
*Episode Terakhir (PITAK)*
Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara dan Pasukan Genggam Jagad meninggalkan Desa Pendekar Tua dengan kebanggaan, khususnya kepada para pendekar yang tergabung dalam pasukan itu.
Mereka gembira dan bangga, karena mereka kini memiliki sekutu yang sangat kuat, yaitu Keluarga Tengkorak. Meski yang mengabdi kepada Ratu Siluman hanya Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek, tetapi kini Ratu Siluman berstatus sebagai pemimpin Keluarga Tengkorak yang perintahnya wajib dipatuhi oleh semua anggota Keluarga Tengkorak, tanpa terkecuali oleh Eyang Kubur Biru sebagai pemimpin tertinggi Keluarga Tengkorak.
Itu artinya, selain memiliki Pasukan Genggam Jagad, Alma Fatara juga memiliki Keluarga Tengkorak, belum pula termasuk beberapa perguruan seperti Perguruan Jari Hitam dan Perguruan Bulan Emas.
Untuk menuju ke Kerajaan Jintamani, rombongan Alma Fatara harus berbalik arah lagi melewati lembah sebelumnya. Setelah itu baru berbelok arah.
Ketika rombongan berposisi di tengah lembah, dari arah yang berlawanan muncul dua kuda berlari kencang. Kedua penunggang adalah seorang wanita berpakaian putih dan seorang pria besar berpakaian merah gelap tanpa lengan.
Saat kedua kuda masih cukup jauh, Alma Fatara dan pasukannya sudah dapat mengenali sosok wanita muda berkuda itu, khususnya bagi kaum batangan. Wanita berwajah terang itu tidak lain adalah Ineng Santi, cucu Raja Tanpa Gerak. Namun, lelaki besar yang bersamanya, sepertinya pernah mereka lihat.
Ketika kedua kuda semakin dekat, maka jelaslah bahwa kedua penunggang kuda itu adalah Ineng Santi bersama Badak Ireng. Bertanya-tanyalah Alma Fatara dan para personel Pasukan Genggam Jagad.
“Berhentiii!” teriak Panglima Besar Anjengan setelah melihat tanda dari Alma Fatara.
Pasukan Genggam Jagad pun berhenti. Seiring itu, dua kuda yang datang pun berhenti di depan Gede Angin dan Penombak Manis yang berjalan paling depan.
Si cantik jelita Ineng Santi turun dari kudanya seraya melemparkan senyum sesejuk angin lembah kepada Gede Angin dan Penombak Manis. Semakin sejuk suasana hati Gede Angin menikmati wajah Ineng Santi.
Namun, berbeda dengan Badak Ireng. Ia turun dari kudanya dengan mengerenyit dan wajah pucat. Bisa ditebak bahwa dia tidak sedang menderita sakit ambeyen, tapi sedang menderita luka dalam. Terlihat lebih kentara ketika dia melompat turun dari kudanya. Tidak gagah, tapi agak terhuyung.
Ineng Santi bergegas pergi menghadap Alma Fatara di kereta kudanya yang diikuti oleh Badak Ireng. Namun, ketika melihat wajah sang ratu, gadis itu terkejut. Gambar bersinar hijau pada dahi sang ratu yang membuatnya terkejut.
“Hormatku, Penghakim Agung!” seru Ineng Santi seraya buru-buru berlutut dua kaki dan kedua telapak tangannya ditempelkan di tanah.
“Bangunlah, Kakak Ineng!” perintah Alma Fatara yang tidak heran jika Ineng Santi bisa melihat tanda di dahinya.
Ineng Santi segera bangun.
“Hormatku, Gusti Ratu Siluman,” ucap Badak Ireng sambil turun berlutut satu kaki dan menempelkan kedua telapak tangannya di depan dahinya.
“Bangunlah, Kakang Badak!” perintah Alma Fatara. Lalu tanyanya kepada Ineng Santi, “Bagaimana, Kakak Ineng?”
“Kakek mengizinkanku ikut dan bergabung bersama Pasukan Genggam Jagad, tapi sekarang aku bingung. Apakah aku harus mengabdi sebagai abdi Kerajaan Siluman atau sebagai Keluarga Tengkorak?” ujar Ineng Santi.
“Sebagai Penghakim Agung, aku memerintahkan Kakak Ineng mengabdi kepadaku sebagai rakyat Kerajaan Siluman. Aku khawatir masih ada anggota Keluarga Tengkorak yang mempermasalahkan kedudukan Kakek Raja,” jawab Alma Fatara yang menjadi perintah pertamanya sebagai Penghakim Agung Keluarga Tengkorak.
“Baik, Penghakim Agung,” ucap Ineng Santi patuh.
__ADS_1
Merasa kecewalah Nining Pelangi dan tersenyumlah Arung Seto di sisi lain.
“Lalu, bagaimana tiba-tiba Kakang Badak bisa bersama dengan Kakak Ineng Santi?” tanya Alma Fatara kepada Badak Ireng.
“Mohon maaf sebelumnya, Gusti Ratu. Seperti ini ceritanya …” jawab Badak Ireng, lalu ia pun bercerita apa yang dialaminya.
Beberapa jam sebelumnya.
Pawang Tengkorak telah berdiri menghadang pasukan Kadipaten Gulangtara yang dipimpin oleh Badak Ireng bersama lima pendekar berkuda lainnya.
“Seraaang!” teriak orang banyak yang tiba-tiba muncul dari sisi kanan dan kiri. Mereka berpakaian cokelat dan bersenjata pedang, muncul berlari menyerang pasukan prajurit yang sebenarnya jumlahnya lebih banyak.
Tang ting teng! Tang ting teng!
Bagitulah bunyinya peraduan pedang dan tombak pasukan kadipaten dengan pedang pasukan berseragam cokelat.
“Serang!” perintah Badak Ireng kepada kelima pendekarnya.
“Seraaang!” teriak para pendekar itu sambil melompat meninggalkan punggung kudanya.
Kelima pendekar itu berlari di udara dengan senjata masing-masing sudah terhunus. Sementara Badak Ireng tetap duduk di punggung kudanya untuk melihat sekuat apa Pawang Tengkorak. Ia sendiri belum pernah bertarung melawan lelaki bertongkat kepala tengkorak itu.
Blass!
Selagi kelima pendekar itu berlari di udara, Pawang Tengkorak menusukkan kepala tongkatnya yang kemudian meledakkan sinar kuning menyilaukan dan menyebarkan kekuatan tenaga sakti.
Mendelik Badak Ireng menyaksikan kelima pendekar anak buahnya berpentalan dan berjatuhan.
“Uhhuk uhhuk!”
Tiga di antara mereka terbatuk darah akibat serangan tersebut. Sementara dua lainnya yang memiliki ketahanan lebih kuat hanya mengerenyit kesakitan.
“Kurag ajar!” maki Badak Ireng lalu gilirannya melompat dari punggung kudanya dan berkelebat di udara.
Joss joss!
Sebelum Pawang Tengkorak kembali menusukkan kepala tongkatnya, dari udara Badak Ireng sudah lebih dulu menghentakkan kedua tinjunya.
Dua gelombang sinar kuning yang ujungnya berbentuk tinju, melesat dan menderu keras kepada Pawang Tengkorak.
Bzess! Blalar!
“Huakh!”
__ADS_1
Pawang Tengkorak sontak menghadapi dengan gerakan telapak tangan kiri yang samar. Hal itu memunculkan dinding sinar merah seperti hologram pola tengkorak manusia.
Kedua gelombang sinar kuning Badak Ireng menghantam ilmu perisai tersebut dan menghancurkannya.
Bersama pekikannya, Pawang Tengkorak terlempar ke belakang dengan mata mendelik. Ia terkejut dan tidak menyangka besarnya kekuatan Tinju Badak Ganda yang dilepaskan oleh Badak Ireng.
Pawang Tengkorak jatuh di tanah berbatu.
“Kau ingin merasakan hebatnya kesaktianku, Pawang Tengkoraaak!” teriak Badak Ireng yang telah melompat maju ke posisi Pawang Tengkorak dengan golok besar telah terangkat tinggi, siap tebas.
Pawang Tengkorak yang masih menggenggam tongkatnya, cepat menusukkan kepala tongkatnya.
Blass! Bseet!
Dari tengkorak kepala itu meledak sinar kuning terang yang mengirim gelombang tenaga sakti tingkat tinggi.
Namun seiring itu, Badak Ireng juga menebaskan golok besarnya yang mengeluarkan tebasan sinar tipis ungu.
Sinar ungu itu menebas kekuatan tongkat yang menyerang, sehingga terbelah dan tersingkir. Sementara sinar ungu berlanjut menebas kepada tubuh Pawang Tengkorak.
Bzess! Zeng!
“Fukr!”
Pawang Tengkorak yang masih dalam posisi setengah terbaring, langsung memasang ilmu perisainya yang berpola tengkorak. Namun, kali ini sama. Ilmu perisai itu hancur oleh tebasan sinar ungu, membuat Pawang Tengkorak terseret mundur sambil menyemburkan darah.
“Kau salah memilih lawan, Pawang Tengkorak!” seru Badak Ireng yang mendarat dengan kokoh.
“Keparat, tidak aku sangka Badak Ireng kesaktiannya sekuat ini,” batin Pawang Tengkorak sembari menatap tajam kepada Badak Ireng yang berdiri laksana seorang algojo maut.
Pawang Tengkorak sudah menderita luka dalam yang parah.
“Sudah waktunya kematianmu!” pekik Badak Ireng lalu melompat kembali dengan golok yang terangkat tinggi siap tebas mengakhiri nyawa Pawang Tengkorak, yang ternyata kesaktiannya tidak seseram julukannya.
Bseet!
Clap! Bresst!
Badak Ireng harus terkejut. Ketika dia menebaskan sinar ungu tipis dari goloknya, tiba-tiba Pawang Tengkorak lenyap dari tempatnya karena disambar oleh satu bayangan jingga. Hal itu membuat sinar ungu membelah tanah berbatu dengan ganas.
Set set set …!
“Aak! Ak! Aak …!”
__ADS_1
Tiba-tiba para prajurit kadipaten berjeritan di dalam pertarungan. Mereka diserang oleh sepuluh piringan bersinar emas. Piringan-piringan bersinar emas itu sangat tajam, bisa memotong pedang dan tombak, serta menjebol perisai.
Para prajurit bertumbangan satu demi satu dengan cepat. (RH)