Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 13: Markas Tikus Belukar


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Yono berlari kecil seperti kancil yang girang setelah nyolong timun suri di ladang petani. Ia memasuki kawasan hutan yang penuh tumbuhan jalar yang menjuntai rapat dari atas hingga bawah, sehingga terbentuk seperti dinding tumbuhan jalar yang lebat.


“Hoya hoya hoi!” pekik Yono sambil melambai tangan ke arah atas, seolah menyapa seseorang yang ada di atas pohon besar.


“Hoi!” sahut satu suara lain dari atas pohon, tetapi pemilik suara itu tidak terlihat sosoknya. Dia bukan dedemit, tetapi orang yang memang bersembunyi dalam melaksanakan tugasnya sebagai penjaga.


Yono terus berjalan setengah berlari. Sesampainya di salah satu titik di bagian bawah tirai tumbuhan jalar, Yono langsung menyibak dan berjalan masuk. Ujung-ujungnya Yono muncul di sebuah lubang kecil yang bisa dilewati tubuhnya. Lubang itu terdapat di batang bawah sebuah pohon besar.


Ternyata, Yono masuk ke sebuah lingkungan permukiman kecil, tapi terkurung oleh habitat hutan. Di sana ada beberapa rumah sederhana dari kayu, bahkan ada rumah yang dibuat di atas pohon besar dalam lingkungan.


Uniknya, semua manusia yang terlihat berada di lingkungan itu adalah orang-orang katai campur mini.


“Kakang Yono!” panggil seorang wanita katai sambil berjalan mendatangi Yono. Wanita itu cantik untuk kategori jenis mereka. Ia berbedak dan bergincu. Wanita berambut sepunggung itu mengenakan pakaian warna putih. Ia bernama Klenting Bengi, istri Yono.


Tinggi Klenting Bengi sama dengan Yono, tetapi tubuh wanita itu lebih berisi dan padat.


“Kau mengantar murid Perkasa Rengkah sampai gerbang mana, Kakang?” tanya Klenting Bengi.


“Gerbang Putri saja,” jawab Yono. “Padahal, mereka tinggal menambah sedikit bayaran saja jika mau aku antar sampai Gerbang Pangeran, daripada akan tersesat di Jalan Halimun.”


Keduanya pergi ke sebuah rumah kayu yang terbesar di lingkungan itu. Meski terbesar, tetapi besarnya memadai untuk ditinggali oleh empat orang beraga kecil.


"Hoya hoya hoi, Ketua!" teriak Yono di depan rumah yang pada bagian depan bubungan atapnya ada terpasang ukiran kayu berbentuk kepala ayam hutan jantan.


Dari dalam rumah keluar seorang lelaki katai, tetapi tua karena sudah berkumis dan berjenggot putih. Kumis dan jenggotnya seolah lebih besar dari fisiknya. Ia mengenakan jubah hijau gelap yang seukuran dan kepalanya dililit sorban hijau tanpa ekor. Ia adalah Jongkol Pedih, Ketua Tikus Belukar.


Jongkol Pedih berdiri gagah berwibawa dengan kedua tangan bertaut di belakang pinggang. Sebenarnya tidak bertaut, karena tidak sampai lantaran kedua tangannya kependekan.


"Bagaimana tugasmu, Yono?" tanya Jongkol Pedih.


"Selalu lancar, Ketua. Murid-murid Perkasa Rengkah aku antar sampai Gerbang Putri. Aku juga baru mendapat pesanan untuk mengantar Wakil Ketua Perguruan Bukit Dua ke Candi Alam Digdaya, tapi mereka memilih berangkat awal malam nanti," lapor Yono.


"Sepertinya perguruan-perguruan di Bukit Tujuh Kepala mulai beramai-ramai mengirim utusan pergi ke Candi Alam Digdaya," ucap Jongkol Pedih berpikir.


"Setahuku sudah empat pihak yang mengirim orangnya ke sana. Perguruan Bulan Emas yang lebih dulu masuk sekitar lima hari yang lalu, tetapi mereka belum juga keluar dari Gerbang Pangeran," ujar Yono.


"Mereka terlalu pongah dan meremehkan jasa Tikus Belukar," kata Jongkol Pedih dengan ekspresi seolah benci dengan orang-orang Perguruan Bulan Emas.

__ADS_1


Jongkol Pedih lalu memandang ke sekitar, seolah sedang mencari seseorang.


"Puding!" teriak Jongkol Pedih memanggil seorang katai yang sedang duduk santai di atas rumah pohon.


"Siap, Ketua!" sahut lelaki katai berkumis tebal di atas rumah pohon.


Lelaki bernama Puding itu langsung main lompat, padahal itu terlalu tinggi bagi ukuran tinggi badannya. Rupanya dia menggunakan sehelai kain merah yang dijadikan parasut darurat, membuat jatuh tubuhnya lebih tertahan.


Jleg!


Semendaratnya di tanah berdaun kering, Puding cepat berlari lucu ke depan rumah Ketua. Ia berhenti di sisi Klenting Bengi dan langsung menyolek lengan istri Yono itu.


"Ih, apaan sih pakai colek-colek? Kau pikir aku sambal ijo?" rutuk Klenting Bengi sambil merengut lucu.


"Hahaha!" tawa Puding. Lalu tanyanya kepada Jongkol Pedih, "Ada apa, Ketua? Aku siap menikah!"


"Kalau kau mau menikah, cari istri sendiri, jangan minta kepadaku!" bentak Jongkol Pedih.


"Tapi calon istriku sudah dinikahi oleh Yono, Ketua!" keluh Puding.


"Itu namanya, Klenting bukan calon istrimu, tapi calon istriku!" tandas Yono sambil tersenyum menang.


"Baik, Ketua!" ucap Puding patuh.


"Pergilah!"


"Baik, Ketua!"


Setelah menjura hormat, Puding segera berlari pergi untuk mengajak dua temannya.


Fooong ...!


Tiba-tiba terdengar suara seperti tiupan terompet besar.


Kemunculan suara itu megejutkan Ketua Tikus Belukar dan seluruh penghuni tempat itu. Terbukti, dengan cepat para manusia yang ada di dalam rumah berkeluaran. Mereka semua memandang ke atas, meski mereka tidak mencari sesuatu.


Dengan berkeluarannya seluruh penghuni tempat itu, maka terlihat pula bahwa di lingkungan itu ada juga kaum anak-anak yang juga cebol-cebol.


Istri Ketua Tikus Belukar yang juga seorang wanita tua katai muncul dari dalam rumah.

__ADS_1


Fooong ...!


"Ada yang menyeraaang!" teriak Yono keras tiba-tiba.


Jongkol Pedih, Yono, Klenting Bengi dan warga lainnya cepat berlarian dan berkelebat pergi ke beberapa batang pohong besar yang tumbuh di pinggiran lingkungan.


Seperti bukan manusia, manusia-manusia kecil itu bergerak sangat lincah seperti sekumpulan monyet. Jumlah mereka lebih dua puluh orang. Sebagian kaum wanita dan semua anak-anak tetap tinggal di dalam lingkungan.


Jongkol Pedih dan warga kelompoknya yang bernama Tikus Belukar itu berlompatan ke pohon lain, lalu menerabas dinding tumbuhan jalar yang lebat. Setelahnya, mereka bermunculan di luar lingkungan di berbagai titik, ada di dahan pohon nan tinggi, di cabang pokok pohon, dan di bawah. Sebagian memilih menyembunyikan diri di balik semak belukar yang lebat. Itu bagian dari siasat untuk berjaga-jaga jika harus terjadi pertarungan.


Jongkol Pedih bersama Yono dan sepuluh orang katai lainnya berdiri menghadap kepada serombongan orang berseragam kuning. Orang-orang itu bersenjatakan piringan logam di tangan, menunjukkan bahwa mereka siap bertarung.


Rombongan dua puluh murid Perguruan Bulan Emas itu dipimpin oleh seorang murid utama yang tidak lain adalah Gudibara, rekan Buto Renggut dan Juyung Sawa. Gudibara ditugaskan untuk pergi memberi peringatan kepada kelompok Tikus Belukar.


Di depan kaki Gudibara ada sesosok tubuh kecil berpakaian biru gelap yang tergeletak. Ada noda darah yang banyak pada tubuh dan pakaiannya. Wajah khasnya tampak bengap dan mulutnya belepotan oleh darah.


"Apa yang kau lakukan kepada orangku, Murid Bulan Emas?!" bentak Jongkol Pedih gusar. Wajah dan sepasang matanya memerah menahan amarah.


"Ini peringatan dari kami kepada kalian, Jongkol Pedih!" seru Gudibara. "Jika kalian masih membantu menunjukkan jalan kepada murid-murid Jari Hitam untuk menyusup, maka tidak segan-segan nyawa kalian kami renggut. Kali ini hanya peringatan!"


"Gudibara! Jika kalian mempermasalahkan pekerjaan kami, maka kalianlah orang pertama yang melakukannya. Beri tahu kepada Ketua Perguruan Bulan Emas, memusuhi Tikus Belukar di saat kami tidak memiliki musuh adalah kerugian besar!" seru Yono tidak kalah gertak.


"Jika sampai ada anggota Tikus Belukar yang mati di tangan kalian, maka kalian akan merasakan seperti apa kehebatan Tikus Belukar yang sebenarnya!" seru Klenting Bengi pula yang menunjukkan wajah kemarahannya.


"Hahaha! Apa hebatnya manusia-manusia tidak normal seperti kalian?" kata Gudibara sambil tertawa meremehkan.


Jongkol Pedih dan warganya hanya menatap tajam penuh amarah kepada Gudibara dan pasukannya.


Yono berlari pergi mendapati rekan mereka yang terkapar di depan kaki Gudibara.


"Jubalawo!" sebut Yono saat mendapati tubuh rekannya yang terluka parah oleh beberapa sayatan benda tajam.


Gudibara membiarkannya seraya tersenyum memandangi Yono membantu rekannya yang bernama Jubalawo.


"Ingat peringatan ini, Jongkol Pedih. Memusnahkan kalian adalah perkara muda bagi kami!" seru Gudibara lagi kepada Ketua Tikus Belukar.


"Kalian akan menyesali perbuatan kalian ini!" kata Jongkol Pedih.


"Ayo pulang!" seru Gudibara kepada para juniornya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2