
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Pagi-pagi sekali, bocah tabib yang bernama Belik Ludah sudah terbangun, mungkin karena dia adalah orang yang pertama tidur tadi malam. Ia bahkan tidak terbangun ketika Gagap Ayu membuat heboh.
Tadi malam, Gagap Ayu berteriak minta tolong karena ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya, yaitu terbang melayang sendiri ke udara dengan tubuh diselimuti sinar biru gelap dan dililit garis sinar hijau.
Alma Fatara dan yang lainnya segera berdatangan dan berkumpul di bawah Gagap Ayu. Kali ini Alma Fatara tidak tertawa melihat kondisi Gagap Ayu.
“Ilmu apa yang kau latih, Ayu?” tanya Alma seraya memandang serius. Sebab ia dan Anjengan yang satu guru dengan Gagap Ayu tidak pernah melihat ilmu seperti itu.
“To-to-tolong aku, Gu-gu-gusti Ratu!” teriak Gagap Ayu panik. “Aku me-me-menelan ba-ba-batu Mata Ra-ra-raja Elang!”
“Lalu apa masalahnya?” tanya Alma tanpa terkejut.
“Aku te-te-terbang se-se-sendiri!” teriak Gagap Ayu masih bernada panik.
“Apakah itu menyakitkan?” tanya Alma.
“Ti-ti-tidak!” sahut Gagap Ayu.
“Jadi kau minta tolong hanya karena kau terbang sendiri?” terka Alma Fatara.
“Iya!” jawab Gagap Ayu jujur.
“Hahaha!” tawa Alma. Lalu perintahnya kepada seluruh abdinya, “Bubar! Biarkan Ayu seperti itu!”
“Gu-gu-gusti Ratu!” panggil Gagap Ayu sambil panik melayang di udara.
“Hahahak!” tawa Alma sambil berjalan kembali ke tempatnya di awal.
“Maaf, Guti Ratu. Kenapa Gagap Ayu dibiarkan seperti itu?” tanya Mbah Hitam.
“Kau ingat apa yang dikatakan oleh Rogo Sogo tentang batu Mata Raja Elang itu?” tanya Alma seraya tersenyum.
“Yang aku ingat, Rogo Sogo mengatakan bahwa batu itu bisa meningkatkan kemampuan serangan dari udara,” jawab Mbah Hitam.
“Benar, tapi sebenarnya apa yang dialami oleh Gagap Ayu adalah reaksi pertama dan itu lebih hebat dari yang kita bayangkan sebelumnya. Dugaanku, dia hanya terkejut dan panik karena tidak bisa mengendalikan kesaktian itu. Nanti dia akan menyesuaikan sendiri,” jelas Alma Fatara.
Mungkin ada satu jam lamanya Gagap Ayu melayang bersinar di angkasa malam. Pada akhirnya, Gagap Ayu berusaha untuk mengutak-atik kesaktian dari batu Mata Raja Elang dengan memainkan tenaga saktinya.
Satu jam kemudian, barulah dia bisa mengendalikan kesaktian batu Mata Raja Elang. Ia pun bisa menurunkan dirinya ke tanah dan menghilangkan sinar yang menyelimuti tubuhnya. Dia tidak mengalami cedera sedikit pun. Justru, dia merasakan ada kesaktian baru pada dirinya.
“Wah, kau pagi sekali bangun, Belik,” sapa Kembang Bulan kepada Belik Ludah yang saat itu sedang bekerja memilah-milah dedaunan muda yang dipetiknya.
Belik Ludah yang sedang duduk di akar pohon, hanya mendongak memandang orang yang menyapanya. Ia hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, lalu kembali beralih kepada pekerjaannya memilah daun-daun muda.
Kembang Bulan yang tersenyum ramah, melanjutkan langkahnya. Ia berjalan terpincang karena kedua kakinya terasa begitu sakit setelah melalui malam usai latihan keras.
Belik Ludah melirik kepada langkah terpincang Kembang Bulan. Lima hitungan dia terdiam memandangi langkah kaki itu.
“Kakak Cantik!” panggil Belik Ludah tiba-tiba.
Kembang Bulan sontak berhenti dan menengok ke belakang.
“Iya, Belik?” sahut Kembang Bulan, sambil setengah tersenyum.
“Kakak Cantik mau aku obati kakinya?” tawar Belik Ludah.
__ADS_1
“Hmm? Kau bisa?” tanya Kembang Bulan.
Belik Ludah hanya tersenyum lebar, sampai-sampai gigi gerahamnya tampak. Bocah gemuk itu lalu berdiri. Dia merogoh dalam tas daun pandannya.
Belik Ludah lalu mengeluarkan sebuah batok kelapa ukuran kecil, tapi memiliki kayu pendek yang berfungsi sebagai tempat tangan menggenggam.
“Coba Kakak Cantik tunjukkan di mana lukanya,” kata Belik Ludah sambil tetap tersenyum.
Kembang Bulan lalu sedikit mendekat kepada Belik Ludah dan menarik ujung celananya. Maka tersingkaplah dua kaki yang putih mulus hingga lutut. Namun, pada kebeningan dua kaki itu ada bagian yang memar berwarna biru gelap dan bengkak. Itu adalah bekas sepakan Cucum Mili saat melatih Kembang Bulan.
“Hehehek …!” Belik Ludah terkekeh berkepanjangan.
Dak!
“Akk!” pekik tertahan Kembang Bulan saat tiba-tiba Belik Ludah memukul memar di kaki si gadis dengan batok kelapanya.
Pekikan Kembang Bulan mengejutkan Juling Jitu yang sedang melintas. Juling Jitu segera datang mendekat untuk melihat.
Sementara itu, Alma Fatara mengawasi mereka dari kejauhan.
“Waaah!” desah Juling Jitu saat melihat sepasang kaki Kembang Bulan.
Entah, apakah Juling Jitu terperangah karena melihat kemulusan kaki Kembang Bulan atau karena melihat memar di kaki itu?
“Hihihi …!” tawa Kembang Bulan kencang saat melihat kepada Juling Jitu.
“Hahahak …!” tawa Belik Ludah pula ketika melihat wajah pria juling itu.
“Sudah, sudah, jangan tertawakan aku!” sergah Juling Jitu sambil meraba wajahnya yang penuh bentol-bentol besar berwarna merah, tapi tidak sebesar bisul.
Sangat jelas bahwa wajah dan kulit tangan Juling Jitu telah mendapat banyak sengatan serangga. Entah serangga apa, apakah semut yang genit atau nyamuk yang syirik?
“Mengobati kaki Kakak Cantik,” jawab Belik Ludah enteng.
“Kau bisa? Mengobati pakai batok kelapa?” tanya Juling Jitu dengan nada tidak percaya.
“Hehehe! Bisa,” jawab Belik Ludah sambil terkekeh lugu.
“Eh, memarnya hilang!” pekik Kembang Bulan senang, saat ia kembali melihat bagian kakinya yang tadi diketok dengan batok kelapa.
“Yang ini masih sakit, Kakak Cantik?” tanya Belik Ludah sambil menyentuh bagian kaki Kembang Bulan dengan batok kelapanya.
“Sudah tidak sakit, hanya tinggal sedikit,” jawab Kembang Bulan seraya tersenyum.
“Yang satunya, ya,” kata Belik Ludah.
Kembang Bulan pun mengulurkan kaki kirinya. Juling Jitu hanya diam memerhatikan. Ia begitu penasaran dengan cara pengobatan remaja gemuk itu.
Dak!
“Akk!” pekik Kembang Bulan lagi saat Belik Ludah memukul memar kakinya begitu saja, tanpa kelembutan atau baca mantera terlebih dahulu.
Mata juling Juling Jitu sampai mendelik melihat cara pengobatan Belik Ludah.
“Hahahak …!” tawa Juling Jitu panjang. Ia merasa sangat lucu melihat cara pengobatan Belik Ludah.
Namun, tiba-tiba ia berhenti tertawa dan kembali terpukau. Ia melihat, memar pada kaki kiri Kembang Bulan berangsur berubah warna menuju ke warna aslinya, yaitu putih dan mulus. Bengkaknya pun kempes dan menyempurna, seolah tidak ada bekas luka lagi.
“Ajaib sekali!” ucap Juling Jitu terpana.
__ADS_1
“Hehehek!” kekeh Belik Ludah. “Sudah sembuh, Kakak Cantik.”
“Terima kasih, Belik. Kau tabib yang sangat hebat!” ucap Kembang Bulan sambil mencubit lembut pipi gembul bocah itu.
“Hehehek …!” kekeh Belik Ludah kian panjang dengan wajah yang terlihat malu-malu.
“Eh, sini, sini!” seru Juling Jitu sambil tiba-tiba menarik tangan Belik Ludah.
Juling Jitu menarik si bocah tabib menjauh dari Kembang Bulan.
“Apakah kau bisa mengobati sakit apa saja?” tanya Juling Jitu setelah berhenti di satu titik, di bawah pohon besar.
“Iya,” jawab Belik Ludah cepat.
Juling Jitu lalu menengok ke sekitar. Dilihatnya Kembang Bulan sudah berjalan pergi dengan langkah yang normal. Ia juga melihat keberadaan beberapa rekannya, tetapi posisinya jauh-jauh.
“Aku telah memakan pil Cumi Merah terlalu banyak, jadi keris pusakaku selalu tegang. Apakah kau bisa membuatnya kembali normal?” ujar Juling Jitu setengah berbisik, meski di sekitar mereka tidak ada orang.
“Coba keluarkan kerismu, Kakang!” perintah Belik Ludah.
“Ini,” kata Juling Jitu nyaris tidak terdengar, sambil menunjuk ke bagian celananya.
“Oh, keris itu maksudnya,” ucap Belik Ludah baru mengerti. Namun, dia tidak tertawa.
“Aku malu jika berjalan dengan keris tegang terus!” bisik Juling Jitu.
“Tapi Kakang harus tahan,” kata Belik Ludah.
“Iya, aku ini pendekar sakti, pasti tahan. Namun, kau jangan cerita ke orang-orang!” kata Juling Jitu masih setengah berbisik.
“Iya,” jawab Belik Ludah. “Berdiri yang sempurna, Kakang. Kakang harus berpikiran tenang dan otot-otot jangan tegang.”
“Iya, iya,” ucap Juling Jitu. Ia lalu berdiri tegap dengan mengatur aliran pernapasannnya, membuat ia berdiri dengan rileks.
Dak!
“Huaak!” jerit Juling Jitu begitu kencang ketika Belik Ludah tiba-tiba memukul pusaka dalam celananya dengan batok kelapa.
Juling Jitu sontak memegangi pusakanya itu.
“Hihihik …!” Tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan yang melengking panjang.
Juling Jitu yang kesakitan dan Belik Ludah sontak mendongak lurus ke atas kepala mereka. Keduanya melihat seorang wanita sedang tertawa nyaring sambil duduk di atas dahan yang tinggi.
“Gagap sialan! Sedang apa kau di atas?!” teriak Juling Jitu sambil meringis.
“Hihihik! Ju-ju-justru kau yang se-se-sedang apa di ba-ba-bawa?!” balas wanita di atas pohon yang tidak lain adalah Gagap Ayu.
“Ada apa, Jitu?” tanya Geranda yang datang dengan berlari.
Selanjutnya, berdatangan pula Cucum Mili, Anjengan, dan rekan-rekan lainnya. Mereka sempat terkejut mendengar jeritan Juling Jitu yang tadi begitu histeris.
“Hihihik …!” Gagap Ayu masih tertawa di atas pohon seperti kuntilanak. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1