
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*?
Benda yang menarik perhatian Alma Fatara adalah sebuah busur berwarna biru terang yang tergeletak di dinding kubangan. Alma Fatara berhenti di pinggiran kubangan tanah. Ia mengarahkan telapak tangannya ke busur peninggalan Kebo Pute itu. Ternyata senjata sakti itu tidak hancur oleh kekuatan ganda Pukulan Bandar Emas.
Set! Tap!
Rupanya membutuhkan tenaga dalam akstra untuk menarik busur itu.
Saat busur sudah di tangan, Alma lalu menarik senarnya dengan mengalirkan tenaga sakti yang tinggi pada tangan kanan yang menarik senar. Ternyata, begitulah caranya untuk memunculkan anak panah sinar berwarna putih.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara seperti bocah yang menemukan mainan baru.
Ia lalu menggeser arah panahnya.
Alangkah terkejutnya Tampang Garang ketika Alma Fatara mengekernya. Ia jadi bingung di tempatnya berdiri.
Set! Bros!
Alma Fatara melepaskan panah sinar putihnya dan mengenai tiang tribun tempat Tampang Garang berdiri. Tiang kayu itu pun hancur dan meruntuhkan tribun tempat Tampang Garang berdiri. Lelaki berwajah penuh jerawat karang itu ikut abruk ke bawah, tapi tidak sampai jatuh tersungkur wajahnya dulu atau bokongnya dulu.
Alma Fatara lalu melemparkan jauh busur biru itu kepada Tampang Garang. Lemparan yang hanya setengah jarak itu, membuat Tampang Garang berinisiatif cepat berkelebat menyongsong busur tersebut.
“Itu hadiah untukmu, Garang!” seru Alma Fatara.
“Terima kasih, Gusti Ratu! Terima kasih!” ucap Tampang Garang girang sambil berlutut menghormat, setelah ia mendarat di tanah.
Alma Fatara lalu berkelebat pergi naik ke atas panggung tamu.
Ketika Alma Fatara mendarat di panggung tamu, mereka yang ada di atas panggung tersebut serentak menjura hormat, seolah semuanya sudah merupakan abdi.
“Hormat sembah kami kepada Gusti Ratu Siluman!” ucap mereka.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Lalu tanyanya kepada Setan Gagah, “Dengan siapa aku berhadapan saat ini?”
“Hamba penguasa Bukit Empat, Setan Gagah, ketua di Perguruan Lelaki Hebat,” jawab Setan Gagah.
“Kenapa Kakek tidak ikut dengan penguasa bukit yang lain?” tanya Alma Fatara mencoba mengetes.
“Setelah tahu perbuatan mereka, aku menjadi malu sendiri, Gusti Ratu. Lagi pula, secara akal sehat, melawan tarung orang yang pernah mengalahkan Wulan Kencana sama saja bunuh diri. Apalagi orang itu adalah pemilik Bola Hitam,” ujar Setan Gagah.
“Terima kasih sudah tidak menjadi musuh, Kek,” ucap Alma Fatara sambil sedikit membungkuk tanda hormat.
Di saat Ratu Siluman beramah tamah dengan para tamunya, Suraya Kencani yang masih bertarung, dalam posisi tidak baik.
Perkasa Rengkah yang kesulitan dalam menghadapi Suraya Kencani, mau tidak mau harus menggunakan jasa senjata sakti yang bernama Kuncup Mawar Putih.
Kuncup Mawar Putih adalah setangkai bunga mawar bertangkai tanpa daun dan tanpa duri, tetapi memiliki bunga yang kondisinya masih belum mekar.
__ADS_1
Yang jadi masalah dari Kuncup Mawar Putih, ketika Perkasa Rengkah mencabut satu kelopaknya. Ketika Perkasa Rengkah membuang satu kelopak itu dan jatuh menyentuh tanah, tiba-tiba ….
Zwiss! Zwiss zwiss zwiss …!
Tiba-tiba kelopak putih itu bersinar putih dan membesar menciptakan makhluk sinar berwujud kucing. Ajaibnya, kucing sinar itu berkembang biak dalam jumlah banyak dengan cara membelah diri atau menduplikat diri. Jumlah kucing-kucing itu jadi puluhan ekor.
Buk!
Ses ses ses …!
Perkasa Rengkah menghentakkan kaki kanannya ke bumi. Bersamaan dengan itu, semua kucing-kucing sinar itu melesat terbang secara bersamaan. Lesatannya terlalu cepat, membuat Suraya Kencani yang berusaha menghindar, tetap saja terkena terkaman satu dua kucing yang melesat.
Bles bles!
“Aaak!”
Akibatnya, Suraya Kencani terlempar deras seraya menjerit panjang.
Bugk!
Punggung Suraya Kencani menghantam keras tiang panggung arena, hingga membuat tiang itu tergeser miring posisinya.
Setelah itu, semua kucing sinar putih telah hilang. Dengan perasaan tegang, Perkasa Rengkah menunggu hasilnya.
“Seharusnya dia mati,” ucap Perkasa Rengkah lirih, tapi dengan tatapan yang tajam. Namun kemudian dia memaki, “Setan sapi!”
Ternyata Suraya Kencani bangkit Kembali. Dia langsung mengangkat lurus tangan kirinya ke arah langit. Kejap berikutnya, tangan kiri Suraya Kencani bersinar putih hingga bahu. Sementara di genggaman, ada bola sinar putih menyilaukan yang mengerikan.
Zwiss!
Ketika kelopak itu menyentuh tanah, kelopak itu langsung bersinar putih dan membesar, menjelma menjadi badak sinar putih.
Bsess!
Buk! Zwiss! Bluarr!
Ketika Suraya Kencani melesatkan salah satu ilmu pamungkasnya berupa bola sinar putih menyilaukan, Perkasa Rengkah juga menghentakkan kaki kanannya ke bumi.
Badak sinar putih langsung berlari maju menyongsong sinar putih Suraya Kencana.
Ledakan sinar putih yang keras tercipta dahsyat. Badak sinar putih hancur, sementara Suraya Kencani kembali terlempar hebat masuk ke kolong panggung arena dan menabrak tiang penyanggah.
Braks!
Tumbangnya tiang penyanggah yang Suraya Kencani tabrak, membuat panggung arena yang tersisa tiba-tiba ambruk keseluruhan dan menimbun Suraya Kencani.
“Seharusnya dia mati!” desis Perkasa Rengkah dengan perasaan yang was-was. “Sehebat-hebatnya pendekar, jika terkena dua kali kesaktian Kuncup Mawar Putih, pasti tidak akan selamat.”
Bluar!
__ADS_1
Tiba-tiba kayu-kayu reruntuhan panggung tarung meledak dan berhamburan ke mana-mana.
“Kudis geniiit!” teriak Perkasa Rengkah gusar dan begitu kesal.
Suraya Kencani muncul keluar dari balik reruntuhan panggung. Sorot matanya begitu tajam. Ada darah yang mengalir di sela bibir wanita cantik itu.
“Sapi Setaaan!” teriak Suraya Kencani keras, memperlihatkan rongga mulutnya yang penuh darah.
“Gila, gila, gila. Wanita itu memang gila. Kenapa belum mati juga?” gerutu Perkasa Rengkah bingung dan panik.
Buru-buru dia membali memetik satu kelopak mawar putihnya.
Zwiss! Zwiss zwiss zwiss …!
Ketika kelopak bunga itu menyentuh tanah, kembali bersinar dan menjelma menjadi belalang besar sebesar telapak tangan. Sama seperti jelmaan kucing, belalang sinar putih itu juga memecah diri menjadi sangat banyak, seperti gerombolan belalang hama.
Buk!
Zwiss zwiss zwiss …!
Mungkin ada ratusan belalang sinar putih yang melesat terbang sangat cepat menyerbu Suraya Kencani. Lagi-lagi Suraya Kencani tidak bisa menghindari badai belalang sinar putih itu.
Blus blus blus …!
“Ak ak ak …!” jerit Suraya Kencani berulang-ulang setiap satu belalang menusuk masuk ke dalam tubuhnya.
Setelah gerombolan belalang sinar putih itu habis, Suraya Kencani tumbang. Tubuhnya memang tidak terlihat menderita luka, tetapi dalam tubuh Suraya menderita kerusakan yang cukup parah.
“Uhhuk uhhuk!” Suraya Kencani terbatuk darah dalam kondisi terbaring, membuat darah yang keluar mengotori wajahnya.
“Kurap! Kurap! Kuraaap!” maki Perkasa Rengkah begitu gusar karena menyaksikan Suraya Kencani kembali belum mati.
Sementara itu kelopak bunga mawar putihnya tersisa dua helai.
“Hihihi …!” tawa Suraya Kencani tiba-tiba. “Habiskan kelopak mawarmu, Sapi Setan!”
“Aku turuti kemauanmu!” teriak Perkasa Rengkah, lalu ia mencabut satu kelopak mawar lagi.
Kelopak itu kembali dijatuhkan ke tanah.
Zwiss! Zwiss! Zwiss!
Kali ini yang tercipta bukanlah kucing sinar putih, tetapi macan sinar putih. Namun, hanya ada lima ekor. Kelima macan sinar putih itu sudah memasang ancang-ancang. Sementara Suraya Kencani menatap tajam setelah berhenti tertawa. Ia menyeka wajahnya dengan ujung bajunya.
Kali ini, sanggupkah lima macan sinar putih membunuh Suraya Kencani? (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.