
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Arung Seto sudah terbebas dari racun, Gusti Ratu. Dia sedang memulihkan tenaganya!” lapor Mbah Hitam yang naik menghadap kepada Alma Fatara.
Terkejut kuadrat Pangeran Derajat Jiwa melihat dan mendengar apa yang terlakon di hadapannya. Pertama, ia terkejut karena lelaki berpakaian hitam-hitam itu begitu tampan, meski kemudian ia dengar suaranya seperti kakek-kakek. Kedua, ia terkejut karena Alma Fatara disebut dan disikapi sebagai seorang ratu.
“Alma, siapa dia?” tanya Pangeran Derajat Jiwa dengan nada agak keras sambil menunjuk Mbah Hitam. Ia memendam cemburu yang baru saja mendidih.
“Mbah Hitam adalah pengawal setiaku,” jawab Alma.
“Kau jangan membohongiku, Alma! Dia begitu tampan!” tukas Derajat Jiwa menunjukkan kemarahan.
Sikap itu seketika membuat Mbah Hitam dan keempat sahabat Alma menunjukkan pandangan tidak suka.
“Aku harap Kisanak jangan kasar terhadap ratuku,” kata Mbah Hitam yang secara tidak langsung memberi peringatan. Tatapannya begitu dingin kepada Derajat Jiwa.
Tatapan tajam Mbah Hitam menusuk sampai ke jantung Derajat Jiwa, membuat pangeran itu terdiam sejenak.
“Sialan! Dia pikir siapa dirinya? Berani-beraninya dia merendahkanku di depan pasukanku,” membatin Derajat Jiwa.
Karena motivasi itulah, tiba-tiba Derajat Jiwa bertindak kasar.
“Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa?!” bentak Derajat Jiwa sambil maju dengan tangan kanan berkelebat cepat hendak menampar wajah Mbah Hitam.
Mbah Hitam hanya diam. Dia tidak akan bergerak jika tidak ada perintah dari ratunya. Namun, sebelum tamparan Derajat Jiwa yang keras sampai ke wajah Mbah Hitam, tiba-tiba ….
Tus!
“Ak!” jerit tertahan Derajat Jiwa sambil spontan menarik tangannya kembali.
Itu terjadi karena Derajat Jiwa merasakan telapak tangannya disuntik oleh sesuatu seperti jarum. Memang, Alma telah menggerakkan ujung Benang Darah Dewa demi mencegah Mbah Hitam menerima kemarahan yang tidak beralasan.
“Hahaha! Kemarahanmu tidak beralasan, Gusti Pangeran. Dia adalah pengawalku, tidak akan aku biarkan kedudukanmu mencelakainya. Apalagi dia bukan tandinganmu!” tandas Alma yang didahului dengan tawa untuk mencairkan suasana. Lalu katanya lagi, “Aku dan teman-temanku akan menyerang lewat air, Gusti.”
Tanpa penghormatan, Alma Fatara lalu berkelebat pergi ke sungai, lalu mendarat ke atas perahu, di mana di sana ada Arung Seto yang sedang duduk mengatur pernapasannya. Alma mendarat dengan lembut di lantai perahu, sehingga tidak mengejutkan Arung Seto.
Clap!
Mbah Hitam pun tahu-tahu menghilang dari tempatnya berdiri. Hal itu cukup mengejutkan Derajat Jiwa yang sedang memendam cemburu dan kemarahan.
Jleg! Jleg!
Alangkah terkejutnya Arung Seto saat Gagap Ayu dan Anjengan melompat turun ke sungai dan mendarat keras di perahu, membuat perahu itu terguncang kuat, membuatnya hampir oleng terbalik.
“Hahahak!” tawa Alma melihat keterkejutan Arung Seto. “Naiklah, Kakang. Perahuku akan kelebihan muatan jika kau tidak naik.”
__ADS_1
“Baiklah. Terima kasih, Alma,” ucap Arung Seto. “Aku akan bergabung dengan Pasukan Pamungkas untuk menyerang kembali.”
“Kami akan lewat air,” kata Alma.
“Hati-hati, kami diserang banyak dari dalam sungai. Mereka memasang senjata di dalam air,” kata Arung Seto.
“Baik,” ucap Alma.
“Alma, kau tidak memperkenalkan kami,” kata Anjengan.
“Hahaha!” tawa Alma.
Sambil tersenyum, Arung Seto lalu berkelebat naik ke darat.
“Alma!” panggil Pangeran Derajat Jiwa dari atas.
Ketiga gadis di atas perahu segera memandang kepada Derajat Jiwa yang masih menunjukkan wajah marah.
“Setelah peperangan ini, aku akan memperjelas kedudukanmu!” seru Derajat Jiwa.
“Baiklah, Gusti Pangeran!” sahut Alma.
Iwak Ngasin dan Juling Jitu lalu melompat turun ke perahu.
Jleg!
Ternyata bukan dia saja, Juling Jitu pun lepas landas lalu bersama-sama jatuh ke air sungai.
Jbur!
“Hahahak!” tawa Alma, Anjengan dan Gagap Ayu melihat kejatuhan Iwak Ngasin dan Juling Jitu.
Hal itu terjadi karena ketika kedua pemuda itu mendarat di perahu, tiba-tiba perahu bergerak jalan karena ditarik oleh si ular hitam besar. Pergerakan perahu membuat Iwak Ngasin dan Juling Jitu terlempar dari perahu karena tidak memiliki kuda-kuda dan keseimbangan.
Sementara itu, Pangeran Derajat Jiwa dan Arung Seto jadi terkejut melihat keberadaan ular besar hitam yang baru mereka lihat.
“Aku tidak akan melepaskan Alma dariku!” desis Derajat Jiwa geram. Ia lalu berbalik dan pergi naik ke kudanya.
“Kalian jangan ikut bertempur lagi, kalian harus dibersihkan dari racun!” seru Arung Seto kepada pasukan berkudanya yang tersisa.
“Baik, Kepala!” ucap para prajurit berkuda itu.
“Bawa dan jaga jasad adikku!”
Dua orang prajurit lalu datang untuk mengambil alih mayat Ariang Banu.
Para prajurit berkuda sisa Pasukan Pertama lalu menyingkirkan kuda-kuda mereka, memberi jalan kepada Pasukan Pamungkas pimpinan Pangeran Derajat Jiwa. Arung Seto menjalankan kudanya di sisi kiri kuda Derajat Jiwa.
__ADS_1
“Ariang Banu tewas?” tanya Derajat Jiwa untuk memastikan.
“Benar. Aku akan menyesal hidup jika aku tidak bisa membunuh seorang pun bajak laut itu!” gusar Arung Seto.
“Bagaimana bisa Alma muncul di sini bersamamu?” tanya Derajat Jiwa curiga.
“Aku dan pasukanku yang tersisa menyelamatkan diri dari racun yang ditebar oleh bajak laut. Tiba-tiba Alma dan rekan-rekannya muncul menghadang. Lalu mengobatiku dari racun,” jawab Arung Seto. “Aku juga terkejut, tapi aku gembira. Kemunculannya pertanda kemenangan kita.”
“Kau tahu siapa pemuda bersuara tua yang bersamanya?” tanya Derajat Jiwa lagi.
“Sepertinya dia pengawal Alma.”
“Aku tidak percaya. Dan aku juga tidak percaya jika Alma adalah seorang ratu,” kata Derajat Jiwa. “Apakah kau masih menaruh hati kepadanya?”
“Aku sadar diri, Gusti. Meski aku menaruh hati kepadanya, tapi Alma jenis wanita yang tidak suka dengan lelaki. Apalagi jika aku harus bersaing dengan Gusti Pangeran,” jawab Arung Seto. “Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat bagiku untuk memikirkan pendamping hidup. Aku belum tahu nasib ayah ibuku, dan Ariang Banu baru saja terbunuh.”
“Aku tidak akan membiarkan Alma membuatku malu dengan penolakannya!” desis Derajat Jiwa.
“Gusti, lebih baik kita mengirim empat prajurit berkuda sebagai pancingan di depan. Aku khawatir para bajak laut itu masih memiliki banyak perangkap di depan sana,” usul Arung Seto.
Pangeran Derajat Jiwa lalu menghentikan kudanya. Ia langsung memberi tanda panggilan kepada prajuritnya.
Seorang prajurit penunggang kuda segera maju dan menghadap.
“Kirim empat prajurit kuda maju lebih dulu untuk memeriksa jalan di depan sana!” perintah Derajat Jiwa.
“Baik, Gusti!”
Prajurit itu lalu segera berlari ke belakang, ke pasukan berkuda.
Tidak berapa lama, empat prajurit berkuda segera berlari kencang dari barisan belakang. Mereka mendahului pasukan pejalan kaki lalu maju terus meninggalkan pasukan itu.
Setelah keempat prajurit itu pergi lebih dulu, barulah Derajat Jiwa melanjutkan perjalanannya kembali.
Sementara itu, perahu Alma semakin jauh menuju hulu, mendahului pasukan darat.
Tidak berapa lama, keempat prajurit berkuda yang diutus maju lebih dulu, muncul pulang dari balik tikungan jalan.
“Lapor, Gusti Pangeran! Jalan ditutup oleh dinding mayat prajurit kita!” lapor seorang dari keempat prajurit itu.
Terkejutlah Pangeran Derajat Jiwa dan Arung Seto. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1