
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Ternyata, bukan hanya Alma Fatara dan rombongannya yang hobi main hujan-hujanan. Setibanya di pusat Kadipaten Guruput, rombongan Alma Fatara melihat ada sebuah kerumunan yang tercipta di bawah guyuran hujan.
Di tengah alun-alun yang berair dan becek, warga ibu kota Kadipaten Guruput berkumpul di sekeliling sebuah panggung papan yang besar dan kokoh. Panggung itu berbentuk bidang lingkaran besar. Lantai panggung itu terbuat dari papan yang tebal dan keras.
Para warga itu berteriak-teriak ramai mengelu-elukan pendekar yang sedang berduel di atas panggung. Mereka pun mencaci maki pendekar yang mereka tidak sukai.
Banyak prajurit berseragam merah gelap menyebar sebagai keamanan. Ada yang bersenjata pedang dan ada pula yang bersenjata tombak. Mereka pun berbekal tameng.
Meski yang berkerumun menonton kebanyakan lelaki, tetapi ada juga warga perempuan yang ikut berhujan-hujanan demi bisa menyaksikan pertandingan yang berlangsung.
Saat ini, ada dua orang pendekar yang sedang bertarung di atas panggung. Keduanya bersenjata tongkat.
Petarung pertama adalah seorang muda bertubuh kekar. Ia berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala berwarna biru terang. Pemuda berhidung besar itu bernama Degan Carik, salah satu murid Perguruan Tongkat Putih. Ciri khas dari orang-orang Perguruan Tongkat Putih adalah tongkatnya yang berbahan rotan warnanya putih.
Petarung kedua adalah seorang lelaki berusia lima puluh tahun. Tubuhnya kurus dengan model pakaian lusuh dan tidak rapi. Rambut gondrongnya basah dan meriap-riap di wajahnya. Tongkatnya sederhana terbuat dari bambu, tetapi kedua ujungnya dibalut dengan lapisan bahan kulit yang keras dan kasar, seperti kulit buaya. Ia bernama Gumbara, salah satu murid dari Pengemis Tongkat Celaka.
Di sisi barat panggung ada tribun bermodel tangga yang menjadi tempat duduk para pendekar yang rata-rata memiliki tongkat. Hampir semuanya lelaki, tapi ada beberapa pendekar wanita yang juga membawa tongkat, mewakili fitra wanita yang memang suka dengan tongkat.
Jika para pendekar peserta pertandingan duduk di tangga-tangga tribun, maka para pejabat dan tokoh pendekar duduk di puncak tribun yang beratap rumbia dan warnanya menunjukkan kebaruan. Sejumlah umbul-umbul dan janur dipasang di tribun sebagai warna pemikat mata.
Di kala para pendekar dan warga hujan-hujanan, para pejabat dan tokoh pendekar cukup terlindungi dari terpaan hujan. Di sekitar mereka juga berdiri prajurit-prajurit berseragam merah gelap seperti patung.
Di puncak tribun ada beberapa lelaki berpakaian mewah yang menunjukkan level statusnya. Terlihat ada lelaki gemuk berkumis mengenakan baju kuning berbahan sutra dan berblangkon bersulam benang emas. Hiasan pada pakaian serta emas pada leher dan beberapa jari tangannya, seolah menunjukkan bahwa dia adalah sang adipati. Kadipaten Garuput ini dipimpin oleh Adipati Dodo Ladoyo, seorang pemimpin yang suka dengan dunia kependekaran.
Di sisi kanannya ada duduk dua orang gadis cantik secantik belahan telur rebus, karena mereka berdua yang berkulit putih mengenakan pakaian serba kuning tapi tidak sama.
Di sisi kiri sang adipati duduk empat orang berusia sepuh yang berpakaian pendekar. Paling muda usianya enam puluh tahun. Keempatnya memegang sebatang tongkat yang masing-masing berbeda model.
Ajang pertandingan itu seolah-olah menjadi tempat pameran tongkat. Tongkat model biasa hingga tongkat berbahan besi atau perak ada di sana.
Alma Fatara dan rombongan tidak perlu turun dari kuda untuk menyaksikan pertarungan tongkat yang sedang berlangsung di arena. Posisi mereka yang tinggi di atas kuda membuat mereka bisa melihat dengan leluasa.
Alma Fatara dan rombongan juga tidak melewatkan untuk memandang kepada para pembesar dan pendekar yang duduk di tribun kehormatan.
__ADS_1
Kehadiran rombongan Alma yang berkuda, juga menarik perhatian Adipati Dodo Ladoyo dan para pendekar.
“Jitu, lihat. Dua wanita di atas sana sangat cantik menggiurkan. Seperti hidangan telur rebus tanpa sambal,” bisik Iwak Ngasin sambil pandangannya fokus kepada dua gadis cantik di sisi kanan Adipati Dodo Ladoyo.
Juling Jitu yang duduk di belakang tubuh Iwak Ngasin, diam-diam menyusupkan tangan kanannya ke area bawah perut Iwak Ngasin.
Kuk!
Alangkah terkejutnya Iwak Ngasin ketika tahu-tahu ekor depannya diremas oleh tangan kanan Juling Jitu.
“Akk! Juling Setan!” teriak kencang Iwak Ngasin begitu terkejut dan marah.
Teriakan kencang Iwak Ngasin itu sampai menghentikan pertarungan dan kedua pendekar menengok memandang ke arah Iwak Ngasin dan Juling Jitu. Bukan hanya keduanya, Adipati, para pendekar dan para penonton juga kompak menengok melihat Iwak Ngasin.
“Hahahak! Ekor depanmu sekeras tongkat!” kata Juling Jitu yang tertawa keras di belakang Iwak Ngasin. Tangannya sudah melepaskan daging ekor depan sahabatnya.
Bdak!
“Akk!”
Saking marahnya Iwak Ngasin, dia mendorong punggungnya ke belakang sambil menghantamkan belakang kepalanya kepada dahi Juling Jitu.
“Hahaha …!” tawa para warga yang melihat pertengkaran kedua pemuda satu kuda itu.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekan tanpa tahu sebab pemicu kejadian itu.
Sementara itu, pertarungan di atas panggung kembali berlanjut.
“Hahahak!” Juling Jitu tetap tertawa sambil buru-buru bangun dalam kondisi pakaian dan tubuh yang kotor.
“Kalau kau melakukannya lagi, aku benar-benar akan membunuhmu, Juling Setan!” ancam Iwak Ngasin yang benar-benar marah.
Namun, tetap saja Juling Jitu tertawa menertawakan Iwak Ngasin.
Alma Fatara tidak mengindahkan pertengkaran itu. Dia memilih meninggalkan tempat itu setelah melihat suasana arena pertandingan.
Melihat Alma Fatara pergi, Cucum Mili dan yang lainnya mengikuti. Iwak Ngasin meninggalkan Juling Jitu yang segera berlari mengikuti rombongan.
__ADS_1
Ternyata Alma pergi ke sebuah kedai makan yang berada tidak jauh di pinggiran alun-alun. Kedai makan cukup besar itu menghadap ke arah alun-alun. Namun, kontras dengan suasana di alun-alun, kondisi kedai makan itu kosong pelanggan.
Alma Fatara turun dari kudanya dan memberikan talinya kepada Mbah Hitam.
“Alma! Alma!” panggil Juling Jitu yang datang berlari seraya tersenyum-senyum.
“Kenapa, Jitu?” tanya Alma yang harus berhenti menuju ke pintu kedai makan.
“Gawat. Iwak Ngasin harus segera dikawinkan dengan siapa pun. Tadi aku memegang buntut depannya saat dia melihat dua gadis cantik di atas tadi, ternyata buntut depannya mengeras!” kata Juling Jitu berapi-api.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma seorang diri.
“Ini masalah serius, Alma. Kau jangan tertawa terus,” kata Juling Jitu.
“Lalu kau punya usulan apa? Hahaha!” tanya Alma sambil masih tertawa rendah.
“Jika setiap melihat perempuan dia sudah seperti itu, kasihan Iwak. Aku yakin, jika dia sudah tahu rasanya isi pakaian dalam, dia pasti akan berhenti jelalatan setiap kali melihat perempuan baru,” ujar Juling Jitu.
“Jadi, Iwak harus segera kita kawinkan dengan siapa saja, asal nama makhluknya perempuan?” tanya Alma lagi.
“Benar, tapi jangan dengan Kembang Bulan. Bisa juga dengan yang pesek itu atau yang satunya,” kata Juling Jitu merujuk kepada Penombak Manis dan Alis Gaib.
“Baik, aku akan pertimbangkan, tapi aku sudah menjanjikannya seorang dedemit wanita,” kata Alma. Ia lalu melangkah menuju pintu kedai makan.
“Juling Setan!” teriak Iwak Ngasin dari belakang Juling Jitu.
Juling Jitu cepat menengok kepada Iwak Ngasin yang baru selesai menambatkan kudanya.
Plock!
“Hahaha …!” tawa Iwak Ngasin dan lainnya melihat wajah Juling Jitu yang terkena lemparan gumpalan lumpur.
“Itu hukuman atas perbuatan cabulmu!” desis Iwak Ngasin sambil lewat di dekat Juling Jitu yang sempat terpaku.
Anjengan, Gagap Ayu, Kembang Bulan, dan tiga anggota baru hanya tertawa sambil melewati Juling Jitu.
Hanya bisa memendam rasa dongkol, Juling Jitu segera membersihkan wajahnya dari rumput. Ia pun harus membersihkan sepasang matanya yang perih dengan air gentong yang penuh oleh air hujan.
__ADS_1
Alma Fatara dan rombongannya memasuki kedai makan dengan kondisi basah-basahan. Air menetes banyak dari rambut dan pakaian mereka, membuat lantai kedai yang kering jadi basah. Namun, mereka tidak peduli.
Para pelayan yang menyambut pun tidak berani menegur karena pelanggannya adalah para pendekar. (RH)