
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
“Kita lewat sini!” seru Alma Fatara sambil lebih dulu berbelok ke jalan setapak di sebelah kiri.
“Kenapa kita lewat jalan kecil seperti ini, Alma?” tanya Riring Belanga setelah berhenti sebentar.
“Aku mengikuti petunjuk paman berkambing tadi,” jawab Alma.
“Alma, biasanya jalan setapak seperti ini ujungnya ke jurang,” sahut Cucum Mili.
“Hahaha!” Alma hanya tertawa tanpa menjawab.
Dengan menghempaskan napas, Riring Belanga dan Cucum Mili akhirnya mengikuti Alma dan para sahabatnya keluar dari jalan besar, lalu menyusuri jalan setapak berumput di antara pepohonan berbatang kecil.
Setelah mereka semua menghilang di ujung jalan yang menikung ke balik rerimbunan tanaman liar, seekor kuda muncul melintasi jalan besar yang baru saja mereka tinggalkan.
Kuda itu berlari kencang yang ditunggangi oleh Arung Seto, kakak dari Kembang Bulan. Arung Seto terus menggebah kudanya dengan kencang. Sepertinya dia sedang mengejar Alma Fatara dan rombongan. Namun sayang, Alma dan rombongan sudah meninggalkan trek jalan besar itu.
Alma Fatara dan rombongan akhirnya keluar dari wilayah berpohon dan memasuki daerah sabana yang cukup luas. Jauh di ujung sabana terlihat ada beberapa atap rumah yang terlihat kecil karena faktor jarak.
Mereka tetap menyusuri jalan setapak yang ada di padang sabana tersebut.
“Dengarkan aku!” seru Alma Fatara sambil menengok ke belakang. “Jika kalian bertemu dengan orang yang tidak bisa mengendalikan lidahnya, rangkul dia untuk kita ajak makan enak!”
“Siap, Ratu Dewi Dua Gigi!” sahut Juling Jitu yang sudah berdamai dengan bokongnya.
“Urusan merangkul serahkan kepadaku! Hahaha!” sahut Anjengan.
“Si-si-siaaap se-se-se ….”
“Setan?” terka Iwak Ngasin yang berkuda tepat di belakang Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Alma dan sebagian dari mereka.
“Si-si-siap selaluuu!” teriak Gagap Ayu sambil memandang tajam ke belakang, kepada Iwak Ngasin.
“Itu petunjuk awal kita untuk menemukan Telur Gelap!” teriak Alma.
“Kurang sopan!” maki Cucum Mili.
“Kurang sopan!” teriak Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Kembang Bulan mengikuti makian Putri Angin Merah.
“Ku-ku-kurang sopan!” maki Gagap Ayu pula selalu terlambat.
Namun, gaya itu rupanya mulai membudaya di kelompok Alma tanpa membuat Cucum Mili tersinggung.
__ADS_1
“Kau mengajak kami yang tua-tua ini ikut main teka-teki?” tanya Cucum Mili.
“Hahaha! Akhirnya Kakak Putri mengakui ketuaannya sendiri,” kata Alma yang didahului dengan tawanya.
“Awas saja jika kau membawa kami kepada jalan yang tersesat!” ancam Cucum Mili.
“Hahaha!” Alma hanya tertawa. Lalu teriaknya, “Jawaban kita mungkin ada di desa sana. Ayo bergegas! Heah heah!”
Alma Fatara menggebah kudanya untuk berlari lebih cepat di trek rumput padang sabana.
Mbah Hitam, Riring Belanga, dan Cucum Mili cepat mengejar Alma dengan menggebah lebih kencang kudanya.
“Dewi Lauuut, majuuu! Heah heah!” teriak Anjengan penuh semangat dengan menyebut julukannya sambil menunjuk ke depan, lalu mempercepat berkudanya.
“Pendekar Tampan Iwaklelet, semangaaat! Heah heah!” teriak Juling Jitu pula lalu menyusul Anjengan.
“Kembang Bulan sayang, giliranmu!” seru Iwak Ngasin yang berkuda paling belakang.
“Ah?” desah Kembang Bulan bingung sambil menengok ke belakang. Tinggal ia, Gagap Ayu dan Iwak Ngasin yang belum mengejar ke depan.
“Berteriaklah, sebut namamu!” seru Iwak Ngasin mengarahkan.
“Kembang … Kembang Bulaaan! Heah heah!” pekik Kembang Bulan kaku tapi terdengar lebih manja.
“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin dan Gagap Ayu melihat gaya Kembang Bulan.
“Pendekar Ombak Hitaaam, semangat selalu perjaka! Hiah hiah hiah!” teriak Iwak Ngasin lalu menyusul kencang.
“Hihihi …!” Gagap Ayu tertawa kencang mendengar slogan Iwak Ngasin.
Kesembilan penunggang kuda itu berlari kencang membelah padang rumput dengan rambut dan pakaian berkibar-kibar tampak gagah.
Rambut dan jubah Alma berkibar di belakang tubuhnya. Demikian pula pakaian merah Cucum Mili. Benar-benar memberikan pemandangan bernuansa ksatria, yang penuh semangat perjuangan membela yang cantik dan memberantas hama tikus di sawah ladang.
Ketika mereka tiba di ujung sabana, mereka pun bisa melihat jelas sebuah desa. Keberadaan beberapa rumah jelas menunjukkan bahwa itu adalah sebuah desa atau permukiman.
Alma Fatara dan rombongan memelankan kudanya. Mereka berhenti sebentar dan berkumpul dengan pandangan yang arahnya sama.
“Tidak terlihat ada orang,” kata Riring Belanga.
“Kita lihat dulu,” kata Cucum Mili.
Mereka kembali bergerak untuk memasuki desa yang posisi rumahnya berjarak-jarak cukup jauh. Hingga mereka mulai memasuki desa dan tiba pada rumah pertama, belum terlihat ada seorang pun warga. Yang mereka lihat hanya keberadaan hewan ternak yang berada di dalam kandangnya.
Pintu-pintu rumah juga tertutup rapat, padahal hari masih terbilang siang.
Mereka memasuki desa lebih dalam dengan langkah kuda yang pelan. Pandangan mereka menyapu ke seantero sudut-sudut desa, termasuk memperhatikan pandangan ke celah-celah dinding rumah, jika-jika ada yang mengintai.
__ADS_1
Benar-benar seperti desa mati yang ditinggal oleh semua penghuninya.
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu bergerak menyebar.
Iwak Ngasin dan kudanya berjalan lewat area belakang rumah-rumah yang memiliki sumur-sumur dan kandang-kandang ternak.
“Apa itu?” tanya Iwak Ngasin pelan tapi terbelalak.
Pasalnya, beberapa tombak di depan, dia melihat sebuah bokong yang berkulit putih mulus. Terlihat jelas hingga belahan belakangnya. Bokong itu milik seorang wanita berambut hitam panjang terurai yang sedang berjongkok di sisi sumur.
“Dedemit penunggu desa ini harus aku tangkap. Dia pasti cantik. Jika aku tangkap, aku baru akan membebaskannya jika dia mau menjadi istriku. Hihihi,” ucap Iwak Ngasin dalam hati sambil menyusun plot licik.
Pelan-pelan ia turun dari kuda dan menambatkan kudanya di tiang salah satu rumah. Sementara pandangannya tidak mau dia alihkan dari sosok wanita berbokong mulus.
Iwak Ngasin melangkah mengendap-endap, menghindari dedaunan kering agar tidak menimbulkan suara.
Wanita berpakaian warna hijau tua itu terlihat sedang bercebok. Sebentar kemudian, dia berdiri dan bermaksud hendak menaikkan celananya. Melihat hal itu, Iwak Ngasin berpikir bahwa jika sudah selesai, kemungkinan besar wanita itu akan berbalik dan mengetahui keberadaannya. Ia harus menangkapnya lebih dulu.
“Aku tangkap kau dedemit perempuan!” teriak Iwak Ngasin sambil berlari dua langkah lalu melompat menerkam peluk tubuh wanita itu.
Bduk!
Kuat sekali Iwak Ngasin memeluk tubuh wanita targetnya, sehingga mereka berdua jatuh bergulingan di tanah comberan dangkal di dekat sumur.
“Aaak! Tolooong … tolong, Neneeek!” jerit wanita itu sambil kedua kakinya meronta-ronta.
Suara jeritan kencang itu terdengar oleh Alma Fatara dan rekan-rekan lainnya, termasuk seseorang yang ada di dalam rumah yang memiliki sumur tersebut.
Satu jendela rumah dibuka dari dalam oleh seorang wanita tua yang menunjukkan wajah tegang. Wanita tua berambut putih di dalam rumah melihat Iwak Ngasin yang sedang mengunci seorang wanita muda dengan pelukannya.
“Lelaki Setan! Lepaskan cucuku!” teriak nenek di dalam rumah sangat marah.
Setelah itu, si nenek cepat keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah pedang panjang terhunus.
“Lelaki pemerkosa! Aku bunuh kau!” teriak si nenek sambil berlari seperti anak muda dengan pedang sudah terangkat hendak dibacokkan.
Melihat kedatangan si nenek yang seperti orang tua berkesaktian, Iwak Ngasin cepat melepas pelukannya dan berguling menjauhi si wanita muda di atas comberan.
“Tahan, Nek! Jangan membunuh sembarangan!” teriak Iwak Ngasin panik.
“Enak saja! Jika kau boleh memperkosa perempuan sembarangan, maka aku boleh membunuh lelaki pemerkosa sembarangan juga!” balas si nenek yang berpakaian seperti nenek desa biasa.
Iwak Ngasin yang pakaian dan tubuhnya kotor oleh lumpur hitam, buru-buru bangun dan berlari menjauh, lalu pergi ke belakang kumpulan kuda yang sudah berkumpul menyaksikan kejadian itu.
Melihat keberadaan Alma Fatara dan rekan-rekan berkudanya, si nenek jadi berhenti mengejar dan memandang dengan tatapan tidak bersahabat.
Wanita muda berkulit putih halus yang hendak ditangkap oleh Iwak Ngasin segera berdiri di belakang si nenek. Kondisi wajah dan pakaian juga kotor oleh lumpur comberan. (RH)
__ADS_1