
*Episode Terakhir (PITAK)*
Setelah menghancurkan pasukan Kadipaten Gulangtara dan membuat Badak Ireng kabur membawa luka dalamnya, Wulan Kencana yang baru berhasil keluar dari Candi Alam Digdaya beberapa hari lalu, segera pergi ke Gua Ular.
Setibanya di sana, pertarungan sudah berakhir dengan kemenangan di pihak Si Golok Kuda dan Cantik Kuku Hijau.
Puluhan mayat bergelimpangan di sekitar sungai, baik mayat prajurit, mayat lelaki berpakaian cokelat dan mayat orang-orang berpakaian hijau.
Lima pendekar yang sebelumnya memimpin pasukan kadipaten, yakni Bakiwang, Dunggatala, Barangsang, Jenala, dan Taring Lawak, tewas di tangan Si Golok Kuda dan Cantik Kuku Hijau. Sementara Songgor Getok berhasil menyelamatkan diri dengan cara menyelam ke dasar sungai dan keluar dari gua lewat lubang saluran sungai.
Ketika Wulan Kencana yang kini berjuluk Pembunuh Dari Bulan datang bersama Pawang Tengkorak dan pasukan berpakaian cokelat, terkejutlah Si Golok Kuda dan Cantik Kuku Hijau, karena kehadiran wanita cantik yang kini menjadi nenek cantik itu tidak ada dalam obrolan kesepakatan.
“Aku tidak setuju jika dia memimpin kita!” tolak Cantik Kuku Hijau setelah diberi tahu tentang siapa adanya si nenek berjubah jingga.
“Sebelumnya kita tidak pernah menyebut Wulan Kencana dalam rencana kita. Gua tambang ini telah menjadi milik kita. Jika dia ingin merebutnya, hadapi kami lebih dulu!” tandas Si Golok Kuda yang bernama asli Garap Jaran.
“Baik. Jika kalian mati, berarti pasukan dan gua tambang ini adalah milikku sendiri!” tantang Wulan Kencana.
“Kepung!” teriak Cantik Kuku Hijau memberi perintah kepada pasukan berpakaian hijaunya.
Pasukan berpakaian hijau yang berjumlah sekitar tiga puluh orang, segera bergerak mengepung posisi Wulan Kencana dan kesembilan muridnya.
“Munduuur!” teriak Pawang Tengkorak pula kepada pasukan berpedang berseragam cokelat. Ia adalah pemimpin dari pasukan itu.
Pasukan berpakaian cokelat yang berada di bawah perintah Si Golok Kuda, mengikuti perintah Pawang Tengkorak.
“Aku peringatkan kalian, tunduk atau nyawa kalian melayang!” seru Wulan Kencana.
“Serang!” teriak Cantik Kuku Hijau lantang tanpa mau negosiasi lagi.
Bles bles bles …!
Serentak pasukan berpakaian hijau melemparkan bola-bola kecil berwarna hitam ke sekitar Wulan Kencana dan kelima muridnya. Bola-bola itu langsung berledakan mengeluarkan asap tebal berwarna hijau tebal.
Wuss!
Namun, dengan sigap Wulan Kencana mengeluarkan selembar kipas berwarna hitam yang langsung dikembangkan. Kipas itu langsung digerak-gerakkan dengan cepat di tangan sendiri.
Segulung angin dahsyat lagi berhawa panas sangat cepat muncul berputar membentengi posisi Wulan Kencana dan kelima muridnya yang tersisa. Angin itu membuat banyaknya asap hijau yang beracun berembus liar ke segala arah dan menyerang balik para pelempar bom asap.
__ADS_1
Namun, bagi Cantik Kuku Hijau dan pasukannya bukanlah masalah ketika mereka terkena asap beracun. Mereka semua sudah kebal karena sudah makan penawar racun sebelumnya.
Bruss!
Namun tiba-tiba, setelah angin yang bertingkah sebagai benteng, dari kipas hitam yang bernama Kipas Raja Dunia di tangan Wulan Kencana, keluar semburan api yang sangat besar dan bergerak cepat berputar menyambar semua orang berpakaian hijau yang mengepung. Serangan itu seperti semburan api yang membumihanguskan puluhan serangga-serangga kecil.
“Aak! Aak! Aak …!”
Pasukan berpakaian hijau dalam waktu serentak diliputi api yang membakar tubuh dan pakaian mereka, menunjukkan jejeritan yang memilukan dan pemandangan yang mengerikan. Mereka pun berteriak kepanasan.
“Panaaas! Panaaas …!”
Ada yang matinya ekspress, ada pula sebagian segera berlarian ke air sungai yang mengalir. Tujuannya jelas untuk memadamkan api di tubuh mereka.
Namun anehnya, api yang membakar mereka tidak padam ketika tersiram air. Ketika tubuh mereka masuk ke dalam air sungai, api itu berubah wujud seperti sinar merah yang terus membakar daging tubuh korban. Maka ramailah sungai itu oleh mayat-mayat hangus.
Entah, api jenis apa yang dikeluarkan oleh Kipas Raja Dunia sehingga bisa sebesar kebakaran hutan dan tidak padam sifatnya ketika di dalam air.
Terkejutlah Pawang Tengkorak, Si Golok Kuda dan Cantik Kuku Hijau melihat kehebatan dan keganasan kipas yang dipegang oleh Wulan Kencana.
“Hihihi!” tawa Wulan Kencana melihat ketegangan pada wajah-wajah pendekar sakti itu. “Kenapa? Kalian terkejut melihat kehebatan senjataku? Hihihi!”
Si Golok Kuda dan Cantik Kuku Hijau hanya diam, tapi saling melirik tanpa ada kesepakatan asmara.
“Apa?!” ucap Pawang Tengkorak, Si Golok Kuda dan Cantik Kuku Hijau benar-benar terkejut.
“Bagaimana bisa kipas itu ada di tangannya?” tanya Si Golok Kuda kepada rekan sekutunya, meski ia tahu bahwa wanita pesolek itu tidak memiliki jawabannya.
“Tentunya kalian tahu takdir dari Kipas Raja Dunia, yaitu pemiliknya akan menguasai dunia persilatan,” kata Wulan Kencana. Lalu teriaknya tiba-tiba kepada kedua pendekar lawannya, “Tunduk sekarang atau mati sesaat lagi?!”
“Tidak akan aku biarkan wanita tua dan kejam sepertimu memimpin dunia persilatan. Tambang ini adalah milik kami, kau tidak punya hak!” teriak Cantik Kuku Hijau lalu memunculkan dua sinar putih menyilaukan di kedua telapak tangannya.
Clap!
Jarak yang cukup jauh membuat wanita berjubah putih, berpinjung merah dan berdada segar itu memilih kecepatan tingkat tertingginya.
“Purnama Bingar!” sebut Wulan Kencana.
Clap!
Setelah memanggil murid utamanya, Wulan Kencana juga tahu-tahu menghilang dari tempat berdirinya. Seiring itu, dua garis sinar putih melesat begitu cepat ke posisi yang ditinggalkan oleh Wulan Kencana.
__ADS_1
Dua garis sinar putih terang itu adalah pintasan dua sinar putih di tangan Cantik Kuku Hijau. Meski wanita berkuku hijau itu tidak terlihat lesatan tubuhnya, tapi kedua sinar putihnya masih terlihat seperti lesatan peluru berekor.
Bluar bluar!
Sangat cepat, tahu-tahu dua ledakan yang rapat pada satu lokasi terjadi. Empat murid Wulan Kencana yang berusaha menghindar harus berpentalan jauh karena kecepatan mereka lebih lambat.
Set set!
Namun berbeda bagi Purnama Bingar, dia masih lebih cepat. Meski mendapat daya dorong dari dua ledakan itu, ia masih sempat melaksanakan maksud dari gurunya menyebut namanya tadi.
Purnama Bingar melesatkan sepuluh piringan sinar emas dari ilmu Sepuluh Purnama Kematian. Kesepuluh piringan sinar itu tidak menyerang Cantik Kuku Hijau, yang sekejap sebelumnya menghantamkan dua sinar putihnya.
Namun, di titik yang lain, Wulan Kencana muncul usai menghindar. Ia sudah tidak memegang kipasnya. Ia hentakkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka ke arah sepuluh piringan sinar emas di udara. Ia mengayunkan kedua tangannya, seolah mengambil alih kendali kesepuluh piringan sinar.
Seeet!
Setelah itu, kesepuluh piringan sinar emas milik Purnama Bingar melesat sangat cepat menyerang Cantik Kuku Hijau.
Terkejut Cantik Kuku Hijau. Ia tidak menduga bahwa kesepuluh piringan sinar itu bisa dikendalikan oleh Wulan Kencana, sementara pemiliknya sendiri mendarat di sebongkah batu dan nyaris tersungkur.
Clap! Clap!
Bluar!
Tidak mungkin menghadapi kesepuluh piringan sinar tersebut. Cantik Kuku Hijau tahu sehebat apa ilmu Sepuluh Purnama Kematian. Karenanya, dia memilih melesat menghindar. Karena terlalu cepatnya, Cantik Kuku Hijau laksana menghilang.
Namun, pada saat yang sama, Wulan Kencana juga menghilang. Dan kejap berikutnya telah terjadi ledakan tenaga sakti dari dua sinar beda warna di udara. Sinar jingga menyilaukan dan hijau meledak dahsyat di udara.
Dari ledakan itu tahu-tahu melesat cepat tubuh Cantik Kuku Hijau, tapi lesatannya mundur.
Bdakr! Jbur!
Punggung Cantik Kuku Hijau menghantam bongkahan batu besar pinggir sungai, hingga terdengar jelas suara tulang yang patah. Tubuh indah Cantik Kuku Hijau langsung jatuh tenggelam ke dalam aliran sungai.
Wulan Kencana yang baru mendarat dari peraduan ilmu dengan lawannya, hanya berdiri menatap ke aliran air. Suara tulang yang patah seolah menjadi informasi valid bahwa Cantik Kuku Hijau tewas.
Ilmu Jingga Perkasa selalu unggul dalam peraduan dengan kesaktian lain.
“Apakah kau juga mau melawan, Golok Kuda?!” bentak Wulan Kencana kepada Garap Jaran.
“Baik, aku tidak akan melawanmu, tapi aku juga tidak mau menjadi pengikutmu!” tandas Garap Jaran.
__ADS_1
“Baiklah. Anggap saja dirimu bekerja sama dengan orang yang lebih kuat,” kata Wulan Kencana tidak mau memaksakan kehendaknya. Sebab, jika dia harus membunuh pemuda itu juga, sama saja mengurangi kekuatan, sementara murid-muridnya telah mati dan terluka. Pawang Tengkorak pun dalam kondisi terluka, tidak bisa menjadi andalan dalam waktu sehari dua hari. (RH)