
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Begitu gembiranya Murai Ranum bertarung melawan Tengkorak Bayang Putih yang merupakan seorang pemuda botak tapi tampan.
Pada beberapa kesempatan, terlihat sekali kegenitannya.
Seperti ketika serangan jurusnya berhasil masuk ke tubuh lawannya. Pukulan yang seharusnya menghantam dada lawan yang bisa membuat terluka, justru dia ubah menjadi cubitan genit yang lembut.
“Aaah!” jerit berdesah Tengkorak Bayang Putih karena terkejut dengan tingkah Murai Ranum.
“Hihihi!” tawa nyaring Murai Ranum sambil mundur menjauhi Tengkorak Bayang Putih.
“Apa yang kau lakukan, Murai Ranum?!” bentak Tengkorak Bayang Putih marah.
Mereka berdua ternyata sudah saling kenal.
“Kau menodaiku!” tukas Tengkorak Bayang Putih.
“Hihihi! Apakah kau ingin aku nodai sungguhan?” tantang Murai Ranum.
“Aku tidak akan memandangmu sebagai wanita cantik lagi. Aku tidak akan sungkan!” kata Tengkorak Bayang Putih.
“Jadi kau memang menilaiku cantik? Terima kasih, Kakang Putih. Hihihi!” ucap Murai Ranum lalu kembali tertawa gembira.
“Jika aku tidak bisa mengalahkanmu, aku akan memilih menduda sampai mati! Heaat!” teriak Tengkorak Bayang Putih lalu merangsek maju dengan dua toya dimainkan lebih agresif.
Meski lawan sudah memainkan dua senjatanya, Murai Ranum masih belum mau mencabut pedangnya. Ia masih mengandalkan tangan kosongnya. Ia bertarung masih dengan genit.
“Hihihi! Apakah kau tidak bermimpi memiliki istri secantik dan semenggoda diriku, Kakang Putih?” tanya Murai Ranum sambil meliuk ke kanan, meliuk ke kiri, menghindari pukulan toya putih Tengkorak Bayang Putih.
“Kau berisik sekali, Murai!” hardik Tengkorak Bayang Putih sambil tiba-tiba mempercepat gerakannya secara mendadak.
Buk buk!
“Akk!” jerit Murai Ranum saat kedua toya Tengkorak Bayang Putih menghantam telak dua dadanya.
Pukulan itu membuat si gadis terdorong dua langkah.
“Tengkorak Bayang Putih!” bentak Murai Ranum keras dengan wajah marah. “Kau pendekar tidak tahu malu. Hanya karena kau tidak bisa memukul anggota tubuhku yang lain, kau memukul dada indahku. Ini ukurannya sudah sempurna. Jika dia tambah besar, keindahannya akan berkurang!”
“Hihihi …!” tawa sejumlah personel wanita Pasukan Sayap Pelangi mendengar omelan Murai Ranum.
“Biarkan saja aku kau sebut tidak tahu malu, tidak tahu keindahan, tidak tahu kecantikan, asal aku suka, kau mau apa?” tantang Tengkorak Bayang Putih dengan senyum mengejek.
__ADS_1
“Kau suka dadaku atau kau suka memukul dada wanita? Bicara yang jelas!” bentak Murai Ranum masih marah. “Jika kau suka dadaku, lebih baik kau bergabung dengan Pasukan Genggam Jagad. Jika kau suka memukul dada wanita, kau memang perlu diberi pelajaran!”
Murai Ranum lalu mengeluarkan ilmu Hantu Tiga Anak. Wajahnya tiba-tiba berubah mengerikan karena ada bayangan sinar biru berwujud tengkorak kepala manusia. Pada kedua tangannya bercokol sinar biru gelap berwujud tengkorak kepala manusia.
Melihat lawannya sudah mengeluarkan kesaktian pamungkasnya, Tengkorak Bayang Putih juga mengeluarkan ilmu andalannya.
Tak tak tak! Bress!
Tengkorak Bayang Putih mengadu kedua toya putihnya sebanyak tiga kali. Setelah itu, kedua toya tersebut bersinar putih yang terkesan mengerikan.
“Jaga dadamu, Murai!” teriak Tengkorak Bayang Putih sambil merangsek maju dan memukulkan kedua toya bersinarnya.
“Akan aku buat kau menyesal menjadi lelaki mesum!” balas Murai Ranum, tapi memilih menghindar dan menjaga jarak dengan tiga sinar biru gelap tetap bercokol pada wajah dan kedua tangannya.
Sees! Bluar!
“Hukh!” keluh Tengkorak Bayang Putih dengan tubuh terdorong tiga tindak, setelah Murai Ranum melesatkan satu sinar biru gelapnya yang kemudian Tengkorak Bayang Putih tangkis dengan silangan kedua toyanya.
Sees! Bluar!
Melihat Tengkorak Bayang Putih kalah tenaga sakti dalam beradu dengan sinar Hantu Tiga Anak, Murai Ranum kembali melesatkan satu sinar birunya menyerang lawan.
Namun, Tengkorak Bayang Putih bisa memilih menghindar dengan gesit, membiarkan sinar itu meledakkan tanah tinggi berumput.
Hindaran itu membuat Murai Ranum memanfaatkan waktu lowong untuk maju mendekat dengan wajah tetap bersinar biru gelap.
Murai Ranum meloloskan pedangnya dan menangkis ketika tongkat bersinar Tengkorak Bayang Putih datang menggebuk.
Murai Ranum bisa merasakan tenaga besar pukulan toya tersebut hingga menggetarkan lengan kanannya.
Sees! Bruask!
“Aaak!” jerit Tengkorak Bayang Putih.
Jarak yang dekat membuat Murai Ranum melesatkan sinar biru tengkorak yang masih bercokol di wajahnya. Jarak yang dekat membuat Tengkorak Bayang Putih sulit menghindar. Ia hanya bisa memasang toya bersinarnya sebagai tameng.
Ternyata kekuatan sinar biru ketiga itu jauh lebih besar dibandingkan dua sinar biru sebelumnya. Hadangan toya bersinar tidak cukup kuat untuk menangkal kekuatan ilmu Hantu Tiga Anak.
Tubuh Tengkorak Bayang Putih terpental keras dengan wajah memerah dan menderita luka bakar. Kedua toyanya juga terpental lepas dari genggaman.
“Aaak!” jerit Tengkorak Bayang Putih berkepanjangan sambil memegangi wajah tampannya yang terbakar oleh daya ledak sinar biru tadi. Ia sampai bergulingan bolak-balik.
“Lelaki mesum tidak layak memiliki wajah tampan. Terimalah nasibmu, Kakang Putih,” kata Murai Ranum.
__ADS_1
“Tidak akan aku maafkan kau, Murai!” teriak Tengkorak Bayang Putih dengan mulut penuh darah.
Dengan wajah yang rusak dan melepuh berair, dia bergerak bangun dan duduk bersila sambil menahan rasa sakit dan panas pada wajah dan tubuhnya.
“Hiiaaat!” teriak Tengkorak Bayang Putih sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke tahap puncak maksimal.
Swiiit!
Tiba-tiba dari bawah tubuh Tengkorak Bayang Putih melesat bayangan warna putih yang memanjang cepat ke arah posisi Murai Ranum.
Gerakan cepat ilmu Bayangan Putih itu disikapi oleh Murai Ranum dengan melompat ke udara untuk menjauhi bayangan putih tersebut.
Seet! Sleep!
Namun, bayangan itu bisa meninggalkan tanah dengan melesat naik ke udara dan menjerat tubuh Murai Ranum. Bayangan putih tersebut melilit tubuh aduhai Murai Ranum secara keseluruhan, sehingga yang terlihat seperti sosok warna putih semua.
Bayangan putih itu membuat tubuh Murai Ranum tertarik terbanting ke tanah.
Ilmu Bayangan Putih itu melilit kuat seluruh bagian tubuh Murai Ranum, membuatnya tidak bisa bernapas.
Namun, tiba-tiba sesosok wanita berambut pendek mendarat satu tombak di depan Tengkorak Bayang Putih. Gadis yang adalah Roro Wiro itu, menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan posisi menyamping.
Zeeer! Blar!
Sealiran sinar biru menjalar cepat dalam sekejap saja. Kecepatan rambat ilmu Jejak Duka itu membuat Tengkorak Bayang Putih tidak bisa menghindar. Fokusnya dalam mengendalikan ilmu Bayangan Putih membuat pemuda botak itu mudah terkena oleh jalaran sinar biru.
Tubuh Tengkorak Bayang Putih terpental keras dengan membawa sejumlah luka. Luka dalamnya kian parah. Hal itu juga membuat ilmu Bayangan Putih berhenti dan lenyap dengan sendirinya.
“Haaah!” desah Murai Ranum yang langsung menyedot udara sebanyak-banyaknya. Nyaris saja dia berhenti bernapas.
Sementara itu, Tengkorak Bayang Putih menggeliat kesakitan dengan sejumlah luka yang dideritanya. Ia sudah tidak bisa bangkit.
Roro Wiro yang telah menyelamatkan Murai Ranum berjalan mendekati Tengkorak Bayang Putih. Murid Setan Gagah itu berniat membunuh Tengkorak Bayang Putih.
“Jangan bunuh dia, Roro!” seru Panglima Besar Anjengan.
Wanita gemuk itu segera berkelebat menghampiri Roro Wiro.
“Gusti Ratu telah berjanji tidak akan membunuh anggota Keluarga Tengkorak, kecuali satu orang,” kata Anjengan kepada Roro Wiro.
Dak!
“Ak!” jerit tertahan Tengkorak Bayang Putih.
__ADS_1
Roro Wiro akhirnya hanya memberikan satu tendangan biasa ke wajah Tengkorak Bayang Putih.
“Selamat hidup dengan penderitaan,” ucap Roro Wiro kepada Tengkorak Bayang Putih yang menderita luka serius pada kedua kakinya. (RH)