
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Bukan hanya Tengkorak Api anggota muda dari Keluarga Tengkorak yang memiliki paras rupawan, tetapi ada dua lainnya, yaitu Tengkorak Telur Bebek dan Tengkorak Bayang Putih.
Tengkorak Telur Bebek adalah seorang pemuda tampan berambut ikal bertubuh agak pendek. Dia berjubah warna putih. Sebuah keranjang bambu bertali panjang menyelempang di badannya. Keranjang itu berisi tumpukan telur berwarna biru muda semuda yang punya.
Pemuda ganteng satunya juga berpakaian serba putih dengan rambut model botum. Kegantengannya terlihat jelas pada matanya yang tajam dengan alis hitam lebat dan panjang seperti bentangan sayap burung elang. Ia berbekal dua toya warna putih di kedua pinggangnya.
Mereka berdua satu paket dalam julukan Dua Tengkorak Putih.
Sepertinya Keluarga Tengkorak adalah keluarga yang memiliki nasab dan gen orang ganteng, yang kegantengan itu hanya luntur oleh ketuaan.
Keduanya sedang berjalan di sekitar pasar pagi Kademangan Nuging Muko saat ada kegaduhan dan keramaian di depan penginapan mahal Lenguh Bengi.
“Ayo kita lihat, siapa yang buat rusuh pagi-pagi di pasar Kademangan!” ajak Tengkorak Bayang Putih.
“Biasanya sih anak orang kaya yang tidak bayar sumur,” celetuk Tengkorak Telur Bebek, yang artinya sudah sering ada keributan di depan penginapan yang berada di pinggir pasar pagi.
Keduanya berjalan lebih mendekat kepada pusat keributan, di mana terdengar suara wanita tua menjerit-jerit.
“Itu Pasukan Pedang Biru piaraan Bandar Bumi,” kata Tengkorak Telur Bebek saat melihat keberadaan para lelaki bertopeng kain biru dan bersenjata pedang.
“Itu si Golono atau si Lolongo pecundang,” kata Tengkorak Bayang Putih, saat dia melihat seorang pemuda yang hanya bersarung sedang dipukuli dengan terong oleh seorang nenek pedagang sayur.
“Hahaha! Memalukan!” desis Tengkorak Telur Bebek. “Eh, jika ingin dapat uang banyak, bantu si anak demang itu.”
“Ayo!” ajak Tengkorak Bayang Putih semangat.
Ketika para lelaki bertopeng kain biru gelap itu hendak membawa pergi Lolongo yang hanya bersarung, tiba-tiba Tengkorak Telur Bebek berteriak lantang.
“Berhenti! Lepaskan Putra Demang Mahasugi itu!”
Semua anggota kelompok yang disebut bernama Pasukan Pedang Biru itu segera menengok dan melihat kedatangan kedua pemuda tampan tersebut. Warga pasar pun memandang kepada kedua Tengkorak muda.
“Sialan! Dua Tengkorak Putih!” rutuk Ketua Pasukan Pedang Biru yang memiliki sepasang alis merah yang terang. Dia dikenal sebagai Alis Darah oleh kelompoknya.
“Tolong selamatkan aku! Aku akan bayar mahal kepada kalian jika bisa menyelamatkanku!” teriak Lolongo sambil mengerenyit menahan sakit pada betisnya.
“Lepaskan saja, atau kalian bermasalah!” seru Tengkorak Telur Bebek yang sudah memegang telur pada kedua tangannya.
“Serang!” teriak Alis Darah memberi perintah kepada anak buahnya.
Set set! Cplok cplok!
“Aak! Akk!”
Sebelum orang-orang bertopeng itu menyerang kedua pemuda tersebut, Tengkorak Telur Bebek lebih dulu melemparkan kedua telur di tangannya. Lemparannya sangat cepat, lebih cepat dari pelempar bola baseball.
Kedua telur itu tidak bisa dihindari oleh kedua lelaki yang memegangi dan menyeret Lolongo. Telur mendarat tepat di mata mereka, membuat kedua lelaki bertopeng itu menjerit. Jika hanya telur bebek biasa, mungkin hanya menderita bau amis, tetapi telur bebek Tengkorak Telur Bebek adalah telur yang sudah didukuni. Sifatnya seperti air keras, membakar kulit. Terlebih jika mengenai bola mata.
Tengkorak Bayang Putih berkelebat cepat menerjang Alis Darah yang langsung menyambut dengan tebasan pedang. Namun, dengan lihainya Tengkorak Bayang Putih menarik kakinya menghindari tebasan pedang dan ganti menghentakkan tangan kirinya.
__ADS_1
Pak!
Alis Darah mengadu telapak tangan kirinya pula daripada harus terkena serangan. Alis Darah langsung terjajar lima tindak dan nyaris jatuh terjengkang. Sementara Tengkorak Bayang Putih terlempar mundur di udara, tapi mendarat dengan kokoh.
Sementara, Lolongo cepat berlari menjauh dengan menyeret kakinya yang terluka.
Buk!
Namun, satu lelaki bertopeng lainnya datang mengejar dan menendangnya. Lolongo tersungkur keras.
Di sisi lain, Tengkorak Telur Bebek sawer telur dengan cara melesatkannya ke berbagai arah. Gerakan tangannya begitu cepat dalam mengambil telur di keranjang.
Cplok cplok cplok …!
“Aak! Akk! Akk …!” jerit para lelaki bertopeng karena terkena telur bebek yang melesat cepat menghantam mata mereka.
Tengkorak Telur Bebek memang pelempar yang sangat jitu.
“Hahahak …!” tawa terbahak Tengkorak Telur Bebek melihat lawan-lawannya yang berjeritan sambil membekapi matanya.
Hingga akhirnya, tinggallah enam lelaki bertopeng yang belum mendapat jatah telur. Mereka menahan diri sambil waspada jika-jika dilempar telur.
Tengkorak Telur Bebek pun berhenti melempar karena serangan kepadanya terhenti. Ia kini dalam posisi dikepung, tapi keenam lelaki berpedang itu ragu untuk menyerang langsung. Masing-masing tangan Tengkorak Telur Bebek memegang dua butir telur.
“Ayo maju!” tantang Tengkorak Telur Bebek kepada pengepungnya.
Satu orang tiba-tiba bergerak hendak menyerang.
Cplok!
Kelima lelaki bertopeng lainnya jadi kian gentar. Kondisi itu membuat Tengkorak Telur Bebek tertawa-tawa senang mempermainkan jantung orang.
“Hea!” pekik Tengkorak Telur Bebek sambil melemparkan tangan kanannya, tapi tidak melempar telur, hanya bergaya.
Lelaki bertopeng yang hendak dilempar cepat memasang tangannya di depan mata sebagai tameng, tetapi tidak ada telur yang mengenainya.
“Hahaha!” tawa Tengkorak Telur Bebek. Lalu teriaknya tiba-tiba, “Kena!”
Cplok!
“Akk!” jerit lelaki yang ditimpuk, matanya tidak kena telur karena ditamengi oleh telapak tangan. Namun, tetap saja dia menjerit karena pecahan telur bebek itu membakar kulit tangannya.
Cplok!
“Aaak!” lelaki itu kian menjerit ketika telur kedua menimpuk sepasang matanya.
Set!
Tiba-tiba satu lelaki bertopeng melesatkan pedangnya kepada Tengkorak Telur Bebek. Pemuda berjubah putih itu cepat menggeser tubuhnya menghindari pedang yang melesat. Pada momentum itu, ketiga lelaki berpedang lainnya serentak maju menyerang Tengkorak Telur Bebek.
Ternyata, disamping pandai melempar telur, Tengkorak Telur Bebek juga pandai berkelit. Gesit dirinya meliuk ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang.
Cplok cplok cplok …!
__ADS_1
“Aaak! Akk! Akk!” Keempat lelaki bertopeng yang tersisa pada akhirnya masing-masing mendapat satu hantaman telur bebek dari lemparan jarak dekat.
“Hahahak …!” tawa Tengkorak Telur Bebek.
Sementara itu, Tengkorak Bayang Putih bertarung sengit melawan Alis Darah. Warga pasar buru-buru memindahkan barang dagangannya menjauhi titik pertarungan. Para prajurit Kademangan yang hadir di tempat itu hanya jadi penonton yang baik. Sebagai prajurit, mereka memilih tidak mau ikut campur urusan para pendekar, karena berisiko bertaruh nyawa.
Ting ting ting …!
Alis Darah mengamuk dengan serangan pedang yang terlihat seolah banyak dalam menyerang Tengkorak Bayang Putih. Namun, serangan pedang yang terlihat banyak itu, ditangkisi oleh kedua toya putih Tengkorak Bayang Putih.
Meski Alis Darah menggunakan satu pedang, tetapi Tengkorak Bayang Putih merasakan memang ada lebih dari satu pedang yang menyerangnya.
Alis Darah terlihat kerutkan alis karena tidak kunjung berhasil menyarangkan pedangnya.
“Hiaaat!” teriak Alis Darah dengan tubuh berputar deras seperti yoyo, posisi pedang membacok keras.
Tak! Bduk!
Tengkorak Bayang Putih menangkis pedang itu dengan silangan toya di atas. Kerasnya tenaga sakti dalam pedang itu membuat Tengkorak Bayang Putih jatuh terlutut satu kaki, hingga tanah tertekan.
Set! Set!
Tiba-tiba ada sosok Tengkorak Telur Bebek berkelebat melintas sambil melesatkan sebutir telur kepada Alis Darah. Dengan cekatan Alis Darah menebaskan pedangnya membelah telur itu di tengah lesatannya.
Duk duk duk …!
Momentum itu cepat dimanfaatkan oleh Tengkorak Bayang Putih menusukkan ujung toyanya ke perut Alis Darah secara beruntun.
Set!
Ketika Alis Darah menyabetkan pedangnya, pemuda berambut botak itu cepat berguling menghindar.
Tiba-tiba dari arah belakang Alis Darah, sosok Tangkorak Telur Bebek melompat bersalto.
Set! Cplok!
“Aaak!” jerit Alis Darah saat matanya tahu-tahu terkena hantaman telur bebek. Rasa perih dan panas langsung menyerang matanya. Seketika itu dia tidak bisa melihat.
Dak!
“Akk!” jerit Alis Darah lagi saat merasakan satu hantaman keras pada batok kepalanya.
Serasa pecah kepalanya. Ia pun tumbang dalam kondisi mengerang sangat kesakitan.
Satu orang bertopeng yang menyandera Lolongo jadi ketakutan ketika sadar bahwa tinggal dia sendiri yang bertahan. Buru-buru dia berlari melepaskan Lolongo.
Cplok!
Satu telur bebek dilempar oleh Tengkorak Telur Bebek yang menghantam belakang kepala lelaki bertopeng itu, membuatnya terdorong dan jatuh tersungkur. Namun, dia tidak menjerit. Buru-buru dia bangun kembali sambil menengok sekali ke belakang.
“Hahaha!” tawa Dua Tengkorak Putih dengan tetap membiarkan lelaki bertopeng kain itu pergi, meninggalkan rekan-rekannya yang bergelimpangan menahan sakit pada matanya yang tidak bisa melihat.
Tengkorak Bayang Putih lalu mengurus luka Lolongo dan membantunya berjalan. (RH)
__ADS_1