
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
“Hahaha!”
“Hihihi!”
Ramai terdengar suara sejumlah orang di sungai yang sedang mandi pagi. Suaranya ada yang lelaki, ada pula yang wanita. Suara tawa wanita seperti lelaki juga ada, tapi itu bukan Alma Fatara, melainkan Anjengan.
Anjengan, Gagap Ayu dan Juling Jitu sebagai anak pantai dan pendekar sungai, serta Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib sebagai mantan pembajak laut, mandi berenang adalah hal yang sangat mereka selalu rindukan.
Para lelaki mandi di titik yang terpisah dengan kelompok perempuan. Geranda jelas bergabung dengan Tampang Garang dan Juling Jitu. Sementara Kembang Bulan bergabung dengan keempat wanita lainnya.
Sementara Alma Fatara pergi bersama Cucum Mili dan Mbah Hitam mengikuti Pendekar Tongkat Roda ke makam Abang Ayu.
Para lelaki mandi tanpa baju. Konyolnya, Tampang Garang justru mandi bulat-bulat telanjang, berbeda dengan kedua rekannya yang masih bercawat.
Karena posisi mandinya terpisah dari para kaum batangan, para wanita berani mandi setengah bukan baju.
Mereka terlihat begitu gembira, persis anak kura-kura ketemu air pantai.
“Anjengan, Gagap Ayu, aku mau memberi tahu sesuatu!” kata Penombak Manis setengah berteriak.
“Apa?!” tanya Anjengan dan Gagap Ayu bersamaan.
Kembang Bulan dan Alis Gaib juga jadi memandang kepada Penombak Manis yang hanya mengenakan pinjungan warna putih, memperlihatkan separuh dada hitam manisnya yang tergolong makmur.
“Aku bisa melihat mahkotamu, Anjengan,” kata Penombak Manis sambil memandang ke dalam air, tepatnya ke bawah tubuh Anjengan yang ada di dalam air.
“Hah! Kau memang memakai Sisik Putri Samudera, tapi kau jangan dusta. Aku memaki celana abdi dalam!” bentak Anjengan membantah.
“Tapi celana abdi dalammu baru saja hanyut. Itu!” kata Penombak Manis lalu menunjuk ke arah agak jauh di belakang Anjengan.
Alangkah terkejutnya Anjengan mendengar itu. Wajah bulatnya langsung menengok ke belakangnya, mencari hal sensitif yang dimaksud oleh Penombak Manis. Demikian pula dengan Gagap Ayu, Alis Gaib dan Kembang Bulan.
“Celanaku!” pekik Anjengan terkejut bukan main saat melihat kain berwarna hijau muda hanyut terbawa arus air.
“Hihihi …!”
Tak ayal lagi, meledaklah tawa Penombak Manis, Gagap Ayu, Alis Gaib, dan Kembang Bulan.
Jbur!
Anjengan buru-buru melompat berenang seperti gaya lumba-lumba, sampai-sampai dua bokong bigcow-nya timbul sejenak seperti dua pulau reklamasi.
“Hihihi …!” Kian tertawa terbahak-bahak rekan-rekan Anjengan.
Sementara itu, dengan panik Anjengan berenang cepat menyusul kain hijau mudanya. Meski ia seorang wanita penuh lemak, tetapi kehandalannya dalam berenang tidak perlu diragukan.
Ternyata tidak butuh waktu lama bagi Anjengan untuk mendapatkan abdi dalamnya, bahkan ia raih sebelum tawa rekan-rekannya berhenti.
__ADS_1
“Harus beli yang baru, ini sudah kendor. Bisa-bisanya lepas tanpa pamit,” kata Anjengan lirih sambil memasang kembali abdi dalamnya.
“Hei! Apa yang kau lakukan di sana, Jitu?!” teriak Alis Gaib tiba-tiba sambil melotot kepada Juling Jitu yang berada di balik batu, yang posisinya agak ke tengah sungai. Alis Gaib memergoki Juling Jitu menghadap ke arah mereka.
“Tidak, aku hanya bersandar di batu ini!” kilah Juling Jitu yang menunjukkan sikap seperti maling yang kepergok, sambil melempar pandangannya ke arah langit.
“Tapi kau melotot kepada kami!” bentak Alis Gaib lagi.
“Tidak, aku tidak melihat kepada kalian. Kalian tahu, aku ini juling!” sahut Juling Jitu lagi.
“Kau mau me-me-menggantikan Iwak Ngasin, hah?!” bentak Gagap Ayu pula sambil menonjok angin.
Blar!
Tahu-tahu batu tempat Juling Jitu berpegangan hancur berantakan, membuat pemuda tampan itu terlempar lalu masuk ke dalam air.
“Emak jariii!” pekik Penombak Manis dan Alis Gaib memuji sambil memberikan jempol kepada mata Gagap Ayu.
“Be-be-beraninya dia ja-ja-ja ….”
“Jabrik?” terka Penombak Manis, Alis Gaib dan Kembang Bulan bersamaan, memangkas kata-kata Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukaaan!” tolak Gagap Ayu.
“Ja-ja-janda?” terka ketiga gadis itu lagi seperti main kuis “Siapa Takut?”
“Bu-bu-bukaaan. Ayo te-te-tebak, kalau be-be-benar, aku kawini. Hihihi!” kata Gagap Ayu jadi ikut seru-seruan.
“Bukaaan!”
“Ja-ja-jantung?” terka Penombak Manis.
“Bukaaan!”
“Ja-ja-jadi siluman?” terka Alis Gaib pula.
“Sa-sa-salaaah. Yang be-be-benar, ja-ja-jadi pe-pe-pengintip. Hihihi!” jawab Gagap Ayu lalu tertawa ramai sendiri.
“Gagap Ayu, kau punya abdi dalam berapa lembar?” tanya Anjengan yang sudah bergabung lagi bersama mereka.
“Ke-ke-kenapa?” tanya Gagap Ayu.
“Abdi dalamku sudah longgar. Kalau pakai punyamu pasti kencang walaupun longgar,” kata Anjengan.
“Hihihi! Ki-ki-kita sudah sama-sama ta-ta-tahu, kita ini pe-pe-pendekar yang pakaiannya ba-ba-basah dan ke-ke-kering di badan. Ke-ke-kecut dan harum tidak ada be-be-bedanya. Hihihi!” kata Gagap Ayu agak panjang dan membuat lelah bagi pendengarnya.
“Aaah, bukankah Pendekar Tongkat Roda punya rumah, dia pasti punya abdi dalam pengganti?” usul Kembang Bulan.
“Hahahak!” tawa Anjengan. “Idemu memang bagus, Cantiiik. Tapi aku sangat tidak mau.”
“Hihihi!” Mereka hanya tertawa.
__ADS_1
Mendengar tawa-tawa nyaring para wanita itu, Juling Jitu, Tampang Garang dan Geranda hanya bisa memandang dari jauh.
“Apa yang mereka tertawakan? Sepertinya begitu bahagia,” tanya Tampang Garang penasaran.
“Mereka menertawakanmu karena mandi seperti ikan, tidak pakai celana. Hahaha!” jawab Juling Jitu.
“Hahaha!” tawa Tampang Garang dan Geranda mendengar jawaban Juling Jitu.
“Mereka tidak mungkin tahu. Hahaha!” kata Tampang Garang, menganggap Juling Jitu bergurau.
“Kau lupa, Garang? Sekarang si pesek cantik itu bisa melihat benda jauh dengan jelas sejelas melihat jari tangannya,” kata Juling Jitu.
“Hah! Kau benar, Penombak Manis pasti bisa melihatku dari jauh!” ucap Tampang Garang berubah panik. Ia lalu buru-buru berenang pergi ke tepi, lalu naik ke balik kumpulan bebatuan besar di pinggir sungai, takut jika-jika Penombak Manis melihatinya.
“Hahaha!” tawa terbahak Juling Jitu dan Geranda.
Sementara itu di tempat lain, di dalam Alas Kutu, Pendekar Tongkat Roda membawa Alma Fatara, Cucum Mili dan Mbah Hitam ke sebuah pusara yang dilingkari oleh susunan batu sungai setinggi betis.
Mereka berempat sudah berdiri di sekitar makam di dalam hutan itu.
Dug! Breekr!
Tanpa baca doa terlebih dahulu, Pendekar Tongkat Roda mengetuk ujung tongkatnya ke tanah. Sedetik kemudian, tanah di dalam lingkaran batu sungai bergerak naik dengan pola persegi panjang. Setelah tanah yang naik ke atas, ternyata di bawahnya ada peti kayu. Peti kayu itu kotor berbalut tanah.
Akhirnya tanah dan peti kayu itu berhenti naik.
Duk!
Pendekar Tongkat Roda lalu mengetuk tanah di atas peti, membuat tanah itu ambyar ke segala arah, sehingga peti itu cukup bersih dari lapisan tanah.
Duk!
Pendekar Tongkat Roda kembali mengetuk papan samping peti, membuat papan penutup atas peti terlempar naik ke udara lalu jatuh begitu saja di tanah kosong.
Maka terlihatlah di dalam peti kayu ada susunan tulang kerangka kering yang sudah pada bertanggalan satu dengan yang lainnya. Seperti kerangka manusia, tapi jika diperhatikan dengan seksama itu bukanlah kerangka manusia, tetapi makhluk yang seperti manusia dengan dua tulang tangan yang lebih panjang dari ukuran normal.
Yang menarik perhatian, di dekat tulang leher tergeletak sebuah benda bening bercahaya redup, berwarna jingga. Wujudnya bulat seperti bola ping pong.
“Itulah Mustika Dewi Kenanga, Gusti Ratu,” kata Pendekar Tongkat Roda.
Alma Fatara memperhatikan dengan seksama benda bercahaya yang bernama Mustika Dewi Kenanga itu.
Pendekar Tongkat Roda lalu mengulurkan sebuah kantung kain kecil berwarna hitam kepada Alma Fatara, seraya membungkuk hormat.
“Silakan, Gusti Ratu. Jangan menyentuh mustika itu tanpa tenaga sakti, sebab akan berbahaya,” ujar Pendekar Tongkat Roda.
Alma menerima kain kantung tersebut. Selanjutnya, Alma Fatara mengarahkan telapak tangannya ke dalam peti.
Sep!
Mustika Dewi Kenanga tiba-tiba melesat seperti tersedot oleh telapak tangan Alma. Tidak ada yang terjadi ketika benda sakti berada dalam genggaman tangan kanan Alma. Dengan aman Alma lalu memasukkan Mustika Dewi Kenanga ke dalam kantung kain kecil. (RH)
__ADS_1