Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 12: Undangan Pendekar


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Rapat kedua diadakan tidak lama setelah acara pesta makan ayam panggang. Kali ini, Rereng Busa, Balito Duo Lido dan Cucum Mili dilibatkan.


“Nantinya, Perguruan Jari Hitam akan kembali berfungsi seperti biasa. Jika aku memerlukan bantuan, aku akan mengirim utusan ke perguruan. Demikian pula dengan Nenek Balito. Aku minta Nenek membangun kekuatan. Apakah itu bentuknya perguruan, desa, atau sekedar memiliki murid, terserah Nenek Balito sukanya yang seperti apa. Artinya, Nenek Balito tetap menjadi pemimpin di Desa Tinggelos. Hanya, aku meminta Kakek Rereng dan Nenek Balito tetap di sini sampai urusan dendam Suraya Kencani selesai,” kata Alma Fatara kepada kedua tetua sakti itu.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap kedua orang tua itu patuh.


“Bagaimana dengan Kakak Putri?” tanya Alma Fatara.


“Hamba akan mengikuti Gusti Ratu sampai aku kembali bertemu laut,” jawab Cucum Mili.


“Baik. Aku menetapkan Kakak Putri Angin Merah sebagai Panglima Laut Pasukan Genggam Jagat!” tandas Alma Fatara.


“Hamba menerima kepercayaan yang diberikan oleh Gusti Ratu!” ucap Cucum Mili lantang sambil menjura hormat.


“Aku sedang memikirkan sesuatu yang aku belum tahu caranya,” ujar Alma Fatara.


“Apa itu, Gusti? Biar aku yang memecahkannya!” kata Anjengan.


“Hahahak!” tawa Alma mendengar kata-kata Anjengan.


“Soalnya seperti ini. Suatu hari nanti, ketika Kerajaan Siluman memiliki rakyat di berbagai daerah, tidak mujngkin mereka saling tahu semua bahwa mereka adalah abdiku. Bagaimana caranya agar ketika abdiku yang ada di sini dengan abdi yang tinggal di seberang lautan, bisa saling mengetahui ketika mereka bertemu di satu tempat?”


“Oooh itu. Jadi, jawabannya ….”


Alma Fatara dan yang lainnya memandang kepada Anjengan.


“Akan aku pikirkan lebih dulu,” kata Anjengan yang membuat semua orang kecewa.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pendek. Lalu katanya, “Kalian pikirkanlah nanti.”


“Baik, Gusti Ratu!” jawab mereka.


“Bagaimana dengan undangan untuk para ketua perguruan dan tetua di wilayah ini?” tanya Alma Fatara dengan memandang kepada Kawal Rindu.


“Galak Gigi sudah pergi untuk menyebar undangan. Ia pergi bersama dua murid lainnya,” jawab Kawal Rindu.


Galak Gigi dan kedua murid lelaki yang bersamanya memacu kuda dengan cepat. Tempat yang pertama ditujunya adalah yang paling dekat, yaitu Bukit Lima. Di sana ada Perguruan Tiga Anak.


Untuk sampai ke puncak, Galak Gigi harus meninggalkan kudanya di pinggang bukit bersama satu anak buahnya. Ia dan seorang anak buahnya lagi menggunakan ilmu peringan tubuh untuk cepat sampai di Perguruan Tiga Anak.

__ADS_1


Sebelum Galak Gigi sampai kepada lingkungan yang memiliki permukiman berupa empat rumah bambu, ia dihadang oleh seorang wanita cantik berpakaian merah muda. Bentuk tubuhnya yang aduhai jangan di tanya seperti apa. Wanita berusia kisaran tiga puluh tahun itu menunjukkan senyum dan pandangan yang menggoda. Bibir merah mudahnya selalu terbuka sedikit di saat ia tidak tersenyum, seolah-olah sedang bernapas lewat mulut, bukan dengan hidung mancungnya. Wanita bersenjata pedang di pinggangnya itu bernama Murai Ranum. Dia adalah murid kedua di Perguruan Tiga Anak yang dinamai Anak Kedua.


“Mau ke mana, Sayang?” tanya Murai Ranum seraya tersenyum manis dan matanya berkedip beberapa kali, seolah sedang kelilipan nyamuk.


Nyuuus!


Terbelai rasanya jantung Galak Gigi ketika disebut “Sayang”, meski ia tahu bahwa Murai Ranum menyebut semua lelaki dengan panggilan “Sayang”, kecuali jenis kakek-kakek semodel gurunya.


“Aku ingin bertemu gurumu untuk memberinya undangan,” jawab Galak Gigi.


“Berikan saja kepadaku, Sayang. Nanti aku menyampaikannya kepada Guru,” kata Murai Ranum.


“Maaf, tidak bisa, Murai. Aku harus menyampaikan langsung kepada gurumu,” tandas Galak Gigi.


“Haaah! Kau mengecewakanku, Sayang. Ayo aku antar, agar terlihat mesra kedatanganmu,” keluh Murai Ranum.


“Hahaha!” tawa rendah Galak Gigi mendengar kata-kata Murai Ranum.


Murai Ranum lalu berjalan bersama kedua pemuda tamu itu.


“Apakah kau akan menikah, Sayang? Kau tidak menjadikan aku pilihanmu?” tanya Murai Ranum.


“Bagaimana mungkin aku bisa menjadikanmu pilihan, sedangkan kau tidak mungkin menjadikan aku pilihanmu?” balas Galak Gigi.


“Benar-benar menggemaskan wanita cantik ini!” rutuk Galak Gigi, tetapi hanya di dalam hati.


Hati Galak Gigi benar-benar tergoda melihat tingkah Murai Ranum.


“Ah, aku tidak boleh membuat kesalahan besar dalam melaksanakan tugas,” kata Galak Gigi lagi di dalam hati, kata-kata yang tidak membuat giginya bergerak.


“Ternyata kau bukan pendekar yang pemberani, Sayang,” ejek Murai Ranum.


Kata-kata wanita cantik itu seketika membuat telinga dan hati Galak Gigi panas. Namun, sebelum Galak Gigi balas berkata, juniornya menyentuh bahu kirinya. Sentuhan itu amemberi pesan agar jangan terpancing.


“Saat ini tugasku hanya mengantar undangan. Suatu saat nanti, jika kita bertemu lagi, aku akan membuatmu bertekuk lutut,” kata Galak Gigi.


“Oh ya? Aku pasti akan menunggu sesumbarmu. Aku penasaran ingin merasakan ciuman bergigi. Hihihi …!”


Galak Gigi hanya mendelik tanpa senyum.


Mereka kemudian tiba di sebuah lingkungan yang memiliki empat rumah bambu. Satu rumah berfisik lebih besar dan lebih berseni. Mereka mendatangi seorang kakek berambut keriting. Rambutnya terdiri dari dua warna, hitam dan putih. Kakek berpakaian serba biru gelap itu sedang menekuni sesuatu di depan rumahnya, yaitu sebuah keris bagus berpamor merah yang berdiri tegak di atas sebongkah batu. Keris itu berdiri dengan ujung lancip berjinjit di atas batu tanpa menancap sedikit pun.


“Guru!” panggil Murai Ranum ketika mereka tiba di belakang si kakek yang bertubuh agak gemuk dan perut agak gendut.

__ADS_1


Dengan tenang, lelaki tua itu menengok. Yang dilihatnya langsung adalah dua tamu yang bisa ia pastikan itu adalah murid Perguruan Bulan Emas.


“Ada apa Wulan Kencana mengirim muridnya ke sini?” tanya si kakek yang terkenal dengan nama beken Hantu Tiga Anak.


“Bukan guruku yang mengutusku, Tetua. Aku diutus oleh penguasa baru Perguruan Bulan Emas, yaitu Ratu Siluman,” jawab Galak Gigi setelah menjura hormat kepada Hantu Tiga Anak.


Terkejutlah Hantu Tiga Anak. Ia segera berdiri dari duduknya dan membiarkan kerisnya sebatang diri.


“Apa maksudmu, Bocah?” tanya Hantu Tiga Anak serius.


“Guru telah dikalahkan oleh Ratu Siluman,” jawab Galak Gigi.


“Jadi Wulan Kencana sudah mati?” tanya Hantu Tiga Anak dengan tatapan yang siap gembira. Ada senyum samar yang tergambar.


“Tidak, Tetua. Guru hanya terluka parah dan kabur dari perguruan,” jelas Galak Gigi yang seketika membuat raut muka Hantu Tiga Anak terkesan kecewa.


“Lalu apa tujuanmu datang?” tanya Hantu Tiga Anak agak membentak.


“Aku membawa undangan dari Ratu Siluman,” kata Galak Gigi sambil menyodorkan tangannya yang memegang sebuah undangan berbahan daun lontar yang diberi sentuhan seni kerajinan tangan. “Gusti Ratu berharap Tetua bisa hadir.”


Hantu Tiga Anak lalu menerima undangan itu. Ia langsung membukanya.


“Undangan pengukuhan pemimpin baru Perguruan Bulan Emas.” Hantu Tiga Anak membaca satu baris kalimat. “Baik, aku pasti datang!”


“Terima kasih, Tetua. Jika demikian, kami pamit diri,” kata Galak Gigi.


“Hmm!” gumam Hantu Tiga Anak sambil mengangguk sekali.


Galak Gigi dan kedua juniornya lalu melanjutkan tugasnya dengan mendatangi enam bukit lainnya di kawasan Bukit Tujuh Kepala.


Ketika mereka datang ke Perguruan Bukit Dua, Wulan Kencana yang berada di perguruan itu memilih bersembunyi. Guru Galak Gigi itu meminta Jerat Gluduk tidak membocorkan keberadaannya kepada Galak Gigi.


Tidak berapa lama setelah Galak Gigi pergi melanjutkan tugasnya, murid perguruan yang bernama Aliang Bowo telah kembali dari tugasnya.


“Guru, pemimpin Perguruan Bulan Emas sekarang adalah seorang gadis muda cantik jelita yang bernama Ratu Siluman,” lapor Aliang Bowo.


“Apa? Jadi si nenek jelek itu dikalahkan oleh seorang anak bau jahe? Hahaha!” kejut Jerat Gluduk lalu tertawa menertawakan nasib Wulan Kencana yang kini menjadi pesakitan.


“Murid Bulan Emas yang aku temui mengatakan, sekarang Perguruan Bulan Emas bagian dari Kerajaan Siluman,” kata Aliang Bowo lagi.


“Kerajaan Siluman? Berarti kedudukan Perguruan Bulan Emas justru semakin kuat,” kata Jerat Gluduk menyimpulkan. “Apa lagi cerita yang kau dapat?” (RH)


__ADS_1


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2