Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 17: Berlayar (30+)


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


“Ayo, semua menyingkir!” perintah Luli kepada rekan-rekannya sesama anggota Bajak Laut Ombak Setan.


“Ayo ayo ayo!” kata Kodok Pulau sambil menepuk bahu rekan-rekannya yang sedang duduk-duduk di balai teras.


Para anggota bajak laut itu segera bergerak menjauhi rumah Adipati Adya Bangira yang kini ditempati oleh Ronggo Palung, ketua bajak laut itu.


Sebentar saja, suasana rumah itu menjadi sepi, yang tersisa hanya sejumlah obor penerang di beberapa sudut di bagian rumah dan di atas pagar halaman.


Sementara itu, di dalam kamar terbesar di rumah besar itu, Ronggo Palung sudah merdeka dari sehelai benang pun. Di atas ranjang dia sudah terlentang dengan pasrah sambil tersenyum-senyum bahagia.


Di sudut kamar, berdiri ketakutan seorang gadis cantik berkulit putih. Gadis yang rambutnya telah tergerai bebas itu, kini hanya mengenakan sehelai kain tipis yang masih menutupi ujung bukitnya dan tubuh bawahnya sebatas tengah paha.


Empat dian besar yang menyala di keempat sudut kamar membuat sosok indah itu masih bisa terlihat jelas.


“Hahaha! Tidak usah ketakutan seperti itu, Sumi. Kau harus berpikir dan menganggap bahwa kita adalah pengantin baru. Kau harus melawan rasa takutmu, karena aku adalah lelaki. Lelaki adalah kebutuhan setiap wanita. Sama seperti kau sebagai seorang wanita, wanita adalah kebutuhan seorang lelaki, sama seperti aku. Hahaha!” kata Ronggo Palung, tanpa merasa malu sedikit pun dengan kondisinya yang sudah seperti bayi setan.


Gadis yang bernama Sumi itu masih diam tertunduk di tempatnya.


“Aku beri waktu kepadamu sebentar, karena aku sudah bergairah, jadi aku tidak bisa menunggu lama. Jika sampai air perkasaku keluar oleh tanganku sendiri, bukan karena sumur sucimu, maka nasibmu terpaksa akan seperti dian itu,” kata Ronggo Palung, lalu ia menjentikkan satu jarinya.


Plep!


Satu dian mendadak padam oleh tenaga kecil kiriman jari tangan Ronggo Palung. Hal itu membuat Sumi semakin takut, tetapi takut yang berbeda dari sebelumnya. Jika tadi ia takut kehilangan kehormatannya oleh lelaki asing dan jahat, maka kini dia takut kehilangan nyawa.


Maka tanpa kata, Sumi melangkah mendekati ranjang.


“Gadis pintar. Tapi kau harus bekerja dengan penuh cinta. Jika nikmat, rasakan nikmat. Jika sakit, menjeritlah, maka akan aku buat kau nikmat. Sangat mudah dan aman,” kata Ronggo Palung santai. “Tidak perlu takut, anggap aku ini adalah kekasihmu, anggap aku ini adalah suamimu.”


“I-iya, Pendekar,” ucap Sumi akhirnya bersuara.


Sebelum Sumi naik ke atas ranjang, ia berinisiatif membuka kuncian kain ditubuhnya, sehingga dengan ikhlas hati kain itu jatuh ke lantai kamar. Maka final sudah, tubuh Sumi kini tidak berbenang lagi selain berambut.


Tanpa diketahui oleh Ronggo Palung dan Sumi, aktivitas ranjang mereka ternyata ada yang memantau dari sebuah lubang tipis yang ada di sudut lantai, tepatnya di bawah ranjang. Lubang tipis itu menghubungkan dengan ruang bawah tanah yang dimiliki oleh rumah tersebut.


Di dalam ruang bawah tanah ada dua orang wanita yang bersemayam tanpa suara. Satu wanita berusia separuh abad, ia hanya mengenakan pinjung warna hitam dengan rambut disanggul. Wanita yang lain masih sangat muda dan cantik di dalam kegelapan.

__ADS_1


Kedua wanita beda usia itu berada di ruangan bawah tanah sudah selama dua hari. Wanita itu adalah Kembang Bulan, putri dari Adipati Adya Bangira bersama embannya.


Selama dua hari itu, mereka melakukan puasa bicara, tapi tidak puasa makan, sebab memang sudah dipersiapkan jika persembunyian mereka memakan waktu berhari-hari.


Ruangan bawah tanah itu sangat gelap, terlebih di kala malam. Supaya tidak menimbulkan suara, Kembang Bulan berkomunikasi dengan bahasa sentuhan dan bisikan di telinga.


Seperti saat itu, Kembang Bulan menyentuh tangan embannya dan menempelkan bibirnya ke dekat lubang telinga emban.


“Saat orang itu sedang sibuk berhubungan, kita keluar!” bisik Kembang Bulan sangat pelan, bahkan nyaris tidak terdengar oleh Emban.


Emban hanya mengangguk tanda setuju.


Kembang Bulan tahu bahwa orang di atas adalah pendekar sakti, jadi dia harus menghindari menimbulkan suara sedikit pun.


“Terus, terus, jangan berhenti sedikit pun! Ah! Hahaha!” teriak Ronggo Palung yang sudah lebih dulu mendapat jatah kenikmatan. Suaranya kencang, seolah tidak khawatir jika ada tikus yang mendengar kebisingannya.


Ronggo Palung benar-benar berisik dalam aktivitas bercintanya, seperti kucing kawin.


“Ah! Aku bilang jangan berhenti, melambat pun jangan. Ayo ulang lagi. Nanti giliran aku yang akan memberimu kelezatan!” kata Ronggo Palung bernada agak kesal.


Sumi pun kembali meraih “Tongkat Jangkar Laut” milik Ronggo Palung untuk kedua kalinya, lalu memainkannya dengan irama yang stabil, membuat lelaki bertubuh kekar itu tidak tenang karena merasa keenakan.


“Iya, itu sudah benar. Kau cepat sekali belajar, Sumi. Jika nanti hasilnya memuaskanku, aku tidak akan memilih wanita lain. Aaah … asiiiik! Ayo, terus semangat, Sumi! Buat aku tidak bisa bertahan! Hahaha!” celoteh Ronggo Palung penuh semangat tempur.


“Cukup cukup cukup, Sumi!” seru Ronggo Palung setelah cukup lama berusaha bertahan. “Giliran aku yang akan memberimu kelezatan dengan takaran garam laut yang pas. Aku akan membawamu berlayar melewati ombak-ombak samudera yang tinggi. Aku yakin, aku akan bisa membuatmu ketagihan hidup dan mati. Hahaha!”


Dengan penuh semangat, Ronggo Palung lalu meraih tubuh polos Sumi dan membantingnya jatuh ke kasur yang tebal. Ia sendiri bergerak untuk berposisi di atas.


“Berlayar dimulai! Hahaha!” teriak Ronggo Palung, seolah dia sedang memimpin kelompoknya untuk mengarungi samudera dengan kapal laut kesayangannya.


“Akk!” pekik tertahan Sumi ketika lelaki besar itu menghujamnya lebih dalam.


“Oh, kau sakit, Sumi?” tanya Ronggo Palung terkejut, sehingga pompaannya terhenti saat itu juga.


Sumi hanya memberikan anggukan dengan wajah mengerenyit.


“Aku akan lebih pelan dan lembut. Karena terlalu bergembiranya, aku sampai lupa jika ukuran tongkatku lebib besar dari kebanyakan. Hahaha! Ayo mulai lagi! Woi woi woi!”


Ronggo Palung kembali mulai mengayunkan bokong kekarnya. Celotehan dan teriakannya tidak bisa berhenti.

__ADS_1


“Aaah!” tiba-tiba Sumi mendesah, menunjukkan bahwa ia merasakan kelezatan yang tadi Ronggo Palung maksud.


“Hahaha! Kau merasakannya, Sumi!” seru Ronggo Palung gembira dan semangatnya menjulang. Ia pun menambah kecepatan pompaannya.


“Ah … ah … ah …!” desah Sumi berulang.


Krek krek krek!


Semakin dahsyat Ronggo Palung berjuang, ranjang pun ikut serta berisik.


“Auh … auh … auh …!”


Giliran Ronggo Palung yang mengeluh-ngeluh seperti serigala siluman. Maka semakin ramailah nyanyian ranjang di kamar itu, yang terdengar jelas sampai ke ruang bawah tanah dan luar kamar.


Kembang Bulan lalu mencolek Emban agar mulai bergerak. Ia menilai saat itulah momentum yang tepat untuk keluar.


Maka kedua wanita itu bergerak sangat pelan menaiki tangga batu satu demi satu menuju pintu yang tertutup. Ternyata pintu keluar ruang bawah tanah itu ada di bawa meja kayu pendek yang di atasnya banyak tumpukan barang. Pintu itu terletak tepat di sisi luar dinding kamar yang sedang digunakan oleh Ronggo Palung.


Klek!


Terdengar suara kunci pintu yang dibuka oleh Kembang Bulan.


Ternyata suara itu terdengar oleh Ronggo Palung yang sedang onfire di atas tubuh Sumi, yang sudah melengkung sesuai gaya yang diinginkan oleh penunggangnya.


“Pergi kalian! Jangan berani-berani mengupingku, Cebong!” teriak Ronggo Palung marah, tanpa mau mengendurkan pacu tunggangannya. Ia menduga bahwa ada anak buahnya yang mencoba menguping atau mengintipnya.


Kembang Bulan sudah berhasil keluar di bawah meja, lalu merangkak keluar dari kolong. Menyusul Emban. Gerakan mereka benar-benar senyap.


Tidak henti-hentinya Kembang Bulan menengok ke sana dan ke sini, khawatir jika ada orang yang muncul memergoki mereka.


“Sedikit lagi, Sumi! Sedikit lagi, Sumi!” teriak Ronggo Palung semakin menggila.


“Aaah!” pada akhirnya Sumi memekik nikmat.


“Aaakr …!” Ronggo Palung berteriak lebih sangar, entah kesakitan atau kesetanan, sulit dibedakan dengan raungan di puncak *******.


Sementara itu, Kembang Bulan dan Emban sudah keluar dari rumah lewat pintu belakang. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!



__ADS_2