
*Episode Terakhir (PITAK)*
“Seraaang!”
“Hiaaat!”
Di saat Alma Fatara melesat maju menyerang Wulan Kencana, belasan wanita dari Pasukan Sayap Pelangi pimpinan Panglima Nining Pelangi berlompatan dari atas tebing. Mereka mendarat di tanah-tanah pasir, tetapi karena tidak ada musuh yang datang menyambut, mereka terpaksa mengamankan para lelaki berseragam cokelat.
Bug!
Anjengan mendarat belakangan, tapi tidak menimbulkan guncangan gampa. Biasa saja.
Sebagian pendekar wanita itu juga berlari masuk ke dalam gua. Di sana mereka menemukan Purnama Bingar dan empat murid Wulan Kencana lainnya.
Keempat murid yang tidak terluka segera memasang kuda-kuda. Namun sayang, mereka sudah tidak memiliki senjata piringan perak.
Gendis, Lilis Kelimis, Roro Wiro, Desah Rindang, dan Murai Ranum, sudah siap untuk bertarung.
“Turami, jangan lawan. Kita menyerah saja,” kata Purnama Bingar lirih kepada saudara seperguruannya. Ia dalam kondisi duduk bersandar pada dinding gua.
“Menyerah saja, Purnama Bingar. Guru kalian sudah pernah kalah melawan Ratu Siluman. Pasukan kami terdiri dari pendekar-pendekar sakti!” seru Roro Wiro yang mengenal Purnama Bingar.
“Baik, kami menyerah,” ucap Turami, menuruti anjuran seniornya.
Bluar!
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang membuat jantung was-was.
Entah apa yang meledak, pastinya itu bukan tabung gas di dapur. Namun, ledakan itu membuat Alma Fatara dan Wulan Kencana sama-sama terlempar mundur setombak. Keduanya tidak terjatuh dan juga tidak terluka.
Sementara di pinggiran tebing atas, berdiri Tampang Garang berdampingan dengan Gagap Ayu, Penombak Manis, Gede Angin dan lainnya yang tanpa mengurangi rasa hormat tidak bisa disebutkan satu per satu namanya.
Kesepuluh wanita cantik warna-warni dari Pasukan Sayap Panah Pelangi pun selalu siap dengan busur dan anak panahnya.
“Aku menyesal harus bertindak kasar kepadamu, Nek!” seru Alma Fatara sambil kembali melesat maju kepada Wulan Kencana.
Suus!
Wulan Kencana menyambut kedatangan Alma Fatara dengan satu lemparan sinar hijau berekor.
__ADS_1
Terlalu cepat. Seolah sudah siap dengan sambutan semacam itu, Alma Fatara begitu cepat memiringkan badan atasnya, membiarkan sinar sebesar genggaman itu lewat setipis kulit mangga di sisi kepalanya.
Bluar!
Sinar itu meledakkan batu tidak jauh dari tempat tiga Ireng berdiri, setelah mereka sempat diterbangkan oleh angin kipas Wulan Kencana.
Tek tek tek …!
Pada saat menghindar tadi, Alma Fatara melesatkan dua ujung Benang Darah Dewa-nya dari balik pakaian tanpa membuka baju lebih dulu.
Namun, Benang Darah Dewa yang biasanya sulit dilihat oleh lawan, bisa terlihat oleh Wulan Kencana. Tangan kirinya begitu cepat mengambil Kipas Raja Dunia dan langsung membukanya.
Kedua ujung Benang Darah Dewa terpaksa membentur lembaran hitam Kipas Raja Dunia. Meski hanya selembar kain tebal, tapi itu tidak bisa ditusuk tembus oleh senjata benang Alma Fatara. Sepertinya kipas itu akan lama menanggung status perawan, padahal dalam satu kejap, lebih dari sepuluh tusukan dilancarkan oleh Benang Darah Dewa, tetapi tetap tidak jebol-jebol.
Bsoss! Clap!
Wulan Kencana balas menyerang dengan tidak main-main. Ia langsung menyerang Alma Fatara dalam pertarungan jarak dekat itu dengan ilmu Jingga Perkasa. Tangan kanan Wulan Kencana melepaskan sinar jingga menyilaukan mata.
Namun, tahu-tahu sosok Alma Fatara telah lenyap seperti setan, membuat sinar jingga menyilaukan tidak mengenai target, kecuali menghantam dinding batu di sisi bawah.
Bluar!
Orang-orang di atas tebing terkejut dan tempat mereka berdiri seolah terguncang gempa. Cukup besar kehancuran batu di sisi bawah tebing.
Ketika melihat Alma Fatara muncul tiga tombak di depannya, Wulan Kencana mengebutkan Kipas Raja Dunia.
Sebidang api besar selebar beberapa depa melesat bersama angin dahsyat siap melahap Alma Fatara.
“Waw!” pekik Alma Fatara terpukau saat melihat pasir dan bebatuan yang dilalui oleh angin berapi itu terbakar dengan mudahnya, sehingga menciptakan lautan api terbatas.
Wuss!
Alma Fatara memilih terbang seperti anak panah di atas lidah-lidah api, tapi tidak sampai terjilati. Alma Fatara langsung menyasar kepada Wulan Kencana.
Swess!
Alma Fatara menyalakan satu sinar emas menyilaukan di tangan kirinya.
Namun, si nenek yang kini berjuluk Pembunuh Dari Bulan itu tidak mengenal kata gentar, sejak berpegang pada Kipas Raja Dunia.
Wulan Kencana justru terkesan menunggu Alma Fatara menghantamkan salah satu ilmu berkekuatan besarnya itu.
__ADS_1
Tangan kiri Alma Fatara sudah terangkat siap membanting sinar dari ilmu Pukulan Bandar Emas. Wulan Kencana sudah siap dengan Kipas Raja Dunia.
Swess! Bluar!
Akhirnya momentum yang ditunggu terjadi saat Alma Fatara membanting tangan kirinya. Meski ukuran Kipas Raja Dunia terbilang kecil bagi bulatan sinar emas menyilaukan, tetapi Wulan Kencana tetap berani menangkis dengan kipasnya.
Dan ketika sinar emas menyilaukan menghantam kipas, ternyata kipas itu berubah menjadi sekeras baja dan seolah ada dinding lebar tanpa wujud yang melindungi si nenek. Ledakan sinar dahsyat menyilaukan terjadi, membuat si nenek sampai memejamkan mata.
Jleg!
Alma Fatara terpental balik beberapa tombak, tetapi ia bisa mendarat dengan kokoh di tanah berpasir.
Sezt! Sezt!
Zing zing!
Semendaratnya, Alma Fatara langsung mengibaskan kedua tangannya bergantian, melesatkan sinar kuning tipis berbentuk sabit besar.
Dua sinar dari ilmu Sabit Murka melesat bersusulan menyerang Wulan Kencana. Namun, lagi-lagi Kipas Raja Dunia menjadi alat penangkis yang begitu ampuh, lebih kuat dari baja. Bahkan dua hantaman sinar sabit pada kipas tidak membuat si nenek terdorong setindak pun.
Alma Fatara tidak mau menjadi orang udik yang harus terkejut-kejut dengan kehebatan senjata baru si nenek. Ia seolah tidak mau memberi ruang bernapas kepada si nenek yang sudah tua, tapi giginya tidak tinggal dua.
Hal itu terlihat dari posisinya yang ternyata sudah berjarak setengah tombak di depan Wulan Kencana. Kali ini Alma Fatara tidak mengeluarkan sinar-sinaran.
Tek tektek …!
Alma Fatara mengagresikan Benang Darah Dewa dengan gencar. Sebanyak lebih dari dua puluh tusukan mencoba mencari celah untuk mencapai tubuh Wulan Kencana. Namun, lagi-lagi kipas hitam yang dikendalikan si nenek begitu cepat bergeser-geser menutup jalan masuk kedua ujung benang. Bahkan ketika dua ujung benang itu menusuk bersamaan pada sudut yang berjauhan, Wulan Kencana masih bisa menangkis kedua tusukan dalam satu kelebatan kipas yang sangat cepat.
“Keluarkan semua kesaktianmu, jebollah pertahananku jika kau mampu, Ratu Setan!” koar Wulan Kencana sambil menangkis semua serangan Alma Fatara.
Pak!
“Hakrr!”
Pada akhirnya, serangan itu ditutup dengan pukulan telapak tangan terbuka tanpa ada sinar kesaktian atau tenaga dalam tinggi.
Pukulan itu pun bernasib sama, diblokir oleh Kipas Raja Dunia. Namun, alangkah terkejutnya Wulan Kencana karena mendapati dirinya terhentak keras. Dia terlempar ke belakang dengan mulut menyemburkan darah.
Wulan Kencana sedikit pun tidak menyangka bahwa ternyata kipas saktinya tidak bisa memblokir kesaktian ilmu Tapak Rambat Daya. Pukulan ini memang tidak menargetkan apa yang dihantamnya, tetapi menargetkan apa yang ada di belakang benda yang dipukul.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara penuh jumawa, seolah sedang menikmati kemenangan setelaha berhasil menaklukkan pertahanan super ketat Wulan Kencana.
__ADS_1
Si nenek jatuh terjengkang dengan mulut penuh darah. (RH)