Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 41: Keluarga Tengkorak Kumpul


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*  


 


Kedua orang tua penunggang kuda akhirnya menghentikan laju kencang hewan tunggangannya di depan kediaman Tengkorak Sabit Putih. Mereka melihat keberadaan seorang nenek berjubah hitam robek-robek sedang duduk di sebuah pokok kayu besar yang terbakar oleh api besar. Namun, api itu tidak sedikit pun membakar pakaian atau tubuh nenek berwajah sangat keriput tersebut.


Di sisi kanan dan kiri si nenek antiapi berderet potongan-potongan batang pohon besar yang bisa dijadikan tempat duduk seperti yang diduduki si nenek. Formasinya membentuk setengah lingkaran. Seolah-olah kayu-kayu itu memang ditujukan untuk tempat duduk para tamu yang akan berdatangan.


Kakek berjubah cokelat dan nenek bertongkat turun dari kudanya. Mereka menambatkan kudanya pada batang sebatang pohon kecil.


“Apakah baru kau yang datang, Ratu Maut?” tanya si nenek berkepang yang bernama Tengkorak Tongkat Kepang.


“Ada Tengkorak Manis Putih di dalam. Karena malam ini akan menjalani pertarungan besar, Sabit Putih sedang ritual ranjang dengannya,” jawab Tengkorak Ratu Maut.


“Bukankah mereka sudah lama bercerai? Kenapa masih sudi saling berbagi lagi?” tanya kakek berjubah cokelat yang bernama Tengkorak Sentuh Lenyap.


“Kau tanya saja kepada mereka,” kata Tengkorak Ratu Maut, orang yang pertama mengadakan pertemuan Keluarga Tengkorak yang membahas tentang dendam kepada Ratu Siluman.


Tengkorak Tongkat Kepang dan Tengkorak Sentuh Lenyap lalu duduk di kursi gelondongan kayu pada posisi ujung.


“Tadi kami melihat rombongan pasukan pendekar sedang menuju ke mari,” ujar Tengkorak Tongkat Kepang.


“Itu adalah pasukan Ratu Siluman. Aku yang mengundangnya datang ke mari. Dendam ini harus cepat diselesaikan, jika tidak, satu demi satu anggota Keluarga Tengkorak bertumbangan,” kata Tengkorak Ratu Maut.


“Aku sudah merundingkannya dengan Tongkat Kepang. Kami sepakat bahwa tidak ada dendam yang seharusnya lahir dari kematian Tengkorak Pedang Kilat,” ujar Tengkorak Sentuh Lenyap.


“Tidak bisa!” teriak Tengkorak Ratu Maut tiba-tiba marah, sampai-sampai api yang didudukinya membesar sejenak hingga mencapai kepala. “Kalian pasti sudah dipengaruhi oleh Ratu Tengkorak yang tidak mau membalaskan dendam saudara kita.”


“Tidak, kami belum bertemu dengan Ratu Tengkorak. Keputusan kami ini berdasarkan kesaksian-kesaksian yang kami dengar langsung dari para pendekar yang menonton pertarungan tanding di Pasar Tulang,” tandas Tengkorak Tongkat Kepang.


“Ratu Siluman itu sangat berbahaya. Jika dia dibiarkan, bisa-bisa Keluarga Tengkorak akan musnah dibunuh olehnya satu demi satu. Aku sudah bertemu dengan keponakanku Tengkorak Langkah Api. Aku sangat terkejut, dia pun begitu takut berurusan dengan Ratu Siluman, hanya karena anaknya yang bernama Tengkorak Api dibuat sekarat oleh Ratu Siluman. Ketika aku mengirim telepati kepada Pedang Siluman, ternyata dia pun sudah takluk oleh Ratu Siluman,” kata Tengkorak Ratu Maut bernada kesal.


“Rupanya kalian sudah datang lebih dulu,” ucap seorang kakek tiba-tiba sudah berdiri di salah satu kursi kayu. Dia mengenakan pakaian hitam bersabuk putih. Rambut keritingnya yang putih diikat sederhana. Ada dua seruling, putih dan biru gelap, terselip di perutnya. Dia adalah Tengkorak Pengendali Sukma.

__ADS_1


“Kau pasti hanya akan menjadi penonton nantinya,” kata Tengkorak Ratu Maut sudah bernada sinis.


“Apa boleh dikata, Maut. Hehehe!” kata Tengkorak Pengendali Sukma lalu terkekeh. Dia memang berpaham netral dalam kasus dendam terhadap Ratu Siluman. “Bagaimana dengan kalian berdua?”


“Kami berdua sepakat bahwa tidak ada dendam atas kematian Pedang Kilat,” jawab Tengkorak Sentuh Lenyap.


Wusss!


Tiba-tiba angin bertiup kencang pada waktu magrib itu. Debu dan sampah dedaunan -saat itu belum ada sampah plastik dan pampers atau pembalut- berterbangan. Api yang diduduki Tengkorak Ratu Maut bahkan berkibar nyaris padam.


Kediaman Tengkorak Sabit Putih pun dibuat berderit karena embusan angin yang kencang. Suara nyanyian dedaunan pohon terdengar mendominasi.


Namun, kegaduhan alam itu tidak berlangsung lama, ia reda dengan sendirinya seiring seekor burung besar berwarna putih mendarat di depan para orang tua itu. Oh ternyata bukan burung, tetapi lelaki tua yang punya burung. Burungnya burung sungguhan berwarna putih bersih yang bertengger lekat di bahu kanannya. Burung itu memiliki jambul yang cukup lebat. Ia burung jenis kakatua putih.


Kakek berambut putih yang digelung dan diikat dengan pita merah terang itu, merupakan salah satu anggota senior Keluarga Tengkorak yang bernama Tengkorak Burung Putih, kakak dari Tengkorak Sabit Putih.


“Jangan katakan bahwa kau juga tidak menaruh dendam kepada Ratu Siluman, Burung!” bentak Tengkorak Ratu Maut langsung kepada Tengkorak Burung Putih.


“Aku kesal dengan mereka bertiga yang beranggapan bahwa tidak ada dendam yang harus lahir dari kematian Pedang Kilat,” rutuk Tengkorak Ratu Maut.


“Hah! Biarkan saja mereka yang memiliki hati-hati lembut seperti itu,” kata Tengkorak Burung Putih lebih santai. Gayanya seperti Tengkorak Pengendali Sukma. “Jika mereka memang tidak mau turun tangan maut kepada Ratu Siluman, biar kita saja. Melawan dua dari kita saja, mungkin dalam sepuluh hitungan Ratu Siluman akan mati. Hahaha!”


“Pasti mati, pasti mati!” ucap si burung kakatua tiba-tiba berbicara sambil tengok kanan dan tengok kiri.


“Jangan kau remehkan anak itu. Pedang Siluman bahkan sudah merasakan kesaktiannya. Namun, Siluman Pedang mengatakan, kita tidak akan dibunuh oleh bocah itu. Sombongnya selangit!” kata Tengkorak Ratu Maut begitu gusar.


“Sombongnya selangit, sombongnya selangit!” kata si burung kakatua itu lagi.


“Wah wah wah! Benar-benar keterlaluan sombongnya Ratu Siluman itu,” kata Tengkorak Burung Putih sambil duduk di kursi kayu. “Tapi kenapa dia tidak mau membunuh kita? Apakah karena dia memang tidak bisa membunuh kita? Hahaha!”


“Bunuh kita, bunuh kita!” sahut si burung lagi.


“Diam kau, Bocor!” hardik Tengkorak Burung Putih pelan.

__ADS_1


“Diam, diam kau, Bocor!” ucap ulang si burung putih sambil manggut-manggut tidak mau mati.


“Menurut Pedang Siluman, Ratu Siluman telah berjanji kepada Raja Tanpa Gerak untuk tidak membunuh anggota Keluarga Tengkorak, kecuali satu, yaitu Sabit Putih,” kata Tengkorak Ratu Maut.


“Kenapa bisa seperti itu? Jika dia membunuh adikku, maka dia pun harus bisa membunuhku jika tidak mau mati di tanganku,” kata Tengkorak Burung Putih, lalu menanyai burungnya, “Bukan begitu, Bocor?”


“Diam, diam kau, Bocor!” jawab Bocor.


“Dasar burung!” rutuk Tengkorak Burung Putih sambil menyentil ujung jambul Bocor.


“Aku memang burung, kau burung-burungan!” balas Bocor.


“Hahaha!” tawa Tengkorak Sentuh Lenyap dan Tengkorak Pengendali Sukma.


“Mana adikku itu?” tanya Tengkorak Burung Putih.


“Di dalam, sedang ritual ranjang, persiapan menghadapi Ratu Siluman,” jawab Tengkorak Ratu Maut agak ketus.


“Kenapa nadamu seperti itu, Maut? Apakah kau ingin ritual ranjang juga sebagai persiapan menghadapi bocah itu? Kau bisa mengajak Pengendali Sukma. Hahahak!” tanya Tengkorak Burung Putih berseloroh.


“Hahaha!” tawa Tengkorak Pengendali Sukma pula.


“Jaga bicaramu, Burung!” hardik Tengkorak Ratu Maut.


“Hahaha!” Tengkorak Burung Putih malah tertawa. “Tidak aku sangka, adikku pun merasa gentar melawan Ratu Siluman yang baru kemarin lepas dari menyusu, sampai-sampai harus ritual ranjang segala.”


“Aku tidak gentar!” teriak keras satu suara tua lelaki tiba-tiba dari arah rumah.


Mereka semua segera alihkan pandangan ke arah rumah yang menyatu dengan tebing batu. Mereka melihat sosok kakek gagah yang berpakaian serba putih. Rambut putihnya yang panjang dikepang seperti rambut Tengkorak Tongkat Kepang. Alisnya juga putih panjang, kumis putihnya panjang, dan jenggotnya panjang sedada. Alis, kumis dan jenggotnya masih menyisakan bulir air sisa dari mandi janabah. Ialah Tengkorak Sabit Putih yang marah disebut gentar melawan Ratu Siluman.


Di belakang Tengkorak Sabit Putih berjalan seorang nenek pesolek yang wajah keriputnya ditutupi oleh bedak tebal dan gincu tebal warna hijau. Ia mengenakakan pakaian ala anak muda berwarna kuning. Di pinggang kanan dan kirinya menggantung dua untai rantai pendek, tapi berwarna putih. Si nenek itu adalah Tengkorak Manis Putih, mantan istri Tengkorak Sabit Putih.


“Aura Bola Hitam sudah terasa!” seru Tengkorak Burung Putih yang membuat semuanya hening untuk merasakan apa yang dirasakan oleh kakek pemilik burung itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2