Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 2: Menguasai Balongan


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Gerombolan Bajak Laut Ombak Setan menyambut pasukan berkuda dengan penuh semangat. Mereka memiliki gaya dan cara masing-masing untuk menjatuhkan pasukan kuda.


Ada yang langsung menyerang prajurit penunggangnya dan ada yang lebih dulu melumpuhkan kudanya. Ada yang menusuk dan menebas kuda dengan senjata, sehingga kuda akan tersungkur atau berlari liar. Dengan cara seperti itu, prajurit penunggang biasanya akan jatuh tidak terkendali, memberi ruang besar bagi penjahat untuk membunuh si prajurit.


Seperti Si Keong Samudera, dengan ganasnya dia mengapak leher kuda. Adapun Luli, dia melesatkan dua tambang hitamnya melilit badan prajurit dan leher kuda, lalu menariknya jatuh. Ada pula yang menggunakan panah.


Ketua Bajak Laut Ombak Setan hanya tersenyum tipis melihat pertempuran para anak buahnya. Dengan langkah cepat dia terus berjalan untuk pergi ke kediaman Adipati.


Bset!


Namun, ketika ada seekor kuda yang berlari hendak menabraknya, dia tinggal membacokkan golok gergajinya ke depan meski lawan masih jauh. Sinar biru tipis tapi berwujud lengkungan, melesat dari golok itu lalu membelah tubuh kuda dan penunggangnya sekaligus. Mengerikan.


Ternyata, pasukan kuda belum mampu mengatasi kehebatan para penjahat dari lautan itu. Selain para penjahat itu keras dan ganas, mereka juga memang tergolong sebagai kalangan pendekar.


Pasukan panah hanya bisa mendelik dan gemetar menyaksikan pasukan berkuda habis dibunuh satu demi satu. Pasukan panah yang sudah siap dalam formasi, dilanda keraguan.


“Panaaah!”


Namun, pimpinan mereka sudah berteriak memberi komando.


Set set set …!


Meski tangan mereka gemetar memegang busur, tapi anak panah tetap juga melesat. Sekitar dua puluh anak panah melesat.


Wuss wuss wuss!


Namun, beberapa penjahat menghentakkan sepasang lengannya mengirim angin pukulan, menghadang hujan anak panah yang memang kemudian tertahan di udara, lalu terbang jatuh berserak seperti sampah.


“Woi woi woi …!” teriak para penjahat itu sambil cepat berlari menyerang pasukan panah yang sudah jatuh mentalnya.


Tidak ada kata ampun, mereka pun dihabisi sampai bersih.


Mayat-mayat pun bergelimpangan di tengah Ibu Kota. Bukan hanya mayat-mayat orang, tetapi juga bangkai-bangkai kuda.


Warga Ibu Kota itu jadi panik. Semua kegiatan yang awalnya mereka lakukan di hari itu ditinggalkan.


Banyak dari mereka segera kabur meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri. Ke mana saja, asal jauh dari kelompok penjahat yang jelas-jelas sudah membunuh banyak orang, prajurit, warga hingga binatang.


“Ketua! Ada yang kabur dengan kereta kuda!” teriak seorang penjahat sambil menunjuk jauh ke kediaman Adipati.


“Belalang Laut! Kodok Pulau! Kejaaar!” teriak Ketua Bajak Laut Ombak Setan sambil menunjuk jauh.

__ADS_1


Seorang wanita bertubuh kurus berpakaian ungu dan bersenjata dua pedang segera melesat. Sekali lompat, jaraknya begitu jauh, mirip seekor belalang wujud perempuan. Dialah yang bernama Belalang Laut.


Seorang lelaki bertubuh mungil tapi berambut gondrong seperti jenglot, juga melakukan lompat jauh seperti lompatan kodok. Lelaki bersenjata sumpit itu bernama Kodok Pulau.


Keduanya melesat cepat mengejar kereta kuda yang berusaha melarikan diri bersama enam prajurit berkuda.


Dalam waktu yang sebentar, Belalang Laut dan Kodok Pulau mencapai rombongan kereta kuda. Dengan menggunakan dua parang panjang, Belalang Laut menyambar dua orang prajurit berkuda. Sementara Kodok Pulau mendarat di atap bilik kereta, mengejutkan dua orang yang ada di dalam kereta.


Dua orang yang berada di dalam kereta adalah sepasang suami istri. Si lelaki yang berusia enam puluh tahun mengenakan pakaian bagus berwarna perak dan berblangkon putih. Ia memiliki kulit wajah dan tubuh yang putih. Dia adalah Adipati Adya Bangira, mantan Bendahara Kadipaten yang dua tahun lalu diangkat menjadi Adipati Kadipaten Balongan.


Bersama Adipati adalah istrinya yang bernama Aning Sulasih. Wanita separuh baya itu masih terlihat cantik di usia yang setua itu. Dandanannya mewah oleh sejumlah perhiasan.


“Kakang, apakah kita akan di bunuh?” tanya Aning Sulasih sangat cemas.


“Semoga saja tidak,” jawab Adya Bangira mencoba menenangkan istrinya.


Fuut!


“Aakk!” jerit kusir kereta kuda seiring tubuhnya tumbang ke depan lalu terlindas roda kayu kereta.


“Aaa!” jerit Aning Sulasih ketika kereta kuda sampai terguncang miring nyaris terbalik.


Kodok Pulau yang tadi berada di atap bilik kereta telah menyumpit leher kusir yang racun jarumnya cepat membunuh.


Kini kereta kuda itu diambil kendalinya oleh Kodok Pulau. Sementara Belalang Laut sudah membunuh enam prajurit berkuda yang mengawal kereta.


Sreet!


“Aaak!” jerit Adya Bangira dan istrinya sangat terkejut, ketika sebilah parang panjang masuk menembus daun pintu bilik kereta.


Sreet!


“Aaak!” jerit Aning Sulasih saat bilah parang kedua masuk menembus daun pintu kereta. Kali ini hanya Aning Sulasih yang menjerit.


Brakr!


Ketika kedua parang itu ditarik bersamaan ke luar, daun bilik kereta jadi rusak ikut tertarik lepas dari engselnya.


Akhirnya Adipati Adya Bangira dan istrinya melihat keberadaan gadis kurus berbaju ungu dan berkulit hitam, sedang berdiri menatap mereka dengan tajam.


“Apakah kau Adipati Adya Bangira?” tanya Belalang Laut dingin sambil memanggul kedua parang di pundaknya.


Kodok Pulau lalu memunculkan dirinya di depan pintu bilik kereta.


“Hahaha! Jika tidak ingin mati cepat, lebih baik Adipati dan Ibupati menurut saja!” kata Kodok Pulau.

__ADS_1


“Iya, iya. Kami akan menurut,” kata Adipati Adya Bangira, memilih aman.


Maka ditahanlah Adipati Adya Bangira dan istrinya.


Kodok Pulau lalu membawa kereta kuda itu kembali ke kediaman Adipati. Ternyata di depan rumah Adipati sudah berdiri menunggu Ketua Bajak Laut Ombak Setan. Bersamanya ada tujuh anak buahnya yang sudah selesai bertarung dan membunuh.


Sementara belasan anak buah lainnya sedang menertibkan warga Ibu Kota Kadipaten Balongan. Semua warga Ibu Kota yang mereka tawan dikumpulkan dan diseleksi. Ada ratusan orang yang tertawan, sementara yang lainnya berhasil menyelamatkan diri keluar dari Ibu Kota atau bersembunyi.


Warga yang ditawan dikelompokkan menjadi lima kelompok, yaitu lelaki tua, lelaki muda, wanita tua, wanita muda, dan anak-anak. Lelaki dewasa yang mencoba melawan, hanya satu yang didapat, yaitu kematian. Beberapa orang ayah dan suami berubah berang ketika istri atau anak gadis mereka dilecehkan oleh para penjahat lelaki, tapi kemarahan mereka hanya sia-sia.


“Siapa kalian?” tanya Adipati Adya Bangira setelah ia dan istrinya dihadapkan ke depan Ketua Bajak Laut.


“Kami Bajak Laut Ombak Setan. Perkenalkan ….” Ketua Bajak Laut itu menepuk dadanya dengan sisi bilah goloknya. “Namaku Ronggo Palung, terkenal luas di lautan dengan nama Hantu Dasar Laut. Apakah kau takut, Adipati? Hahaha! Pasti kau takut!”


“Yang aku takutkan adalah kalian membunuh semua wargaku,” kata Adipati Adya Bangira.


“Hahaha!” tawa Ronggo Palung. “Sudah cukup banyak kami membunuh prajuritmu. Kau dan wargamu akan menjadi sanderaku selama empat belas hari. Jika Prabu Manggala Pasa tidak memenuhi tuntutanku, maka kau dan yang lainnya terpaksa kami bunuh semua.”


“Apa yang kalian inginkan?” tanya sang adipati lagi.


“Hanya dua kadipaten di wilayah pesisir, tidak banyak,” kata Ronggo Palung.


“Lapor, Ketua!” teriak Si Keong Samudera yang baru datang menghadap.


“Katakan!” perintah Ronggo Palung, lelaki berusia empat puluhan tahun.


“Semua warga sudah kami tawan. Dan kabar gembiranya, ternyata banyak gadis-gadis dan janda-janda cantik, Ketua!” ujar Si Keong Samudera.


“Eeeh! Kita ini memang ganas dan kejam, tapi jangan cabul, itu membuat malu nama besar Bajak Laut Ombak Setan dan nama besar Hantu Dasar Laut. Jika kalian ingin muncrat, lakukan saja kepada teman wanita kalian sendiri. Tapi tolong carikan aku dua gadis yang cantik buat teman tidurku!”


“Baik, Ketua!” sahut Si Keong Samudera.


“Krupuk Kerang!” panggil Ronggo Palung.


“Aku, Ketua!” sahut seorang lelaki bertubuh lebar tapi berotot. Model wajahnya juga seperti kotak dengan tulang rahang yang lebar, tapi hidung dan dagu yang pendek. Lelaki bersenjata dua kapak mungil itu bernama Krupuk Kerang.


“Pergilah ke Kademangan Dulangwesi dan periksa kerja Ratu Kepiting dan orang-orangnya!” perintah Ronggo Palung.


“Baik, Ketua!”


“Belalang Laut, temani Krupuk Kerang!” perintah Ronggo Palung lagi.


“Baik, Ketua!” jawab Belalang Laut.


“Hahaha!” tawa Krupuk Kerang senang.

__ADS_1


Belalang Laut hanya tersenyum kecil sambil melirik Krupuk Kerang. (RH)


__ADS_2