
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Aku sampaikan satu kabar gembira kepada kalian semua, orang-orang tercintaku. Kini aku sudah menguasai ilmu Titah Mimpi!” seru Alma Fatara kepada seluruh pasukannya.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lebih dulu sebelum pasukan itu bersorak macam-macam.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad, masih seru-seruan.
“Dengan menguasai ilmu Titah Mimpi, jelas ini pertanda baik bahwa Kerajaan Siluman akan semakin berkembang dan kuat. Dan ….”
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi, memotong kata-kata sang ratu.
“Hua hua hua!” teriak yang lainnya pula serentak dan bertenaga.
“Dan aku minta kalian jangan sampai bermimpi yang macam-macam ketika tidur, karena aku bisa saja memergoki kalian dengan masuk ke dalam mimpi ka ….”
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi penus semangat.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad juga penuh semangat.
“Dan kali ini, murid kesayangan Raja Tanpa Gerak yang bernama Ineng Santi akan bergabung bersama kita untuk sementara, berjuang bersama untuk membongkar kelompok jahat yang menyerang Bukit Selubung. Karena itu ….”
“Hua hua hua!” teriak Anjengan memotong kata-kata Alma Fatara lagi, membuat sang ratu memandang dengan sedikit mendelik kepada kakak angkatnya itu.
“Hua hua hua!” teriak para pasukan lagi.
“Hahahak!” tawa Anjengan akhirnya, saat sadar bahwa Alma Fatara melototinya. Ia jadi sadar bahwa semangatnya yang over mengganggu ratunya dalam berpidato.
“Hahaha!” tawa para pendekar anggota pasukan, tetapi yang tertawa justru kalangan lelaki. Mereka tertawa sambil fokus memandangi kecantikan Ineng Santi.
“Bagi pasukanku yang tercinta, terutama bagi para lelaki, Ineng Santi memiliki kesaktian setingkat guru-guru kalian, jadi jangan terlalu genit kepadanya,” kata Alma Fatara memperingatkan.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap kaum batangan itu serentak, tetapi kemudian masih sanyam-senyum, betah menikmati kecantikan Ineng Santi, membuat para wanita cantik lainnya cukup merasa cemburu.
Penombak Manis terlihat merengut seperti cecurut ketika memerhatikan Juling Jitu yang ikut senyam-senyum memandangi Ineng Santi. Namun apalah daya, dia tidak bisa asal cemburu buta. Hal yang sama ditunjukkan oleh wajah cantik Nining Pelangi ketika melihat Arung Seto juga senyam-senyum.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara akhirnya. Lalu katanya dengan serius, “Kita akan berhadapan dengan Kelurga Tengkorak. Aku minta kalian untuk lebih berhati-hati karena lawan yang akan kita hadapi di depan adalah para pendekar sakti. Namun, aku yakin, kebersatuan kita akan bisa melewati aral rintangan sebesar apa pun. Aku masih sangat ingat satu pepatah dari kampung halamanku yang berbunyi: Bersatu kita bahagia, bercerai kita ….”
“Kawin lagi!” teriak Anjengan dan Juling Jitu yang sangat hapal dengan pepatah dari desa mereka tercinta.
__ADS_1
“Ka-ka-kawin lagi!” teriak Gagap Ayu juga, tapi terlambat.
“Hahahak!” tawa mereka semua mendengar dua kata dari ujung pepatah itu, ditambah suara Gagap Ayu yang gagapnya selalu menggelitik telinga.
Mau tidak mau Alma Fatara juga tertawa terbahak.
“Salah!” teriak Alma Fatara setelah tawanya mereda.
“Sa-sa-salah di mananya, Gu-gu-gusti Ratu?” protes Gagap Ayu.
“Bersatu kita bahagia, bercerai kita rujuk kembali. Itulah yang benar!” tandas Alma Fatara.
“Yaaah!” sorak sebagian besar pasukan itu kecewa.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara. “Sudah sudah sudah! Sekarang aku mau bertanya. Apakah kalian semua sudah mendapat pembagian harta rampasan milik pasukan Kademangan Kubang Kepeng?”
“Sudah, Gusti Ratu!” jawab mereka semua serentak.
“Siapa yang merasa belum mendapat bagian?” tanya Alma Fatara lagi.
Namun, kali ini tidak ada yang menjawab pertanyaan Alma Fatara, hingga akhirnya Geranda bersuara.
“Bagus. Dengarkan baik-baik. Kerajaan Siluman memiliki aturan baru. Semua harta musuh yang mati di tangan Pasukan Genggam Jagad akan menjadi milik kita sepenuhnya, kecuali pakaian yang melekat di badan. Aku minta Panglima Besar nanti membentuk beberapa orang sebagai kelompok yang bertugas mengumpulkan harta rampasan dari musuh,” ujar Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Anjengan lantang.
“Sebagai kekuatan yang akan bertambah besar, kita membutuhkan biaya perjalanan keliling dunia yang besar. Jangan sampai ada pendekar dari Pasukan Genggam Jagad yang melakukan penganiayaan kepada orang yang lemah, hanya untuk alasan mengisi perut dan mengeluarkan isi di bawah perut!” seru Alma Fatara.
“Hahahak!” tawa rendah pasukan yang terdiri dari kaum muda zaman klasik itu.
“Panglima Arung, apakah kondisi tawanan kita sudah dipastikan keamanannya?” tanya Alma Fatara, merujuk kepada Rawit Ireng, pendekar pembunuh Golono yang tadi malam diturunkan dari puncak bukit oleh Geranda dan Belik Ludah.
“Sudah, Gusti Prabu. Kepalanya pun sudah aku tutupi agar tidak dikenali, bahkan oleh diriku sendiri,” jawab Arung Seto, yang ketika berbicara menjadi fokus perhatian sejumlah wanita cantik dan tidak cantik, terutama bagi Ineng Santi yang selalu tersenyum dengan manis di sisi Alma Fatara.
Posisi Ineng Santi membuatnya mudah untuk bertemu pandang dengan Arung Seto, tanpa perlu memancing kecurigaan dari Nining Pelangi yang pencemburu.
“Bagus. Untuk memperjelas tujuan kita hari ini, aku harus mendengar laporan dari Panglima Nining Pelangi,” kata Alma Fatara.
“Izinkan hamba untuk menyampaikan laporan, Gusti Ratu,” ucap Nining Pelangi sambil menjura hormat secukupnya.
“Katakan, Panglima!” perintah Alma Fatara.
__ADS_1
“Demang Mahasugi membutuhkan bukti bahwa kita tidak mengadu domba dirinya dengan Bandar Bumi. Demang Mahasugi belum mau menyetujui hartanya dibagi dua sebelum dia bertemu dengan Gusti Ratu. Demang Mahasugi dan istrinya ingin bertemu dengan Gusti Ratu. Demang Mahasugi sudah mengetahui bahwa Bandar Bumi adalah orang yang membuat kekacauan di kediamannya. Meski dia membutuhkan bukti, tetapi dia sudah mengirim banyak pendekar untuk menyerang Bandar Bumi. Dan yang terakhir, di kediaman Demang Mahasugi kami menemukan adik seperguruanku yang hilang. Dia menjadi korban penculikan dan dijadikan boneka yang dikendalikan jarak jauh oleh seseorang. Adik seperguruanku yang bernama Kulung itu dalam kondisi terluka parah. Kini Kulung berada di dalam perawatan Bocah Tabib,” lapor Nining Pelangi.
“Belik Ludah, bagaimana kondisi Kulung?” tanya Alma Fatara.
“Terkendali, Gusti Ratu. Pengobatannya tinggal dua kali ketokan,” jawab Belik Ludah sambil senyum cengengesan.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Lalu bagaimana kondisi mereka yang terluka dari Perguruan Bulan Emas?”
“Kakak Gendis, Lilis Kelimis dan Desah Rindang sudah bisa masuk ke dalam pasukan. Kakang Aliang Bowo juga sudah bisa masuk pasukan,” jawab Bocah Tabib.
“Gede Angin, apakah pusakamu aman?” tanya Alma Fatara.
“A-a-aman, Gusti Ratu!” sahut Gede Angin tergagap, dia tidak menyangka bahwa Alma Fatara akan menanyakan lukanya di depan publik.
“Hhihi …!” tawa para wanita cantik dari Pasukan Sayap Panah Pelangi. Mereka sangat mengerti apa yang dimaksud “pusaka” dalam pertanyaan Alma Fatara.
“Jika demikian, persiapkan diri kalian. Sebentar lagi kita akan berangkat menuju kediaman Demang Mahasugi!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak.
“Panglima Tampang Garang, dalam perjalanan, Pasukan Sayap Panah Pelangi bertindak sebagai pasukan bayangan pelindung!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tampang Garang patuh.
“Panglima Besar, bubarkan pasukan untuk bersiap melanjutkan perjalanan!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” pekik Anjengan lantang. Lalu teriaknya kencang, “Pasukaaan, siapa kitaaa?”
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak semuanya, begitu keras sehingga mengejutkan satwa sekitar lingkungan kaki bukit itu.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi.
“Hua hua hua!” teriak pasukan pula.
“Wik wik wik wik wik!” teriak Anjengan lagi.
“Wik wik wik wik wik!” teriak semuanya.
“Hahahak!” tawa mereka semua sambil membubarkan diri untuk bersiap-siap.
Alma Fatara dan Ineng Santi pergi bersama Cucum Mili untuk melakukan obrolan pagi sambil ngopi. Namun sayang, mereka tidak memiliki penyeduh dan penyuguh kopi, serta tidak membawa kopi sachetan. (RH)
__ADS_1