Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 19: Mencari Pembunuh


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


“Semai Cinta, bawa Jarum Kuku Rambut itu kepada Belik Ludah. Jika memungkinkan, jadikan benda beracun itu sebagai senjata Juling Jitu,” perintah Alma Fatara kepada salah satu pengawal pribadi wanitanya.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Semai Cinta patuh.


Dengan hati-hati, gadis itu mengambil jarum hitam beracun milik pembunuh rahasia yang bernama Rawit Ireng, termasuk mengambil kantung kain hitam yang diduga adalah obat penawar racunnya.


Berdasarkan pengakuan Rawit Ireng, dia hanya diperintahkan menyusup sebagai centeng kademangan dan membunuh Golono saat berada di puncak Bukit Selubung. Adapun apa motif dari pembunuhan itu, Rawit Ireng tidak mengetahui. Namun, baik Raja Tanpa Gerak maupun Alma Fatara kuat menduga, orang yang bernama Bandar Bumi berniat mengadu domba Raja Tanpa Gerak dengan Demang Mahasugi.


Mau tidak mau, Raja Tanpa Gerak harus menunggu reaksi dari kademangan. Yang pastinya akan datang tamu tidak diundang dalam beberapa hari ke depan.


Sementara Semai Cinta pergi seorang diri untuk turun ke kaki bukit, Alma Fatara bersama Anjengan, Gagap Ayu, Penombak Manis, dan tiga murid Wulan Kencana, berbincang santai di teras pondok Raja Tanpa Gerak.


Adapun Rawit Ireng sudah diamankan di tiang gantungan tanpa dibunuh. Dalam kondisi tubuh yang bersimbah darah oleh karena sayatan pedang Anjengan, Rawit Ireng tetap digantung terbalik dalam kondisi ditotok. Kali ini dia digantung menggunakan tali biasa, tidak lagi dapat perlakuan khusus seperti sebelumnya yang digantung dengan Benang Darah Dewa.


“Belum lama ini aku berkumpul bersama beberapa pendekar aliran putih seangkatanku. Salah satu bahasan kami adalah tentang Bola Hitam yang dipegang oleh seorang gadis belia bernama Alma Fatara. Namun, kemunculannya hanya sebentar. Menurut Dato Jari Sambilan, Alma Fatara itu adalah murid dari Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit. Tanpa disangka, baru saja diomongkan, wanita sakti itu sudah sampai di kediamanku. Hehehe!” ujar Raja Tanpa Gerak.


“Hahaha!” tawa rendah Alma Fatara mendengar penuturan si kakek.


“Yang lebih mengejutkan lagi, setelah menghilang sekitar dua tahun, kini muncul sebagai seorang ratu siluman,” kata Raja Tanpa Gerak lagi.


“Hahaha!” Alma Fatara kian tertawa.


“Lalu apa yang bisa aku bantu untuk Gusti Ratu?” tanya Raja Tanpa Gerak.


“Sebagai ratu yang memiliki perwira di berbagai daerah, aku memerlukan cara yang bisa memerintah mereka dari jarak yang jauh tanpa harus mengirim utusan. Atas saran dari Kakek Rereng Busa yang juga mengabdi kepadaku, aku diminta untuk berguru ilmu Titah Mimpi kepada Raja Tanpa Gerak, atau meminta kitabnya,” ujar Alma Fatara.


“Oooh. Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak. “Jadi Rereng Busa adalah salah satu abdi dari Ratu Siluman?”


“Benar. Apakah Kakek Raja juga tertarik untuk menjadi bagian dari Kerajaan Siluman?” tawar Alma Fatara seraya tersenyum lebar.


“Hahaha!” tawa Raja Tanpa Gerak. “Rereng Busa itu selalu memiliki pilihan yang baik, kecuali urusan cinta. Dia sangat bodoh untuk perkara wanita. Aku percaya bahwa bergabung dengan Kerajaan Siluman yang Gusti Ratu pimpin adalah perkara baik, tetapi aku bukan model orang tua yang suka tunduk kepada perintah. Aku hanya bisa berterima kasih atas tawaran Gusti Ratu.”


“Lalu, ba-ba-bagaimana dengan ilmu Ti-ti-ti ….”


“Tikus mati?” terka Anjengan memotong kata-kata Gagap Ayu.


“Bu-bu-bukan tikus ge-ge-gendut, tetapi ilmu Ti-ti-titah Mimpi!” ralat Gagap Ayu agak ngegas.

__ADS_1


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara yang disertai tawa santai Raja Tanpa Gerak dan lainnya.


“Aku tidak keberatan jika sekedar memberikan kitab Titah Mimpi,” kata Raja Tanpa Gerak.


“Kenapa Guru tidak langsung mengajarkannya kepada Gusti Ratu? Jika Guru memberikan kitabnya, kitabnya akan hilang dari tangan Guru,” tanya Anjengan.


“Hehehe! Jika aku mengajarinya, aku perlu izin dari Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit lebih dulu. Gusti Ratu adalah murid istimewa yang dimiliki oleh mereka karena selama ini keduanya tidak pernah memiliki seorang pun murid. Apa kau tahu, bagaimana aku tahu bahwa Gusti Ratu adalah murid istimewa mereka?” jelas Raja Tanpa Gerak yang berujung pertanyaan kepada Anjengan.


“Tidak, Guru,” jawab Anjengan tanpa mau berpikir lebih dulu.


“Karena Gusti Ratu diperebutkan sebagai murid. Bukankah seperti itu, Gusti Ratu?” jawab Raja Tanpa Gerak yang kemudian beralih menanyai Alma Fatara.


“Hahaha! Benar, Kek,” jawab Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.


“Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak. Lalu katanya lagi kepada Anjengan, “Alasan lainnya, jika aku mengajarinya, berarti aku akan menjadi gurunya. Itu artinya, kedudukanku akan lebih tinggi dibanding keratuannya. Berarti aku akan bisa memberi perintah. Aku tidak mau melakukan itu. Hehehe!”


Tiba-tiba dari arah tangga bukit, muncul kepala berwajah sangar naik ke puncak bukit itu. Namun, di belakang wajah berjerawat karang itu muncul wajah-wajah cantik dari para wanita yang berpakaian berbeda warna, sehingga sangat warna-warni.


Rombongan itu tidak lain adalah Sayap Panah Pelangi yang dipanglimai oleh Tampang Garang.


Mereka yang duduk di teras pondok jadi beralih pandang kepada kedatangan kesebelas orang itu.


Tampang Garang dan kesepuluh wanita cantiknya akhirnya tiba di depan pondok.


“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” ucap Tampang Garang menjura hormat kepada Alma Fatara.


“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” ucap para wanita itu lalu menjura hormat pula.


“Bangunlah. Ada apa kalian naik tanpa diminta?” tanya Alma Fatara.


Tiba-tiba Senyumi Awan dan kesembilan wanita cantik itu mengangkat busur dan menarik senar yang sudah dipasang anak panah. Semua bidikan mengarah kepada Raja Tanpa Gerak.


Alma Fatara dan Raja Tanpa Gerak tidak terkejut lagi karena sebelumnya sudah dibisiki oleh Penombak Manis. Anjengan, Gagap Ayu, Tabir Gemas, Jing Menari, dan Sukma Senja jadi terkejut.


“Tampang Garang! Apakah ini pemberontakan?!” teriak Anjengan yang langsung bangkit pasang badan gemuknya dengan pedang pusaka terhunus.


“Tetua Raja Tanpa Gerak telah membunuh mantan kekasihku, Golono!” sahut Janda Belia lantang. Ialah yang menunjukkan ekspresi kemarahan yang paling tinggi.


Mendengar tudingan Janda Belia itu, legalah Alma Fatara dan mereka yang duduk di teras. Anjengan pun mengendurkan lemak-lemaknya yang tegang dan menyarungkan kembali Pedang Macan Setan-nya.


“Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak setelah mendengar itu.

__ADS_1


“Sudah, sudah, turunkan senjata kalian,” perintah Alma Fatara santai. “Jika kalian mencari pembunuh putra demang itu, ada di belakang.”


Terheran-heranlah Tampang Garang dan para wanitanya. Mereka jadi saling pandang. Jika ratu mereka tidak bergurau, jelas mereka telah berbuat kesalahan besar.


“Tapi ingat, jika kalian membunuhnya, maka tidak ada saksi yang akan membongkar dalang pembunuhan mantan kekasih Janda Belia itu!” tandas Alma Fatara.


Janda Belia langsung berlari cepat ke arah belakang pondok.


“Ampuni kami, Gusti Ratu!” ucap Senyumi Awan sambil tiba-tiba berlutut menjura hormat dengan perasaan penuh bersalah.


“Ampuni kami, Gusti Ratu!” ucap Tampang Garang bersama kedelapan wanita lainnya sambil turun berlutut.


“Bangkitlah. Pertahankan keberadaan kalian di bawah. Beberapa hari lagi akan datang pasukan yang menyerang!” perintah Alma Fatara. “Hibur Janda Belia agar tidak meratapi mantannya yang suka marah-marah itu. Bukankah mantan kekasihnya punya saudara kembar?”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tampang Garang dan pasukannya.


“Dasar jiwa-jiwa muda,” rutuk Alma Fatara.


“Hahahak!” Anjengan tertawa terbahak sendiri mendengar kata-kata Alma Fatara. Lalu katanya dengan bebas, “Lihat usiamu sendiri, Alma!”


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara yang diikuti oleh senyum para abdinya.


Pak!


“Aww!” pekik Anjengan saat bokongnya dipukul kencang oleh Gagap Ayu.


“La-la-lancang kau, Ge-ge-gendut!” tukas Gagap Ayu. “Me-me-menyebut la-la-langsung nama Gusti Ratu.”


“Hehehe! Maafkan aku, Gusti Ratu,” ucap Anjengan cengengesan kepada Alma Fatara.


“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa santai.


Senyumi Awan dan rekan-rekan segera izin untuk pergi ke belakang pondok sebelum kembali turun ke kaki bukit.


“Aku mengenal mereka sebagai murid-murid Kebo Pute,” kata Raja Tanpa Gerak yang tersirat pertanyaan tidak langsung.


“Kebo Pute sudah mati di tanganku, Kek,” ungkap Alma Fatara.


Terkesiap Raja Tanpa Gerak mendengar hal itu. Mau tidak mau, Alma Fatara harus bercerita tentang konflik di Perguruam Bulan Emas.


Raja Tanpa Gerak lebih terkejut-kejut mendengar cerita lengkap kematian para penguasai Bukit Tujuh Kepala. (RH)

__ADS_1


__ADS_2