
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Giling Saga berjuang membawa serta tubuh Guling Nikmat berenang ke pinggir.
“Guling Nikmat, sadaralah! Jangan mati sebelum kita merasakan nikmat cinta kita!” teriak Giling Saga panik, sambil sesekali ia membuat air yang masuk ke dalam mulutnya. “Bangunlah, Nikmat!”
Akhirnya Giling Saga sampai di pinggiran sungai, setelah mereka melompat terjun ke sungai belakang Perguruan Bulan Emas, lalu jatuh di air terjun. Ketika sampai di sungai bawah, Guling Nikmat sudah tidak sadarkan diri.
Buru-buru Giling Saga naik ke bebatuan pinggir sungai. Ia menarik kedua ketiak Guling Nikmat sehingga tubuhnya keluar dari dalam air, sementara kedua kakinya masih terendam di air.
Dengan perasaan panik, Giling Saga sempat terdiam karena bingung harus berbuat apa untuk menyadarkan Guling Nikmat. Saat itu dia belum tahu ilmu napas buatan. Namun pada akhirnya, ia teringat memori ketika Brata Ala menyelamatkan Kulung yang pingsan karena tenggelam di telaga.
Buru-buru Giling Saga membuka bagian bahu baju Guling Nikmat untuk mempermudah membuka dada baju wanita itu. Setelah dada atas Guling Nikmat tersingkap, tapi tidak semua, Giling Saga segera menempelkan kedua telapak tangannya di dada itu.
Saking paniknya, ia sedikit pun tidak berpikir bahwa ini pertama kalinya dia menyentuhkan tangannya ke dada seorang wanita tanpa penghalang. Ia segera memompa dada Guling Nikmat dengan tekanan kedua tangannya beberapa kali.
Setelah beberapa kali tekanan, ada air yang keluar dari dalam mulut wanita yang basah kuyup itu.
“Uhhuk uhhuk uhhuk!” batuk tersedak Guling Nikmat dengan tubuh yang terhentak-hentak. Sementara air termuncrat-muncrat dari dalam mulutnya.
“Kau tersadar, Nikmat!” pekik Giling Saga begitu gembira lalu memeluk erat tubuh Guling Nikmat.
Sementara Guling Nikmat yang baru tersadar dalam kondisi lemah, hanya pasrah. Namun, ia pun sangat senang selalu dipeluk oleh pemuda tampannya.
“Hahaha! Kita berhasil kabur dan selamat, Nikmat!” teriak Giling Saga begitu gembira.
“I-i-iya,” ucap Guling Nikmat tergagap karena kedinginan, tapi tersenyum pula.
Akhirnya Giling Saga merenggangkan tubuh mereka dan melepas pelukannya. Saat menatap kembali wajah dan dada Guling Nikmat, mendeliklah sang bujang melihat satu keindahan yang terpampang begitu dekat di depan matanya. Dalam kondisi yang mulai menggigil karena terkena embusan angin alam yang kencang, desiran kelelakian Giling Saga justru turun ke bawah perut, menciptakan ketegangan yang jarang-jarang terjadi.
Kehadiran rasa yang menegangkan itu membuat Giling Saga terdiam terpaku menatap lekat mata Guling Nikmat. Ditatap penuh makna dan misteri oleh pemuda tampan di depannya, membuat Guling Nikmat seolah tersihir. Ia pun terdiam membalas tatapan itu tanpa kedip.
Keduanya terdiam, tetapi seperti gerakan waktu, tanpa terasa wajah Giling Saga bergerak sangat halus mendekati wajah Guling Nikmat.
Berdebar kencang jantung dan berdesir liar darah Guling Nikmat menghadapi situasi itu. Namun, ia justru tidak mau menghindari atau menolaknya. Rasa indah dan bahagia di dalam hatinya seolah telah menjeratnya untuk jangan menolak cinta dan asmara yang datang.
Dan ketika bibir Giling Saga menempel di bibir dingin Guling Nikmat, keduanya tiba-tiba merasakan setruman lembut yang memberi sensasi liar, seolah-olah rasa itu datangnya dari alam gaib, karena baru kali ini mereka merasakan rasa aneh tapi membahagiakan.
Singkat cerita, melompat setengah jam kemudian.
Setelah berguling giling penuh kenikmatan, keduanya saling tersenyum bahagia ketika mereka saling bertemu pandang.
Dalam kondisi yang kedinginan, meski sudah memanaskan darah, keduanya segera mengenakan pakaian dalam mereka agar tidak terlalu dingin.
Giling Saga mengajak Guling Nikmat menjauh dari sungai sambil menenteng pakaian luar mereka yang kondisinya basah.
Tampak Guling Nikmat berjalan terpincang dan pelan-pelan seperti orang baru saja disunat.
__ADS_1
“Kenapa, Sayang?” tanya Giling Saga penuh perhatian.
“Agak sakit,” jawab Guling Nikmat dengan wajah mengerenyit sedikit, senyum sedikit, dan malu-malunya banyak.
“Agak sakit atau banyak sakit?” tanya Giling Saga berubah cemas.
“Tidak apa-apa, aku bisa menahannya, tapi aku sangat bahagia, Giling,” ucap Guling Nikmat.
“Hahaha!” tawa Giling Saga jumawa sambil merangkul bahu Guling Nikmat dan menarik tubuh wanita itu agar menempel di badan telanjangnya.
Mereka akhirnya berhenti di bawah sebuah pohon besar.
“Berikan pakaianmu, biar aku jemur,” kata Giling Saga.
Dalam kondisi hanya bercawat ria, Giling Saga menjemur pakaian mereka. Setelah itu, ia berinisiatif mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun agar bisa menghangatkan diri.
Setelah api unggun tercipta, keduanya pun duduk berdampingan di dekat api. Tidak sekedar berdampingan, Giling Saga sepertinya kecanduan untuk memeluk dan mengecup-ngecup wajah, leher hingga kulit punggung Guling Nikmat. Wanita itupun merasa bahagia dan terbuai dalam kemesraan yang mereka ciptakan.
Saat itu, begitu terasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua. Hingga beberapa jam kemudian, tiba-tiba ….
Grrr!
Tiba-tiba muncul satu suara yang sangat khas di telinga mereka, yaitu suara deheman seekor harimau. Terkejut dan seketika mematung keduanya, seiring hadirnya rasa takut.
Grrr!
Suara geraman harimua itu kembali muncul, kali ini suaranya lebih dekat, tapi tidak sedekat di belakang.
“Giliiing!” teriak Guling Nikmat.
Mendengar panggilan Guling Nikmat yang menjerit, sontak Giling Saga berhenti dan menengok ke belakang. Terkejutlah Giling Saga.
Bukan harimau yang sedang menerkam Guling Nikmat, tetapi dilihatnya Guling Nikmat berlari pelan sambil meringis menahan sakit. Giling Saga paham apa yang dialami oleh kekasihnya itu.
Ia buru-buru berlari menjemput kekasihnya.
“Maafkan aku, Nikmat!” ucap Giling Saga sambil melakukan jalan pintas, yaitu mengangkat Guling Nikmat yang saat itu hanya berpakaian dalam saja.
Graurr!
Tiba terdengar auman harimau, yang memberi tanda bahwa binatang itu sedang bersemangat atau marah.
Giling Saga cepat menengok. Ia kian terkejut ketika melihat harimau sudah berlari ke arah mereka.
Pemuda itu segera lari terbirit-birit ke batang pohon.
“Cepat naik, naik naik naik!” teriak Giling Saga panik sambil mendorong-dorong bokong sekal Guling Nikmat ke atas.
__ADS_1
Situasi darurat membuat Guling Nikmat harus menahan-nahan sakit ketika melebarkan kangkangan kakinya demi bisa naik lebih tinggi.
Sementara sang harimau besar yang berlari semakin mendekati Giling Saga. Dan ketika sang raja hutan itu sampai lalu melompat menerkam, Giling Saga sudah lebih dulu melompat tinggi sambil meraih dahan. Harimau itu lewat melintas di bawah kakinya yang ia angkat tinggi-tinggi.
Graurr!
Harimau itu kembali berbalik sambil mengaum kencang. Ia kembali mencoba kesempatan kedua yang masih ada dengan melompat mencoba menggapai kaki Giling Saga.
Namun, keberuntungan masih berpihak kepada Giling Saga. Ia berhasil menaikkan tubuhnya ke dahan yang lebih tinggi. Sementara Guling Nikmat posisinya sudah di atas kekasihnya itu.
“Naik lagi, naik lagi!” kata Giling Saga kepada Guling Nikmat.
Keduanya pun memanjat lebih tinggi agar mereka pun benar-benar merasa aman dari ancaman sang harimau.
Harimau itu akhirnya memilih berjalan mondar-mandir sambil sesekali mendongak mengaum minta makan. Terkadang pula si harimau melakukan tawaf mengelilingi batang pohon. Setelah agak lama, dia kemudian memilih merebahkan diri di bawah pohon.
Maka tinggallah Giling Saga dan Guling Nikmat menunggu di atas pohon dengan hanya mengenakan kutang dan ****** *****.
Apesnya, setelah menunggu sampai senja, situasi semakin menegangkan. Harimau yang juga sabar menunggu, justru kedatangan harimau betina. Sepasang harimau itu bukannya pergi untuk bermalam Minggu, tetapi justru mager bersama di bawah pohon.
Mau tidak mau, Giling dan Guling harus sabar hati dan raga bertahan di atas pohon. Bahkan mereka harus melalui malamnya di atas sana. Kesaktian yang hilang untuk sementara membuat Giling Saga tidak bisa menjadi pahlawan bagi kekasihnya.
Mereka berdualah yang dilihat oleh Penombak Manis saat Alma Fatara berada di pinggir sungai belakang perguruan.
Hingga pagi menyingsing, ternyata di bawah pohon masih ada harimau, tapi hanya seekor.
“Bagaimana ini, Giling?” tanya Guling Nikmat cemas.
“Kita harus bersabar. Nanti harimau itu juga akan pergi. Maafkan aku, Nikmat, aku tidak bisa menjadi pendekar untuk membuatmu aman dan nyaman,” ucap Giling Saga lemah.
“Tidak apa-apa. Yang terpenting kita bisa selamat dan nantinya kita bahagia bersama,” kata Guling Nikmat optimis.
Set! Tseb!
Graurrr!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tancapan sesuatu yang keras, disusul oleh raungan harimau.
Giling Saga masih sempat melihat lesatan sesuatu yang samar, kemudian menusuk tembus tubuh sang harimau. Binatang itu sampai terlempar terguling beberapa kali dengan sebatang tombak menancap di badannya.
Harimau itu berusaha untuk bangkit lagi, tetapi kemudian ambruk lagi dengan terbaring menyamping.
“Hihihi …!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa wanita yang nyaring. Bukan hanya satu suara wanita, tetapi ada dua jenis suara wanita yang tertawa kencang itu.
Tidak berapa lama, dua orang wanita muncul berjalan ke bawah pohon. Mereka tidak lain adalah Gagap Ayu dan Penombak Manis. Mereka tertawa sambil memandangi dua manusia yang sedang pornoaksi di atas pohon. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.