
*Setan Mata Putih (SMP)*
Golono yang gantengnya semanis sekoteng, makan ayam panggang seperti orang kesurupan setan. Sampai-sampai Bandar Bumi dan Tenggak Telaga terdiam memandangi Golono.
“Sudahlah, lupakan perempuan itu. Lebih baik kau berkonsentrasi bagaimana caranya agar bisa mendapatkan cinta Ineng Santi tanpa ditentang oleh kakeknya,” kata Bandar Bumi.
Golono berhenti mengunyah dan dia menatap kepada lelaki yang jauh lebih tua darinya itu. Ia kemudian meletakkan tulang ayamnya di piring dan menegakkan wajahnya. Ia seka bibirnya yang berminyak menggunakan punggung tangan kirinya.
Sejenak Golono memandang ke awang-awang. Ia mencoba menghadirkan wajah dan senyum manis Ineng Santi. Wajah itu begitu cantik, seperti wanita yang terbuat dari bahan baku air susu murni. Kulitnya begitu halus dan menyejukkan mata. Bahkan lubang hidungnya saja serasa nikmat dalam hayalan.
“Memang harus aku akui,” katanya seolah baru tersadar dari gangguan setan. “Kecantikan Janda Belia tidak seindah kecantikan Ineng Santi, tapi tetap saja aku butuh penjelasan dari Janda Belia, kenapa dia meninggalkanku begitu saja dan tidak pernah menemuiku, seolah-olah aku adalah ayam yang sudah mati ….”
“Hahaha …!”
Tawa Raja Buru memutus perkataan Golono yang emosional. Rupanya dia menyimak perbincangan ketiga lelaki kaya itu.
Golono hanya melirik tajam kepada Raja Buru dan istrinya, Ratu Kejar, yang bergerak hendak meninggalkan kedai itu. Kedua orang gemuk itu sudah menyelesaikan makannya.
“Hati-hati jika berurusan dengan Bandar Bumi,” pesan Raja Buru sambil melangkah berlalu di belakang Golono.
“Apa maksudmu, Raja Buru?!” hardik Tenggak Telaga sambil berdiri mendelik kepada Raja Buru. Ia Rupanya tersinggung dengan kata-kata Raja Buru yang terkesan memburukkan ayahnya.
“Tidak usah marah seperti itu, ayahmu saja tidak marah. Hahaha!” kata Raja Buru santai, lalu tertawa menuju pintu kedai.
“Tunggu, Raja Buru!” seru Golono tiba-tiba, membuat pasangan suami istri itu berhenti dan menengok kepada si pemuda tampan yang beranjak dari duduknya.
Golono menghampiri Raja Buru. Pandangannya sudah tidak tajam seperti tadi. Ia ingin menyentuh bahu Raja Buru dengan tangan kotor berminyaknya, bekas memegang daging ayam. Namun, dengan cepat Raja Buru menepis tangan itu sehingga gagal hinggap.
“Di Kubang Kepeng ada penyerangan aneh. Yang diserang sudah dua ekor kuda di dalam kandang dan satu orang anak buah ayahku. Jika kau bisa menangkap penyerang itu, ayahku akan membayarmu,” kata Golono.
“Jika hanya serangan binatang buas, orang-orang keluargamu juga bisa menangkapnya,” kata Raja Buru.
“Bukan binatang. Menurut kesaksian anak buah ayahku yang selamat, penyerang itu seperti manusia,” tandas Golono.
“Baiklah, nanti aku akan datang ke Kubang Kepeng,” kata Raja Buru.
“Istrimu sangat cantik, tapi sayang …,” puji Golono sambil memandang kepada Ratu Kejar.
“Tapi sayang kenapa?” tanya Ratu Kejar dengan sedikit mendelik kepada Golono.
“Tapi sayang kau sudah menikah dengan si gendut ini,” kata Golono lalu berbalik pergi begitu saja.
“Kurang ajar. Apa maksudnya dia menyebutku gendut? Memangnya kau tidak gendut?” kata Raja Buru kepada istrinya.
__ADS_1
“Hihihi!” Ratu Kejar hanya tertawa pendek melihat kekesalan suaminya.
Golono kembali ke tempat duduknya. Sementara Raja Buru dan Ratu Kejar melanjutkan langkahnya.
“Jadi bagaimana, Golono?” tanya Bandar Bumi kepada Golono yang baru saja duduk kembali.
“Baik, nanti aku akan datang langsung,” jawab Golono.
“Lagi pula, tidak mungkin kau ditolak. Kau adalah putra penguasa dan orang terkaya di Kademangan Kubang Kepeng. Seharusnya tidak ada alasan untuk menolakmu, Golono. Ketampanan yang diidam-idamkan oleh setiap wanita kau miliki, harta yang dipuja-puja oleh semua orang kau pun miliki. Kedarahbangsawanan? Kau pun ada. Jadi tidak mungkin kau akan ditolak. Ingat, Ineng Santi itu adalah bidadari, patut diperjuangkan sampai mati. Jika sampai mati pun, itu bukan sebuah kehinaan,” ujar Tenggak Telaga, sangat berusaha memengaruhi pikiran Golono.
Pemuda berbaju hijau muda itu manggut-manggut mendengar perkataan Golono.
“Jika memang ditolak mentah-mentah, kau bisa minta bantuan kepada kami lebih dulu jika kau tidak mau merepotkan keluarga besarmu,” kata Bandar Bumi.
“Kalian memang teman-teman terbaik yang aku miliki,” kata Golono sambil mengunyah makanannya.
“Hahaha!” tawa Bandar Bumi dan Tenggak Telaga.
Sementara itu, Raja Buru dan Ratu Kejar pergi ke kedai bubur Ki Jentang.
“Silakan masuk, Raja Buru, Ratu Kejar!” sambut Rereng Busa saat melihat kedatangan kedua pendekar gemuk itu, padahal di dalam kedai sudah sarat muatan.
“Hahaha! Terima kasih, Tetua Rereng Busa. Aku datang ke sini karena aku mendengar ada seorang ratu sakti di sini,” ujar Raja Buru setelah tertawa hangat tanpa gestur permusuhan.
“Coba kalian lihat, wanita yang paling cantik, itulah ratu kami,” kata Balito Duo Lido.
Raja Buru dan Ratu Kejar lalu memandangi sejumlah wanita yang duduk di dalam kedai bubur tersebut. Di dalam sana ada Cucum Mili yang saat itu sedang makan bubur tanpa mengenakan cadarnya. Ada pula empat anggota dari Lima Dewi Purnama yang cantik-cantik. Mereka adalah mantan murid dan pengawal pribadi Wulan Kencana. Sementara ketua mereka, yaitu Gagap Ayu, bergabung bersama tim dagelannya di sisi bawah.
“Hahahak …!”
Bisa terdengar suara tawa Anjengan dan rekan-rekan yang seru-seruan berkomedi di bawah. Beberapa anggota baru terlihat mulai bisa berbaur dalam kegilaan Anjengan dkk.
Raja Buru dan Ratu Kejar juga melihat keberadaan seorang wanita berambut panjang dan berjubah hitam, tetapi dia duduk makan bubur membelakangi arah depan kedai, sehingga wajahnya tidak bisa dilihat, terlebih ia pun tidak pernah menengok ketika dua pendekar gemuk itu datang.
Raja Buru dan istrinya menilai Cucum Mili adalah wanita yang paling cantik.
“Aku melihat wanita yang paling cantik di dalam kedai ini, tetapi pasti bukan dia. Yang aku dengar, Ratu Siluman yang mengalahkan Wulan Kencana usianya masih belia. Jadi aku yakin, gadis berjubah hitam inilah ratu kalian,” kata Ratu Buru.
“Hahaha!” tawa Alma tiba-tiba karena mendengar analisa Ratu Kejar.
Alma Fatara lalu bangun berdiri. Ia kemudian berbalik sambil tertawa pelan.
“Hahaha!” tawa Raja Buru.
__ADS_1
“Hihihi!” tawa Ratu Kejar.
Pasangan suami istri itu tertawa ketika melihat lubang besar pada gigi atas Alma Fatara.
“Kalian berani menertawakan ratu kami?” tanya Rereng Busa, tapi tidak bernada marah.
Pertanyaan Rereng Busa itu membuat Raja Buru dan Ratu Kejar tersadar. Buru-buru mereka berhenti tertawa, sementara Alma Fatara terus tertawa lepas.
“Maafkan kami berdua, Ratu,” ucap Raja Buru sambil menjura hormat ala pendekar.
“Tidak apa-apa. Hahaha!” kata Alma dengan tawa yang sudah melemah. “Aku adalah Alma Fatara, Ratu Siluman, Ratu Kerajaan Siluman. Senang bisa berkenalan dengan Paman dan Bibi. Namun, siapa kiranya Paman dan Bibi adanya?”
“Aku Raja Buru dan ini istriku, namanya Ratu Kejar,” jawab Raja Buru.
“Luar biasa. Bibi sangat cantik,” puji Alma Fatara.
“Jangan panggil Bibi, terkesan terlalu tua. Hihihi!” kata Ratu Kejar.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara terbahak, tanpa sungkan memperlihatkan ompongnya. “Apakah Kakak dan Kakang tertarik untuk bergabung dengan Kerajaan Siluman? Lihatlah, pendekar sekelas Kakek Rereng dan Nenek Balito juga bergabung.”
“Hahaha!” Raja Buru tertawa, lalu jawabnya, “Tidak, kami hanya tertarik untuk mengenal gadis hebat yang dalam hitungan hari bisa menaklukkan Perguruan Bulan Emas.”
“Atau kalian ingin mengenal siapa orang yang memiliki Bola Hitam?” tukas Balito Duo Lido to the point.
Terkesiaplah Raja Buru dan Ratu Kejar. Ternyata Balito Duo Lido bisa menerka niatan mereka berdua. Sementara Alma Fatara hanya tertawa melihat keterkejutan samar yang ditunjukkan oleh kedua tamunya.
“Aku hanya mengingatkan, Wulan Kencana dan enam penguasa bukit baru saja mati,” kata Balito Duo Lido.
“Hahaha! Bukan seperti itu, Tetua. Tidaklah mungkin kami berani berurusan dengan kalian,” bantah Raja Buru yang didahului dengan tertawa paksanya yang tidak tulus.
“Tidak apa-apa, Kakang Raja Buru. Jika kalian ingin mencoba merebut Bola Hitam, aku pun siap melayani satu lawan satu tanpa campur tangan para tetua atau pasukanku,” kata Alma Fatara.
“Karena kami sudah seperti tikus yang tercebur di parit, lebih baik kami mohon izin untuk pamit. Terima kasih atas waktunya, Ratu,” ujar Ratu Kejar lalu menjura hormat.
Raja Buru juga turut menjura hormat.
“Baik. Senang berkenalan dengan dua pendekar sakti,” kata Alma Fatara pula seraya tersenyum ramah. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.
__ADS_1