Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 24: Kabar Duka


__ADS_3

 *Setan Mata Putih (SMP)*


Di pendapa kecil yang terletak di sisi utara halaman luas itu, telah duduk Demang Mahasugi berhadapan dengan kedua tamu gemuknya, yakni Raja Buru dan Ratu Kejar. Pasangan suami istri itu datang bertamu atas request mendiang Golono.


Dari pendapa itu, mereka bisa menikmati pemandangan persawahan yang tidak begitu jauh di seberang jalan utama depan kediaman sang demang. Meski hari masih terbilang terik menjelang senja, tapi embusan angin alam begitu sejuk. Inilah ujian terbesar bagi para prajurit dan centeng kademangan, yaitu melawan rasa kantuk sebab rayuan bayu pelena.


Di belakang Demang Mahasugi duduk bersimpuh Ronga Kamboja dalam tugas mengawal sang majikan yang kaya raya.


“Jadi … bagaimana, Raja Buru?” tanya Demang Mahasugi.


“Kami datang atas permintaan Golono. Dia mengatakan, ada serangan aneh terhadap kuda-kuda Demang,” ujar Raja Buru.


“Benar. Bahkan ketua prajuritku terluka parah, menunjukkan bahwa Setan Mata Putih itu berkesaktian cukup tinggi. Urusan berburu kalian adalah ahlinya. Jadi, aku serahkan sepenuhnya kepada kalian. Ungkap dan tangkap siluman itu hidup atau mati,” kata Demang Mahasugi.


“Bagaimana dengan bayarannya, Demang?” tanya Ratu Kejar dengan senyum menggoda. Bukan bermaksud menggoda Demang Mahasugi, tapi karena dia memang berwajah cantik sehingga senyumnya terlihat menggoda.


“Aku akan membayar dua kantung kepeng perak setelah kalian berhasil,” jawab Demang Mahasugi.


“Baik. Kami bisa langsung memulai tugas kami. Kami hanya perlu ditunjukkan lokasi setan itu melakukan serangan,” kata Raja Buru.


“Prajurit!” panggil Demang Mahasugi.


“Hamba, Kanjeng Gusti!” sahut satu prajurit penjaga di luar pendapa.


“Antarkan kedua pendekar ini kepada penghitung kuda!” perintah Demang Mahasugi.


“Baik, Kanjeng Gusti,” ucap prajurit itu patuh.


“Silakan, Pendekar!” kata Demang Mahasugi sambil mengulurkan tangan kanannya mempersilakan kepada kedua tamunya untuk mengikuti prajurit yang ditugaskan.


Raja Buru dan Ratu Kejar bergerak bangkit setelah menghormat kepada Demang yang tidak ikut bangun. Kemudian mereka mengikuti prajurit yang pergi mengantar dengan berjalan kaki. Mereka diantar menuju ke area kandang kuda yang agak jauh.


“Kamboja,” sebut Demang Mahasugi.


“Hamba, Kanjeng Gusti,” sahut Ronga Kamboja.


“Ke mana Lolongo pergi?” tanya Demang Mahasugi.


“Pergi ke Nuging Muko. Katanya mau mencari pendekar bayaran untuk dijadikan pengawalnya,” jawab Rungo Kamboja.

__ADS_1


“Dasar anak dungu!” rutuk Demang Mahasugi. “Padahal di sini sudah berkumpul banyak pendekar bayaran, kenapa sampai mencari yang jauh-jauh?”


“Menurut Buluk, Kang Aden Lolongo tidak suka dengan pilihan Kanjeng Gusti, dia ingin pilihan kesukaan sendiri,” jawab Rungo Kamboja.


“Apakah aku harus menikah lagi supaya mendapat anak yang cerdas?” tanya Demang Mahasugi kepada dirinya sendiri.


“Saran hamba, lebih baik jangan sampai, Kanjeng Gusti. Banyak cerita kehancuran seorang yang besar bermula dari rasa sakit hati. Aku khawatir, jika Kanjeng Gusti Putri hatinya tersakiti, kerajaan kademangan ini akan pecah,” tutur Ronga Kamboja agak panjang.


“Hahaha!” tawa pendek Demang Mahasugi yang masih membelakangi pengawalnya.


Demang Mahasugi berhenti bersuara, ketika dia melihat kedatangan rombongan pasukan kademangan yang terdiri dari unsur prajurit dan centeng. Belasan orang dari pasukan itu memikul beberapa tandu yang di atasnya terbaring beberapa lelaki terluka, salah satunya adalah Wulung.


“Bukankah itu pasukan yang mengawal Golono?” tanya Demang Mahasugi dengan nada terkejut sambil bangkit berdiri. “Kenapa Golono tidak ada? Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk.”


Demang Mahasugi segera berkelebat cepat di udara dan turun mendarat menghadang langkah rombongan pasukan itu. Dia tidak mau menunggu lebih lama lantaran kekhawatiran seketika mengganggu perasaannya.


“Hormat kami, Kanjeng Gusti!” ucap para prajurit dan centeng saat melihat majikan mereka menghadang.


Wulung yang berada di atas tandu, segera turun. Dengan tertatih dia menjura hormat. Sementara Ronga Kamboja sudah tiba di belakang Demang Mahasugi.


“Ampuni hamba, Kanjeng Gusti!” ucap Wulung emosional dan bernada takut.


“Kang … Kang Aden Golono …,” ucap Wulung agak terbata, seolah tidak berani menjawab apa adanya.


“Jawab!” perintah Demang Mahasugi dengan gigi saling rapat menekan dan kedua pelipis mengeras.


“Kang Aden Golono telah dibunuh, Kanjeng Gusti,” ucap Wulung lirih. Dalam pikirannya yang terbayang pada kejap berikutnya adalah wajahnya ditampar sampai lepas dari kepalanya.


Demang Mahasugi tidak terlihat terkejut, karena keterkejutannya heboh di dalam hati. Ia hanya terdiam dengan wajah merah kelam dan mata yang juga jadi memerah, tajam menatap wajah Wulung yang menunduk dalam.


Semua prajurit dan centeng itu menunduk dalam ketakutan. Mereka jelas takut mendapat hukuman berat dari Demang Mahasugi yang sudah mereka kenal karakternya jika marah.


“Siapa pembunuhnya?” tanya Demang Mahasugi yang mencoba mengendalikan kemarahannya yang sedang menuju puncak.


“Ka-ka-kami tidak melihat, ketika Kang Aden Golono dibunuh. Namun, kami begitu yakin bahwa Raja Tanpa Gerak yang membunuhnya, sebab orang tua itu sepertinya tidak suka dengan Kang Aden yang selalu marah-marah,” jelas Wulung lambat, pengaruh dari ketakutannya.


“Tidak peduli sesohor seperti apa kesaktian Raja Tanpa Gerak, orang tua itu sudah waktunya mati!” gusar Demang Mahasugi. Lalu tanyanya yang masih memendam amarah tertahan, “Jika Golono dibunuh, lalu di mana jasadnya?”


“Dalam perjalanan pulang, kami diserang kelompok bertopeng yang menculik jasad Kang Aden,” jawab Wulung.

__ADS_1


Deg!


“Uhkk!” keluh Wulung tertahan menikmati rasa sakitnya yang begitu dalam, ketika ujung kaki kanan Demang Mahasugi menghantam keras tengah dadanya.


Wulung meringkuk jatuh di tanah dengan wajah merah kelam dan mulut ternganga. Ia berusaha bernapas, karena dadanya terasa begitu sesak oleh tendangan Demang Mahasugi barusan. Tidak ada prajurit yang berusaha menolong Wulung.


“Jadi, kalian mati dalam jumlah besar dan tidak bisa menggagalkan penculikan jasad putraku?!” tanya Demang Mahasugi dengan membentak keras.


Para prajurit dan centeng itu kian ketakutan dan tetap dalam posisi berlutut tanpa berani mengangkat wajahnya. Tidak ada yang berani menjawab ataupun menyahut, karena Wulung yang berani menjawab sedang sulit berkata-kata. Wulung masih menahan rasa sakit yang tinggi, seolah-olah dia sedang sakratul maut.


“Kamboja, pergi sampaikan kabar duka ini kepada Putri Cicir Wunga!” perintah Demang Mahasugi tanpa memandang kepada pengawalnya yang berdiri di belakangnya.


“Baik, Kanjeng Gusti,” ucap Ronga Kamboja.


Wanita berpedang itu segera berkelebat pergi menuju rumah utama. Sementara Demang Mahasugi melanjutkan interogasinya.


“Raja Tanpa Gerak membunuh putraku. Apa alasanya, Wulung?” tanya Demang Mahasugi.


“Hamba …. Hamba …. Hamba tidak tahu, Kanjeng Gusti!” jawab Wulung dengan susah payah, karena kondisinya yang masih meringkuk di tanah membuatnya begitu sulit. Lukanya yang sudah dibalut, kembali merembeskan darah.


“Bagaimana kalian tidak tahu? Apakah harus aku yang datang ke Bukit Selubung dan bertanya langsung kepada Raja Tanpa Gerak?” tanya Demang Mahasugi kesal.


Tidak ada yang bisa menjawab.


“Dasar tidak berguna!” maki Demang Mahasugi sambil menyepakkan kaki kanannya menendang ruang kosong.


Wuss!


Serangkum angin keras muncul dari sepakan itu. Bersama debu halaman yang berterbangan hebat, Wulung serta seluruh prajurit dan centeng itu terhempas lalu bergulingan di tanah, tanpa selektif lagi mana yang sehat dan mana yang sakit.


“Jika Raja Tanpa Gerak membunuh Golono, kelompok bertopeng memculik mayat putraku, lalu siapa yang mengambil harta untuk cucu Raja Tanpa Gerak?” tanya Demang Mahasugi kepada kedua puluh satu orang yang berserakan di tanah itu.


“Golonooo …!”


Tiba-tiba terdengar satu teriakan histeris suara perempuan yang melengking tinggi mengandung tenaga dalam. Teriakan itu bernada ratapan mengandung tangis yang mengejutkan para prajurit dan centeng di sekitar rumah Demang.


Pemilik suara itu tidak lain adalah Putri Cicir Wunga, ibu dari Golono dan Lolongo yang sudah mendengar kabar duka tersebut. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.


__ADS_2