Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 49: Ratu Pemuja Bulan


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*   


 


Bluaar!


Peraduan lima aliran listrik biru dengan sinar putih berwujud kepala burung di udara membuat si kepala burung meledak hebat.


“Huakr!” pekik Tengkorak Burung Putih dengan tubuh yang terlempar deras bersama semburan darah dari dalam mulutnya. Kekuatan aliran sinar biru begitu kuat.


Bduk!


“Hukr!”


Tengkorak Burung Putih jatuh keras menghantam dinding kubangan tanah. Darah kembali termuntahkan dalam jumlah banyak.


Semua pun terkejut melihat kejadian itu.


“Hua hua hua!” teriak Panglima Besar Anjengan girang setelah terkejut takjub.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad mengikuti dengan penuh kegembiraan.


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Holeee!” teriak Anjengan mengikuti gaya sorakan prajurit Kademangan Kubang Kepeng.


“Holeee! Hahahak …!” teriak yang lainnya, lalu tertawa terbahak-bahak karena merasa mereka lucu sendiri.


“Hahahak!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan yang keras. Kali ini terdengar khas bahwa itu adalah tawa Ratu Siluman.


Alma Fatara telah berdiri dengan mata yang bersinar biru terang dan tubuh diselimuti oleh aliran listrik sinar biru yang banyak. Sinar itu terus bergerak tidak mau diam.


“Gusti Ratu, kau baik-baik saja?” tanya Ineng Santi yang hanya berjarak dua tombak dari Alma Fatara.


“Sangat baik, Kakak. Hahaha!” jawab Alma Fatara senang, tapi wajahnya terlihat menyeramkan dengan mata yang bersinar biru seperti itu. Lalu ucapnya, “Terima kasih, Kakak Ineng. Janjiku sudah aku tunaikan. Kakek Sabit Putih sudah aku bunuh.”


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Ineng Santi sambil menjura hormat.


Tiba-tiba Alma Fatara berkelebat dan mendarat di depan pasukannya. Dia tidak terlihat seperti orang yang terluka parah.


“Siapa ratu kalian?!” tanya Alma Fatara dengan berteriak kepada pasukannya.


“Ratu Siluman!” jawab Pasukan Genggam Jagad penuh semangat, meski mereka rada-rada ngeri melihat wajah cantik sang ratu yang matanya bersinar biru dan tubuhnya berselimut listrik.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara begitu jumawa. “Dengarkan pengumuman penting dariku!”


“Baik, Gusti Ratu!” jawab mereka semua dari atas kuda masing-masing.


“Malam ini, aku telah mendapat kesaktian baru, satu-satunya kesaktian yang bisa mengalahkan kekuatan Keris Pemuja Bulan yang tidak terkalahkan. Kesaktian ini aku beri nama Ratu Pemuja Bulan. Maka, bergembiralah kalian semua!”


“Hidup Ratu Siluman!” teriak Anjengan menyambut pidato singkat ratunya.


“Hidup Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad.


“Hua hua hua!”


“Hua hua hua!”


“Wik wik wik wik wik!”

__ADS_1


“Wik wik wik wik wik!”


“Holeee! Hahahak!”


“Untuk merayakan ilmu baruku, aku perintahkan kalian bernyanyi sampai dua lawanku tumbang tuntas!” perintah Alma Fatara.


“Hah! Bernyanyi?!” ucap Anjengan dan sejumlah anggota pasukan terkejut. Mereka jadi bingung karena selama menempuh pendidikan di perguruan mereka tidak pernah diajarkan bernyanyi, bahka lagu Balonku Ada Lima mereka tidak hapal.


“Bernyanyilah kalian! Hahaha!” perintah Alma Fatara lagi.


Clap!


Alma Fatara tiba-tiba menghilang begitu saja dan muncul tiga tombak di depan Tengkorak Manis Putih.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara di depan si nenek.


“Keparat. Aku bisa merasakan aura kesaktiannya yang begitu tinggi, melebihi aura Bola Hitam. Apakah benar ini kesaktian yang bisa mengalahkan kesaktian Keris Pemuja Bulan milik Kerajaan Singayam?” batin Tengkorak Manis Putih. Pikirannya itu membuat dirinya merinding sendiri. Untung bulu yang merinding ada di balik pakaian, jadi tidak membuat malu.


Sementara itu, Anjengan dan pasukannya bingung untuk melaksanakan perintah ratu mereka.


“Panglima Putri Angin Merah, bernyanyilah!” kata Anjengan kepada Cucum Mili.


“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili.


“Kurang sopan!” bentak sejumlah pendekar kepada Anjengan pula, membuat Panglima Besar tersentak kaget.


“Sejak kapan ketua bajak laut bernyanyi?” kata Cucum Mili.


“Juling Jitu, Penombak Manis, bernyanyilah!” perintah Anjengan.


“Kami tidak bisa bernyanyi, Panglima!” sahut Juling Jitu.


“Aku pernah mendengar kalian bernyanyi saat bergumul di semak belukar,” kata Anjengan.


“Itu kidung kenikmatan, bukan nyanyian!” teriak Juling Jitu kesal dengan gigi yang dirapatkan.


“Hahahak!” tawa terbahak mereka kembali, seolah-olah sudah tidak ada beban atau rasa cemas.


“Aku pandai bernyanyi. Aku saja!” teriak Kungkang tiba-tiba dari deretan belakang.


Semua langsung memandang kepada Kungkang yang berbagi kuda dengan Jungkrik.


“Kau bisa bernyanyi, Kangkung?” tanya Anjengan.


“Bisa!” sahut Kungkang penuh antusias.


“Bernyanyilah. Kami akan mengikuti agar Gusti Ratu mendengarnya!” perintah Anjengan.


“Tong gentong-gentong Kerajaan Siluman!” teriak Kungkang mulai bernyanyi dengan ritme yang agak cepat.


“Tong gentong-gentong Kerajaan Siluman! Hahaha!”


Pasukan itu lalu mengikuti nyanyian Kungkang, lalu tertawa karena ini kesan pertama mereka bernyanyi. Yang jelas itu bukan lagi genre dangdut atau K-Pop.


“Tong gentong-gentong ratunya Ratu Ciuman!” nyanyi Kungkang lagi.


“Tong gentong-gentong ratunya Ratu Ciuman!” Pasukan mengikuti lagi, tapi dengan nada yang ragu, seolah mereka mendeteksi ada yang aneh dari syair lagunya.


“Eh ealah, salah. Maaf maaf maaf, Panglima. Maksudku ratunya Ratu Siluman!” ucap Kungkang dengan wajah meringis ketakutan sambil kedua telapak tangannya bertemu di depan dada.


“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili.


“Kurang sopan!” bentak semua anggota pasukan.

__ADS_1


Seketika itu juga, Kungkang kena mental. Ia langsung ciut ketakutan.


“Lihat! Gusti Ratu sudah bertarung kembali!” teriak Geranda tiba-tiba.


Mereka segera memusatkan perhatian ke pusat pertarungan.


“Kangkung, ayo bernyanyi lagi, tapi yang benar!” perintah Anjengan.


“I-i-iya, Panglima,” jawab Kungkang ngeri-ngeri sedap.


Di medan tarung, Tengkorak Burung Putih yang telah menderita luka parah, masih mencoba peruntungannya. Dia mengeluarkan ilmu tertingginya yang bernama Serbuan Seribu Burung.


Wess!


Ciut cit cit …!


Tengkorak Burung Putih yang sudah naik ke angkasa malam dengan tubuh bersinar putih bak Dewa turun dari langit, menghentakkan kedua lengannya ke arah bawah, lurus kepada Alma Fatara.


Tiba-tiba dari tubuh Tengkorak Burung Putih berlesatan burung-burung kecil sinar putih. Jumlahnya ratusan, membuat pertarungan itu terlihat begitu indah. Terdengar suara cuitan burung yang begitu ramai.


Karena takut menjadi korban salah sasaran, Tengkorak Manis Putih memilih pindah tempat ke titik yang aman.


Zing!


Alma Fatara mengerahkan ilmu Tameng Balas Nyawa-nya. Namun, ada yang berbeda. Kali ini dinding sinar ungu yang muncul dihiasi listrik sinar biru. Itu efek dari munculnya ilmu yang diberi nama Ratu Pemuja Bulan.


Ciut cit cit …!


“Apa?!” kejut Tengkorak Burung Putih yang masih melayang di udara.


Ratusan burung sinar itu menghujani Tameng Balas Nyawa dan memantul balik.


Yang membuat Tengkorak Burung Putih terkejut karena kecepatan serangan baliknya dua kali lipat. Burung-burung sinar yang memantul menabraki burung sinar yang datang sehingga wujud mereka berubah dua kali lipat.


Bess!


Hanya ada satu cara bagi Tengkorak Burung Putih untuk mencoba selamat, yaitu melindungi tubuhnya dengan ilmu Benteng Gajah Perang.


Satu bayangan sinar merah berwujud kepala gajah yang melebarkan kedua telinganya, muncul di depan tubuh Tengkorak Burung Putih.


Boss boss boss …!


Ratusan sinar burung itu menabrak lapisan sinar merah yang melindungi tubuh Tengkorak Burung Putih. Si kakek tidak terdorong di udara hingga sinar burung itu habis. Namun, ketika serbuan itu berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, darah berkeluaran lewat mulut, hidung, mata dan telinga si kakek.


Bdugk!


Tubuh Tengkorak Burung Putih jatuh lurus dalam kondisi tubuh berasap tanpa api dan menghantam tanah dengan keras.


Tengkorak Burung Putih langsung tidak bergerak.


Clap!


Tiba-tiba Alma Fatara sudah muncul di sisi tubuh si kakek.


“Burung Putih!” sebut Tengkorak Pengendali Sukma dan Tengkorak Sentuh Lenyap bersamaan, meski yang terkejut mereka berlima.


Dugaan Tengkorak Manis Putih dan yang lainnya adalah Alma Fatara akan memastikan kematian Tengkorak Burung Putih dengan satu serangan lagi. Karena itulah Tengkorak Manis Putih cepat bertindak.


Sezt!


Namun, sebelum Tengkorak Manis Putih melesat atau menghilang, Alma Fatara telah melesatkan sinar kuning tipis berbentuk sabit besar yang dihiasi listrik sinar biru.


Bsets!

__ADS_1


Tengkorak Manis Putih cepat menghindar dengan melompat mundur, membuat serangan ilmu Sabit Murka itu menebas dinding batu yang ada di belakang rumah Tengkorak Sabit Putih. Tercipta goresan besar yang dalam pada dinding batu tersebut, tapi tertutupi oleh gelap. (RH)


__ADS_2