Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 20: Bergabung dengan Pengungsi


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


“Siapa kalian?” tanya Kembang Bulan setelah buru-buru melangkah mundur menjauhi Gagap Ayu.


Bagaimana tidak takut jika menyaksikan Mbah Hitam yang berwujud ular besar, dengan ganas memangsa lelaki tadi? Ditambah kemunculan wanita aneh yang senang tertawa dengan dua giginya yang ompong di depan atas, muncul bersama teman-temannya yang rada-rada aneh. Mereka seolah tidak terganggu dengan aksi ular besar yang menyeramkan.


Kini Mbah Hitam sedang tergeletak kekenyangan dengan badan bagian tengan membesar seperti sedang hamil sebelas bulan.


“Tenang tenang tenang, Gadis Impian!” kata Juling Jitu sambil datang cepat ke depan Kembang Bulan melewati posisi Gagap Ayu, yang baru saja membebaskan gadis itu. Ia berusaha menenangkan Kembang Bulan.


Melihat mata Juling Jitu yang juling, Kembang Bulan jadi curiga dan buru-buru mundur menjauh lagi.


“Kau pasti orang jahat! Jangan mendekat atau aku tikam!” seru Kembang Bulan yang mencabut perhiasan tusuk rambutnya.


“Dari mana kau tahu aku orang jahat? Kami justru menyelamatkanmu dari lelaki tadi,” kata Juling Jitu.


“Matamu menunjukkan kau penganut ilmu hitam!” tukas Kembang Bulan.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara dan rekan-rekannya mendengar fitnah Kembang Bulan.


“Hahahak! Minggir kalian! Biarkan Ibu Dewi Laut yang menenangkannya!” kata Anjengan sambil menarik bahu Juling Jitu ke belakang.


Juling Jitu pun memberi ruang bagi Anjengan. Ia mundur bersama Gagap Ayu.


“Wahai, Gadis Cantik!” sebut Anjengan. “Aku adalah Dewi Laut ….”


“Jangan coba-coba menyentuhku, Bajak Laut Keparat!” kecam Kembang Bulan.


“Oh, bukaaan. Kami bukan bajak laut. Tenang, Gadis Cantik,” ralat Anjengan sambil tersenyum agar Kembang Bulan merasa nyaman. “Ayo ikut kami. Jika berlama-lama di sini, nanti Bajak Laut akan segera datang ke sini.”


“Benarkah kalian orang baik?” tanya Kembang Bulan ragu.


“Pasti. Kami adalah para pejuang cinta dan kedamaian, pemberantas duri-duri kehidupan. Hahaha!” kata Anjengan lalu tertawa jumawa seperti seorang super hero.


“Tapi, ular itu ….”


“Oh yang itu. Dia memang menyeramkan. Namanya Mbah Hitam, pengawal Ratu Ompong. Hahaha!” jelas Anjengan.


Tak!


Tiba-tiba ada kekuatan yang mendorong belakang kepala Anjengan, sampai-sampai dia terdorong nyaris menabrak Kembang Bulan yang juga refleks mundur. Anjengan buru-buru menengok melihat kepada Alma.


“Kakak sebut aku apa? Ratu Ompong?” hardik Alma.


“Hehehe! Tidak, Ratu Siluman Ikan,” ucap Anjengan didahului dengan tawa cengengesan.


“Ayo kita pergi. Lebih baik kita bergabung dengan para pengungsi. Biarkan saja dia, jangan paksa mau ikut atau tidak,” kata Alma. Ia lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Gagap Ayu segera mengikuti Alma Fatara.


“Terserah kau, mau ikut atau tidak,” ujar Anjengan kepada Kembang Bulan. Ia pun berbalik menyusul rekan-rekannya.


Kembang Bulan berdiam diri senjenak untuk berpikir. Ia memandang kepada Mbah Hitam yang diam di tanah bersama kegelapan. Terlihat jelas bahwa Mbah Hitam menatapnya. Hal itu membuat Kembang Bulan buru-buru berlari menyusul Alma dkk.


“Siapa kalian, kenapa kalian berkeliaran di sekitar Ibu Kota Balongan malam-malam seperti ini?” tanya Kembang Bulan dari belakang.


“Seperti ini, Sayang,” kata Iwak Ngasin bermaksud menjelaskan.


“Dasar ma-ma-mata lalat! Ja-ja-jatah kalian su-su-sudah selesai. Gi-gi-gi ….”


“Gigimu?” terka Juling Jitu memotong perkataan Gagap Ayu.


“Hahaha!” tawa Alma.


“Gi-gi-giliran Alma yang bi-bi-bicara!” sentak Gagap Ayu.


“Aku Alma Fatara ….”


“Alma? Gadis cantik yang disukai oleh kedua kakakku?” terka Kembang Bulan memotong cepat perkataan Alma.


Hal itu seketika membuat Alma Fatara berhenti dan menengok kepada Kembang Bulan. Keempat sahabat Alma juga jadi melebarkan mata.


“Kakak adik menyukai Alma?” ucap ulang Anjengan terkejut.


“Maksudmu, kau putri Adipati Marak Wijaya?” tanya Alma.


“Bukan, aku putri Adipati Adya Bangira,” jawab Kembang Bulan.


“Bukankah Adya Bangira adalah Bendahara Kadipaten?” kata Alma.


“Setelah kejadian pertandingan panah, Adipati Marak Wijaya dihukum oleh Kerajaan. Ayahku yang kemudian diangkat sebagai adipati,” jelas Kembang Bulan.


“Aku sangat akrab dengan ayahmu. Bagaimana kondisinya saat ini?” tanya Alma.


“Aku tidak tahu. Selama dua hari aku bersembunyi di ruang bawah tanah. Aku tidak tahu nasib Ayah dan Ibu. Baru malam ini aku mendapat kesempatan untuk kabur,” kata gadis yang usianya sebaya dengan Alma itu.


“Siapa namamu?” tanya Alma sambil kembali berjalan.


“Kembang Bulan.”


“Nama yang indah,” ucap Iwak Ngasin dan Juling Jitu kompak.


Kali ini Kembang Bulan tersenyum mendengar komentar kedua pemuda itu.


“Apakah kau bisa menolong kami, Alma?” tanya Kembang Bulan.

__ADS_1


“Bisa!” jawab Iwak Ngasin dan Juling Jitu lagi bersamaan.


Kedua pemuda itu saling tatap dengan tidak mesra, seolah mereka dua orang pesaing yang mempertaruhkan harga diri.


“Kami harus mendapat kabar tentang kondisi di Ibu Kota, baru kami akan meyusup masuk. Jika ada sandera, kita harus membebaskan sandera dulu baru memutuskan menyerang. Tadi kami sempat bertemu dengan Bujang Atong, juragan jengkol. Dia mengatakan bahwa dia bersama dengan para pengungsi di area hulu sungai,” kata Alma. “Lalu di mana kedua kakakmu, Kembang?”


“Mengabdi di keprajuritan Kerajaan,” jawab Kembang Bulan.


“Berarti ada kemungkinan mereka akan diutus untuk menyerang ke Balongan,” duga Alma.


“Bukankah tadi kita melewati anggota bajak laut yang berjaga di jalan masuk ke Ibu Kota?” kata Anjengan.


“Benar. Kita harus tahu dulu, tidak boleh langsung main bunuh,” tandas Alma Fatara.


Sebelum bertemu dengan seorang pengungsi Ibu Kota, Alma dan para sahabatnya menemui keberadaan dua orang anggota bajak laut setelah waktu magrib, tetapi mereka memilih menghindari anggota bajak laut itu dengan mengambil jalan memutar.


“Sepertinya Bajak Laut Ombak Setan menyebar anak buahnya sampai ke luar Ibu Kota,” duga Alma.


Mereka akhirnya sampai di pinggiran sebuah sungai.


Mereka terus berjalan menyusuri pinggiran sungai melawan arah arus air.


Set set set!


Tiba-tiba Alma mendengar adanya suara lesatan benda di dalam gelap.


Tep!


Alma yang berjalan di paling depan, gesit menangkap sesuatu di dalam gelap menggunakan tangan kanannya. Tiba-tiba mereka melihat ada dua anak panah yang melayang di udara di dekat tubuh Alma. Tangan Alma sendiri memegang kuat sebatang anak panah.


“Jangan panah, kami teman!” teriak Alma, meski ia tidak melihat siapa orang yang telah memanah mereka.


Alma Fatara lalu mengambil dua anak panah lainnya. Kedua anak panah itu ditangkap oleh Benang Darah Dewa. Jika siang saja benang merah itu sulit dilihat, apa lagi jika gelap malam.


“Apakah itu kau, Alma?!” teriak seorang lelaki dengan suara berat.


Alma Fatara dan keempat sahabatnya segera mengenali suara itu, yaitu milik Bujang Atong, sang juragan jengkol yang sempat mereka temui.


“Ya, kami, Paman. Kami datang bersama putri Adipati Adya Bangira!” sahut Alma.


Dari area depan, muncul sejumlah orang yang dipimpin oleh seorang lelaki berbadan besar. Lelaki berkumis tebal itulah yang bernama Bujang Atong. Dia yang saat ini memimpin keamanan tempat persembunyian para pengungsi dari Ibu Kota. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!


__ADS_1


__ADS_2