
*Setan Mata Putih (SMP)*
Alma Fatara tiba di kaki Bukit Selubung dengan dua kereta kuda dan satu kuda. Kereta kuda difungsikan untuk mengangkut anggota pasukan yang masih menderita sakit dan barang berat. Alma Fatara sendiri sebagai ratu lebih memilih berjalan kaki.
Alma Fatara mengistirahatkan pasukannya di kaki Bukit Selubung. Kemudian ia naik mendaki tangga bukit hanya bersama beberapa orang terdekatnya, di antaranya Anjengan, Penombak Manis, Gagap Ayu dan keempat anggota Lima Dewi Purnama, yaitu Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari, dan Sukma Senja.
Pasukan yang beristirahat di kaki bukit diberi kebebasan dengan syarat tidak menimbulkan masalah terhadap lingkungan sekitar, yaitu flora dan fauna. Di sekitar bukit tidak ada daerah permukiman.
Di pimpin oleh Ketua Bajak Laut Kepiting Batu, Cucum Mili, pasukan yang menunggu di kaki bukit lalu menyusun program yang bertujuan bertahan menunggu dan lebih maju. Ada kemungkinan ratu mereka akan bermalam di atas, jika Raja Tanpa Gerak setuju untuk menurunkan ilmu Titah Mimpi atau memberikan kitabnya.
Ketika tiba di puncak Bukit Selubung, Alma Fatara tidak terkejut dengan banyaknya orang yang duduk berserakan di depan pondok. Mereka berjemur diri dalam kesuntukan.
Golono dan orang-orangnya terkejut ketika melihat kedatangan sejumlah bidadari bumi, kecuali Penombak Manis. Golono lebih terkejut ketika mengenali Gagap Ayu selaku wanita yang sempat bertarung dengannya di Desa Julangangin.
Golono yang awalnya bete luar biasa, seolah-olah rohnya tersengat listrik saat melihat keberadaan Gagap Ayu. Namun di satu sisi, dia juga tersetrum saat melihat kejelitaan Alma Fatara yang berpakaian serba hitam, kecantikannya seperti cahaya terang di dalam kegelapan malam.
Agar tidak terlihat seperti lelaki mata keranjang, dia memilih menciptakan masalah dengan Gagap Ayu. Ia ingin menunjukkan siapa dirinya dengan jumlah pasukan yang banyak.
“Apa yang kau lakukan di sini, Perempuan Kecil?!” bentak Golono langsung tarik gas, dia langsung menunjuk kepada Gagap Ayu agar jelas kepada siapa dia marah.
“Abaikan. Kita tidak ada urusan dengan para rangrang ini!” bisik Alma Fatara kepada Gagap Ayu dengan langkah tetap menuju ke arah pondok yang lebih besar dari pondok sebelahnya.
Gagap Ayu pura-pura tidak mendengar dan melihat, sehingga Golono terdiam melongo seperti ikan asin. Ia merasakan sakit hati yang begitu menikam kehormatannya, dipermalukan di depan mata pasukannya.
“Hei, Perempuan Setaaan!” teriak Golono seperti orang kesetanan, karena terlalu marahnya diabaikan seperti mantan yang selingkuh.
Namun, lagi-lagi Alma Fatara dan para pengawal wanitanya bergeming. Mereka bersikap seolah-olah Golono dan pasukannya tidak ada di tempat itu.
Karena diabaikan lebih buruk dari kentut, Golono yang sudah marah sejak awal menunggu, akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan berjalan pergi ke depan pondok sebelah.
“Ineng Santiii! Keluar!” teriak Golono keras di depan pondok yang lebih kecil, tapi lebih tertutup dari pondok milik Raja Tanpa Gerak.
Namun, teriakan Golono tidak mendapat respons dari siapa pun. Pemilik nama yang diteriakkan oleh Golono tidak kunjung muncul. Bahkan tidak terlihat tanda-tanda keberadaannya.
Di sisi lain, Alma Fatara dan para pendampingnya berhenti tepat di depan teras pondok milik Raja Tanpa Gerak.
Clap!
Tiba-tiba kakek berjubah putih berambut putih, tapi berkumis dan jenggot hitam, muncul seperti setan di teras rumahnya, di mana masih ada berderet peti-peti harta yang beraneka warna.
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara melihat kemunculan Raja Tanpa Gerak. “Benar perkiraanku. Hahaha!”
“Hahaha …!” Raja Tanpa Gerak juga tertawa terbahak-bahak karena langsung menyaksikan kecantikan yang lucu, yaitu gigi ompong.
__ADS_1
Golono yang merasa terabaikan, semakin tersinggung mendengar tawa riuh dan renyah di teras.
“Kakek langsung keluar pasti karena merasakan keberadaan Bola Hitam?” tanya Alma Fatara menerka.
“Pasti ada cerita yang sangat menarik sehingga Bola Hitam ada di tangan gadis belia secantik ini,” duga Raja Tanpa Gerak pula, menciptakan keakraban yang baik.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang diiringi oleh senyum-senyum para pendampingnya.
Namun, suasana akrab itu tiba-tiba dirusak oleh Golono. Pemuda yang adalah putra demang terkaya itu, sangat merasa bahwa kehormatannya telah direnggut dan harga dirinya telah diinjak-injak. Padahal dia sudah membawa begitu banyak harta benda.
“Raja Tanpa Gerak!” panggil Gelono berteriak sambil menghunuskan pedangnya.
Melihat hal itu, terkejutlah Buritan dan Gaeng Lemu selaku dua orang tersakti di antara para pengawal anak demang itu.
Golono berjalan dengan kaki menghentak-hentak dan wajah memerah ke arah depan rumah Raja Tanpa Gerak.
“Kang Aden, jangan lak …!”
Bdak!
Namun, teriakan Gaeng Lemu hanya bisa setengah jalan, karena Golono tahu-tahu sudah terlempar ke belakang tanpa terlihat ada yang menyerangnya. Padahal Raja Tanpa Gerak hanya menengok dan memandang kepada Golono ketika dipanggil dengan kasar.
“Akk!” erang Golono yang jatuh berdebam di tanah berumput.
“Semalam aku bermimpi ditaburi bunga-bunga yang harum dan warna-warni. Mungkin ini tafsir dari mimpi itu. Hehehe!” kata Raja Tanpa Gerak kepaa Alma Fatara lalu terkekeh ramah. Ia tidak mempedulikan apa yang terjadi pada Golono. “Tentu kedatangan Nisanak bukan untuk menyerahkan Bola Hitam atau mau pamer.”
“Aku Ratu Siluman, Dewi Dua Gigi. Namaku Alma Fatara murid dari Pangeran Kumbang Genit dan Pemancing Roh,” ucap Alma Fatara yang membuat Raja Tanpa Gerak terkejut. Kelihatan sekali keterkejutannya, meski ia berusaha bersikap tenang karena ia memang selalu tenang.
“Hehehe! Sangat jarang aku kedatangan tamu yang membuatku begitu terkejut,” kata Raja Tanpa Gerak.
“Akk!” jerit Golono tiba-tiba dengan kencang.
Otomatis perhatian semua prajurit dan centeng memusat kepada Golono yang tiba-tiba menjerit keras, tidak terkecuali perhatian Raja Tanpa Gerak beserta Alma Fatara dan para pendampingnya.
Mereka semua melihat, Golono yang awalnya telah bangkit berdiri dengan dibantu oleh kedua pendekarnya, mendadak kesaktian dan limbung tanpa kekuatan untuk menahan tubuhnya lagi.
“Kang Aden Golono!” sebut Buritan agak panik.
“Kang Aden Golono!” sebut Gaeng Lemu pula sambil menahan jatuh tubuh Golono.
“Aaakh!”
Namun, Golono hanya mengerang dalam jatuhnya dengan wajah menahan rasa sakit yang tinggi. Detik berikutnya, kepala Golono terkulai lemah tanpa daya, demikian pula seluruh anggota tubuhnya yang terkulai lemah, seolah tidak memiliki energi sedikit pun lagi. Cahaya kehidupan pada matanya padam.
__ADS_1
“Kang Aden Golono!” sebut Buritan lebih keras dari sebelumnya.
“Kang Aden Golono!” sebut Gaeng Lemu pula sambil agak mengguncang tubuh Golono.
Wulung sebagai pemimpin prajurit juga segera mendekat kepada Buritan dan Gaeng Lemu untuk melihat kondisi Golono.
“Apa yang terjadi?” tanya Wulung panik.
“Kang Aden Golono sudah mati,” jawab Buritan.
“Apa?!” kejut Wulung.
Pemimpin prajurit itu langsung memandang tajam kepada Raja Tanpa Gerak yang juga sedang memandang tenang ke arah mereka.
“Apa yang terjadi dengan Kang Aden?” tanya Ketua Tiga Centeng yang bernama Regang.
“Kang Aden Golono pasti dibunuh oleh Raja Tanpa Gerak,” duga Gaeng Lemu.
Mereka semua memandang kepada Raja Tanpa Gerak yang berdiri di teras.
“Raja Tanpa Gerak!” seru Wulung marah. “Kenapa kau membunuh putra Demang Mahasugi?!”
Terkejutlah para prajurit dan centeng mendengar bahwa majikan mereka yang suka marah-marah itu telah dibunuh. Padahal mereka tidak melihat Raja Tanpa Gerak menyerang Golono. Ketika Golono terpental tadi pun tidak terlihat siapa yang menyerang. Namun, mereka hanya bisa menduga bahwa Golono dibunuh diam-diam dengan cara yang sakti.
Raja Tanpa Gerak tidak terkejut dengan tudingan Wulung tersebut. Ia justru tersenyum tenang.
Sikap tenang pun ditunjukkan oleh Alma Fatara dan para pengawalnya, kecuali Penombak Manis.
Istri Juling Jitu itu justru memandang tajam dan serius ke arah kerumunan para centeng yang berbaur dengan para prajurit.
“Jika Tetua tidak suka dengan Golono, tidak perlu membunuhnya!” teriak Buritan.
“Kami sangat tahu, pendekar sakti seperti Tetua sangat tidak sulit untuk membunuh dengan cara seperti ini!” teriak Gaeng Lemu pula.
“Dengarkan aku baik-baik!” kata Raja Tanpa Gerak dengan suara yang agak kencang. “Aku tidak membunuh majikan kalian. Bawalah pulang mayatnya!”
Set set set …!
Tiba-tiba kesepuluh peti harta yang ada di teras berlesatan, lalu mendarat cantik di tanah, di depan kaki-kaki para centeng.
“Aku sudah membiarkan kalian sampai ke puncak bukitku ini, jadi jangan coba-coba membuat kerusakan yang akan merugikan kalian sendiri!” tandas Raja Tanpa Gerak. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.