Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 1: Keluarga Tengkorak


__ADS_3

*Dendam Keluaga Tengkorak (DEKET)*


 


Bukit Tengkorak berubah menjadi bukit berapi dengan kobaran api yang besar di puncaknya pada malam itu. Namun, tidak seperti gunung berapi yang apinya berasal dari perut gunung, tetapi api Bukit Tengkorak ini diciptakan oleh kesaktian penghuninya, yaitu Tengkorak Ratu Maut.


Tokoh sakti tua ini adalah seorang wanita tua berjubah hitam model robek-robek, sehingga terlihat seperti jubah rombeng yang termakan oleh usia dan angin. Wajahnya memiliki keriput yang parah, terlihat menyeramkan, terutama di kala remang-remang. Ketuaannya membuatnya harus bertongkat. Sebagai seorang pendekar sakti, tentunya tongkat pun bukan sembarang tongkat. Tongkat dari kayu berat yang berwarna merah gelap. Pada bagian kepalanya diukir seperti tengkorak kepala kerbau yang bertanduk lancip.


Di dalam lingkaran api besar itu ada ruang kosong berupa tanah lapang, tapi tepat di tengah-tengah ada api unggun besar dan tinggi yang membakar sebatang tiang besi. Pada puncak tiang besi itu ada tertancap lima tumpuk tengkorak manusia yang sudah membara karena terus terbakar selama beberapa jam.


Di sekeliling api unggun, sangat dekat dengan lidah-lidah api yang berkobar, telah berdiri lima orang tua yang selevel. Salah satunya adalah Tengkorak Ratu Maut. Keempat orang lainnya adalah dua orang nenek dan dua orang kakek. Sedikit pun mereka tidak takut jika lidah api atau rasa panas itu membakar mereka.


Nenek pertama selain Tengkorak Ratu Maut adalah nenek berpakaian serba putih. Dia sudah bungkuk dan bertongkat pendek hanya setinggi pinggang. Tongkat itu bukan tongkat sakti, hanya alat bantu untuk berjalan. Gumpalan rambut putihnya dia sembunyikan dalam balutan kain warna hijau terang. Ia mengenakan kalung seperti tasbih hitam, tetapi memiliki bandulan miniatur tengkorak kepala manusia warna hitam. Posisi tubuhnya yang bungkuk membuat kalungnya menjuntai berayun-ayun ria. Dia bernama Ratu Tengkorak, ibu dari Putri Tengkorak yang pernah disebut oleh Raja Tanpa Gerak.


Nenek kedua bertubuh gemuk dengan badan yang tegak, tanpa bantuan tongkat. Namun, di punggungnya ada dua pedang pusaka. Nenek berpakaian warna abu-abu ini bernama Tengkorak Pedang Siluman. Dia adalah kakak dari Tengkorak Pedang Kilat yang tewas di tangan Alma Fatara.


Adapun kakek pertama bertubuh besar dengan bahu yang lebar. Rambut putihnya gondrong dikepang, alis putihnya panjang, kumisnya panjang dan jenggotnya lebat sedada. Di pinggang belakangnya ada dua sabit berwarna putih yang saling menyilang. Dialah yang bernama Tengkorak Sabit Putih, orang yang pernah disebut namanya oleh Raja Tanpa Gerak.


Kakek kedua bertubuh agak pendek. Rambut putih keritingnya diikat sederhana di belakang. Ia mengenakan baju hitam dengan sabuk putih yang terang. Ada dua batang seruling yang terselip di perutnya, satu berwarna putih terbuat dari tulang dan yang lainnya berwarna biru gelap berhias benang emas. Dia tidak berkumis ataupun berjenggot. Dia bernama Tengkorak Pengendali Sukma.


Kelima orang tua itu adalah sebagian dari Anggota Keluarga Tengkorak yang senior. Sebenarnya ada sepuluh orang yang Tengkorak Ratu Maut undang ke kediamannya, tetapi faktor jarak dan waktu yang mendesak membuat yang hadir hanyalah empat orang.


Setelah mendapat kabar tentang kematian saudara mereka, yakni Tengkorak Pedang Kilat, Tengkorak Ratu Maut langsung mengirimkan undangan kepada anggota senior Keluarga Tengkorak.


Kobaran api yang dinyalakan mengelilingi puncak Bukit Tengkorak adalah simbol dari kemarahan Keluarga Tengkorak. Kemarahan itu juga tergambar dari wajah beberapa dari mereka yang hadir. Wajah Tengkorak Ratu Maut, Tengkorak Pedang Siluman dan Tengkorak Sabit Putih menunjukkan kemarahan yang tertahan. Sementara Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pengendali Sukma menunjukkan wajah yang lebih tenang dalam menghadapi pertemuan mendesak itu.

__ADS_1


“Kematian adikku Tengkorak Pedang Kilat harus disikapi dengan serius. Rasa dendam harus dimiliki oleh setiap Anggota Keluarga Tengkorak sebagai wujud bahwa Keluarga Tengkorak kuat karena persatuan!” kata Tengkorak Pedang Siluman berapi-api.


“Siapa pun itu pembunuh Pedang Kilat, apakah dia Ratu Siluman pemilik Bola Hitam atau Ratu Setan penguasa dunia, harus membayar kematian saudara kita dengan kematiannya!” tandas Tengkorak Ratu Maut.


“Benar, kita juga harus mengerahkan yang muda-muda, karena aku dengar Ratu Siluman ini memiliki pasukan,” timpal Tengkorak Sabit Putih.


“Aku berbeda pandangan, saudara-saudaraku. Berita yang aku dapat dari saksi pertarungan itu, Tengkorak Pedang Kilat mati di dalam kebanggaan. Yang artinya dia mati tanpa membawa penyesalan, apalagi dendam,” kata Ratu Tengkorak.


Perkataan Ratu Tengkorak membuat ketiga saudaranya yang telah berbicara lebih dulu, memandangnya dengan tatapan tidak suka.


“Apa maksudmu, Ratu Tengkorak? Apa kau ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu membalaskan kematian Pedang Kilat?” tanya Tengkorak Sabit Putih.


“Pemikiran macam apa itu?” celetuk Tengkorak Pedang Siluman sinis. “Jika Putri Tengkorak mati dibunuh orang, apakah ada istilah mati dalam kebanggaan?”


“Tidak bisa seperti itu!” sanggah Tengkorak Sabit Putih. “Harga diri Keluarga Tengkorak akan kita pertaruhkan, jika Ratu Siluman itu masih bisa dengan bebas berjalan pongah di muka bumi ini. Kita akan ditertawakan, jika Anggota Keluarga Tengkorak bertemu dengan Ratu Siluman, tetapi justru saling beramah tamah.”


“Kalian harus tahu, bahwa Ratu Siluman itu adalah seorang gadis yang masih belia,” kata Ratu Tengkorak.


“Apa?!” kejut ketiga orang tua yang setuju membalas dendam kematian Tengkorak Pedang Kilat.


Memang, Tengkorak Ratu Maut hanya mendapat kabar bahwa pembunuh Tengkorak Pedang Kilat bernama Ratu Siluman. Sebagai orang yang bergelar “Ratu” tentunya Ratu Siluman bukanlah seorang yang muda, itu pemikirannya.


“Dan Pedang Kilat mati bukan dengan Bola Hitam yang ingin direbutnya,” kata Ratu Tengkorak yang rupanya memiliki informasi yang lebih lengkap dibandingkan saudara-saudaranya. “Secara akal, jika Ratu Siluman bisa membunuh Pedang Kilat, itu artinya dia pun mungkin saja bisa membunuh kita, apalagi jika dia menggunakan Bola Hitam warisan Raja Tanpa Tahta itu.”


“Sejak kapan Ratu Tengkorak jadi penakut seperti ini?” tanya Tengkorak Pedang Siluman dengan ekspresi mengejek.

__ADS_1


“Kita sudah sama-sama tua. Puluhan tahun hidup sudah kita jalani. Jika sampai setua ini kita masih tidak bisa bijak mengendalikan kemarahan, apa bedanya masa tua dengan masa muda,” kata Ratu Tengkorak.


“Simpan saja petuah ambarmu itu, Ratu Tengkorak. Aku memanggil kalian ke sini untuk menyepakati pembalasan dendam Pedang Kilat. Jika kau tidak mau turun tangan membela kehormatan Keluarga Tengkorak, ya sudah. Itu akan menjadi bukti seberapa besar keloyalanmu terhadap Keluarga Tengkorak. Bahkan dengan kami bertiga, itu sudah lebih dari cukup untuk bisa membunuh Ratu Siluman,” kata Tengkorak Ratu Maut.


“Baiklah, aku tetap pada pendirianku. Maut yang menimpa Tengkorak Pedang Kilat aku nilai bukanlah pembunuhan, tetapi sekedar risiko dari sebuah pertarungan yang adil. Terlebih posisi Pedang Kilat adalah pihak yang ingin merebut Bola Hitam, bukan pemilik Bola Hitam,” tandas Ratu Tengkorak.


“Aku akan mengadukan dendam ini kepada Eyang Kubur Biru, agar penuntutan balas itu menjadi kewajiban semua Anggota Keluarga Tengkorak!” tandas Tengkorak Pedang Siluman.


“Bagaimana denganmu, Pengendali Sukma?” tanya Tengkorak Ratu Maut.


“Aku memilih tengah-tengah. Aku tidak menyalahkan sikap Ratu Tengkorak dan tidak menyalahkan dendam kalian. Aku pun mendukung jika permasalahan ini mau diadukan kepada Eyang Kubur Biru. Namun aku sarankan, tahan dulu untuk melaporkan kepada Eyang Kubur selagi kalian belum beradu sakti dengan Ratu Siluman, karena tidak ada orang sakti yang berani berurusan dengan Keluarga Tengkorak jika bersatu,” kata Tengkorak Pengendali Sukma.


“Baiklah, jangan dulu kita adukan perkara ini kepada Eyang Kubur Biru. Namun, sampaikan dendam kita kepada Anggota Keluarga Tengkorak yang muda-muda,” tandas Tengkorak Ratu Maut.


“Kita harus hancurkan Ratu Siluman dan seluruh orang-orangnya!” desis Tengkorak Pedang Siluman.


“Jangan sampai ambisimu yang berlebihan itu justru akan mencelakakanmu sendiri, Saudaraku,” kata Ratu Tengkorak menasihati Tengkorak Pedang Siluman.


“Mulai sekarang, aku tidak akan mendengarkan kata-katamu, Ratu Tengkorak!” tegas Tengkorak Pedang Siluman marah.


“Jika demikian, sudah waktunya aku pamit diri,” ucap Ratu Tengkorak.


Clap!


Tanpa menunggu tanggapan, tiba-tiba Ratu Tengkorak telah menghilang begitu saja, seperti dihapus dari kehidupan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2