Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 51: Berdamai


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*  


 


Berakhir sudah pertarungan antara Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara melawan Keluarga Tengkorak. Alma Fatara menepati janjinya dengan hanya membunuh Tengkorak Sabit Putih, meski itu akan menimbulkan dendam baru, yaitu dendam di kalangan anak-anaknya.


Sementara itu, Tengkorak Ratu Maut, Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih tidak sampai mati, mereka hanya dalam kondisi kritis. Menurut perkiraan, mereka akan bisa selamat karena keluarga mereka yang lain pastinya bisa memberi pengobatan gratis. Mengenai sembuh total atau tidaknya, itu perkara kesembilan.


Di barisan Pasukan Genggam Jagad muncul euforia baru dengan cara bernyanyi.


 


Tong gentong-gentong, Kerajaan Siluman!


Tong gentong-gentong, ratunya Ratu Siluman!


Ser beser-beser, cantiknya seperti apel!


Ser beser-beser, saktinya seperti jengkol!


 


Meski nyanyian itu aneh, karena hanya terdiri dari empat baris belaka dan dua baris sulit dimengerti maksud dan tujuannya, tapi tidak ada yang protes kepada Kungkang. Coba, apa maksud dari “Cantiknya seperti apel” dan “Saktinya seperti jengkol”?


Namun, semua personel Pasukan Genggam Jagad terlihat enjoy saja dalam menyanyikan lagu yang berjudul Mars Gentong Beser.


Tengkorak Penakluk Sukma, Tengkorak Sentuh Lenyap, Tengkorak Tongkat Kepang, Ratu Tengkorak, dan Putri Tengkorak sudah bekerja sama dalam membantu mengobati ketiga kerabat mereka.


Sementara itu, Alma Fatara mengobati Mbah Hitam yang terluka parah karena menjadi tameng hidup di kala Alma Fatara sekarat.


Hingga akhirnya, Alma Fatara dan para panglimanya, plus Ineng Santi, duduk berhadap-hadapan dengan kelima anggota Keluarga Tengkorak. Tidak jauh dari mereka terbaring tiga anggota yang terluka. Tengkorak Burung Putih dalam kondisi pingsan.


Sementara itu, mayat Tengkorak Sabit Putih sudah dimakamkan sebelumnya.


“Apakah Bibi Putri Tengkorak sudah melihat gelang kakiku?” tanya Alma Fatara kepada Putri Tengkorak.


“Iya, aku sudah memerhatikan sejak tadi,” jawab Putri Tengkorak.


“Ada kesamaan. Atau adakah hubungannya?” tanya Ratu Tengkorak berwibawa.


“Aku sudah melihat Gelang Permaisuri Surga yang ada pada Kakek Raja Tanpa Gerak. Berbeda tapi ada persamaan. Aku menduga kuat bahwa pembuat dua gelang ini adalah satu orang,” kata Alma Fatara. Lalu ia mulai berkisah, “Aku adalah bayi yang dibuang ke laut. Aku tidak tahu aku ini anak siapa dan dari negeri mana. Gelang inilah satu-satunya petunjuk yang aku miliki, yang aku harapkan bisa menuntunku kepada kedua orangtuaku. Menurut Kakek Raja Tanpa Gerak, hanya Eyang Kubur Biru yang tahu siapa pembuat Gelang Permaisuri Surga. Maka itu, dengan kerendahan hati, aku meminta untuk ditunjukkan ke kediaman Eyang Kubur Biru.”


Tengkorak Sentuh Lenyap dan Tengkorak Pengendali Sukma manggut-manggut mendengar kisah pendek Alma Fatara.


“Aku bisa mengantarkanmu ke Tanah Kutukan tempat Eyang Kubur Biru. Sebab, tidak semua anggota tua Keluarga Tengkorak Biru yang bisa memasuki Tanah Kutukan,” kata Ratu Tengkorak.


“Namun, aku harus kembali lebih dulu ke kediaman Demang Mahasugi di Kubang Kepeng. Di sana masih ada pasukanku yang menunggu, Nek,” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Tidak masalah, aku akan ikut ke sana. Aku dengar Tengkorak Pedang Siluman juga ada di sana?” kata Ratu Tengkorak.


“Benar, Nek,” jawab Alma Fatara.


“Dengan memiliki Pedang Sepuluh Siluman, itu berarti Gusti Ratu memiliki setengah dari kesaktian saudaraku itu. Jika Gusti Ratu tidak memakai pedang itu saat pertarungan tadi, itu berarti saat bertarung melawan Gusti Ratu, Tengkorak Pedang Siluman sampai mengeluarkan Siluman Kesepuluh?” kata Tengkorak Sentuh Lenyap.


“Benar, Kek. Hahaha!” jawab Alma Fatara lalu tertawa pelan memperlihatkan dua gusi ompongnya.


“Luar biasa, Gusti Ratu bisa selamat dari kekuatan Siluman Kesepuluh,” puji Tengkorak Sentuh Lenyap.


“Aku ingin bertanya, Gusti Ratu,” ujar Tengkorak Tongkat Kepang.


“Silakan, Nek,” kata Alma Fatara seraya tersenyum.


“Benarkah kau memiliki kesaktian baru yang bisa mengalahkan Keris Pemuja Bulan? Setahuku, pemegang keris itu tidak bisa dikalahkan,” tanya Tengkorak Tongkat Kepang.


“Benar, Nek. Beberapa waktu lalu aku membantu satu keluarga bangsawan menemukan Keris Pemuja Bulan yang lama hilang. Tanpa sengaja aku menyerap seluruh kekuatan keris tersebut. Meski keris tersebut aku kembalikan kepada keluarga tersebut untuk dikembalikan kepada Raja Singayam, tapi kekuatannya ada terpendam dalam tubuhku. Mungkin karena bulan muncul pada malam ini, memancing kekuatan itu muncul di saat aku di ambang maut. Aku bisa merasakan kesamaan kekuatan Keris Pemuja Bulan yang aku serap dengan yang tadi muncul. Pemegang Keris Pemuja Bulan hanya bisa dikalahkan oleh kekuatan keris itu sendiri,” cerita Alma Fatara.


“Kenapa Pemancing Roh membiarkanmu membawa Bola Hitam ke mana-mana, Gusti Ratu? Bukankah sama saja mengundang musuh sakti datang?” tanya Tengkorak Pengendali Sukma.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara. “Benar kata Kakek. Namun, Bola Hitam ini menjadi pengukur bagiku. Jika seorang pendekar tidak bisa merasakan aura Bola Hitam, itu artinya kesaktiannya hanya menengah ke bawah. Bagi pendekar sakti yang bisa merasakan keberadaan Bola Hitam lalu dia menginginkannya, itu berarti dia pendekar yang tamak, harus aku beri pelajaran. Hahaha!”


“Hahaha!” tawa Tengkorak Sentuh Lenyap juga. Lalu katanya, “Benar juga.”


Kakek nenek yang lain hanya tersenyum menyikapi perkataan Tengkorak Sentuh Lenyap.


“Terima kasih, Nek,” ucap Alma Fatara. Lalu katanya lagi, “Sepertinya urusanku di sini sudah selesai. Aku harus kembali ke Kubang Kepeng.”


“Gusti Ratu, apakah kita tidak mengambil harta benda Tengkorak Sabit Putih?” tanya Panglima Besar Anjengan setengah berbisik dari belakang, tapi didengar oleh semua Tengkorak.


“Demi menghormati para tetua, kita tidak mengambil harta Kakek Tengkorak Sabit Putih,” jawab Alma Fatara. Lalu katanya kepada para tetua, “Kami izin undur diri. Senang bisa berdamai dengan Keluarga Tengkorak.”


Alma Fatara lalu menjura hormat kepada para orang tua tersebut, yang diikuti oleh para panglimanya.


“Aku juga mohon izin, Kakek, Nenek,” ucap Ineng Santi.


“Sampaikan salam kami kepada kakekmu, Ineng,” kata Tengkorak Pengendali Sukma.


“Baik, Kek,” ucap Ineng Santi.


Alma Fatara dan para panglimanya beranjak pergi meninggalkan rumah Tengkorak Sabit Putih.


“Ineng, apakah kau bagian dari pasukan Kerajaan Siluman ini?” tanya Ratu Tengkorak.


“Aku ikut mereka karena ingin membalas kepada Kakek Sabit Putih yang ingin membunuh kami berdua. Namun sepertinya, aku justru suka dengan Alma Fatara dan pasukannya. Aku akan kembali lebih dulu ke Bukit Selubung untuk minta izin,” jawab Ineng Santi.


Ketika Alma Fatara mendatangi pasukannya, Tenggak Telaga bersama nenek, ibu dan adiknya maju menghadap dan bersujud kepada Alma Fatara.

__ADS_1


“Sembah sujud kami kepada Gusti Ratu!” ucap Tenggak Telaga kencang.


“Terima kasih yang sebesar-besarnya, Gusti Ratu!” ucap ibu dari Tenggak Telaga penuh rasa syukur.


“Bangunlah, Bibi!” perintah Alma Fatara kepada wanita yang belum tahu bahwa pasukan Alma Fatara yang telah membunuh suaminya.


Tenggak Telaga dan keluarganya lalu bangkit berdiri.


Alma Fatara sebelumnya telah memberi syarat kepada Tenggak Telaga untuk tidak menceritakan lebih dulu tentang kematian Bandar Bumi.


“Kakang Geranda, berikan kunci harta itu kepada mereka!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Geranda patuh.


“Kita berangkat!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan.


“Pasukaaan, kita kembali ke Kubang Kepeng!” teriak Anjengan kepada pasukannya. “Hua hua hua!”


“Hua hua hua!” teriak pasukan itu tetap semangat, padahal malam kian larut.


Di sela-sela pasukan kembali naik ke kudanya masing-masing, terlihat Arung Seto memanfaatkan momentum, selagi kekasihnya tidak ada dalam rombongan.


“Ineng Santi!” panggil Arung Seto setengah berbisik sambil berlari kecil dan berjalan di sisi murid Raja Tanpa Gerak.


“Kang Arung,” sebut Ineng Santi sambil tersenyum siput. Hatinya seketika berbunga-bunga.


“Kau tidak berkuda?” tanya Arung Seto.


“Tidak. Ada apa, Kakang?” tanya Ineng Santi.


“Jika kau bersedia, aku menawarkan kudaku,” jawab Arung Seto.


“Berkuda bersama Kakang?” tanya Ineng Santi seraya tersenyum tanggung.


“Hehehe! Tidak. Maksudku, biar aku yang berjalan kaki,” jawab Arung Seto seraya tersenyum kambing.


“Hihihi!” tawa Ineng Santi malu sendiri. “Terima kasih, Kakang. Aku bersama Nenek Ratu Tengkorak.”


“Oooh,” desah Arung Seto dengan tingkah yang kikuk. “Aku harus ke kudaku.”


“Iya, Kakang,” ucap Ineng Santi seraya tersenyum begitu manis melihat tingkah kikuk Arung Seto.


Arung Seto tidak langsung pergi meninggalkan Ineng Santi. Sepertinya dia begitu berat menjauh dari gadis cantik jelita itu.


Pada akhirnya, sambil tersenyum malu, Arung Seto berbalik dan pergi menuju ke kudanya.


“Hihihi!” tawa Ineng Santi, mengandung bahagia. (RH)

__ADS_1


__ADS_2