Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 17: Nenek VS Ratu Siluman


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara telah berhadapan dengan Tengkorak Pedang Siluman, seorang nenek bersenjatakan dua pedang pusaka.


Sama seperti adiknya, Tengkorak Pedang Kilat, Tengkorak Pedang Siluman memiliki dua pedang pusaka yang bernama Pedang Siluman Hijau dan Pedang Sepuluh Siluman.


Tengkorak Pedang Siluman sudah menghunus Pedang Siluman Hijau, senjata yang baru saja ia gunakan untuk menyerang Alma Fatara dan yang lainnya di pendapa halaman rumah Demang Mahasugi.


“Sebelum kita bertarung, aku ingin tahu, aku bertarung dengan neneknya siapa? Hahaha!” tanya Alma Fatara yang kemudian tertawa lucu sendiri dengan pertanyaannya.


“Huh!” dengus Tengkorak Pedang Siluman melihat tingkah Alma Fatara yang mendadak tertawa sendiri. Rupanya kemarahannya lebih besar daripada rasa humornya ketika dia melihat keompongan Ratu Siluman.


“Jika Nenek tidak mau memperkenalkan diri, aku tidak akan bertarung,” kata Alma Fatara, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Tengkorak Pedang Siluman begitu saja. Dia berlagak mengambek seperti anak mama.


Mata Tengkorak Pedang Siluman mendelik melihat tindakan gadis belia itu. Ia makin terkesiap ketika melihat satu wajah cantik yang sudah lama dikenalnya.


“Ineng Santi!” teriak Tengkorak Pedang Siluman membentak.


Ineng Santi cukup terkejut mendengar namanya dipanggil dengan nada yang kasar.


“Kenapa kau bersama dengan pembunuh Keluarga Tengkorak? Kau adalah anggota Kelurga Tengkorak!” teriak Tengkorak Pedang Siluman marah.


“Maafkan aku, Nenek Siluman,” ucap Ineng Santi. “Justru ada anggota Keluarga Tengkorak yang ingin membunuh aku dan Kakek Raja.”


“Jangan sembarangan kau menuduh, Ineng Santi!” bentak Tengkorak Pedang Siluman. “Dasar pengkhianat!”


Setelah itu, Ineng Santi tidak membalas lagi.


Tengkorak Pedang Siluman lalu beralih kepada Alma Fatara.


“Ratu Siluman, jangan jadi pengecut!” teriak Tengkorak Pedang Siluman gusar.


“Hahaha! Penuhi dulu permintaanku, Nek. Tidak sulit untuk menyebutkan nama!” seru Alma Fatara yang kini berdiri di antara para panglimanya.


“Bocah setan!” maki Tengkorak Pedang Siluman pelan. Lalu serunya, “Aku Tengkorak Pedang Siluman, kakak dari Tengkorak Pedang Kilat!”


“Baiklah, kita bertarung, Nenek Siluman. Seharusnya kau tunduk kepadaku, Nek. Aku Ratu Siluman, sedangkah kau hanya Nenek Siluman. Hahaha!” kata Alma Fatara sambil kembali berjalan mendekat kepada Tengkorak Pedang Siluman.


“Ratu Siluman bapakmu!” maki Tengkorak Pedang Siluman.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar makian si nenek gemuk.


Melihat Tengkorak Pedang Siluman hendak menyerang, Alma Fatara cepat menghentikan tawanya dan berseru.


“Tunggu dulu, Nek! Tunggu dulu!”


“Jangan main-main denganku, Ompong!” bentak Tengkorak Pedang Siluman kesal.


“Hahaha!” Alma Fatara yang ingin menyampaikan sesuatu, terpaksa tertawa lebih dulu.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Pasukan Genggam Jagad dan pasukan milik Demang Mahasugi pula.


“Jangan membuatku tertawa terus dengan tingkahmu, Nek. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting,” kata Alma Fatara yang justru menyalahkan si nenek.


“Cepat katakan, sebelum aku hilang kesabaran!” bentak Tengkorak Pedang Siluman.


“Jangan marah-marah terus, Nek. Aku tidak akan ke mana-mana. Nanti kau cepat tua,” kata Alma Fatara lebih kalem.


“Aku memang sudah tuaaa!” teriak marah Tengkorak Pedang Siluman penuh penghayatan.


“Hihihi!” Kali ini Alma Fatara menahan tawanya sehingga ia hanya terkikik. Ingin tertawa terbahak lagi, tetapi takut dosa karena kualat membuat marah nenek-nenek.


“Hahaha!” Namun di barisan penonton, tawa tetap tersalurkan agar tidak kutuan.


“Siapa pun yang bertarung melawan Ratu Siluman harus tunduk kepada aturan Kerajaan Siluman ….”


“Apa itu?” tanya Tengkorak Pedang Siluman memotong kata-kata Alma Fatara.


“Musuh yang kalah perang atau kalah tarung melawan Kerajaan Siluman, harta bendanya akan menjadi milik Kerajaan Siluman, kecuali pakaian dan gigi palsu,” kata Alma Fatara.


“Jangankan hartaku, ragaku boleh kau ambil jika aku kalah!” tandas Tengkorak Pedang Siluman.


“Baiklah, Nek. Ayo kita mulai!” ajak Alma Fatara.


Crek! Zerzz!


Tengkorak Pedang Siluman langsung membacokkan pedang hijau mudanya ke tanah. Dari bacokan itu melesat menjalar sinar hijau seperti jalaran lidah api ke arah posisi berdiri Alma Fatara. Setelah itu dia langsung melompat naik ke udara bersama pedangnya.


Ternyata benar, dari udara Tengkorak Pedang Siluman mengibas-ngibaskan Pedang Siluman Hijau.


Set set set! Bset bset bset!


Saat tubuh gemuk Tengkorak Pedang Siluman berada di udara, dia bisa menebaskan pedangnya sebanyak tiga kali. Maka tiga sinar hijau tipis dan besar melesat bersusulan menyerang Alma Fatara di bawah.


Alma Fatara melompat-lompat pendek tapi berirama cepat menghindari ketiga serangan sinar hijau. Tanah halaman di buat terbelah-belah seperti usai ditebas pedang raksasa.


Untung hanya tanah, jika sampai mengenai rumah Demang Mahasugi, bisa rugi bandar.


Karena pedang lawan memiliki jangkauan jauh, maka Alma Fatara memutuskan untuk bertarung jarak dekat.


Ketika Tengkorak Pedang Siluman mendarat di tanah, Alma Fatara cepat maju memepet si nenek dengan serangan jarak dekat.


Memang dasarnya Tengkorak Pedang Siluman adalah pendekar pedang pro. Si nenek bisa menggunakan pedangnya tetap sebagai senjata, meski ruang geraknya dibatasi dalam jarak sempit.


Serangan rapat Alma Fatara bisa diimbangi oleh Tengkorak Pedang Siluman. Si nenek bisa membuat pedang besarnya bertindak seperti pisau dan menjadi tameng untuk menangkis.


Buk buk buk!


Tiga tinju Alma Fatara berhasil dihadang menggunakan sisi lebar pedang yang dijadikan penangkis. Setelah itu, Alma Fatara menghindari serangan balik dari sisi tajam pedang tanpa berani menyentuhnya, semata-mata untuk membuat lawan mengira ia takut terhadap benda tajam.

__ADS_1


Beruntung bagi para penonton, hingga tahap itu, mereka masih bisa melihat dengan jelas pertarungan yang tanpa bayar tiket.


Pada satu ketika, tiba-tiba Alma Fatara meningkatkan kecepatan gerak serangnya. Hal itu sempat mengejutkan Tengkorak Pedang Siluman. Namun, ternyata Tengkorak Pedang Siluman bisa mengimbangi serangan tersebut.


“Boleh juga!” puji Tengkorak Pedang Siluman.


“Waktunya menjahit!” seru Alma Fatara sambil mengeluarkan dua ujung Benang Darah Dewa.


Tuk tuk!


“Kebal!” pekik Alma Fatara terkejut, karena bisa merasakan kedua ujung benangnya seperti menusuk lapisan besi, begitu keras.


“Rupanya kau memiliki senjata rahasia, Bocah!” seru Tengkorak Pedang Siluman, yang meski tidak sempat melihat wujud Benang Darah Dewa, tetapi dia bisa merasakan ada dua tusukan yang berusaha menusuk kulit.


Buom!


Tiba-tiba Tengkorak Pedang Siluman menggenggam kuat kepal tangan kirinya, menimulkan ledakan tenaga sakti tanpa wujud yang kuat.


Ledakan tenaga sakti itu membuat Alma Fatara terpental keras.


Jleg!


Namun, Alma Fatara bisa mendarat dengan baik di tanah, tanpa mengalami luka luar atau dalam.


Set! Bseng!


Belum lagi semuanya siap, satu sinar hijau tipis besar melesat dari tebasan pedang Tengkorak Pedang Siluman yang menyerang Alma Fatara.


Namun, mau tidak mau, Alma Fatara terlalu cepat mengeluarkan ilmu Tameng Balas Nyawa. Tiba-tiba satu lapisan sinar ungu bening lagi tebal muncul di depan tubuh sang ratu. Dinding sinar itu memantulbalikkan sinar hijau muda kepada Tengkorak Pedang Siluman.


Bset!


Dengan menahan keterkejutannya, si nenek sigap menebas sinar hijau yang balik menyerang. Sinar hijau itu musnah terkena tebasan pedang. Sementara si nenek harus terjajar dua tindak.


Buss!


Ketika Tengkorak Pedang Siluman kembali memfokuskan perhatiannya kepada Alma Fatara. Satu sinar ungu berpijar telah melesat cepat menyerang.


Bluar!


“Akh!”


Tidak ada waktu untuk beradu ilmu atau menghindar, Tengkorak Pedang Siluman hanya bisa menangkis dengan bilah Pedang Siluman Hijau.


Ledakan tenaga sakti dari ilmu Tinju Roh Langit terjadi keras, mementalkan tubuh besar Tengkorak Pedang Siluman cukup jauh. Pedang Siluman Hijau terlepas dari genggaman tangan si nenek.


“Hua hua hua!” teriak Panglima Besar Anjengan mulai memanaskan bangku suporter.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad penuh semangat, karena mereka tahu bahwa lawan ratu mereka kali ini lebih tangguh dari dua tetua yang dilumpuhkan di jalan kademangan.

__ADS_1


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!” (RH)


__ADS_2