Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 33: Lawan Tangguh


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


 


Lima bola sinar merah redup tahu-tahu sudah mengepung posisi Ki Bending dengan posisi yang melayang tetap di udara.


Sementara Kluwing sedang dieksekusi oleh Semurai, janda dari Jaran Telu.


“Kluwing!” teriak Ki Bending yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat kematian muridnya.


Blar blar blar …!


Lima ledakan dahsyat sinar merah yang sangat panas terjadi mengepung Ki Bending.


Namun, pada saat itu, tubuh Ki Bending sudah diselimuti kurungan sinar putih bening seperti kaca. Ilmu perisai Ruang Tidak Terusik itu membuat Ki Bending tidak tersentuh oleh bahaya dari ilmu Lima Mata Setan Neraka.


Selanjutnya, di udara muncul sekelebat wanita berpakaian putih menyandang pedang yang sudah terhunus. Wanita cantik itu tidak lain adalah Narisantai, pendekar wanita pemilik kesaktian Lima Mata Setan Neraka. Setelah urusannya di kediaman Raden Gondo Sego selesai, dia langsung pergi ke tempat itu.


Narisantai mendarat halus di tanah di sisi selatan Ki Bending, membuat orang tua itu terkurung posisinya.


“Sial! Situasi ini tidak aku duga sama sekali. Bagaimana bisa Raden Runok Ulung kebal sedemikian hebatnya?” batin Ki Bending.


“Kami harus membunuhmu juga, Ki Bending. Cukup jelas kau pun terlibat dalam kematian adikku. Kedudukanmu sebagai guru dari Kluwing sudah cukup sebagai alasan bahwa kau terlibat!” seru Narisantai.


“Jika ingin membunuhku, lakukanlah. Aku ragu bahwa kalian akan sanggup melakukannya!” seru Ki Bending pula yang sudah melenyapkan ilmu Ruang Tidak Terusik-nya.


“Kita buktikan!” teriak Semurai sambil melempar pedangnya dengan cara berputar baling-baling.


Wuut!


Ki Bending langsung memasang telapak tangannya ke depan, membuat pedang itu berhenti di udara, tepat di depan telapak tangan Ki Bending.


Sets!


Ki Bending cukup menghentakkan sedikit lengannya, membuat pedang yang telah membunuh Kluwing itu melesat balik menyerang Semurai.


Semurai bisa menghindar lalu ia berlari maju dengan kedua tangan menghentak.


Seset!


Maka sepuluh paku sinar biru melesat berombongan menyerang Ki Bending. Lagi-lagi Ki Bending memasang telapak tangannya menyambut serangan paku-paku sinar tersebut. Kesepuluh sinar itu kemudian berhenti melesat dan melayang tertahan di depan Ki Bending.


Brossk!


Namun, pada saat itu pula, Semurai telah sampai dan membanting seberkas sinar merah kepada Ki Bending.

__ADS_1


Ki Bending melesat menghindar sangat cepat meninggalkan tempatnya, membuat tanah tempatnya tadi berdiri hancur berlubang dalam.


Set set set!


Lesatan tubuh Ki Bending justru disambut oleh serangan pedang Narisantai yang ganas, karena setiap gerakan pedang itu ada lukisan garis sinar merah tercipta.


Setelah menghindar beberapa kali, barulah Ki Bending berani menangkis pedang itu tanpa terluka sedikit pun.


“Lawan yang berat rupanya!” desis Narisantai.


Tiba-tiba dia melempar pedangnya ke belakang. Pedang itu tidak jatuh ke tanah, tetapi melayang di udara dengan selimut sinar kuning keemasan.


Seets! Bluar!


Pedang itu kemudian melesat menyerang Ki Bending yang menyambut pedang itu dengan tinju bersinar biru. Hasilnya adalah ledakan tenaga sakti yang ternyata menghancurkan pedang Narisantai menjadi serpihan logam. Adapun Ki Bending hanya terjajar tiga tindak.


Hal itu membuat Narisantai terkejut.


Semurai telah berkelebat dengan kedua tangan membawa sinar merah. Serangan Semurai membuat Narisantai juga cepat bertindak, menyerang Ki Bending dari dua arah. Narisantai juga membawa dua sinar merah pada kedua tangannya.


Menghadapi dua penyerang wanita itu, Ki Bending kembali memasang ilmu Ruang Tidak Terusik.


Brossk brossk! Blar blar!


Empat hantaman sinar merah bertenaga sakti tinggi menghantam lapisan sinar putih bening yang mengurung tubuh Ki Bending.


Setelah itu, giliran Ki Bending yang menyerang dengan cara dia meninju bumi di tempatnya berdiri.


Bugg!


Bom bom bom …!


Ketika tinju Ki Bending menghantam tanah, satu gelombang tenaga dalam yang begitu besar menyebar cepat ke segala penjuru. Akhirnya, belasan ledakan keras terjadi di sekeliling area. Beberapa batang bawah pohon sekitar ikut hancur yang kemudian bagian atasnya ambruk.


Narisantai dan Semurai kompak melompat menghindari gelombang pertama, tetapi ketika ledakan serentak terjadi di sekitar mereka, kekuatan ledakan itu membuat tubuh keduanya terlempar liar.


Raden Runok Ulung yang sedang mengamati pertarungan, harus terkena imbas juga, tetapi kekebalannya membuat ia tidak terluka sedikit pun.


Tahu-tahu Ki Bending melesat cepat mengejar tubuh Semurai yang terpental di udara.


Semurai terkejut saat melihat Ki Bending tahu-tahu sudah berada di atas tubuhnya dengan tinju bersinar biru.


Jross!


Ketika Ki Bending menghantamkan tinjunya ke tubuh Semurai, wanita cantik itu menahan dengan sinar merahnya.

__ADS_1


Jboks!


Tubuh Semurai melesat cepat ke bawah dan menghantam bumi dengan keras. Darah kental langsung tersembur dari mulut Semurai.


Setelah itu, Semurai tidak bisa bangkit lagi selain menggeliat kesakitan.


“Hoekh!” Semurai muntah darah panas.


Setelah melumpuhkan Semurai, giliran Narisantai yang diincar oleh Ki Bending.


Narisantai yang merasakan tubuhnya gemetar karena hantaman kekuatan ledakan massal tadi, cepat mempersiapkan ilmu pertahanannya.


Brogs!


Ketika Ki Bending datang dengan tinju bersinar birunya, Narisantai mengerahkan ilmu Telapak Benteng. Kondisinya yang tidak stabil saat itu, membuat Narisantai menahan tinju maut tersebut dengan telapak yang memancarkan sinar hijau.


Tingginya kekuatan tinju Ki Bending yang bernama Tinju Dunia Dewa itu, membuat tubuh indah Narisantai terpental deras dan jatuh di tanah akar pohon.


“Hoekh!” Narisantai muntah darah kental lagi panas.


Meski kondisi Narisantai lebih baik dari Semurai, tetapi ia pun sepertinya sudah tidak bisa melawan. Ki Bending terlalu sakti baginya.


Sess! Bluar!


Tahu-tahu selarik sinar hijau menyerang Ki Bending, bisa disebut itu adalah serangan membokong dari Raden Runok Ulung. Namun, insting Ki Bending yang tajam, membuatnya masih sempat menahan sinar itu dengan Tinju Dunia Dewa-nya.


Kurangnya persiapan dalam menahan serangan Raden Runok Ulung membuat Ki Bending terjajar beberapa tindak, tetapi terlihat dia masih baik-baik saja.


“Amankan Narisantai dan Semurai!” teriak Raden Runok Ulung.


Sejumlah centeng yang sejak tadi menonton dari jauh, segera berlarian mendapati tubuh Narisantai dan Semurai. Ternyata Narisantai masih bisa berjalan, meski terhuyung. Sementara Semurai harus digotong ramai-ramai.


Kini Raden Runok Ulung dan Ki Bending berdiri saling berhadapan.


Sementara itu, Alma Fatara dan keempat sahabatnya masih setia menjadi penonton dari jarak aman.


“Kau tidak akan menang, Bending,” ujar Raden Runok Ulung.


“Sepertinya aku harus mengurungkan niatku untuk menguasai kadipaten ini,” kata Ki Bending pula. “Tapi kau harus membayar kematian muridku, Raden.”


“Orang hina akan tetap hina. Sama sepertimu yang hidup tanpa ada gunanya!” kecam Raden Runok Ulung.


Perkataan bangsawan itu membuat Ki Bending tersinggung.


“Aku yang akan membuatmu mati terhina, Raden. Kau akan mati di tangan orang hina sepertiku!”

__ADS_1


“Lakukan jika memang kau punya taring dan cakar!” tantang Raden Runok Ulung. (RH)


__ADS_2