
*Episode Terakhir (PITAK)*
Pasukan Genggam Jagad yang diratui oleh Alma Fatara kini berhenti di depan gerbang besar sebuah desa yang berada di sebuah tebing batu. Gerbang itu terbuat dari kayu papan yang tebal dan berbingkai batu besar, mirip gerbang benteng.
Kini, Pasukan Genggam Jagad sedang berada di depan Gerbang Tua milik Desa Pendekar Tua. Desa itu terletak tidak jauh di depan jalan masuk ke Tanah Kutukan.
Namun, kondisi gerbang tersebut tertutup rapat.
“Karena Gusti Ratu adalah pemimpin rombongan ini, maka Gusti Ratu yang harus meyakinkan Penjaga Gerbang Tua untuk mau membuka pintu,” kata Ratu Tengkorak kepada Alma Fatara.
“Tapi, bukankah Nenek tadi mengatakan bahwa Nenek berdua sangat dikenal oleh warga Desa Pendekar Tua?” tanya Alma Fatara kepada Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman. Sepertinya dia tidak yakin bisa membujuk Penjaga Gerbang yang sudah sekali terlihat melongokkan wajah tuanya di lubang pintu.
“Itu sudah aturan desa ini,” tandas Tengkorak Pedang Siluman.
“Baiklah,” ucap Alma Fatara.
Ia lalu turun dari kereta kudanya dan berjalan melewati pasukannya mendekati Gerbang Tua seorang diri.
Ada seorang kakek yang duduk sambil makan wortel di balik pintu Gerbang Tua. Dia layaknya seorang tua biasa tanpa ada penampilan istimewa sebagaimana pendekar pada umumnya. Ia duduk di sebuah kursi bambu yang tinggi. Posisi wajahnya tidak jauh dari lubang yang berbentuk persegi empat dengan panjang rusuk sejengkal kali sejengkal. Ia disebut sebagai Penjaga Gerbang.
“Uhui, gadis cantik sekali,” ucap Penjaga Gerbang saat melihat kedatangan Alma Fatara yang sebening daging apel. “Eh, keterlaluan aku jika menggoda gadis semuda itu. Dasar Tua Busuk!”
Penjaga Gerbang memaki dirinya sendiri lalu menyentil hidungnya sendiri.
Akhirnya Alma Fatara berhenti dua jangkauan tangan dari lubang kotak pada Gerbang Tua, membuat kecantikan wajahnya begitu jelas terlihat oleh Penjaga Gerbang.
Melihat kecantikan itu, mulut tua Penjaga Gerbang jadi bergerak-gerak menelan ludah dan menelan kunyahan lalapan wortelnya.
“Jangan nakal!” ucap Penjaga Gerbang sambil menyentil lagi hidungnya.
“Kakek!” panggil Alma Fatara sambil tersenyum.
“Aduh, senyumnya terlalu manis!” keluh Penjaga Gerbang lirih, tapi masih di dengar oleh Alma Fatara.
“Hahaha!” Alma Fatara tidak bisa pura-pura menahan tawanya, membuat dua gusi ompongnya terbuka lebar.
“Hah!” kejut Penjaga Gerbang melihat keompongan itu.
__ADS_1
“Hahahak …!” Alma Fatara justru kian terbahak-bahak.
“Tidak apa-apa, tapi dia tetap terlalu cantik jika tersenyum lengket,” ucap Penjaga Gerbang menghibur dirinya sendiri yang terlanjur jatuh jantung oleh kejelitaan Alma Fatara.
“Kakek! Kakek yang ada di balik gerbang!” panggil Alma Fatara dengan nada mengayun, seperti cucu yang memanggil kakeknya, bukan memanggil kakek-kakek genit.
“Iya iya iya, aku!” sahut Penjaga Gerbang seperti orang yang salah sikap. “Ada apa, Gadis Cantik seindah mimpi?”
“Izinkanlah aku melewati desa ini untuk pergi ke Tanah Kutukan,” pinta Alma Fatara.
“Siapa kau sampai memiliki kecantikan seperti ini?” tanya Penjaga Gerbang yang tidak bisa menahan jiwa genitnya yang meronta-ronta.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dipuji dan digombali oleh seorang kakek-kakek.
“Aku Alma Fatara, Kek. Aku Ratu Siluman ….”
“Wow! Ratu Siluman!” kejut Penjaga Gerbang mendengar julukan Alma Fatara, sampai memutus kata-kata si gadis.
“Aku Ratu Kerajaan Siluman,” tandas Alma Fatara.
“Iya, iya, iya. Seharusnya aku membukakan gerbang ini untukmu, Ratu. Tapi, aku harus tahu dulu, apa tujuanmu untuk pergi ke Tanah Kutukan?” kata Penjaga Gerbang.
“Oooh,” desah Penjaga Gerbang yang seketika hatinya tersentuh. “Aku akan membuka gerbang, tapi aku harus melapor dulu kepada Kepala Desa Pendekar Tua.”
“Dengan senang hati aku akan menunggu. Terima kasih atas kebaikan Kakek yang berhati lembut,” ucap Alma Fatara sambil tersenyum manis semanis madu tanpa racun.
“Hahaha! Yaaa seperti itulah aku kepada wanita yang cantiknya keterlaluan. Hahaha!” kata Penjaga Gerbang begitu senang karena dipuji. “Tunggu sebentar, Ratu Cantik. Aku tidak akan lama. Kepala Desa juga sangat suka dengan gadis cantik.”
“Baik.”
Ingin rasanya Alma Fatara tertawa meledak-ledak seperti knalpot bocor, tapi khawatir merusak momentum bagus.
Penjaga Gerbang lalu pergi meninggalkan tempat duduknya. Alma Fatara menunggu.
“Bagaimana?” tanya Ratu Tengkorak yang mendatangi Alma Fatara bersama Tengkorak Pedang Siluman.
“Menunggu izin dari Kepala Desa,” jawab Alma Fatara sambil tersenyum.
“Tidak akan sulit, Kepala Desa dan Penjaga Gerbang sama-sama mata keranjang,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
__ADS_1
“Hahahak! Aku sudah biasa menghadapi lelaki tua genit. Guruku adalah Pangeran Kumbang Genit,” kata Alma Fatara.
“Apakah kau aman mempunyai guru segenit Pangeran Kumbang?” tanya Tengkorak Pedang Siluman.
“Hahahak. Guruku hanya genit, tapi tidak cabul,” jawab Alma Fatara.
Tidak berapa lama mereka menunggu, gerbang besar itu tiba-tiba terbuka.
“Hahaha!” tawa seorang kakek yang buru-buru keluar dari balik gerbang ketika pintu itu baru keluar sedikit. Ia tertawa genit kepada Alma Fatara yang juga menyambut dengan tawa.
Kakek itu bertubuh agak gemuk dengan tampilan yang rapi. Meski pakaian jingganya biasa, tapi sisirannya yang membuat tidak tahan. Rambut putihnya terlihat berkilau-kilau oleh minyak rambut dan menebarkan bau harum bunga, bukan harum bumbu masakan. Kakek tidak berambut kumis dan dagu itu memiliki model mata yang sipit. Ketika dia tertawa, maka hilanglah matanya entah ke mana.
Dialah Kepala Desa Pendekar Tua yang bernama Raja Lebah Peminat. Menyusul Penjaga Gerbang muncul di belakangnya.
“Eh, kenapa Kakek seperti guruku?” tanya Alma Fatara yang berhenti mendadak dari tawanya. Ia melihat wajah kakek itu punya separuh kemiripan dengan Garudi Malaya yang berjuluk Pangeran Kumbang Genit, guru lelaki Alma Fatara.
Pertanyaan itu membuat Raja Lebah Peminat juga mendadak berhenti tertawa.
“Memangnya siapa gurumu, Bidadari Hatiku?” tanya Raja Lebah Peminat.
“Pangeran Kumbang Genit,” jawab Alma Fatara.
“Hah! Si Malaya itu adalah anakku!” pekik Raja Lebah Peminat.
“Hah!” pekik Alma Fatara benar-benar terkejut.
Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman juga terkejut, tapi terkejut sewajarnya.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara terbahak.
“Hah! Kenapa Bidadari Hatiku ompong seperti itu?” pekik Raja Lebah Peminat terkejut.
“Hahahak …!” Alma Fatara kian tertawa terbahak.
“Jadi, kau muridnya Malaya? Murid anakku yang paling genit?” tanya Raja Lebah Peminat seakan belum percaya.
“Kakek punya berapa anak yang genit?” Alma Fatara justru balik bertanya.
“Ayo, sambil jalan,” ajak Raja Lebah Peminat sambil mempersilakan Alma Fatara untuk jalan di sisinya. Sambil berjalan, si kakek bercerita, “Aku punya tiga anak. Dua lelaki dan satu wanita. Yang sulung bernama Rogo Malaya berjuluk Pangeran Lalat Tampan. Yang nomor dua bernama Garudi Malaya berjuluk Pangeran Kumbang Genit, dan yang bungsu bernama Rada Samanis berjuluk Capung Genit Manis. Nah, Garudi Malaya adalah anakku yang paling genit. Aku begitu bangga kepadanya, dia yang paling mewarisi kegenitanku. Hahaha!”
__ADS_1
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara mengikuti tawa Raja Lebah Peminat. (RH)