Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 25: Tragedi Tongkat yang Terulang


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


“Mendekatimu bukan cara bagus, serangan jarak jauh juga bukan pilihan tepat,” kata Pengemis Kaya.


“Hahaha!” Alma Fatara tertawa santai. Lalu katanya, “Kakek Kaya bisa mencoba dengan tongkat.”


“Kau mengerjaiku, Bocah Ompong!” rutuk Pengemis Kaya yang sudah menderita luka empat sayatan pada bagian tubuhnya. Namun, sepertinya luka itu tidak membuat si kakek lemah sedikit pun. “Tongkat ku itu adalah cara terakhir untuk membunuhmu. Aku akan menggunakan ilmu Pasukan Pengemis Gaib.”


“Oh, nama ilmu yang bagus. Aku jadi penasaran,” kata Alma.


“Rasakanlah!” teriak Pengemis Kaya sambil tiba-tiba melesat maju, tapi menghilang di tengah jalan.


Swess!


“Waw!” ucap Alma Fatara terpukau saat melihat situasi di sekelilingnya.


Tiba-tiba, kini Alma Fatara telah dikurung oleh sekitar tiga puluh sosok Pengemis Maling yang tampak nyata. Sosok-sosok serupa itu tidak terlihat ada yang tembus pandang atau seperti hologram atau sejenisnya.


“Hahaha …!” semua sosok kakek kembar puluhan itu tertawa sehingga menciptakan horor bagi Alma Fatara.


Mbah Hitam dan rekan-rekan yang menyaksikan hal itu juga terkejut. Mereka bahkan sulit untuk melihat keberadaan Alma, karena tertutup oleh pengepungan yang rapat.


“Serang!” teriak semua sosok kembar Pengemis Kaya bersamaan, membuat jantung Alma Fatara bergetar seolah ingin tengkurap.


Pada saat itu, semua sosok Pengemis Kaya bergerak maju, tetapi dengan gerakan berbeda-beda. Serangan datang tidak lagi satu per satu, tapi bisa dua per dua atau tiga per tiga.


Mau tidak mau, Alma Fatara harus bergerak seperti setan dibacakan ayat-ayat suci dalam menghindari dan menangkis semua serangan yang menggempurnya.


Blus blus blus ...!


Alma Fatara terkejut ketika ia menangkis serangan pertama. Tinju yang ditangkisnya halus, tembus tanpa wujud padat, tetapi wujud udara bergambar. Sejumlah serangan yang ia tangkis tembus menabrak tangan dan tubuhnya begitu saja, seperti bayangan.


Meski demikian, Alma tidak berhenti menangkis atau menghindar, meski sosok yang ditangkis dan yang dihindarinya itu adalah sosok halus.


Buk!


“Hugk!” keluh Alma Fatara dengan tubuh terhempas ke samping, saat satu sosok yang berhasil mendaratkan tendangannya ke lambung ternyata sosok padat manusia asli.


Sepertinya sosok yang berhasil menjungkalkan Alma adalah sosok asli Pengemis Kaya.


Setelah itu, serangan terus berlanjut menyerbu Alma Fatara yang sigap bangun kembali. Tendangan tadi memang cukup membuat nyeri lambung si gadis.


“Satu wujud asli di antara puluhan sosok hampa!” teriak Alma Fatara sambil tiba-tiba melompat lurus ke atas.


Sess! Ctar!


Seset seset!

__ADS_1


Dari atas, Alma Fatara membanting Bola Hitam ke tanah, di tengah-tengah kepungan Pengemis Kaya.


Terjadi ledakan nyaring, tapi bukan tanah yang hancur, melainkan sinar-sinar biru berlesatan ke segala arah dari hantaman itu.


Sebaran sinar-sinar biru berekor itu mengenai sosok-sosok Pengemis Kaya seperti menyerang hologram padat. Semua sosok itu tidak melakukan penghindaran dari serangan sinar-sinar biru yang memotong apa saja yang dikenainya, kecuali satu sosok.


Satu sosok Pengemis Kaya bergerak cepat sekali menghindari sinar biru berekor yang menyerangnya.


“Kena kau, Kek!” seru Alma Fatara sambil melesat cepat mengejar sosok Pengemis Kaya yang menghindar itu.


Karena sudah ketahuan, Pengemis Kaya yang asli langsung memunculkan kobaran api biru pada kedua telapak tangannya. Ia menyambut agresi pukulan dan tendangan Alma Fatara dengan api birunya.


“Benar-benar Bocah Siluman kau, Alma!” maki Pengemis Kaya saat Alma Fatara berani beradu tangan dengan api birunya.


Tus tus tus …!


“Aaak …!” jerit Pengemis Kaya saat tiba-tiba dia merasakan dadanya ditusuk oleh dua ujung Benang Darah Dewa, tapi jumlah tusukannya lebih dua puluh kali.


Kemunculan Benang Darah Dewa yang telat, sangat mengejutkan Pengemis Kaya. Orang tua itu sedikit pun tidak menyangka akan ada senjata seperti itu yang keluar dari balik jubah hitam Alma.


Setelah menjerit agak panjang, Pengemis Kaya cepat melesat mundur menjauh. Seiring itu, semua sosok bayangan Pengemis Kaya raib begitu saja. Pertarungan kembali terkesan sepi, karena tinggal Alma dan Pengemis Kaya yang asli.


Dada dan pakaian Pengemis Kaya banjir darah yang keluar dari puluhan luka tusukan Benang Darah Dewa. Selain sakit pada dadanya, Pengemis Kaya juga merasakan sakit pada jantungnya.


“Jantungmu sudah aku lubangi beberapa tusukan, Kek. Lambat laun kau akan mati karena jantung yang bocor!” seru Alma tanpa tawa. Kali ini ia terkesan berdarah dingin.


Pengemis Kaya menghentakkan kedua tangannya ke langit.


Bruasr! Boom!


Tiba-tiba dari arah langit muncul bola sinar kuning berekor, lebih besar dari kepala gajah. Bola sinar itu menukik ke arah Alma.


Buss! Bluar!


Zing!


Alma Fatara menyambut sinar besar mengerikan itu dengan hentakan tinju. Sinar ungu berpijar melesat cepat dari tinju Alma menghantam sinar yang jauh lebih besar.


Maka, ledakan dahsyat dua tenaga sakti terjadi di angkasa. Alam sekitar terguncang. Tanah sempat terlompat kecil, sejumlah dahan pohon berpatahan dan pepohonan begoyang kuat.


Bdluk!


Terdengar suara keras sesosok tubuh menghantam tanah. Itulah tubuh Pengemis Kaya yang terpental keras dengan mulut menyemburkan darah panas.


Sementara Alma Fatara tetap berdiri kokoh dengan tubuh telah terlindungi oleh ilmu perisai Tameng Balas Nyawa. Alma telah terlindungi dari gelombang ledakan dua kesaktian tadi.


“Rupanya dia memiliki ilmu Tinju Roh Bumi,” ucap Pengemis Kaya sambil dengan gerakan yang berat dia bangkit berdiri. Mulutnya penuh darah kental lagi panas. Ternyata darah juga keluar dari dua lubang hidungnya.

__ADS_1


“Jika kau mau memohon pengampunan nyawa dariku, aku tidak akan membunuhmu saat ini juga, Kek!” seru Alma Fatara.


“Tidak, aku belum mau menyerah. Aku masih punya tongkat!” seru Pengemis Kaya.


“Baik, aku beri satu kesempatan!” seru Alma.


Set! Tap!


Tongkat hitam yang sejak tadi berdiri menancap di pinggir kubangan, tercabut sendiri lalu melesat cepat ke dalam genggaman Pengemis Kaya.


Zress!


Tongkat itu lalu bersinar merah di genggaman Pengemis Kaya.


Pengemis Kaya yang sudah berdiri dengan kedua kaki gemetar, lalu melesat cepat seperti anak panah dengan tongkat menusuk. Tingginya tenaga sakti pada tongkat tersebut begitu terasa mengerikan.


Namun, Alma Fatara justru maju pula dengan gerakan yang biasa tanpa menunjukkan ilmu yang terlihat hebat.


Pak!


Telapak tangan Alma Fatara dengan meyakinkan menyambut kepala tongkat Pengemis Kaya.


“Huakrr!” teriak Pengemis Kaya dengan tubuh yang terpental balik ke belakang. Dari dalam mulutnya termuncrat darah yang banyak.


Tongkat hitam yang sudah padam jatuh sembarangan di tanah.


“Uhhuk uhhuk!” Alma Fatara terbatuk darah setelah beradu tangan dengan tongkat bersinar tadi. Itu bagian dari risiko menahan serangan yang sangat berbahaya tadi.


Dengan ilmu Tapak Rambat Daya, Alma Fatara menjadikan tongkat Pengemis Kaya sebagai media untuk menghantam lawannya. Apa yang dialami oleh Pengemis Kaya sama seperti yang dialami oleh para guru tongkat di Kadipaten Guruput, yang takluk oleh pukulan Tapak Rambat Daya.


“Siapa pemenangnyaaa?!” teriak Alma Fatara sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


“Gusti Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad di kejauhan. Mereka bersorak ramai, “Yeee!”


“Hahahak!” tawa Alma terbahak.


Setelah jatuhnya yang ini, Pengemis Kaya sudah tidak bisa bangkit. Dadanya yang penuh darah masih bergerak naik turun, artinya pendekar tua itu masih bernapas.


“Kakek Kaya, aku tidak memiliki dendam atau masalah denganmu. Aku tidak memiliki alasan untuk membunuhmu, meski aku bisa mencari alasannya. Meski aku tidak membunuhmu, Kek, tapi kau tetap akan mati, karena jantung yang bocor akan membuatmu mati kemudian,” ujar Alma Fatara yang telah berdiri tidak jauh di sisi tubuh oran tua itu.


Pengemis Kaya hanya menatap lemah wajah cantik Alma Fatara.


“Aku tawarkan pengobatan, itu bisa menyelamatkan nyawamu. Namun dengan syarat, kau menjadi abdiku, abdi Ratu Siluman Dewi Dua Gigi. Bagaimana?” ujar Alma. Lalu katanya lagi, “Jika kau menjadi abdiku, kau tidak akan menjadi kerbau untuk membajak sawah, tapi aku sedikit merampas kemerdekaanmu karena kau punya seorang ratu. Tapi itu harga yang pantas untuk nyawamu. Bagaimana?” (RH)



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2