Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 12: Gempar Kekalahan


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Silang Kanga berjalan cepat menuju ke balkon lantai dua setelah mendapat laporan kepulangan Buto Renggut dan Juyung Sawa. Kabarnya mereka pulang membawa kekalahan telak dengan banyaknya murid yang terluka.


Setahu Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas itu, Buto Renggut dan Juyung Sawa membawa tiga puluh murid, jumlah yang terbilang banyak. Jika mereka bisa dikalahkan oleh murid-murid Perguruan Jari Hitam, sungguh itu merupakan hal yang memalukan.


Ketika Silang Kanga tiba di balkon lantai dua, dia yang dikawal oleh seorang murid utama wanita bernama Diah Diah, melihat rombongan Buto Renggut baru saja tiba di depan bangunan utama.


Buto Renggut dan rombongannya segera disambut oleh Ki Jandela dan anak buahnya di bidang medis. Ki Jandela segera memeriksa kondisi Buto Renggut saat itu, sementara anak buahnya membantu menangani luka murid-murid lainnya.


“Juyung Sawa!” teriak Silang Kanga keras dari balkon. Ia memanggil Juyung Sawa karena dilihatnya rekan Buto Renggut itu baik-baik saja.


“Aku, Guru!” sahut Juyung Sawa keras sambil mendongak memandang kepada Silang Kanga.


Juyung Sawa buru-buru berlari menuju gedung utama. Ia masuk untuk naik ke lantai dua. Tidak berapa lama, Juyung Sawa muncul dari dalam lantai dua dan menemui Wakil Ketua di balkon. Ia menghormat dalam kepada gurunya.


“Bagaimana kalian bisa kalah? Apakah jumlah murid-murid Jari Hitam jauh lebih banyak?” tanya Silang Kanga.


“Maafkan kami, Guru. Kami membuat malu!” ucap Juyung Saya sambil menunduk merasa bersalah.


“Kalian memang membuat malu, tapi jawab pertanyaanku!” bentak Silang Kanga keras.


Ki Jandila dan para murid perguruan yang ada di bawah sampai menengok ke balkon karena mendengar suara kemarahan guru mereka.


“Jumlah kami lebih banyak, Guru. Tapi ….”


Mulailah Juyung Sawa menceritakan kronologi keunggulan mereka saat menyergap rombongan murid-murid Perguruan Jari Hitam, tapi kemudian berubah kekalahan.


Pada saat itu, dari arah gerbang utama perguruan masuk tiga penunggang kuda berseragam kuning, tapi modelnya seragam petinggi perguruan. Penunggang kuda itu tidak lain adalah Ketua Sayap Kanan Perguruan Bulan Emas yang bernama Ringgi.


Ringgi adalah sosok gadis cantik yang penampilannya seperti lelaki dengan rambut yang pendek. Ia juga memiliki dua piringan pada sisi kedua pinggangnya, tetapi piringannya berwarna emas, beda dari senjata piringan murid yang lain.


Dua orang yang berkuda bersamanya adalah seorang pemuda dan gadis yang sebaya dengannya. Yang wanita bernama Kanan Satu dan yang pemuda bernama Kanan Dua. Keduanya selalu mendampingi ke mana pun Ringgi pergi.


Ringgi menghentikan kudanya saat tiba di dekat posisi Buto Renggut. Ketiganya memandangi Buto Renggut yang meringis kesakitan saat tubuhnya diurut oleh Ki Jandela, tabib perguruan yang adalah seorang lelaki usia enam puluhan.


"Jadi kau yang membuat malu perguruan itu, Buto Renggut?" tanya Ringgi dengan nada datar dan wajah yang dingin.


"Aaak!" jerit Buto Renggut saat ibu jari Ki Jandela mengurut dadanya yang berwarna biru gelap.

__ADS_1


"Ringgi!" panggil Silang Kanga tiba-tiba dari atas balkon.


Ringgi dan kedua tangan kanannya memandang ke balkon lantai dua.


"Kau urus murid-murid Jari Hitam di luaran sana!" perintah Silang Kanga.


"Akan aku lakukan, tapi aku harus menghadap kepada Guru Ketua lebih dulu," jawab Ringgi.


"Baiklah," ucap Silang Kanga.


Ringgi memang baru kembali dari melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Wulan Kencana.


Ringgi lalu kembali menjalankan kudanya menuju pintu gedung utama perguruan.


Kanan Satu dan Kanan Dua menunggu di lantai pertama, sementara Ringgi terus naik ke lantai tiga. Setiap murid yang berjaga menjura hormat kepadanya.


Setelah kedatangannya dilaporkan, Ringgi pun dipersilakan pergi menemui Wulan Kencana di kamarnya.


"Murid Ringgi menjura hormat, Guru!" ucap Ringgi setibanya di depan kamar tirai jingga, di depan empat murid wanita yang duduk bersila di depan tirai. Ia lalu duduk bersimpuh di atas bantal yang tersedia di lantai.


"Kau bertemu dengan Perkasa Rengkah?" tanya Wulan Kencana dari balik tirai.


"Aku bertemu dengannya, Guru," jawab Ringgi.


"Dia tidak mau memberikan Kuncup Mawar Putih. Perkasa Rengkah justru menantang Guru untuk datang mengambilnya sendiri," jawab Ringgi.


"Benar-benar sudah bosan hidup lelaki bau tanah kuburan itu!" desis Wulan Kencana bernada gusar. "Lalu apa yang Silang Kanga perintahkan kepadamu?"


"Aku diperintahkan untuk mengurus murid-murid Jari Hitam di luar sana," jawab Ringgi.


"Istirahatlah sebentar. Setelah itu, beri pesan menyakitkan kepada murid-murid Rereng Busa itu!" perintah Wulan Kencana.


"Baik, Guru."


Sementara itu, Guling Nikmat melintas bersama seorang anak buahnya. Mereka berdua hanya sempat memerhatikan kegemparan yang terjadi di depan bangunan utama.


Ternyata Guling Nikmat dan anak buahnya pergi ke penjara Kamar Batu Baja. Anak buahnya membawa nampan yang mewadahi semangkuk makanan dan sekendi kecil air minum.


"Loh, kok sudah datang lagi?" tanya penjaga penjara ketika Guling Nikmat tiba.


"Mau mengantar makanan untuk tahanan penyusup," jawab Guling Nikmat. "Perintah."

__ADS_1


"Oh," desah si penjaga penjara tanda mengerti.


Satu dari penjaga penjara lalu mengawal Guling Nikmat menuju ke sel tempat Giling Saga disekap.


Setibanya di depan sel, Guling Nikmat tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar agak kencang. Ada segumpal rasa bahagia ketika melihat Giling Saga, meski pemuda itu dalam kondisi digantung nyaris telanjang, sebab hanya bercawat. Kulit tubuh Giling Saga penuh oleh luka garis yang berdarah, bekas cambukan yang berulang-ulang.


Saat itu, sudah tidak ada murid Bulan Emas yang berada di dalam sel melakukan penyiksaan. Kepala Giling Saga terkulai lemah.


"Jika melihat kondisinya, sepertinya aku akan sedikit lama untuk memberinya makan. Jika Kakang tidak mau menunggu kami, lebih baik tinggalkan kami dulu. Nanti aku akan memanggil Kakang, bukankah tidak jauh," ujar Guling Nikmat.


"Aku heran, kenapa tahanan ini harus diberi kebaikan?" tanya si penjaga penjara.


"Sama seperti gurunya. Makanannya diberi racun," jawab Guling Nikmat dengan berbisik.


"Oooh!" desah si penjaga penjara sambil manggut-manggut. "Jika sudah selesai, teriak saja!"


"Baik," ucap Guling Nikmat.


Penjaga penjara itu lalu kembali mengunci pintu sel setelah Guling Nikmat dan anak buahnya masuk ke dalam sel. Ia sendiri lalu pergi kembali ke area depan penjara yang tidak begitu jauh dari sel itu.


Guling Nikmat segera menghampiri tubuh Giling Saga. Wajahnya mengerenyit menaruh iba melihat kondisi buruk pemuda tampan yang jauh lebih muda darinya itu.


"Hei, Penyusup!" panggil Guling Nikmat sambil mencolek lengan berdarah Giling Saga.


"Ak!" erang tertahan Giling Saga, karena kulitnya jadi begitu sensitif menjadi perih jika tersentuh sesuatu. Lalu tanyanya tanpa membuka mata atau mengangkat wajahnya, "Siapa kau?"


"Aku ... aku Guling Nikmat," jawab wanita perawan tua itu salah tingkah sendiri.


"Apanya yang nikmat?" tanya Giling Saga lirih, masih malas untuk membuka matanya.


Guling Nikmat jadi bingung menjawab ditanya seperti itu. Ia memandang anak buahnya yang juga hanya tersenyum kikuk pula.


"Aku juru masak perguruan. Rasa masakanku selalu nikmat, jadi aku dinamai Guling Nikmat," jawab Guling Nikmat akhirnya.


"Sepertinya aku mengenal suaramu," ucap Giling Saga lemah.


Dengan gerakan yang lemah, Giling Saga mengangkat wajahnya, lalu membuka matanya.


Tersentak kecil wajah Giling Saga saat melihat wajah wanita yang ada di depannya. Ia terkejut, tidak menyangka bahwa wanita yang tadi malam menjadi korban sanderanya muncul di dalam selnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Giling Saga dengan pikiran yang menduga bahwa wanita itu akan membalas dendam.

__ADS_1


"Aku membawakan makanan dan obat oles untuk luka cambukanmu," jawab Guling Nikmat seraya tersenyum manis, tapi senyumnya tidak manis, karena dia sudah lupa bagaimana cara tersenyum rasa manis. (RH)


__ADS_2