
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Bagaimana kondisi Kakang Tengkorak Api, Kak?” tanya Alma Fatara setelah Ineng Santi kembali bersamanya dan Cucum Mili.
“Lebih baik dari sebelumnya setelah dipukul oleh Belik Ludah memakai batok kelapanya,” jawab Ineng Santi.
“Hahaha! Pasti yang dipukul jidatnya,” kata Alma Fatara sambil tertawa.
“Jadi, sebenarnya kau jatuh hati kepada anak tengkorak itu atau kepada Arung Seto?” tanya Cucum Mili.
“Entahlah. Kakang Arung Seto memiliki kekasih, sedangkan Kakang Api tidak tertarik denganku,” jawab Ineng Santi bimbang.
“Jika seperti itu, pilihlah yang bukan putra tengkorak dan belum memiliki kekasih,” kata Alma Fatara. “Sebab, jika putra Keluarga Tengkorak, aku khawatir akan terbentur pada konflik lama Keluarga Tengkorak.”
“Atau tolak saja semua lelaki, seperti Gusti Ratu,” kata Cucum Mili.
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara mendengar perkataan Cucum Mili. “Kasihan pasukanku yang belum menikah, mereka pasti menderita luar dan dalam setiap memandang Kakak.”
“Hihihi!” tawa Ineng Santi. “Aku justru merasa menjadi makhluk yang mengerikan mendengar itu.”
“Ada berapa banyak Anggota Keluarga Tengkorak yang kau ketahui, Ineng?” tanya Cucum Mili.
“Banyak, dari yang muda hingga yang tua-tua. Keluarga Tengkorak juga terbelah dua, ada yang memilih jalan lurus dan ada yang memilih jalan menyimpang. Mereka tersebar. Untuk di wilayah ini, ada beberapa anggota tua yang tinggal tidak jauh, seperti Kakek Tengkorak Sabit Putih, Tengkorak Pedang Siluman dan Ratu Tengkorak. Setahuku, keluarga Kakang Tengkorak Api adalah Keluarga Tengkorak yang baik,” jelas Ineng Santi.
“Oh seperti itu,” ucap Alma Fatara sambil manggut-manggut.
“Jika tidak mendesak, aku akan memenuhi janjiku kepada Kakek Raja,” kata Alma Fatara.
Tanpa terasa, Pasukan Genggam Jagad mulai memasuki Kademangan Kubang Kepeng. Warga kademangan jadi kasak kusuk, geger melihat kehadiran rombongan pendekar yang membawa bendera dan panji-panji pasukan, terlebih banyak wanita cantik di dalam barisannya.
Siapa yang tidak terpesona melihat kecantikan Ratu Siluman yang berjalan bersanding dengan Ineng Santi dan Cucum Mili yang kerahasiaan wajahnya memberi rasa penasaran. Ditambah kecantikan pengawal Lima Dewi Purnama yang dipimpin oleh si cantik mungil Gagap Ayu. Plus barisan Pasukan Sayap Pelangi yang dipimpin oleh Panglima Nining Pelangi.
Pesan lisan bersambung yang berlaku di masyarakat era sekarang membuat berita kedatangan pasukan pendekar cepat tersebar. Warga kademangan segera berbondong-bondong pergi ke jalan utama untuk menyaksikan rombongan yang mirip pawai karnaval. Bahkan, para prajurit kademangan yang sedang berpatroli tidak berani mengganggu gugat. Mereka justru ikut menjadi penonton VVIP.
“Lapor kepada Kanjeng Gusti!” bisik salah seorang prajurit kepada rekannya yang bernama Waleng.
“Baik,” ucap Waleng patuh tanpa protes.
Waleng segera berlari pergi. Pergerakannya terpantau oleh Alma Fatara dan para abdinya, tetapi itu tak masalah.
“Waaah, ada apa ini?” tanya seorang warga separuh baya yang baru tiba di pinggir jalan. Ia begitu antusias melihat rombongan tersebut.
“Ada banyak orang, Ki,” jawab pemuda desa bertelanjang kaki sambil memegang sabit, seperti pemuda mau tawuran.
“Aku juga tahu, Kotek. Itu orang, bukan bebek,” sungut lelaki separuh baya bernama Ki Ragi.
“Cantiknya keterlaluan, Ki,” ucap pemuda bernama Kotek.
__ADS_1
“Yang mana keterlaluan?” tanya Ki Ragi.
“Ah, percuma saja aku tunjukkan. Bukankah mata Ki Ragi sudah tidak bisa membedakan wanita cantik dengan sapi betina?”
“Sembarangan kau!” rutuk Ki Ragi sambil menepak kepala Kotek. “Aku juga tahu bahwa wanita pembawa tombak itu terlalu cantik. Yang gemuk itu juga, walaupun gemuk, tapi manisnya seperti biji kopi. Hahaha!”
“Hahahak!” tawa terbahak Kotek tanpa niat untuk mengoreksi. “Mungkin mereka ingin bekerja kepada Demang Mahasugi. Belakangan ini terlalu banyak para pendekar yang keluyuran di kademangan ini.”
Sementara itu, Waleng yang berlari seorang diri menuju kediaman Demang Mahasugi, mendadak berhenti. Ia segera merunduk dan bersembunyi di bawah pohon kates.
Waleng melihat ada ketegangan yang terjadi antara dua pendekar muda dan dua pendekar tua. Ada pula satu pemuda tanpa baju dan hanya bersarung yang duduk lemah di tanah berumput.
“I-i-itu sepertinya Kang Aden Lolongo,” ucap Waleng lirih kepada dirinya sendiri. “Aduh, Kang Aden sepertinya mau mati. Kasihan sekali.”
Dua pendekar muda yang sedang bersitegang di sana adalah Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek, dua pendekar yang menyelamatkan Lolongo dari penculikan Kelompok Pedang Biru piaraan Bandar Bumi.
Sementara dua pendekar tua yang tampil lebih meyakinkan adalah Juragan Gelang dan Kala Biru, dua pendekar sakti bayaran Demang Mahasugi.
“Wadduh, jika aku pergi menolong Kang Aden, bisa-bisa sekali sentil aku pergi ke sisi Dewa. Lebih baik aku laporkan kepada Kanjeng Gusti,” pikir Waleng.
Ia lalu berlari pergi seorang diri menuju rumah majikannya.
Tidak berapa lama setelah Waleng pergi, keempat pendekar itu bertarung satu sama lain, dua lawan dua. Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek langsung menggunakan senjatanya yang berupa dua toya putih dan telur bebek.
Keranjang bambu Tengkorak Telur Bebek kembali penuh, karena dalam perjalanan ke kademangan itu dia membeli telur bebek tambahan.
Perkara penyebab keempat pendekar itu ribut adalah memperebutkan Lolongo.
“Kang Aden diculik oleh orang-orang bertopeng kain, Tetua,” jawab Buluk saat ditanya oleh Juragan Gelang.
“Di mana?” tanya Juragan Gelang.
“Di penginapan dekat pasar Kademangan Nuging Muko,” jawab Buluk dengan wajah panik.
“Ayo, tunjukkan kepada kami!” perintah Juragan Gelang.
Jika Buluk mengendarai kuda untuk kembali ke pasar Kademangan Nuging Muko, maka kedua pendekar itu menggunakan ilmu peringan tubuhnya.
Namun, mereka tidak menemukan siapa-siapa di sana kecuali warga kademangan yang beraktivitas di pasar. Ternyata keributan yang terjadi antara Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek dengan Kelompok Pedang Biru sudah bubar.
Akhirnya, Raja Gelang dan Kala Biru memutuskan kembali ke Kademangan Kubang Kepeng. Ternyata mereka bertemu Dua Tengkorak Putih di kademangan itu, agak jauh dari kediaman Demang Mahasugi.
Raja Gelang dan Kala Biru mendesak Dua Tengkorak Putih untuk menyerahkan Lolongo yang mereka bawa. Namun, Dua Tengkorak Putih menolak. Alasannya hanya karena uang. Jika Lolongo diserahkan kepada dua pendekar senior itu, maka mereka tidak akan mendapat bayaran dari Lolongo.
“Serahkan putra Demang itu sebelum kalian mati di tangan kami!” seru Kala Biru sambil mencoba mendesak Tengkorak Bayang Putih dengan serangan tangan kosongnya.
“Ingatlah, Kala Biru. Melawan kami berarti kalian melawan Keluarga Tengkorak!” seru Tengkorak Bayang Putih tidak gentar.
Pemuda botak itu mengadu kedua toyanya dengan kedua tangan kosong Kala Biru.
__ADS_1
“Keluarga Tengkorak tidak ubahnya keluarga pecundang, bertarung selalu main keroyokan!” ejek Kala Biru.
“Kalian benar-benar menantang Keluarga Tengkorak!” teriak Tengkorak Telur Bebek sambil melemparkan beberapa telur bebeknya secara beruntun mengincar Juragan Gelang.
Tak tak tak!
Namun, lelaki separuh baya berjubah kuning itu justru menyambut telur-telur lawan tarungnya dengan tendangan yang cepat tapi halus. Terbukti bahwa telur-telur yang ditendangnya tidak pecah di kaki, tapi justru berbalik menyerang Tengkorak Telur Bebek.
Demi menghindari telur-telurnya sendiri, Tengkorak Telur Bebek terpaksa menghentikan lemparannya dengan melompat cekatan di udara.
Suut! Pak!
“Uhk!” keluh Tengkorak Telur Bebek.
Saat Tengkorak Telur Bebek mendarat, dua gelang bersinar merah melesat kepadanya. Serangan itu sudah terlalu dekat, memaksa Tengkorak Telur Bebek melawan dua gelang sinar itu dengan kedua telapak tangan bertenaga dalam tinggi.
Akibatnya dari peraduan itu, pemuda berambut ikal tersebut terpental ke belakang. Dalam kondisi terpental seperti itu, dia masih sempat mempedulikan keranjang telurnya agar tidak tumpah berserakan.
“Akk!” erang Tengkorak Telur Bebek dengan wajah dan dada menabrak tanah berumput, sementara kedua tangan terangkat memegangi keranjang agar dalam posisi tetap seimbang.
Hal yang hampir sama juga dialami oleh Tengkorak Bayang Putih. Tahu-tahu pemuda itu terlempar ketika tendangan Kala Biru yang secepat kilat menusuk keras di perut.
Namun, keduanya cepat bangkit kembali.
Untuk hal kecepatan gerak, jelas dua pemuda berjuluk Dua Tengkorak Putih itu kalah jauh dari kedua pendekar tingkat tinggi tersebut.
Namun, ketika Dua Tengkorak Putih siap bertarung kembali dengan strategi yang lebih ampuh, tiba-tiba terdengar suara keramaian. Mereka berempat kompak melemparkan pandangan ke arah jalan besar kademangan.
Mereka melihat satu pasukan pendekar sedang pawai membawa benderah hitam dan panji warna-warni.
“Bola Hitam!” sebut Juragan Gelang dan Kala Biru bersamaan terkejut.
Pasukan yang dipimpin oleh Ratu Siluman itu berjalan seolah tidak mempedulikan keempat pendekar yang sedang bertarung. Seolah-olah keempat pendekar tidak penting bagi Alma Fatara dan pasukannya.
“Berhenti!” teriak Juragan Gelang keras sambil berkelebat menghadang di depan Gede Angin, yang berjalan paling depan dari rombongan Pasukan Genggam Jagad.
“Tahan perjalanan kalian!” seru Kala Biru pula yang menyusul mendarat di sisi Juragan Gelang.
“Berhentiii!” teriak Panglima Besar Anjengan karena melihat Ratu Siluman mengangkat tangan memberi tanda.
Pasukan Genggam Jagad pun berhenti berjalan.
Sementara itu, Dua Tengkorak Putih jadi bingung, sebab mereka ditinggalkan begitu saja, seolah tidak dianggap ada.
“Kurang sopan!” maki Cucum Mili dengan gertakan khasnya.
“Kurang sopan!” bentak Pasukan Genggam Jagad serentak dan keras.
“Huah!” pekik Juragan Gelang dan Kala Biru terkejut, benar-benar terkejut karena dibentak orang seramai itu. Seumur hidup, mereka tidak pernah dibentak oleh puluhan orang. Makanya harap dimaklumi jika mereka terkejut, meski mereka dua orang sakti.
__ADS_1
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara dan pasukannya.
“Hahahak!” tawa Dua Tengkorak Putih pula melihat keapesan dua lawan mereka. (RH)