
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
“Bagaimana, para tetua? Masih mau lanjut?” tanya Alma Fatara kepada Pengemis Tongkat Celaka, Dempak Debar dan Ki Rusuh.
Sebenarnya, ketiga guru tongkat itu sedang dilanda was-was 25 persen setelah melihat Satria Tongkat Ular dengan mudah ditumbangkan.
“Lanjut!” teriak Pengemis Tongkat Celaka. “Rasakan Batang Tongkat Inti Gunung!”
Pengemis Tongkat Celaka yang tidak mau malu, cepat maju lebih dulu dengan tongkat yang tiba-tiba berubah membara sekuning bara api.
“Agar menjadi seru, aku akan meladeni, Kek!” kata Alma sambil memiringkan tubuhnya mengelaki tusukan tongkat yang rasa panasnya begitu kuat, lalu bertindak mundur, seolah-olah takut terkena tongkat tersebut.
Jress! Jress!
Dua kali gebukan yang dihindari oleh Alma, membuat tongkat panas itu menghantam lantai arena, yang seketika berlubang dan terbakar pada sekitar lubangnya.
“Heaat!” teriak Pengemis Tongkat Celaka sambil bergerak cepat dengan tongkat diputar seperti baling-baling helikopter yang terkena badai.
Dengan gemulainya Alma menghindari putaran tongkat yang begitu cepat dan panas. Sampai-sampai dari putaran itu keluar kilatan lidah-lidah api yang kian membuat ngeri.
Para penonton sampai mengerenyit ngeri melihat serangan Pengemis Tongkat Celaka yang rasa panasnya tergambar jelas.
Hingga pada akhirnya, satu tusukan tongkat berupaya mengenai Alma, sama seperti sebelum-sebelumnya.
Dak!
“Hugkr!” pekik Pengemis Tongkat Celaka dengan tubuh yang terpental keras ke belakang dan mulutnya menyemburkan darah ke udara.
“Oooh!” desah para penonton begitu terperangah melihat apa yang terjadi.
Ketika tongkat membara panas itu menusuk menyerang Alma. Gadis berjubah hitam itu tidak menghindar seperti sebelum-sebelumnya, tetapi justru dengan tenang menghantamkan telapak tangannya ke ujung tongkat panas tersebut.
Hanya dengan hantaman itu, Pengemis Tongkat Celaka sampai terpental dengan luka dalam yang parah. Hal itu terjadi karena Alma Fatara mengerahkan ilmu Tapak Rambat Daya, pukulan yang terlihat biasa, tapi memiliki daya hantam yang tinggi. Tongkat panas itu tidak berpengaruh oleh pukulan tersebut, tetapi menyerang objek setelahnya, yaitu pemegangnya.
Sementara dari pukulan itu, telapak tangan Alma tidak luka sedikit pun karena dia memang antiapi, bukan anti-pemerintah. Pada saat yang bersamaan, Benang Darah Dewa menjalar cepat menjerat tongkat panas itu, sehingga Alma kemudian dengan mudah mengambil alih tongkat tersebut.
Alma dengan tenangnya memegang tongkat yang panasnya tidak padam. Hal itu kian membuat semua orang yang belum mengenalnya jadi terkejut.
“Ratu Siluman antipasangan, eh antipanas!” teriak seorang penonton terkejut.
“Pengemis Tongkat Celaka jadi celaka!” seru yang lain.
“Hoekh!” Pengemis Tongkat Celaka yang jatuh di lantai arena muntah darah. Ia begitu terkejut melihat Alma bisa memegang tongkat panasnya tanpa terlihat kepanasan.
Duk!
Alma Fatara mengetuk lantai arena dengan ujung tongkat di genggamannya, membuat lantai itu berlubang dan mengeluarkan api kecil.
Set! Tubs!
Tiba-tiba Alma Fatara melesatkan tongkat panas di tangannya kepada pemiliknya. Tongkat itu melesat kepada Pengemis Tongkat Celaka yang sudah terluka dalam. Orang tua itu hanya memejamkan mata menerima ajalnya.
Para penonton sudah mendelik dengan mulut terbuka, karena mereka sudah meyakini bahwa Pengemis Tongkat Celaka yang mereka kenal sakti pastilah mati.
__ADS_1
Namun, ternyata Alma tidak sekejam istri yang selingkuh, tongkat itu menancap masuk di lantai panggung, titik tancapnya hanya berjarak satu jengkal di depan sudut bercabang pangkal paha si kakek.
“Aakk!” pekik Pengemis Tongkat Celaka sambil buru-buru memadamkan api yang membakar kain celana dan kulit kedua pahanya.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara melihat nasib Pengemis Tongkat Celaka. Lalu tanyanya kepada Dempak Debar dan Ki Rusuh, “Bagaimana, Kek? Lanjut?”
Belum lagi kedua guru itu menjawab, penonton yang lebih dulu bereaksi.
“Jangan menyerah, Guru Dempak, Ki Rusuh! Kalian masih berdua, masih lebih banyak!” teriak penonton pendukung para guru tongkat.
“Iya, jangan menyerah, Guru. Aku sudah bertaruh demi kalian, aku tidak mau kehilangan uang!” teriak pendukung para guru.
“Iya, tapi Guru justru bisa kehilangan nyawa jika tidak menyerah! Hahaha!’ teriak Geranda menyahuti lawan taruhannya.
“Bagaimana, Ki Rusuh?” tanya Dempak Debar.
“Jika melawannya sendiri kita akan senasib dengan si Tongkat Celaka. Ayo kerahkan ilmu Siluman Lompat-mu, kita keroyok!” kata Ki Rusuh.
“Ayo!” seru Dempak Debar lalu melompat tinggi bersalto melewati atas kepala Alma, lalu mendarat, sehingga Alma dikurung di dua sisi.
Duk!
Ki Rusuk menghantamkan bawah tongkatnya ke lantai, membuat tongkat merah gelapnya terbagi dua. Sesuai nama perguruannya, Perguruan Tongkat Dua.
Kini Ki Rusuh memainkan dua tongkat, di tangan kanan dan tangan kiri. Tampak kedua tangan itu sama-sama lihai dalam memainkan tongkat. Ketika Ki Rusuh memainkan kedua tongkatnya secara bersamaan, dua tongkat itu tidak saling beradu atau genit main senggol-senggolan. Lalu apa istimewanya?
Sess!
Ketika Ki Rusuh menghentakkan kedua lengannya, kedua tongkatnya tiba-tiba bersinar merah yang mengeluarkan hawa panas tinggi. Intinya sama dengan tongkat Pengemis Tongkat Celaka, hanya beda tampilan tongkat saja.
Sementara Dempak Debar, tongkatnya hanya bersinar putih redup.
“Hiaaat!” kelit Ki Rusuh sambil maju menyerang Alma dengan kibasan kedua tongkatnya.
Untuk sementara Alma memilih mundur menghindari kelebatan dua ujung tongkat.
Dari samping, Dempak Debar melompat kepada Alma sambil mengapakkan tongkat putihnya.
Alma cepat memasang telapak tangannya untuk menangkap kapakan tongkat. Namun, Alma kali ini dibuat kecele, karena Dempak Debar tahu-tahu menghilang seperti sulap.
Clap! Wuut! Bek!
Dempak Debar tahu-tahu muncul di sisi yang berbeda dengan tongkat mengibas cepat. Alma kali ini kena. Tongkat itu membabat pinggangnya. Alma hanya sempat mengerahkan tenaga dalam pada bagian yang dihajar. Alma sampai terdorong dua langkah oleh pukulan itu.
“Ratu Siluman kenaaa!” pekik gembira pendukung kedua guru tongkat.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa!” seru Geranda pula menghibur diri.
Terkenanya Alma untuk pertama kali, membuat Ki Rusuh dan Dempak Debar kian bersemangat.
Ki Rusuh melompat bersalto dengan kedua tongkat datang menebas bersusulan yang mengincar kepala Alma. Dan pada saat yang sama, Dempak Debar juga kembali melompat mengincar anggota tubuh Alma yang lain.
Wut! Pak!
“Huakr!” pekik Ki Rusuh dengan tubuh terpental jauh ke belakang. Semburan darah termuncrat dari dalam mulutnya.
__ADS_1
Hal itu terjadi ketika Alma menggeser tubuhnya menghindari tebasan tongkat pertama Ki Rusuh. Namun untuk tebasan tongkat kedua, Alma menyambut dengan hantaman telapak tangan yang mengandung ilmu Tapak Rambat Daya.
Kekuatan ilmu Tapak Rambat Daya langsung merambat menyerang si pemilik tongkat.
Pada saat yang sama, tongkat bersinar putih Dempak Debar datang mengincar tengkuk Alma. Gadis itu tidak mau abai, meski ia tahu ada kemungkinan itu serangan tipuan seperti tadi. Ia cepat bergerak mencoba menangkis dengan tangan kirinya.
Clap!
Ternyata sama seperti sebelumnya, sebelum tongkat itu sampai, Dempak Debar dan tongkatnya menghilang seperti sulap, membuat tangkisan Alma sia-sia.
Clap!
Lalu Dempak Debar kemudian muncul di sisi lain dengan tongkat sudah berkelebat cepat.
Pak!
Alma yang sudah bisa membaca, kembali menggunakan ilmu Tapak Rambat Daya. Alma menyambut tongkat itu dengan hantam telapak tangan yang tidak begitu kuat.
“Aakkr!”
Namun, hasilnya serupa dengan apa yang dialami oleh Ki Rusuh.
Dempak Debar terpental dan lepas dari tongkatnya. Darah kental juga tersembur dari dalam mulutnya, lalu jatuh keras menghantam lantai panggung dengan punggungnya.
Tak tak!
Tiga tongkat yang sudah kehilangan kesaktiannya jatuh tergeletak begitu saja di sekitar kaki Alma.
“Yeee! Ratu Siluman Ikan menaaang! Aku menaaang!” sorak Geranda begitu girang seperti kesurupan orang miskin kaya mendadak.
“Aku menang, aku menang, aku menang!” teriak fans Alma yang lain.
“Sini uang taruhannya, sini!” kata petaruh lainnya.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
Dak! Set! Duk!
Alma Fatara lalu menendang satu ujung tongkat putih di dekat kakinya. Tongkat itu melesat rendah dan menghantam lambung Ki Rusuh.
“Hekk!” keluh Ki Rusuh tambah menderita dengan tubuh terdorong jatuh ke tanah becek alun-alun.
Alma Fatara lalu melangkah mendekati Dempak Debar yang sudah tidak bisa bangkit. Ilmu Tapak Rambat Daya cukup membuatnya menderita luka dalam parah.
“Kek, apakah kau sudah puas dan tidak penasaran untuk merebut Bola Hitam?” tanya Alma Fatara yang berdiri tidak jauh dari kaki Dempak Debar yang terkapar.
“I-i-iya, aku menyerah,” ucap Dempak Debar.
Alma Fatara hanya mengangguk.
Alma lalu berjalan ke tengah-tengah arena.
“Siapa pemenangnya?” teriak Alma kepada para penonton.
“Ratu Siluman Ikaaan!” teriak para penonton ramai-ramai.
__ADS_1
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara jumawa.
Adipati Dodo Ladoyo hanya bisa geleng-geleng melihat kemenangan Alma Fatara. (RH)