
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
Ki Jolos dan para lelaki Desa Rangitan kini berkumpul di balai desa yang wujudnya hanya balai-balai lebar tanpa dinding atau pun atap. Terbuka begitu saja sehingga terik matahari siang tetap menerpa mereka. Meski demikian, angin telaga begitu sejuk sebagai peredam panas.
Di saat mereka sedang berkumpul, di sisi lain, istri dan ibu dari warga yang terbunuh, terdengar menangis dan meratap. Apa boleh buat, memang harus ada pengorbanan demi menuju kepada perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Siapa pun pemimpinnya, yang penting kopinya tetap hitam.
“Apa keputusan Ki Jolos?” tanya Jalu Segoro, salah seorang yang merasa sangat tertolong oleh ulah Alma Fatara dkk.
“Jangan sampai salah mengambil keputusan, Ayah. Kehidupan orang sedesa menjadi taruhannya,” kata Sinjor memberi tekanan kepada ayahnya.
“Jalu Segoro saja tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi kami yang hanya bisa menjala ikan,” kata seorang tua yang setua Ki Jolos.
“Tapi mereka orang asing,” kata Ki Jolos masih menyimpan keberatan.
“Ki, tidak semua orang asing itu pasti Siluman Ikan. Jika mereka Siluman Ikan juga, mana mungkin mereka membunuh teman sendiri,” kata Tergat.
“Aku yakin, setelah matinya tiga Siluman Ikan itu, nanti akan datang Siluman Ikan yang lebih banyak,” kata Jalu Segoro.
“Kita sangat butuh mereka, Ayah. Semua pasti sepakat jika mereka tinggal di sini sampai masalah Siluman Ikan selesai. Apalagi pemimpinnya itu cantik sekali, Ayah,” kata Sinjor.
“Kau kurang ajar juga, Sinjor. Dalam situasi kacau seperti tadi kau malah ambil kesempatan mau memeluknya. Membuat aku malu saja!” omel Ki Jolos.
“Hehehe!” tawa cengengesan Sinjor.
“Tapi, apakah mereka mau menetap sementara di desa ini?” tanya Ki Jolos.
“Kita bayar berapa pun yang mereka minta agar bersedia tinggal di sini, Ki!” tandas warga yang bernama Gendoro.
“Benar, kita jadikan mereka sebagai raja untuk sementara. Aku juga bersedia jika disuruh menikah,” kata Sinjor.
“Meski dengan yang gendut itu?” tanya Jalu Segoro.
“Setidaknya dengan yang gagap itu, orangnya lumayan cantik,” jawab Sinjor.
“Kau jangan memikirkan wanita terus dalam kondisi seperti ini, Sinjor!” hardik Ki Jolos.
“Kalau demi kebaikan desa tidak apa-apa, Ayah,” kilah Sinjor.
“Ki Jolos! Ki Jolos!” teriak pemuda bernama Aji Tungka. Ia yang saat ini ditugaskan mengawasi area pantai.
“Ada apa, Aji?” tanya Ki Jolos.
Semua mata memandang kepada Aji Tungka.
“Orang-orang asing itu akan pergi!” lapor Aji Tungka.
Terkejutlah mereka semua. Buru-buru Ki Jolos turun dari balai yang diikuti oleh warga lainnya. Mereka semua segera pergi sedikit ke depan untuk melihat ke pantai.
Benar adanya, Alma Fatara dan keempat sahabatnya sudah berdiri dari duduknya.
__ADS_1
“Be-be-be …!”
“Bengal?” terka Juling Jitu memotong teriakan Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukaaan. Be-be-berangkaaat!” teriak Gagap Ayu menyempurnakan teriakannya yang terpotong.
“Hahaha!” tawa Alma lalu lebih dulu melangkah hendak meninggalkan pantai itu.
Terkejutlah Ki Jolos dan warga desa.
“Tungguuu!” teriak Ki Jolos sambil berjalan cepat menuju pantai.
Alma Fatara dan keempat sahabat kentalnya mendengar teriakan Ki Jolos, tetapi mereka terus berjalan.
“Pura-pura tidak dengar!” kata Alma setengah berbisik kepada rekan-rekannya.
Maka mereka berlima pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan hendak meninggalkan pantai. Hal itu membuat Ki Jolos harus sedikit berlari kecil demi mengejar Alma dkk.
“Tunggu, Nisanak Pendekar!” teriak Ki Jolos lagi ketika jaraknya sudah dekat.
“Tunggu, Nisanak Pendekar!” teriak para warga bersamaan agar teriakan mereka benar-benar terdengar oleh Alma dkk.
Tidak mungkin lagi Alma dkk berpura-pura tidak mendengar lagi, terlebih di antara mereka tidak ada yang sedang menggunakan earphone atau headset. Alma lebih dulu berhenti, karena memang dialah yang dipanggil oleh Ki Jolos. Alma tersenyum kepada Ki Jolos.
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu ikut berhenti dan beralih memandang kepada kedatangan Ki Jolos dan warga desa.
“Ada apa, Paman?” tanya Alma ramah.
“Eee … bi-bisakah kalian semua singgah di desa kami dan menolong kami?” tanya Ki Jolos.
“Benar, tapi itu hanya salah paham,” kata Ki Jolos.
“Biasa, itu bunga-bunga perkenalan pertama, Nisanak,” kata Sinjor sambil tersenyum.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar perkataan anak bapak itu. “Paman, bila mengundang singgah, itu berarti ada suguhan nikmat untuk kami yang para pengelana. Jika kalian meminta pertolongan, itu berarti ada sesuatu yang harus dibayar mahal.”
“Ya, tidak apa-apa. Kami akan suguhkan sajian terlezat yang Desa Rangitan miliki untuk kalian. Urusan bayaran mahal pun kami tidak permasalahkan asalkan kami ditolong!” kata Ki Jolos yang kini begitu lunak.
“Bagaimana, Sahabat?” tanya Alma kepada keempat sahabatnya.
“Siapa takut?” jawab Juling Jitu.
“Asalkan tidak terulang lagi ada penncuri telur angsa!” tandas Iwak Ngasin yang denyut pelemas pada selangkangannya masih terkenang-kenang.
“Asalkan makanannya benar-benar ada, bukan harapan palsu!” tandas Anjengan.
“Asalkan aku ti-ti-tidak di-di-diperkosa lagi!” tandas Gagap Ayu pula.
“Bukan aku!” bantah lelaki yang tadi memeluk Gagap Ayu paling kencang.
“Bukan aku juga!” kata kakek yang mendorong Gagap Ayu pada bagian dada.
__ADS_1
“Mari, Nak. Kita bicara di balai desa!” ajak Ki Jolos.
“Mari-mari!” kata Alma seraya tersenyum.
“Hayeee!” sorak gembira sebagian warga karena kesediaan Alma dkk.
Mereka pun kembali pergi ke permukiman desa, tepatnya di balai desa.
Di sana, setelah saling berkenalan, Ki Jolos dan Alma mempertegas tawar-menawar mereka.
“Pokoknya kami akan melayani Nak Alma sebaik-baiknya selama tinggal di sini!” tandas Ki Jolos.
“Lalu kami bagaimana? Kami juga perlu dilayani!” protes Anjengan.
“Ma-maksudku itu Nak Alma dan kalian semua,” ralat Ki Jolos cepat.
“Oooh! Hahaha!” desah Alma dkk lalu tertawa berjemaah.
“Jika kalian membutuhkan calon suami atau calon istri, dengan senang hati kami akan sediakan,” ujar Sinjor.
“Aku mau dengan Kang Sinjor!” sahut Anjengan cepat, membuat Sinjor telan ludah pahit mendengarnya.
“Hahaha!” Alma tertawa melihat reaksi Sinjor. Lalu katanya kepada kakaknya, “Kita belum jauh keluar, tapi Kakak sudah mau kawin. Nanti bukannya kesaktian yang bertambah tinggi, justru perut yang bertambah bengkak.”
“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Gagap Ayu menertawakan Anjengan.
“Nanti kita akan bertemu banyak pendekar yang tampannya segunung dan pangeran yang gantengnya selangit. Jika kawin sekarang, nanti Kakak akan menyesal,” lanjut Alma.
“Iya iya iya, aku akan mempertahankan keperawananku demi menjaga maruah gelarku sebagai Dewi Laut,” kata Anjengan.
“Hahaha!” giliran Alma yang tertawa sendiri mendengar kata-kata Alma.
Tiba-tiba Iwak Ngasin tersenyum-senyum sambil memandang jauh ke sebuah rumah. Melihat rekannya tersenyum-senyum seperti orang halu, Alma dan Ki Jolos secara bersamaan menengok ke arah pandangan Iwak Ngasin.
Ternyata, Iwak Ngasin sedang main mata dengan putri Ki Jolos yang bernama Seriwai. Sang gadis cantik itu cepat memasukkan kepalanya ke balik jendela rumahnya saat terpergok oleh Alma dan Ki Jolos. Ketika yang lainnya ikut memandang ke jendela rumah Ki Jolos, wajah Seriwai sudah menghilang.
Setelah itu, Alma dan Ki Jolos langsung beralih memandang wajah Iwak Ngasin. Karena ketahuan, Iwak Ngasin langsung diam mengunci bibir tanpa senyuman.
“Paman, kemungkinan akan ada serangan lebih buruk dari ketiga Siluman Ikan itu. Lebih baik Paman persiapkan tempat berlindung, karena bagaimanapun, Paman dan warga tidak akan bisa berhadapan langsung dengan mereka, justru mungkin akan jatuh korban tambahan. Kami berlima akan berjaga di pantai,” kata Alma.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya Ki Jolos kurang tangkap.
“Buat tempat persembunyian yang bagus. Mungkin saja kami pun nanti akan gagal mencegah para Siluman Ikan yang lain,” tandas Alma.
“Dan yang harus Ki Jolos dan warga lakukan adalah melayani kebutuhan kami!” tegas Anjengan.
“Baik,” patuh Ki Jolos, sudah seperti pemimpin yang ketergantungan bantuan.
“Tiga mayat Siluman Ikan itu dibersihkan dari pantai, jangan sampai meninggalkan jejak sedikit pun. Kalian bisa kubur atau bakar untuk santapan malam,” kata Alma.
“Iiih!” Warga bersuara tergidik ngeri.
__ADS_1
“Amit-amit kalau sampai makan Siluman Ikan bakar!” ucap Jalu Segoro.
“Hahaha!” tawa Alma. (RH)