Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 28: Si Paku Renggut Nyawa


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


Mereka dikenal dengan nama Lima Pembunuh Gelap karena kekhasan mereka adalah membunuh dalam gelap. Bahkan ketika membunuh di siang hari, korbannya pasti dibuat kegelapan dulu, apakah ditutup matanya dengan sarung atau dicolok terlebih dahulu.


Untuk malam ini, mereka tidak perlu melakukan tutup sarung atau colok mata, karena suasana malam sudah membuat pandangan gelap.


Ketua dari Lima Pembunuh Gelap bernama Ireng Keling. Ia seorang lelaki bertubuh paling kecil dengan warna kulit yang benar-benar hitam, meski tidak sehitam arang. Meski kecil, tapi jangan pandang kekecilannya, tapi nilailah khasiatnya. Di punggungnya terpanggul sebuah alat kayu yang berisik empat gulungan benang, yang pastinya sulit dilihat jika suasananya gelap.


Anggota kedua dari Lima Pembunuh Gelap adalah seorang wanita gemuk yang bernama Ireng Gempita, seperti nama orkes dangdut. Siluet tubuhnya menunjukkan dengan pasti bahwa dia adalah seorang wanita yang berbadan gemuk, paha yang gemuk dan pipi yang gemuk. Pada tubuhnya ada banyak kain selendang, di pinggang, di tangan dan di leher.


Anggota ketiga bernama Ireng Cadas. Dia adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berotot keras, tapi tidak sebesar Gede Angin. Rambutnya gondrong keriting dan memanggul senjata gada besar dari besi.


Anggota keempat juga seorang yang tinggi dan besar, tetapi dia seorang wanita. Namanya Ireng Kemilau. Ia tidak bersenjata.


Anggota terakhir bernama Ireng Segaris. Seorang lelaki bertubuh kurus berjubah. Kepalanya diikat dengan kain. Ada seekor ular yang melingkar di lehernya, besarnya masih bisa digenggam dengan jari.


Tugas mereka malam itu adalah menyerang Raja Tanpa Gerak atas perintah si tuan yang membayar.


Namun, ketika mereka sampai di puncak Bukit Selubung di malam itu, ada perdebatan kecil di antara mereka.


“Tidak aku sangka di sini ada Bola Hitam,” kata Ireng Cadas.


“Benar. Auranya berasal dari wanita berjubah hitam itu,” kata Ireng Segaris juga sambil memandang ke arah Alma Fatara yang sedang berhadapan dengan Si Paku Renggut Nyawa.


“Jangan melenceng dari tujuan kita. Ingat, tugas kita adalah menghabisi Raja Tanpa Gerak!” tandas Ireng Keling. “Jika kita berhasil membunuh orang tua itu, baru kita rebut Bola Hitam.”


“Baik, Ketua!” ucap keempat anak buah Ireng Keling patuh.


Mereka lalu berjalan menuju ke samping pondok milik Raja Tanpa Gerak.


Sementara itu, Alma Fatara tetap fokus kepada Si Paku Renggut Nyawa.


“Kalian amankan tawanan itu!” perintah Alma Fatara kepada keempat Anggota Lima Dewi Purnama.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari, dan Sukma Senja bersamaan.


“Waktunya bertarung, Ratu Kecil!” seru Si Paku Renggut Nyawa lalu mengeluarkan jari-jarinya yang sudah mengepal. Pada kedua kepalannya, masing-masing ada tiga paku besar dan panjang yang menyala membara, tapi tidak membuat lelaki separuh baya itu kepanasan.


Bersamaan dengan perginya keempat pengawalnya, Alma Fatara berjalan maju dengan cepat mendatangi Si Paku Renggut Nyawa.


Lelaki berambut perempuan itu maju juga menyongsong kedatangan Alma Fatara dengan tinju seperti gaya Logan Wolverine Marvel, hanya bedanya dia menggunakan paku bangunan.


Ternyata Si Paku Renggut Nyawa memiliki gerak serang yang sangat cepat. Namun, Alma Fatara adalah Ratu Siluman yang memiliki gerakan secepat setan terbirit-birit. Ia belum perlu bergerak secepat setan dalam menghadapi lawannya kali ini.


Untuk tahap awal pertarungan, Alma Fatara memilih hanya menghindar saja tanpa memberikan serangan balik.


Namun, lama kelamaan, Si Paku Renggut Nyawa menjadi kesal juga karena serangannya tidak ada yang mengenai sasaran sekali pun. Jangankan menggores kulit wajah Alma Fatara, menyentuh kain jubahnya saja tidak bisa.

__ADS_1


Dak! Buk!


“Hahahak!”


Memang dasar Alma Fatara, mantan si anak nakal. Orang jatuh terbanting bukannya ditolong, malah ditertawai.


Tiba-tiba saja pada satu kesempatan, Alma Fatara menyepak kaki Si Paku Renggut Nyawa, seperti anak iseng yang tiba-tiba menyepak kaki temannya. Si Paku Renggut Nyawa pun jatuh terbanting ke tanah yang kemudian membuat Alma Fatara tertawa terbahak.


Panaslah hati dan kepala Si Paku Renggut Nyawa ditertawai oleh bocah ingusan seumuran Alma Fatara. Buru-buru dia bangkit berdiri dan langsung melompat dengan tendang kaki kanan yang mengibas, menargetkan kepala Alma Fatara.


Siiing!


“Jiaaak!” pekik Alma Fatara sambil merunduk menghindar. Ia terkejut karena tendangan itu diiringi sinar kuning seperti api saat mengibas.


Ketika Si Paku Renggut Nyawa hendak melancarkan tendangan berapinya lagi, Alma Fatara melangkah mundur menjaga jarak. Tindakan Alma Fatara itu membuat lawannya kian berhasrat memburu dengan tendangannya yang bertubi-tubi. Lintasan-lintasan api dari tendangan itu justru menjadi hiasan indah di dalam pertarungan tersebut.


Tus tus!


“Akk!” jerit tertahan Si Paku Renggut Nyawa tiba-tiba, ketika ia merasakan ada dua tusukan pada paha bawah kanannya.


Mau tidak mau, Si Paku Renggut Nyawa harus menghentikan agresi kakinya. Ketika kedua kakinya berpijak, maka kaki kanannya menjadi pincang.


“Kurang ajar!” maki Si Paku Renggut Nyawa pelan karena dia tidak tahu sama sekali senjata apa yang menusuk pahanya. Ia tidak melihat Alma Fatara melakukan serangan apa pun.


“Kenapa, Paman? Ayo kita bertarung lagi, aku sedang bersemangat, jangan memutus kesenanganku,” kata Alma Fatara pura-pura tidak mengerti perasaan Si Paku Renggut Nyawa.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Mungkin Paman salah urat karena terlalu bersemangat menendang.”


“Aku yakin kau memiliki senjata rahasia,” tukas Si Paku Renggut Nyawa.


“Tapi buktinya, Paman tidak mati. Hahaha!” kata Alma Fatara. “Ayo, semangat, Paman. Kapan lagi Paman bisa bertarung melawan seorang Ratu Siluman secantik aku?”


“Baiklah,” ucap Si Paku Renggut Nyawa.


Set set set!


Si Paku Renggut Nyawa tiba-tiba melesatkan senjata paku-paku bangunannya. Namun, gerakan tangan Alma Fatara yang cepat dapat menangkap semua paku-paku itu.


Set set set!


Alma Fatara melesatbalikkan paku-paku besar yang tidak beracun itu ke pemiliknya. Dengan sigap Si Paku Renggut Nyawa melompat menghindar dengan tubuh berputar di udara.


Jleg!


Ketika mendarat, Si Paku Renggut Nyawa nyaris jatuh karena oleng. Rasa sakit pada paha kanannya membuat kakinya lemah.


Set set set!

__ADS_1


Si Paku Renggut Nyawa tidak mau terpaku dalam perkara kakinya, ia kembali melesatkan paku-pakunya. Kali ini yang ia lesatkan adalah paku-paku yang membara merah.


“Hah!” kejut Si Paku Renggut Nyawa saat melihat paku-paku panasnya ditangkap dengan mudah oleh Alma Fatara.


Sedikit pun Alma Fatara tidak merasa kepanasan atau jari-jarinya terbakar. Tanpa peduli dengan keterkejutan lawannya, Alma Fatara kembali melesatpulangkan paku-paku api itu.


Lagi-lagi Si Paku Renggut Nyawa melompat menghindar.


“Aaak!” jerit lelaki berpakaian hitam itu saat merasakan sakit dan panas menusuk bagian lambung kirinya.


Bluk!


Kali ini Si Paku Renggut Nyawa tidak bisa mendarat. Ia jatuh bersama badannya di tanah.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Sepertinya Paman Paku salah pilih lawan.”


“Sepertinya seperti itu,” kata Si Paku Renggut Nyawa sambil bangkit perlahan.


Sess!


Tiba-tiba di depan tubuh Si Paku Renggut Nyawa muncul melayang lingkaran sinar merah. Melihat hal itu, Alma Fatara segera melangkah mundur. Pada saat yang sama, Si Paku Renggut Nyawa menghentakkan sepasang lenganya.


Ses ses ses …!


Zing!


Dari lingkaran sinar merah itu berlesatan paku-paku sinar merah dalam jumlah yang banyak, seperti tembakan senapan mesin. Paku-paku sinar merah itu menghujani Alma Fatara.


Namun, pada saat yang sama, Alma Fatara mengerahkan ilmu perisai Tameng Balas Nyawa. Lapisan sinar ungu bening tapi tebal muncul melindungi tubuh depan Alma Fatara.


Zes zes zes …!


“Aakk …!” jerit Si Paku Renggut Nyawa panjang saat seluruh paku-paku sinarnya memantul balik menghujani tubuhnya tanpa ampun.


Seluruh paku-paku sinar itu memantul balik saat menghantam dinding sinar ungu. Tubuh Si Paku Renggut Nyawa dibuat berlubang-lubang oleh kesaktiannya sendiri.


Si Paku Renggut Nyawa tewas tanpa pesan terakhir.


Bluar!


Tiba-tiba terdengar ledakan tenaga sakti yang keras sekali.


Alma Fatara cepat menengok melihat ke sumber ledakan. Alma Fatara melihat kelima personel Lima Pembunuh Gelap berpentalan dan jatuh berdebam di tanah berumput puncak bukit. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.

__ADS_1


__ADS_2