
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Melihat keberadaan Alma Fatara yang tidak disangkanya sama sekali, Arung Seto buru-buru melompat turun dari punggung kudanya.
Namun, sangat jelas bahwa pijakan kaki Arung Seto tidak kokoh ke tanah, seolah kekuatan kakinya bermasalah. Hal itu membuat Arung Seto nyaris terjatuh karena kakinya tidak kuat menahan berat tubuhnya.
Tiba-tiba sosok berpakaian cokelat muncul berkelebat dan memegangi lengan Arung Seto untuk membantunya berdiri tegak. Namun, hal itu justru mengejutkan Arung Seto.
“Siapa kau?” bentak Arung Seto sambil mendorong dada lelaki tinggi yang adalah Iwak Ngasin itu.
Bduk!
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara melihat Iwak Ngasin terjengkang keras oleh dorongan kasar Arung Seto.
“Aku kira teman, ternyata musuh!” rutuk Iwak Ngasin setelah bangkit dengan cepat dan memasang kuda-kuda pertarungan.
Sementara itu, para prajurit berkuda yang sebelumnya dihancurkan oleh Alma, telah ramai berdiri di belakang Arung Seto dengan pedang terhunus.
“Kau siapa?” tanya Arung Seto dengan tatapan tajam kepada Iwak Ngasin.
“Aku sahabat Alma Fatara. Jangan berani macam-macam kepadaku!” jawab Iwak Ngasin dengan tegas.
“Tenang, mereka buka musuh!” seru Arung Seto kepada pasukannya.
Para prajurit itu segera menurunkan ketegangannya.
Juling Jitu segera turun ke jalan. Anjengan dan Gagap Ayu segera berkelebat dan mendarat di sisi kanan dan kiri Alma.
“Terlalu ganteng, Alma!” bisik Anjengan sambil menyikut lengan Alma.
“Ambil saja jika dia juga mau!” bisik Alma pula kepada Anjengan. “Tapi ingat, jangan sampai Mbah Hitam cemburu!”
“Jangan bilang-bilang!” sewot Anjengan dengan lirikan tajam kepada Alma.
“Hahaha!” tawa Alma.
Ia lalu berjalan mendekat ke posisi Arung Seto yang berdiri dengan berpegangan pada kudanya.
“Kau keracunan, Kakang,” ujar Alma.
“Kami disergap dengan hujan panah dan racun. Hanya ini dari pasukanku yang tersisa,” kata Arung Seto. “Tapi aku merasa yakin akan berbalik menang dengan kemunculanmu di sini. Ternyata mimpi Ariang Banu tidak dusta, kau benar-benar datang ke Balongan.”
“Di mana Kakang Ariang Banu?” tanya Alma.
“Sudah mati,” jawab Arung Seto lirih dan sedih, sambil satu tangannya menyentuh punggung pemuda yang tertelungkup melengkung di punggung kuda.
Terkesiap Alma Fatara mendengar berita itu.
“Bajak laut itu benar-benar harus dimusnahkan. Begitu banyak orang yang mereka bunuh!” desis Alma Fatara.
__ADS_1
“Mereka bajak laut yang cerdas dan berbahaya. Hanya dengan beberapa orang saja, mereka bisa membantai tiga ratus pasukanku,” kata Arung Seto.
“Mbah Hitam!” panggil Alma Fatara.
“Hamba, Gusti Ratu!” ucap pemuda tampan yang tahu-tahu muncul menjura hormat di depan samping Alma. Namun, suaranya terdengar sangat tua.
Kemunculan Mbah Hitam dalam sosok tampannya mengejutkan Arung Seto dan para prajuritnya. Arung Seto tidak menyangka Alma semakin berderajat, bahkan sampai disebut “ratu”.
“Apa kau bisa menolong kondisi sahabatku?” tanya Alma.
Mbah Hitam yang memiliki ketampanan nan bersih itu lalu menengok memandang wajah Arung Seto.
“Kakang Arung Seto keracunan,” kata Alma lagi.
Mbah Hitam tidak langsung menjawab. Ia lalu menghampiri Arung Seto dan memajukan wajahnya mendekati tubuh Kepala Pasukan Pertama itu. Ia mengendus bau tubuh Arung Seto. Kedekatan pemuda tampan bersuara tua itu, membuat Arung Seto bisa mencium aroma wangi pandan pada tubuh Mbah Hitam.
“Hamba bisa mengeluarkan racunnya dalam waktu yang tidak lama,” kata Mbah Hitam kepada Alma.
“Itu yang aku inginkan. Jika menggunakan Bola Hitam, akan memakan waktu lama,” kata Alma. “Bagaimana dengan yang mati di kuda itu?”
Mbah Hitam lalu bergeser sedikit untuk memeriksa kondisi Ariang Banu.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu. Racun sudah benar-benar membunuhnya,” kata Mbah Hitam.
“Baiklah, obati Kakang Arung Seto di perahu. Setelah itu kita pergi menyerang ke Balongan!” perintah Alma Fatara.
Tuk tuk!
Tiba-tiba Mbah Hitam menotok tubuh Arung Seto dan membawanya menghilang, yang mengejutkan semua prajurit. Mereka jadi bingung.
“Kakang Arung Seto dan Kakang Ariang Banu yang di kuda adalah kakak dari Kembang Bulan,” kata Alma kepada keempat rekannya.
“Aku tidak menyangka, kau memiliki banyak kenalan pemuda tampan, Alma,” kata Juling Jitu.
“Be-be-belut! Eh, salah. Be-be-betul maksudku!” kata Gagap Ayu repot sendiri oleh kesalahannya.
“Hahaha! Dulu aku adalah bunga tercantik dan terharum di dunia persilatan. Jadi wajar jika banyak pemuda tampan yang mengenalku,” kata Alma jumawa.
“Kalau sekarang?” tanya Anjengan penasaran.
“Aku adalah ratunya. Hahahak!” jawab Alma sesumbar, lalu makin terbahak.
Tiba-tiba mereka mendengar suara keramaian yang muncul dari kejauhan. Mereka pun mengalihkan pandangannya ke ujung jalan searah dengan hilir.
Ternyata ada pasukan besar yang membawa bendera kuning dengan gambar kepala singa mengaum dan panji perang berwarna merah.
Melihat dari seragam pasukannya, menunjukkan bahwa itu adalah pasukan Kerajaan Singayam. Namun, Iwak Ngasin tetap bertanya kepada prajurit terdekat.
“Prajurit, pasukan siapa itu?”
“Itu Pasukan Pamungkas Kedua, Pendekar,” jawab prajurit berkuda yang berdiri di sisi kudanya yang sempat jatuh oleh angin pukulan Alma.
__ADS_1
“Siapa yang memimpin?” tanya Iwak Ngasin, berlagak pertanyaannya memiliki bobot. Padahal siapa pun orang hebat yang memimpin pasukan itu, pastinya dia tidak akan kenal.
“Pasukan itu dipimpin oleh Gusti Pangeran Derajat Jiwa,” jawab prajurit itu.
“Pa-pa-pangeran?!” kejut Gagap Ayu sampai tergagap. Lalu katanya sumringah, “Akhirnya impianku akan ja-ja-jadi ke-ke-kenyataan.”
“Berani kau berurusan dengan seorang pangeran, Ayu?” tanya Alma seraya tersenyum.
“Apakah pa-pa-pangeran itu ma-ma-makhluk yang me-me-mengerikan, Alma?” tanya Gagap Ayu jadi ragu.
“Seorang pangeran itu memiliki kuasa dan perintah, itu yang membuatnya menjadi mengerikan,” jawab Alma.
Pergerakan pasukan yang cepat membuat mereka cepat mendekat. Kuda yang memimpin paling depan memang Pangeran Derajat Jiwa.
Pemuda tampan berkuda putih itu mengerutkan kening ketika ia semakin jelas melihat keberadaan Alma dan keempat sahabatnya. Jarak membuatnya belum begitu jelas mengenali siapa adanya gadis berwajah terang itu. Namun, ciri-ciri pakaian jubah hitam dan serba hitam, membuat Pangeran Drajat langsung teringat kepada wanita pujaannya, yang sempat ia cari selama beberapa purnama lamanya.
“Alma?” ucapnya lirih. Pandangannya benar-benar fokus memperhatikan sosok wanita berpakaian serba hitam berkulit terang. “Heah!”
Akhirnya Pangeran Derajat Jiwa menggebah kudanya. Hal itu membuat sepuluh prajurit berkuda berseragam kuning kunyit di belakang sang pangeran segera mengikuti. Kesepuluh prajurit berkuda itu adalah prajurit dari Pasukan Keluarga Kerajaan. Keberadaan mereka adalah wajib jika ada anggota Keluarga Kerajaan Singayam yang pergi.
“Alma Fatara! Calon istriku!” teriak Pangeran Derajat Jiwa ketika pandangannya sudah jelas melihat wajah wanita berpakaian hitam.
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan dan Gagap Ayu jadi terkejut mendengar panggilan Pangeran Derajat Jiwa. Alma Fatara sendiri terbelalak mendengar panggilan tersebut.
Alma Fatara hanya tersenyum manis pada akhirnya, sambil menunggu tibanya kesebelas kuda itu. Sementara pasukan bergerak menyusul dengan pelan di belakang.
“Hahaha! Alma Fatara, calon istriku!” seru Pangeran Derajat Jiwa, setibanya tidak jauh di depan Alma dkk.
Terlihat Anjengan dan Gagap Ayu terpukau terpana dengan mulut sedikit menganga lantaran mengagumi ketampanan sang pangeran.
Pangeran Derajat Jiwa cepat melompat turun dari kudanya. Dengan setengah berlari dan tertawa-tawa kecil, dia mendatangi Alma.
“Akhirnya aku menemukanmu juga, Alma,” ujar Pangeran Derajat Jiwa sambil terus maju dengan kedua tangan gagahnya hendak memeluk Alma.
“Tahan dirimu, Gusti Pangeran!” seru Alma cepat tapi tetap tenang.
Ternyata perintah itu bisa menghentikan Pangeran Derajat Jiwa.
“Cinta seperti apa yang ingin kau tunjukkan, Gusti?” tanya Alma Fatara seraya tersenyum manis.
“Aku sangat merindukanmu. Dua tahun lamanya aku memendam rindu. Itu bukan waktu yang sebentar, Alma. Aku selama ini mengembara hanya untuk mencari keberadaanmu,” tandas Pangeran Derajat Jiwa.
“Hahahak! Tapi ketika aku bertemu lagi denganmu, menunjukkan kau berada di kerajaan, bukan sedang mengembara. Bukankah dulu aku sudah menolak, Gusti?” kata Alma yang berhias tawa renyahnya seperti gorengan baru diangkat.
“Ini pasti karena lelaki lain!” tukas Pangeran Derajat Jiwa dengan warna muka yang berubah kontras.
“Aku tidak pernah menerima seorang pun lelaki hingga saat ini. Hidupku bukan untuk itu. Jadi Gusti tidak perlu bersedih hati jika menduga aku menolakmu karena lelaki lain. Bukan saatnya memikirkan perkara jalinan hati, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana mengatasi Bajak Laut Ombak Setan. Ratusan prajurit Singayam sudah gugur dengan gagah berani,” tutur Alma.
Pangeran Derajat Jiwa hanya diam sambil menatap kecantikan Alma Fatara. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!