Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 28: Balito VS Silang Kanga


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Meski Silang Kanga sedang tidak terlihat karena bersembunyi, tetapi Balito Duo Lido bisa mendengar suara kehidupan musuhnya itu.


Tiba-tiba Balito Duo Lido mencelat lurus naik ke langit seperti Superman mau naik membeli madu ke bulan. Sejenak dia terlihat hanya sebenda kecil di langit sana.


Silang Kanga yang sedang bersembunyi di atas sebatang pohon besar, mendongak ke langit, tetapi pandangannya agak terhalang oleh rimbunnya daun pohon itu.


Surss!


“Kurang ajar!” maki Silang Kanga saat mendengar suara menderu dari arah atas dan adanya sinar biru yang jatuh dari atas, sepertinya mengarah ke pohon tempat ia bersembunyi.


Bluaarr!


Pohon besar itu hancur berantakan saat batang utamanya dihantam sinar biru berekor dari atas langit. Beruntung bagi Silang Kanga, dia lebih dulu melesat pergi dari pohon.


Silang Kanga sampai berguling di tanah demi menyelamatkan dirinya.


Buum!


Belum lagi Silang Kanga bangun, tahu-tahu tubuh gemuk Balito Duo Lido telah mendarat seperti raksasa jatuh dari langit. Sepasang kakinya sampai melesak masuk ke dalam tanah sedalam betis. Satu gelombang keras juga melesat ke segala arah.


Silang Kanga yang tidak sempat menghindar, harus terlempar cukup jauh dan jatuh bergulingan.


Seet!


Ternyata Balito Duo Lido terus memburu Silang Kanga dengan melesatkan tongkatnya.


Bluar!


Ternyata Silang Kanga masih bisa melompat cepat menghindari serangan tongkat yang kemudian meledakkan tanah berumput.


Set set set …!


Silang Kanga balas menyerang Balito Duo Lido dengan dua puluh piringan sinar emas dari ilmu Sepuluh Purnama Kematian. Namun, Balito Duo Lido kembali memasang ilmu perisainya yang hanya bisa mengguncang si nenek di dalam benteng tenaga yang tidak tampak.


Sesss!


Setelah gagal dengan ilmu Sepuluh Purnama Kematian, Silang Kanga lalu menghentakkan sepasang tangannya lurus ke atas. Tiba-tiba di atas udara muncul empat bola sinar kuning emas berformasi segi empat. Itu adalah ilmu Bulan Kembar Empat.


Silang Kanga lalu menurunkan kedua tangannya, membuat keempat bola sinar kuning itu bergerak turun mengurung posisi Balito Duo Lido.


Pengurungan keempat bola sinar kuning itu membuat si nenek terkejut. Ia langsung merasakan bahwa darah dalam tubuhnya tersedot kuat. Tampak tubuh si nenek mengejang dan berusaha menahan serangan dari Bulan Kembar Empat.


Zess!

__ADS_1


Tiba-tiba tangan kanan Balito Duo Lido bersinar merah berpijar. Tangan itu perlahan terangkat ke atas karena berat. Di sisi lain, Silang Kanga juga terlihat berjuang menahan pula serangannya agar tidak buyar.


“Hiaaat!” teriak Balito Duo Lido sambil membanting tangan kanannya yang bersinar merah berpijar ke bawah.


Bruass! Blar blar blar …!


Seiring membantingnya tangan itu, sinar merah dari tangan Balito Duo Lido menghantam bumi, menghancurkan tanah dengan dahsyat, mementalkan tubuh Silang Kanga, sekaligus meledakkan empat bola sinar kuning yang mengepung.


“Hukr!” Balito Duo Lido menyemburkan darah segar dari mulutnya, termasuk kunyahan sirinya.


Namun, itu tidak menunjukkan keunggulan Bulan Kembar Empat melawan ilmu Gebrak Semesta. Sebab, Silang Kanga juga muntah darah banyak di pemberhentian jatuhnya.


Balito Duo Lido cepat mengambil daun siri yang agak banyak dari balik pakaiannya dan memasukkannya ke mulut.


Set! Tap!


Balito Duo Lido lalu menarik kembali tongkatnya dengan sedotan tenaga dalam yang kuat. Tongkat itu melesat ke tangannya kembali.


Sress!


Tongkat itu kemudian bersinar merah.


Set! Clap! Blar!


Balito Duo Lido melesatkan tongkatnya ke arah Silang Kanga yang bergerak bangkit. Namun, tiba-tiba Silang Kanga lenyap begitu saja, membuat tongkat menghancurkan tanah kosong di bawah pohon.


Namun, bersamaan dengan itu, tubuh si nenek melesat secepat peluru menghantam sesuatu di udara dengan telapak tangannya yang bersinar putih.


Broks!


Satu tubuh yang awalnya tidak terlihat, tahu-tahu sudah melesat menghantam batang pohon ukuran sedang. Batang pohon itu patah oleh hantaman tubuh milik Silang Kanga.


“Aakh!” erang Silang Kanga menggeliat dengan darah mengalir dari mulutnya.


“Matilah dengan tenang, Silang Kanga. Dosa bejatmu hari ini terbayar!” seru Balito Duo Lido.


Set! Tap! Set! Ctar!


Balito Duo Lido kembali menarik tongkatnya ke genggaman, lalu langsung dilesatkan kembali kepada Silang Kanga. Dalam kondisi luka yang sudah parah, Silang Kanga masih bisa mengeluarkan ilmu perisainya berupa tameng sinar biru. Hantaman kepala tongkat pada sinar perisai masih membuat Silang Kanga terpental terjengkang.


“Hukr!” Ia kembali menyemburkan darah dari dalam mulutnya.


“Hah! Bebek kawin enak-enak, enak setiap pagi kalau kawin!” kejut Balito Duo Lido berujung latah. “Haaah! Harus pakai ilmu Bintang Cinta Jatuh.”


Set! Tap! Zersss!


Balito Duo Lido kembali menarik pulang tongkatnya yang tergeletak di tanah berumput. Setibanya di dalam genggaman si nenek, tongkat itu lalu ditunjukkan ke arah langit.

__ADS_1


Maka melesatlah selarik sinar hijau ke langit tinggi. Pada puncak dari lesatannya, ujung sinar itu membentuk gumpalan besar di atas sana hingga sebesar kambing. Bentuknya tidak teratur.


Sementara Silang Kanga yang sudah tidak berdaya, memilih menggunakan ilmu perisai Cangkang Keong Dewa. Silang Kanga meringkuk bersujud di tanah. Sementara tubuhnya dilindungi oleh sinar hijau berpola cangkang keong.


Zursss!


Terdengar suara menderu keras dan menakutkan datang dari langit. Suara itu berasal dari lesatan sinar hijau yang tercipta di langit dan melesat deras menghujam ke arah bumi.


Bluaarr!


Ledakan dahsyat terjadi seperti meteor menghantam bumi, ketika sinar hijau besar itu menghantam tepat tubuh Silang Kanga yang berkeong. Tanah berumput, lengkap dengan sejumlah pohon, terbongkar hebat naik ke udara lalu jatuh dalam kondisi sudah ada kubangan raksasa.


Ketika suasana kembali tenang, terlihat di dasar kubangan tergeletak sosok Silang Kanga yang sudah berdarah-darah, tapi tanpa ilmu perisainya lagi. Namun, masih terlihat ada gerakan pada tubuhnya yang sudah tidak berdaya.


“Aaa!”


Terdengar erangan lirih dari Silang Kanga.


Clap!


Tiba-tiba Balito Duo Lido telah berpindah tempat ke sisi tubuh Silang Kanga. Nenek besar itu lalu membungkuk meraih leher Silang Kanga dan mencekiknya. Tubuh lelaki tua itu diangkat mengikuti tubuh si nenek yang naik tegak.


Sepasang mata Silang Kanga masih terbuka sayu lima watt dan bisa melihat wajah Balito Duo Lido. Namun, Silang Kanga benar-benar sudah tidak bisa mengangkat tangannya sedikit pun. Bibirnya yang berlumuran darah bergetar hebat menahan sakitnya cekikan itu.


“Fruuut!”


Tiba-tiba mulut Balito Duo Lido menyemburkan kunyahan sirih yang berwarna merah ke wajah Silang Kanga.


“Aaakr!” jerit Silang Kanga serak dan panjang saat merasakan rasa yang begitu pedih, seperti ribuan jarum menusuk masuk ke dalam wajah hingga ke otak.


Namun, jeritan itu tidak lama karena nyawa Silang Kanga telah pergi tanpa pamit.


Balito Duo Lido menancapkan tongkatnya ke tanah dan dibiarkan lepas sejenak. Balito lalu mencengkeram kepala dan leher mayat Silang Kanga, kemudian menariknya dengan tenaga dalam tinggi ke arah yang saling berjauhan.


Krakt!


Balito Duo Lido yang memiliki tenaga super kuat, dengan mudah menarik putus kepala Silang Kanga dari lehernya. Darah pun muncrat ke mana-mana, mengotori wajah, pakaian dan kedua tangan si nenek.


“Suraya Kencani pasti sangat senang mendapat hadiah satu kepala jelek ini,” ucap Balito Duo Lido kepada dirinya sendiri seperti pelakon sinetron di negeri masa depan.


Ia hempaskan badan mayat Silang Kanga begitu saja. Ia raih tongkatnya, lalu naik melejit ke udara begitu tinggi dan jauh, lalu menghilang ke arah perguruan.


Tinggallah murid-murid Perguruan Bulan Emas yang masih hidup dalam kondisi terluka cukup parah. Mereka baru saja menyaksikan pertarungan “gila” yang membunuh guru mereka. (RH)



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2