Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 2: Wulan Kencana


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Setelah menyelamatkan Guling Nikmat dari ancaman kematian, Silang Kanga membawa ratu masak perguruan itu untuk menemui Ketua Perguruan Bulan Emas, yaitu Wulan Kencana.


“Apa yang dikatakan oleh penyusup itu saat menyanderamu, Nikmat?” tanya Silang Kanga santai.


“Dia menanyakan tempat gurunya dipenjara. Dan menanyakan letak air terjun,” jawab Guling Nikmat dengan nada merendah sebagai hanya seorang juru masak perguruan.


Berjalan bersampingan dengan seorang Wakil Ketua adalah hal yang baru kali ini terjadi bagi Guling Nikmat. Tentunya hal itu adalah peristiwa yang sangat penting dan berharga baginya.


“Akan sia-sia jika orang-orang Perguruan Jari Hitam menyerang ke sini,” kata Silang Kanga.


“Maaf, Guru. Jika boleh tahu, kenapa orang Perguruan Jari Hitam datang menyerang ke perguruan kita?” tanya Guling Nikmat, tapi bernada ragu, khawatir salah jika dia bertanya.


“Gurunya kita sandera di sini,” jawab Silang Kanga.


“Kenapa guru mereka disandera di sini, Guru?” tanya Guling Nikmat lagi.


“Hmmm …” gumam Silang Kanga.


“Maaf, Guru. Aku terlalu lancang banyak bertanya,” ucap Guling Nikmat sambil buru-buru menjura hormat kepada lelaki tua di sebelahnya.


“Tidak, tidak, tidak. Tidak apa-apa. Semua murid juga sudah tahu bahwa kita menyandera guru Jari Hitam. Guru mereka disandera karena perintah dari Ketua. Ketua menginginkan sesuatu yang sangat berharga. Jalan untuk mendapatkan benda berharga itu adalah menukarnya dengan nyawa guru Perguruan Jari Hitam,” jelas Silang Kanga.


Setiap mereka melewati pintu yang memiliki penjaga, para murid jaga segera menjura hormat kepada Wakil Ketua. Meski yang dihormati adalah Wakil Ketua, tetapi Guling Nikmat merasa menjadi bagian yang juga dihormati oleh para murid itu. Ada rasa bangga di hatinya.


Mereka berdua harus naik ke lantai tiga untuk sampai ke kamar Ketua Perguruan Bulan Emas. Di lantai tiga, semua murid yang berjaga adalah wanita. Semuanya adalah murid utama, tanpa terkecuali. Jika Buto Renggut termasuk murid utama, tetapi kedudukannya masih di bawah para murid utama pengawal Ketua dan Penjaga Lantai Tiga.


Ketika Silang Kanga dan Guling Nikmat memasuki lantai tiga yang penerangannya terang benderang, murid Penjaga Lantai Tiga segera menghormat.


“Sampaikan kepada Ketua, aku datang bersama Guling Nikmat,” ujar Silang Kanga kepada seorang murid wanita Penjaga Lantai Tiga.


“Harap menunggu sebentar, Wakil Ketua,” kata murid wanita yang masih terbilang muda itu. Ia lalu berbalik pergi meninggalkan Wakil Ketua, Guling Nikmat dan seorang rekannya.


Murid wanita itu pergi menyusuri sebuah lorong yang pada beberapa titik ada beberapa pasang murid wanita yang juga berjaga.

__ADS_1


Setelah menunggu, murid wanita itu telah kembali.


“Silakan Wakil Ketua langsung ke kamar depan Ketua,” ujar murid wanita itu.


Silang Kanga hanya mengangguk. Ia lalu melangkah pergi sambil menarik pergelangan tangan kanan Guling Nikmat, agar ikut.


Selama ini, Guling Nikmat yang memimpin langsung pemasakan menu makanan Ketua dan seluruh petinggi perguruan. Adapun penanggung jawab dipegang oleh Kepala Juru Masak Perguruan, junjungan Guling Nikmat.


Guling Nikmat tidak pernah naik ke lantai tiga. Yang pernah adalah sebatas sampai lantai dua. Ini adalah perdana baginya masuk ke lantai tiga, apalagi sampai ke kamar Ketua Perguruan Bulan Emas. Karenanya, menurutnya wajar jika Wakil Ketua sampai menggandeng tangannya.


Keduanya akhirnya tiba di depan sebuah kamar berpintu megah warna kuning berbingkai warna emas. Pintu itu dijaga oleh dua murid wanita. Keduanya langsung menghormat kepada Wakil Ketua. Setelahnya, penjaga itu membukakan pintu lebar-lebar. Semerbak harum buah jeruk seketika menyeruak keluar menyapa penciuman Silang Kanga dan Guling Nikmat.


Silang Kanga dan Guling Nikmat segera masuk.


Kamar itu tergolong besar dengan dominasi warna jingga. Di dinding ada beberapa benda hias berupa senjata dan lukisan ukiran batu yang indah.


Di dalam kamar ada sebuah kotak tirai kain besar berwarna jingga. Tipis kain tirai membuat Silang Kanga dan Guling Nikmat bisa melihat bayangan sebuah ranjang kecil yang di atasnya duduk bersila sosok wanita. Namun, keduanya tidak bisa melihat dengan jelas gambaran di balik tirai. Di depan tirai sendiri ada empat wanita separuh baya berpakaian jingga yang duduk bersila dengan kusyuk.


Dua tombak di depan kamar tirai ada enam bantal berwarna kuning emas. Di dekat deretan bantal itulah Silang Kanga dan Guling Nikmat berhenti dan turun menjura hormat kepada sosok di dalam tirai.


“Hormatku, Ketua!” ucap Silang Kanga.


“Duduklah!” perintah wanita di balik tirai dengan suara yang masih terdengar muda, padahal ia adalah guru di perguruan itu, yang seharusnya memiliki usia tua selevel Silang Kanga.


Silang Kanga dan Guling Nikmat lalu duduk di bantal yang sudah tersedia. Mereka duduk bersimpuh.


“Apakah ada berita tentang Telur Gelap dari penyusup itu?” tanya Wulan Kencana, Ketua Perguruan Bulan Emas yang duduk di atas ranjang balik tirai. Rupanya informasi sangat cepat sampai kepadanya.


“Murid Rereng Busa itu mengaku mereka tidak tahu apa-apa tentang Telur Gelap, Ketua,” jawab Silang Kanga.


“Sepertinya aku harus sabar menunggu. Tapi, jangan biarkan murid-murid Rereng Busa bertingkah di luaran. Beri peringatan terlebih dahulu, jika masih membandel, bunuh saja mereka,” kata Wulan Kencana.


“Baik, Ketua,” ucap Silang Kanga patuh.


“Guling Nikmat, apakah kau baik-baik saja?” tanya Wulan Kencana.

__ADS_1


“Murid baik-baik saja, Ketua,” jawab Guling Nikmat cepat dengan suara bergetar, menunjukkan bahwa dia nervous.


“Aku ingin memberimu tugas tambahan baru, Nikmat. Setiap makanan yang kau buatkan untukku, campurkan Racun Kehidupan dengan takaran satu genggam ….”


“Hah, ra-ra-racun?” sebut tergagap Guling Nikmat terkejut.


“Racunnya bisa kau minta kepada Ki Jandela,” kata Wulan Kencana.


“Tapi, Guru …. Itu akan …” ucap Guling Nikmat gemetar dan berkeringat dingin.


“Laksanakan saja perintahku. Guru Silang Kanga mendengar langsung perintahku ini. Tidak usah takut seperti itu,” kata Wulan Kencana.


“Ba-baik, Guru,” ucap Guling Nikmat patuh.


“Itu artinya rasa masakanmu akan terganggu oleh racun, jadi kau harus membuatnya tetap lezat,” kata Wulan Kencana.


“Baik, Guru.”


“Tugas barumu yang lain adalah buatkan makanan khusus untuk Guru Perguruan Jari Hitam yang ditahan di Kamar Batu Baja. Makanannya harus diberi Racun Gaib. Kau bisa memintanya juga kepada Ki Jandela,” perintah Wulan Kencana.


“Baik, Guru,” ucap Guling Nikmat patuh.


“Silang Kanga, jangan izinkan tamu siapa pun masuk ke perguruan, kecuali dia membawa Telur Gelap,” perintah Wulan Kencana.


“Baik, Ketua.”


“Apakah masih belum ada kabar dari Purnama Bingar?” tanya Wulan Kencana.


“Belum, Ketua. Candi Alam Digdaya sangat rumit. Jika bisa keluar pun mungkin akan membutuhkan waktu beberapa purnama,” kata Silang Kanga.


“Aku tahu itu,” kata Wulan Kencana.


“Ada satu hal yang mencurigakan dari murid Rereng Busa itu. Dia tahu tentang air terjun di perguruan kita. Aku curiga dia menyusup dibantu oleh pemandu Tikus Belukar,” ujar Silang Kanga.


“Kirim pesan peringatan kepada orang-orang kecil itu!” perintah Wulan Kencana.

__ADS_1


“Baik, Ketua.”


“Kembalilah kalian berdua!” perintah Wulan Kencana. (RH)


__ADS_2