Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 27: Pusaka Ditemukan


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


 


“Sembah hormat hamba, Gusti. Hamba Mbah Hitam tunduk dan akan patuh kepada Gusti,” ucap sosok pemuda tampan berpakaian hitam tapi berkulit terang. Namun, suaranya seperti seorang kakek-kakek.


“Hahaha! Kau tahu saja kalau aku ini Ratu Siluman!” kata Alma sambil tertawa.


“Namun, maafkan hamba, Gusti. Tolong jelaskan, dengan siapa hamba mengabdi sekarang?” tanya Mbah Hitam yang saat itu berdiri di atas sepotong bambu yang mengambang di permukaan air danau mata air.


Alma Fatara yang separuh tubuhnya terendam di air, menjawab dengan lantang, “Aku bernama Alma Fatara, Ratu Siluman Ikan di Telaga Emas. Aku juga berjuluk Dewi Dua Gigi!”


“Maafkan hamba, Gusti Ratu. Hamba lancang bertanya. Apa tujuan Gusti Ratu datang dan menyelam di mata air ini?”


“Aku mencari sebuah pusaka bernama Keris Pemuja Bulan,” jawab Alma Fatara.


“Sepertinya benda yang Gusti Ratu cari ada di bawah akar pohon besar di sisi utara danau. Benda itu sudah ada di sana selama puluhan tahun,” kata Mbah Hitam.


Sejenak Alma memandang ke arah sisi utara danau. Ia melihat salah satu pohon besar yang bagian atasnya tumbuh condong ke arah atas air.


“Aku akan memeriksanya,” kata Alma.


Ia lalu masuk ke air dan berenang cepat seperti ikan menuju ke pinggir. Dalam perjalanannya itu, Alma kembali menyalakan sinar emas yang menyilaukan mata di dalam air.


Sementara Mbah Hitam bergerak berselancar dengan batang bambunya mengikuti Alma.


“Alma ke pinggir!” seru Iwak Ngasin.


Keempat sahabat Alma itu segera berlari di sepanjang pinggiran danau. Mereka juga menuju ke posisi pohon yang dituju Alma.


Setibanya di air bawah pohon, Alma Fatara mengambil napas sejenak lalu menyelam kembali, tapi kali ini bukan dengan sinar emas, tetapi dengan sinar ungu menyilaukan di telunjuknya.


Sebagian akar besar dari pohon itu tumbuh masuk ke dalam air. Pada akar yang tumbuh masuk ke dalam air, ada ruang-ruang yang cukup sulit terjangkau oleh tangan karena padatnya cabang-cabang akar yang tumbuh.


Namun, pengamatan Alma yang menembus sela-sela akar, ia melihat ada cahaya biru redup yang berpendar-pendar. Ketika cahaya itu menyala, maka ia akan terlihat bercahaya redup. Namun, ketika meredup, maka cahaya itu padam.


Alma lalu memadamkan sinar pada telunjuknya. Ternyata sinar biru redup itu bisa terlihat lebih jelas. Itupun memang harus melihat dengan teliti ke dalam sela-sela akar pohon. Jika hanya mencari ke dasar danau, pastilah tidak akan ketemu. Mungkin Alma pun akan gagal mencari jika tidak mendapat petunjuk dari Mbah Hitam.


“Alma, siapa dia?” tanya Anjengan dari atas tanah sambil menunjuk Mbah Hitam. Ia tersenyum senang.


“Ta-ta-tampannya ke-ke-kebangetan,” ucap Gagap Ayu juga, kecentilan.


“Siluman ular, namanya Mbah Hitam,” jawab Alma seadanya.


“Hiiih!” Anjengan dan Gagap Ayu tergidik merinding bersamaan.


“Awas, hati-hati!” kata Iwak Ngasin yang menatap waspada kepada Mbah Hitam yang berdiri mengambang tidak jauh dari posisi Alma.


“Jangan dekat-dekat!” kata Juling Jitu pula.


Alma tidak mau ambil peduli dengan apa yang diributkan oleh keempat sahabatnya. Ia kembali menyalakan telunjuknya.

__ADS_1


Untuk meraih benda yang ada di dalam kurungan akar, akar-akar itu harus dipotong atau disingkirkan agar lebih mudah.


Namun, Alma cukup mengerahkan Benang Darah Dewa. Benang merah tipis sekuat baja itu bergerak muncul dari balik jubah Alma. Bukan hanya menyusup masuk ke bawah akar, tetapi juga bergerak melilit akar lalu mencekiknya hingga akarnya putus. Beberapa batang akar dipotong sehingga menciptakan lobang yang lega.


Setelah itu, Alma menggerakkan ujung Benang Darah Dewa ke benda bercahaya biru yang terpendam oleh tanah di dalam air. Ujung benang menusuk tanah lalu bergerak seperti ular melilit benda yang bersinar.


Tidak ada reaksi apa-apa yang terjadi ketika Benang Darah Dewa melilit benda tersebut. Setelah melilitnya, Benang Darah Dewa kembali ditarik dengan ujungnya tetap meliliti benda yang terpendam tipis di dalam tanah.


Ketika ditarik keluar dari tanah, ternyata benda itu adalah sebuah keris berwarna biru bercahaya yang masih tersarung dalam warangkanya.


Ternyata setelah ditarik mendekat, baru terasa bahwa keris bercahaya itu memiliki aura yang kuat. Dengan adanya lubang yang dibuat sebelumnya, keris itu dengan mudah ditarik keluar dari kurungan akar.


Sejenak Alma menghentikan gerakan benangnya, membuat keris itu berhenti di depan wajah. Dengan bantuan sinar ungu di telunjuknya, Alma bisa melihat jelas keris yang masih kokoh bersama sarungnya, meski masih kotor oleh tanah lumpur.


Warangka keris yang berwarna biru itu dipenuhi oleh pola ukiran yang rumit. Bahannya yang entah terbuat dari apa memancarkan cahaya redup, terutama jika dalam gelap. Namun, terangnya cahaya ungu membuat cahayanya hilang karena kalah pamor dan terang. Gagang keris pun berwarna sama, tetapi pada ujungnya ada ukiran berbentuk bulan sabit.


Alma lalu naik ke permukaan dengan keris masih terangkat oleh lilitan Benang Darah Dewa.


“Alma berhasil!” teriak Juling Jitu ketika Alma muncul dari dalam air.


Mereka semua fokus memperhatikan Alma. Gadis yang kondisinya kuyup itu telah memadamkan sinar Telunjuk Roh Malaikat-nya. Padamnya sinar ungu membuat keris di depan wajah Alma terlihat lebih bercahaya.


Alma Fatara lalu mangalirkan tenaga dalamnya ke kedua telapak tangannya. Hal itu ia lakukan untuk berjaga-jaga jika keris itu memiliki kekuatan perlindungan. Sebab, banyak pusaka sakti yang memiliki kekuatan perlidungan dan tidak bersahabat dengan tangan orang asing.


Tap! Blass!


Akhirnya Alma Fatara menggenggam warangka dan gagang keris secara bersamaan. Saat itu juga ada ledakan cahaya biru menyilaukan. Namun, ledakan cahaya itu hanya membuat mata Alma dan yang lainnya terbutakan sejenak.


Crek! Bzerzz!


Alma kemudian menarik gagangnya dengan kuat tapi hanya sedikit. Saking lamanya tidak pernah dikeluarkan dari sarungnya, membuat keris itu bersuara keras ketika ditarik sedikit. Namun, bersamaan dengan itu, tiba-tiba ada sinar biru berwujud listrik keluar dan menjalari kedua tangan Alma.


“Awas, Alma!” teriak Anjengan terkejut.


“Lepaskan, Alma!” teriak Juling Jitu juga.


“Ba-ba-bahaya!” ucap Gagap Ayu pula.


Sementara Iwak Ngasin hanya terdiam tegang dengan mulut terbuka seperti ikan kehausan.


Namun, aliran listrik sinar biru dari dalam keris sudah menyelimuti Alma dan seluruh tubuhnya, baik yang di luar air maupun di dalam air.


Alma Fatara tidak menjerit kesakitan atau kejang seperti orang tersengat listrik. Alma justru merasakan ada hawa hangat yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Sebagai orang sakti, Alma bisa merasakan bahwa energi hangat itu memberi pengaruh pada tingkat tenaga dalamnya, yaitu menjadi lebih meningkat.


“Alma!” panggil Anjengan keras.


Alma menengok ketika mendengar panggilan kencang kakaknya.


“Hahahak!” tawa Alma tiba-tiba, membuat keempat sahabatnya yang tegang itu menjadi kesal.


Namun, mereka juga berubah lega.

__ADS_1


Pada akhirnya, aliran listrik sinar biru itu lenyap dengan sendirinya. Alma kemudian mencabut keris di tangannya dengan full. Bilah keris itu bercahaya redup, tidak lebih terang dari cahaya yang dikeluarkan oleh warangkanya.


Setelah merasa kondisi keris sudah normal, Alma kembali menyarungkan bilah keris. Ia lalu menggosok-gosok bagian keris yang masih memiliki kotoran tanah dan lapisan lumut.


“Mbah Hitam!” sebut Alma sambil menggosok-gosok keris di tangannya.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut Mbah Hitam.


“Terima kasih atas petunjukmu. Jasamu akan menyelamatkan banyak nyawa, Mbah Hitam. Jaga dirimu dan jangan menjadi jahat. Aku pergi!” ujar Alma Fatara.


Mbah Hitam hanya mengangguk lalu menghormat dengan merendahkan dirinya dan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi.


Alma Fatara lalu melompat keluar dari dalam air dan mendarat di dekat rekan-rekannya.


“Gusti Ratu!” panggil Mbah Hitam.


Panggilan itu membuat Alma menengok ke belakang. Dilihatnya Mbah Hitam sudah berada lebih dekat ke pinggir. Alma lalu berbalik menghadap kepadanya.


“Ada apa, Mbah Hitam?” tanya Alma.


“Izinkan hamba ikut bersama Gusti Ratu,” ujar Mbah Hitam.


“Hah! Ikut? Aku menundukkanmu bukan untuk menjadikanmu hamba atau budak,” tandas Alma.


“Alma, biarkan saja dia ikut. Aku rela kok, meski suaranya sudah terlalu tua,” kata Anjengan.


“Be-be-betul!” dukung Gagap Ayu.


“Jangan, Alma. Siapa tahu dia punya niat buruk tersembunyi!” kata Juling Jitu, yang tidak suka karena kalah fisik.


“Aku tidak berani komentar,” kata Iwak Ngasin. Diam-diam dia merasa ngeri kepada Mbah Hitam.


“Mbah Hitam, jika kau ikut, kau akan ikut dalam wujud ular atau orang ganteng?” tanya Alma.


“Hamba akan ikut tanpa terlihat. Hamba ingin mengabdi dan menjadi penjaga Gusti Ratu,” jawab Mbah Hitam.


“Baik. Karena suara setuju dua, suara menolak satu, kau boleh ikut!” Alma memutuskan.


“Apa?!” pekik Juling Jitu terkejut.


“Hahaha!” tawa ketiga gadis itu.


“Kenapa kau tadi tidak ikut menolak, Iwak?!” bentak Juling Jitu kepada Iwak Ngasin.


“Kenapa kau menyalahkanku?” balas Iwak Ngasin.


“Jika kau ikut tanpa terlihat, bagaimana aku bisa tahu bahwa kau ada di sekitar kami?” tanya Alma kepada Mbah Hitam.


“Jika Gusti Ratu mendengar suara desisanku sesekali, maka aku berada tidak jauh dan bisa dipanggil setiap saat,” jawab Mbah Hitam.


“Baikah. Kau boleh ikut!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2