Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 7: Memeriksa Gua Ular


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


Badak Ireng dan pasukannya dibuat terkejut oleh kesan pertama yang diberikan oleh Pasukan Genggam Jagad.


Memerhatikan para pendekar yang ada di dalam barisan Pasukan Genggam Jagad, Badak Ireng mengenal beberapa wajah, terutama Tiga Penjaga Emas yang berbadan besar. Apalagi jika melihat siapa yang duduk di kereta kuda, dua nenek yang ternama di dunia persilatan.


“Banyak sekali gadis-gadis cantiknya,” ucap Badak Ireng ketika matanya terpaku melihat kecantikan yang tersembunyi di balik tubuh berlemak trio gendut.


“Ayu, majulah!” perintah Alma Fatara.


Terkejut Gagap Ayu mendapat perintah di luar dari keahliannya. Anjengan selaku Panglima Besar juga terkejut mendengar perintah itu.


Gagap Ayu tidak langsung maju, tetapi dia menengok serius dengan ekspresi mengiba.


“Hahaha! Majulah!” perintah Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.


“Ba-ba-baik, Gusti Ratu,” ucap Gagap Ayu patuh pada akhirnya.


Gagap Ayu lalu maju. Ia memberi kode kepada keempat anak buahnya untuk ikut maju menemaninya agar kepercayaan dirinya muncul.


Pada akhirnya, kelima wanita cantik itu berdiri di hadapan kuda-kuda Badak Ireng dan para pendekar yang bersamanya.


“Ki-ki-kisanak!” seru Gagap Ayu.


“Hahahak …!”


Baru satu kata Gagap Ayu berseru, Badak Ireng dan pasukannya sudah tertawa terbahak-bahak begitu kencang. Namun, Gagap Ayu, keempat anak buahnya dan Pasukan Genggam Jagad di belakang, hanya diam.


“Kisanak, si-si-siapa ….”


“Hahahak …!” tawa terbahak Badak Ireng dan pasukannya untuk kedua kalinya.


“Kisanak, siapa kalian?!” seru Gagap Ayu lebih keras dan lebih lancar.


Terkejut Badak Ireng mendengar pertanyaan Gagap Ayu.


“Hahahak!” Giliran beberapa orang dari Pasukan Genggam Jagad yang menertawakan Badak Ireng.


“Ke-ke-kenapa kau terkejut, Ki-ki-kisanak?” tanya Gagap Ayu.


“Ka-ka-kalian tidak mengenalku?” tanya Badak Ireng yang mendadak gagap.


“Hihihi …!” tawa Gagap Ayu dan keempat anak buahnya yang bersenjata dua piringan perak pada pinggangnya.


“Hei! Jangan tertawa!” bentak Badak Ireng.


“Kami ju-ju-juga bisa te-te-tertawa!” kata Gagap Ayu.


“Apakah kalian berani berurusan dengan pasukan pemerintah, hah?!” tanya Badak Ireng menantang.

__ADS_1


“Hihihi! Ja-ja-jangankan pa-pa-pasukan kadipaten se-se-seperti kalian, pa-pa-pasukan Kerajaan Si-si-singayam kami bu-bu-buat onde-onde!” koar Gagap Ayu dengan penuh perjuangan.


“Jika kalian tahu kami pasukan dari kadipaten, kenapa bertanya?!” bentak Badak Ireng.


“Hihihik …!” Giliran Gagap Ayu yang merasa di atas angin. Lalu katanya dengan serius, “Aku ha-ha-haciuw!”


Mendadak Gagap Ayu bersin tanpa terencana.


“Hahahak!” tawa Pasukan Genggam Jagad yang justru membuat Badak Ireng dan pasukannya dongkol.


Gagap Ayu segera menyeka area hidung dan mulutnya, khawatir ada lendir yang gergelayutan tanpa izin.


“Aku ha-ha-hanya ingin me-me-memberi tahu bahwa ka-ka-kami menemukan ba-ba-banyak mayat prajurit di su-su-sungai,” ujar Gagap Ayu.


“Aku sudah tahu itu!” tandas Badak Ireng. “Makanya aku membawa pasukan untuk merebut kembali sungai yang diserang!”


“Hihihi! Ba-ba-bagus jika demikian. Be-be-beri Ra-ra-ratu Siluman dan pa-pa-pasukannya jalan!” perintah Gagap Ayu.


“Ratu Siluman?” ucap ulang Badak Ireng terkejut. Lalu teriaknya kepada pasukannya, “Beri jalan untuk pasukan Ratu Siluman!”


Badak Ireng dan pasukannya segera meminggirkan kuda-kudanya dan dirinya sendiri. Dalam waktu singkat, jalan lebar berpagar pasukan prajurit kadipaten tercipta.


Gagap Ayu dan keempat anak buahnya segera kembali ke posisinya.


“Kerja bagus, Ayu!” puji Alma Fatara seraya tersenyum lebar.


“Jangan ragu untuk menugaskanku, Gusti Ratu. Hihihi!” kata Gagap Ayu lalu tertawa berbusung dada.


Alma Fatara hanya tersenyum kepada Badak Ireng ketika dia berlalu.


“Siapa mereka, Panglima?” tanya pendekar gagah yang berkuda di sisi kiri Badak Ireng, setelah Pasukan Genggam Jagad berlalu pergi. Pendekar bersenjata pedang itu bernama Bakiwang, orang kepercayaan Badak Ireng.


“Wanita cantik berpakaian hitam yang duduk di kereta kuda tadi adalah Ratu Siluman, wanita muda yang sudah membunuh Tengkorak Pedang Kilat dalam sebuah pertandingan. Namanya kini menjadi pembicaraan di kalangan pendekar,” jawab Badak Ireng. “Bahkan guru-guru yang menguasai Bukit Tujuh Kepala takluk semua di tangannya.”


Badak Ireng lalu melanjutkan perjalanannya dan rombongannya.


Rombongan itu terus berjalan, tapi mereka tidak mengikuti jalan yang telah ditempuh Alma Fatara dan pasukannya, karena kemudian mereka berbelok setelah keluar dari lembah.


Setelah pasukan itu tiba di sebuah tempat yang masih cukup jauh dari aliran sungai, Badak Ireng menghentikan pasukannya.


Tiga belas pendekar yang berkuda turun dari tunggangannya masing-masing.


“Sembul Lawang, Toronggo, pergilah kalian mengintai kondisi di Gua Ular!” perintah Badak Ireng.


“Baik, Panglima!” sahut kedua pendekar yang dipanggil namanya.


Sembul Lawang dan Toronggo adalah pendekar muda yang sama-sama bersenjatakan pisau-pisau terbang. Jari-jari mereka dibalut dengan kain. Entah apa maksudnya, padahal jari-jari tangan mereka tidak terluka bekas main silet.


Keduanya bergerak cepat naik ke tanah tinggi lalu berkelebat pergi menuju area bertebing batu.

__ADS_1


Pada satu titik, keduanya berhenti dan mengawasi sealiran sungai dangkal berpasir dan berbatu. Aliran sungai itu masuk ke bawah tebing batu. Jika dilihat dari posisi pantau, tidak begitu jelas, apakah aliran sungai benar-benar masuk ke bawah tebing batu atau ada ruang yang tidak terlihat.


Anehnya, di pinggiran sungai ada tumpukan-tumpukan pasir dan kondisi sungai yang tidak alami. Terlihat pula ada beberapa gerobak dan alat terbuat dari besi dan kayu. Namun, tidak terlihat ada orang di sana.


“Sepertinya tidak ada orang,” ucap Sembul Lawang kepada Toronggo.


“Rasanya tidak mungkin jika tambang itu ditinggal begitu saja. Aku khawatir ini jebakan,” kata Toronggo curiga.


“Lalu bagaimana? Jika kita tidak turun, kita tidak bisa tahu apakah ada orang atau tidak di dalam tambang,” kata Sembul Lawang.


“Kita tunggu sebentar dulu. Mungkin akan ada pergerakan,” kata Toronggo.


Keduanya pun memutuskan menunggu sambil pandangannya terus memerhatikan area sungai dan sekitarnya. Namun, hingga seukuran waktu meminum dua gelas kopi panas, tidak ada pergerakan manusia di sekitar sungai, kecuali pergerakan air sungai yang tanpa henti.


“Sepertinya aku harus turun ke bawah. Kau tunggu di sini. Jika terjadi sesuatu di bawah, cepat pergi,” kata Sembul Lawang.


“Baik,” setuju Toronggo.


Sembul Lawang lalu bergerak keluar dari tempat pengintaian dan bergerak lincah di bebatuan untuk turun ke sungai. Sementara Toronggo tetap bertahan dan memerhatikan tanpa mengalihkan pandangan.


Sembul Lawang terus turun hingga ke pinggir sungai. Setelah ia turun, barulah terlihat bahwa sungai memasuki sebuah gua yang berada di bawah tebing batu. Kondisi dalam gua gelap, cahaya matahari tidak bisa menembus jauh ke dalam.


Di dalam gua pun ada banyak tumpukan-tumpukan batu sungai dan pasir.


Kini, Sembul Lawang berdiri di mulut gua, tetapi dia tidak bisa melihat jelas ke dalam lorong gua. Biasanya, ada sejumlah obor batu yang menyala pada dinding bagian dalam gua.


“Sepertinya ada orang di dalam sana,” pikir Sembul Lawang curiga.


Set set!


Tiba-tiba Sembul Lawang melesatkan dua pisau terbangnya yang sudah bersinar biru terang. Kedua pisau itu melesat masuk menyinari ruang gelap di dalam gua.


Ternyata benar dugaan Sembul Lawang. Penerangan dari dua pisau terbang itu membuat sejumlah orang yang bersiaga di dalam gua terlihat jelas.


“Seraaang!” teriak keras satu suara lelaki dari dalam gua.


Para lelaki berpakaian cokelat yang bersembunyi di dalam gua cepat berlarian keluar dengan pedang di tangan.


Set set set!


Sembul Lawang melesatkan beberapa pisau terbangnya.


“Ak ak ak!” jerit para penyerang yang tertusuk pisau terbang. Sementara yang lainnya terus menyerang kepada Sembul Lawang.


“Sembul, cepat naik!” teriak Toronggo dari sisi atas tebing.


Buru-buru Sembul Lawang berkelebat untuk menyelamatkan diri.


Swiis! Bluar!

__ADS_1


Namun, tiba-tiba seberkas sinar kuning melesat menyerang Sembul Lawang. Pemuda itu bisa mengelak, tetapi ledakan keras pada batu yang tadi dipijaknya, membuatnya terlempar jatuh kembali ke bawah.


Saat itu juga muncul berkelebat sosok lelaki berpakaian warna biru putih. Ia mendarat di atas batu dengan menyandang sebilah golok warna hitam yang gagangnya berukir bentuk kepala kuda. Dia adalah Garap Jaran yang ternama dengan julukan Si Golok Kuda. (RH)


__ADS_2