Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 29: Dosa Penguasa Bukit


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Kini keenam pendekar tua sudah mengepung Alma Fatara dan Mbah Hitam di panggung arena yang besar dan luas.


Dugk!


Tiba-tiba sebuah benda cukup besar melesat melambung di udara yang tinggi, lalu jatuh keras tidak jauh dari kaki-kaki para tetua. Keenam pengeroyok itupun terkejut bukan main melihat benda yang jatuh ke lantai tersebut.


Benda itu adalah sebuah kepala, bukan kelapa, yang berlumur darah campur kunyahan siri. Darah sudah tidak mengalir dari potongan leher yang tidak rata, tapi darahnya masih mengotori lantai panggung.


“Silang Kanga!” sebut sebagian dari pendekar tua itu karena terkejut.


Mendengar nama itu disebut, terkejutlah Setan Gagah yang ada di panggung tamu dan murid-murid Perguruan Bulan Emas. Rasa campur aduk melanda dalam dada para murid dan petinggi Perguruan Bulan Emas. Bagaimanapun, Silang Kanga adalah guru yang mereka tidak tahu apa kekejamannya, kecuali sedikit dari beberapa petinggi yang tahu alasan guru mereka itu dibunuh.


Buum!


Tiba-tiba dari ketinggian angkasa meluncur turun satu tubuh berpakaian putih. Dia mendarat di tanah antara panggung dan tribun. Ia mendarat begitu keras sehingga debu-debu beterbangan ke segala arah, sekalian melemparkan siapa saja yang berdiri dalam radius dua tombak, tidak peduli itu siapa.


Nenek gemuk yang kotor oleh darah itu tidak lain adalah Balito Duo Lido. Kemunculan si nenek perkasa menambah keterkejutan para penguasa Bukit Tujuh Kepala.


“Silang Kanga adalah penjahat kelamin pertama yang sudah membayar dosa besarnya!” seru Balito Duo Lido yang kian membuat keenam kakek itu tersudut hatinya. “Perbuatan kalian memperkosa Suraya Kencani beramai-ramai tidak akan pernah termaafkan, kecuali dengan kematian!”


“Tenang, tenang!” seru Alma Fatara. “Tenangkan diri kalian lebih dulu sebelum kita masuk ke dalam perkara yang berdarah-darah!”


Semua perhatian yang tertuju kepada Balito Duo Lido kemudian beralih kepada Alma Fatara.


“Pertarungan besar ini dalam rangka penagihan utang masa lalu atas perbuatan bejat yang dilakukan oleh para guru. Aku ungkapkan kepada semua yang hadir di sini. Lebih dua puluh tahun yang lalu, tujuh orang lelaki tua beramai-ramai memperkosa seorang wanita cantik yang bernama Suraya Kencani, setelah diperkosa yang lebih buruk dari binatang, wanita itu dilumpuhkan kesaktiannya dan dibuat gila. Ketujuh orang itu adalah Silang Kanga dan keenam kakek yang sekarang berdiri di atas panggung ini!”


“Apa?!” ucap sejumlah orang karena terkejut.


Bukan hanya mereka yang berucap terkejut, tetapi hampir semua orang, termasuk murid-murid Perguruan Bulan Emas dan perguruan lainnya.


Dan yang paling terkejut dari orang-orang itu tidak lain adalah keenam penguasa bukit.


“Aku tidak pernah tahu bahwa sahabat-sahabatku adalah pendosa besar,” ucap Setan Gagah prihatin. Dia memang tidak termasuk sebagai orang yang mencelakai Suraya Kencani di masa lalu.


“Jaga omonganmu, Ratu Keparat!” teriak Perkasa Rengkah sambil menunjuk Alma Fatara.

__ADS_1


“Kau jangan menebar fitnah tanpa bukti!” teriak Hantu Tiga Anak gusar.


Namun, tiba-tiba ….


“Bebek Setan! Babi Setan! Sapi Setan! Kambing Setan! Ayam Setan! Kucing Setan! Tikus Setan!” maki satu suara wanita tiba-tiba.


Para hadirin kembali dikejutkan oleh munculnya suara makian yang keras itu.


Tiba-tiba di atas tribun muncul sosok wanita berpakaian merah gelap dengan rambut panjang meriap. Meski wajahnya ada polesan pupur dan gincu, tetapi sorot matanya begitu tajam penuh kemarahan. Wanita itu tidak lain adalah Suraya Kencani.


“Suraya Kencani!” sebut Perkasa Rengkah, Jerat Gluduk dan Galah Larut serentak.


“Aku masih mengenali wajah-wajah mesum kalian yang menikmati tubuhku bergantian, meski kalian sudah semakin bau tanah kuburan. Hantu Tiga Anak, Galah Larut, Perkasa Rengkah, Lelaki Tombak, Jerat Gluduk, Kebo Pute, aku masih selalu mengingat rasa-rasa yang begitu menyakitkanku. Mati, mati, hanya kematian kalian yang akan membuatku bahagia!”


“Aku serukan kepada para murid dari guru-guru bejat ini, jika kalian ikut membantu guru-guru kalian, maka itu tanda izin dari kalian kepada kami untuk membunuh kalian!” tegas Alma Fatara dengan wajah yang serius.


Seruan itu membuat murid-murid dari para penguasa bukit dilanda kebimbangan. Mereka jelas harus memilih satu perkara dari dua hal yang bertolak belakang. Jika mereka memilih aman, maka mereka akan dihantui oleh tuntutan kewajiban berbakti kepada guru mereka. Jika memilih membantu guru, maka mereka akan berisiko mati karena jumlah orang tuan rumah lebih banyak.


“Aku juga akan ikut bertarung. Aku termasuk yang paling sakit hati atas apa yang kalian perbuat kepada Suraya Kencani!” seru Rereng Busa dari panggung tamu.


“Berarti lima lawan enam orang. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa kepada para pengepungnya.


“Pedang Tengkorak Malam!” sebut Lelaki Tombak Petir saat mengenali pedang yang dibawa oleh wanita bercadar itu. Setahu dia, itu adalah pedang milik Tengkorak Pedang Kilat.


“Siapa kau? Jangan ikut campur!” tunjuk Jerat Gluduk kepada wanita bercadar yang sudah mendarat di pinggir panggung arena.


“Aku adalah Putri Angin Merah. Aku adalah abdi Ratu Siluman, Panglima Laut Kerajaan Siluman!” seru Cucum Mili memperkenalkan identitas barunya.


“Hahaha!” tawa Kebo Pute yang bergaya santui. Lalu katanya, “Kita terlalu merendahkan diri kita sendiri jika bersikap seperti orang tersudut. Kita ini orang-orang sakti penguasa bukit. Ayo kita menangkan pertarungan ini. Jangan beri ampun kepada mereka!”


“Hancurkan!” teriak Jerat Gluduk.


Teriakan itu membuat murid-murid Perguruan Bukit Dua bertindak dengan melakukan satu gerakan tangan secara bersamaan.


Blar blar blar …!


Maka puluhan ledakan terjadi tiba-tiba, yang oleh orang umum, mereka tidak tahu apa yang membuat ledakan massal itu terjadi. Ledakan juga terjadi pada beberapa tiang panggung arena dan tiang penyanggah tribun.


Panggung arena langsung ambruk sebagian, membuat Alma Fatara, Mbah Hitam, Putri Angin Merah, dan sebagian penguasa bukit melompat serentak ke tempat lain agar tidak ikut jatuh ke bawah.

__ADS_1


Tribun pun berambrukan. Meja-meja makanan yang ada di tribun ikut jatuh berantakan.


Semuanya segera bergerak melakukan tindakan, kecuali beberapa orang yang ada di panggung tamu.


“Pasukan Genggam Jagaaat! Habisi para pengacau!” teriak Panglima Pasukan Genggam Jagad Anjengan. “Hua hua hua!”


“Hua hua hua!” teriak anggota Pasukan Genggam Jagad penuh semangat. Gaya Bajak laut rupanya menular kepada mereka.


“Wik wik wik wik wik!” teriak Anjengan lagi.


“Wik wik wik wik wik!” teriak Pasukan Genggam Jagad lagi sambil berkelebatan mengincar murid-murid Perguruan Bukit Dua.


“Murid-murid Bulan Emas! Buat pesta ini jadi medan perang kalian!” teriak Galak Gigi berkomando.


“Siap!” teriak murid-murid Perguruan Bulan Emas serentak yang membuat merinding kelompok lain. Di tangan mereka sudah terpegang piringan terbang.


Set set set …!


Sejumlah senjata piringan sudah melesat terbang menemukan target yang harus dibunuh atau dilumpuhkan.


Kondisi kacau itu membuat beberapa kelompok murid memilih posisi aman.


Anggota kelompok Tikus Belukar segera berlompatan naik ke panggung utama. Hal yang sama dilakukan oleh murid-murid Setan Gagah, murid-murid wanita Kebo Pute, kedua murid Hantu Tiga Anak, dan satu anggota Kelompok Tombak Petir.


Ada tiga anggota Kelompok Tombak Petir yang datang bersama ketuanya ke pesta itu. Dua wanita dan satu lelaki. Anggota yang lelaki justru memilih tidak terlibat, sementara kedua wanita memilih terlibat membantu pemimpinnya.


Panggung tamu seolah menjadi area aman dari serangan pihak tuan rumah atau musuhnya,


Adapun di pertarungan tingkat tinggi, keenam tetua penguasa bukit masing-masing sudah mendapat lawan.


Alma Fatara mengambil lawan Kebo Pute. Mbah Hitam melawan Hantu Tiga Anak. Suraya Kencani melawan Perkasa Rengkah. Rereng Busa melawan Jerat Gluduk. Balito Duo Lido melawan Lelaki Tombak Petir. Putri Angin Merah melawan Galah Larut. (RH)


 



 


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2