayat Alis Merah.
Beralih ke pertarungan antara Penombak Manis melawan Tengkorak Telur Bebek.
Set set set …!
Pastinya Tengkorak Telur Bebek mengandalkan lemparan telur-telur bebeknya. Namun, dia tidak tahu bahwa lawannya adalah wanita yang kini menjadi pendekar tidak tersentuh.
Kali ini, Tengkorak Telur Bebek benar-benar bertindak mubazir. Telur-telurnya yang tidak punya mata, lewat-lewat begitu saja tanpa satu pun yang mengenai Penombak Manis, bahkan menyenggol pun tidak sudi.
__ADS_1
Hingga kemudian, telur bebek Tengkorak Telur Bebek tinggal beberapa butir di keranjangnya. Mendapati tidak ada satu pun butir telurnya yang menjadi telur ceplok di wajah Penombak Manis, Tengkorak Telur Bebek merasa setengah frustasi. Bahkan lemparan jarak dekat pun yang ia lakukan, tidak ada yang mengenai Penombak Manis.
Penombak Manis bisa membaca kesuntukan wajah pemuda itu.
Ingin Tengkorak Telur Bebek mengeluarkan ilmu Telur Bebek Raja, yang bisa mengubah telur biasanya menjadi telur bersinar kuning dan berkekuatan ledak. Namun, jika nantinya telurnya tidak bisa mengenai sasaran juga, tetap saja percuma.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kecepatan gerakannya biasa saja, tapi kenapa aku tidak bisa mengenai si pesek ini?” pikir Tengkorak Telur Bebek.
“Apa yang kau pikirkan, Pedagang Telur?” tanya Penombak Manis yang membaca kebingungan Tengkorak Telur Bebek.
Namun, Penombak Manis juga mengalami kebuntuan. Sama seperti ketika dia bertarung melawan dua pendekar tombak yang kini menjadi teman, yaitu Gendis dan Lilis Kelimis. Itu terjadi karena pada dasarnya tingkat kecepatan gerak Penombak Manis masih jauh di bawah Tengkorak Telur Bebek.
Setiap serangan tombak Penombak Manis juga sulit melukai Tengkorak Telur Bebek. Pemuda itu masih terlalu tangkas dalam menghindari serangan Penombak Manis.
Seset seset!
Pada akhirnya, Tengkorak Telur Bebek melesatkan telur bebeknya yang tersisa dalam satu serangan, yang dia harapkan bisa mengenai Penombak Manis.
Delapan telur terakhir dilesatkan sekaligus. Namun, lagi-lagi serangan telur itu tidak ada yang mengenai Penombak Manis, yang sudah bisa membaca arah-arah telur tersebut.
Kini, Tengkorak Telur Bebek tidak memiliki senjata lagi. Namun, dia masik memiliki kesaktian yang lain, yaitu Sosor Bebek. Kesepuluh jari tangan Tengkorak Telur Bebek bersinar merah redup. Ia menyerang dengan kedua tangan bertindak seperti kepala bebek yang mematuk.
Lagi-lagi sama hasilnya, pertarungan itu buntu lagi. Serangan tombak Penombak Manis dan tangan bebek Tengkorak Telur Bebek tidak ada yang berhasil mengenai sasaran.
Hingga pada satu ketika.
Penombak Manis menusuk-nusukkan tombaknya mengincar Tengkorak Telur Bebek. Namun, gesit pemuda itu bergerak menghindar-hindar tanpa membiarkan mata tombak menyentuh badannya.
Set set set!
“Akk!” jerit tertahan Tengkorak Telur Bebek saat dia buru-buru melompat menghindar, ketika menyadari ada serangan dari samping berupa lesatan sejumlah senjata rahasia.
Tengkorak Telur Bebek memang bisa menghindari beberapa keris mini yang datang menyerang tiba-tiba, tetapi dua keris berhasil bersarang pada paha dan perut. Ia pun jatuh kesakitan.
“Siapa yang berani melawan istri cantikku?” tanya Juling Jitu sambil datang dengan berkelebat di udara. Ia mendarat di depan Tengkorak Telur Bebek.
Melihat wajah Juling Jitu, ingin rasanya Tengkorak Telur Bebek tertawa terbahak karena mata juling musuh, tetapi rasa sakit lebih kuat menyiksa dirinya. Terlebih racun dua keris mini yang melukainya bekerja dengan cepat.
__ADS_1
Sementara itu, Penombak Manis menghampiri suaminya dengan senyum yang malu-malu, karena tadi disebut”istri cantikku”. (RH)