
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Clap!
Tiba-tiba di sisi Ringgi muncul Silang Kanga seperti setan sulap.
“Setaaan!” teriak histeris Suraya Kencani penuh amarah sambil menunjuk Silang Kanga.
Cring! Sreeet!
Rantai panjang yang dialiri sinar emas seperti listrik melesat cepat menyerang Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas itu. Serangan itu benar-benar mengandung rasa amarah yang tinggi.
Clap!
Tuk tuk tuk!
Dengan sorot mata yang tajam kepada wanita gila itu, Silang Kanga dengan tenang menghilang, membuat utas rantai besar itu membabat tanah kosong.
Silang Kanga tahu-tahu muncul di sisi Suraya Kencani. Ia langsung memberikan tiga totokan pelumpuh gerak dan suara pada wanita gila itu. Seketika Suraya Kencani mematung dengan napas memburu, seolah menaruh dendam kepada si orang tua.
Dengan mematungnya Suraya Kencani, maka tenanglah Silang Kanga.
“Rupanya kesaktianmu telah kembali lagi, Cantik!” bisik Silang Kanga di dekat telinga Suraya Kencani. “Akan aku lumpuhkan lagi kesaktianmu dan membuatmu semakin gila.”
Serss!
Kelima jari tangan kanan Silang Kanga tiba-tiba bersinar hijau gelap berhawa sangat dingin. Namun, sebelum Silang Kanga melakukan sesuatu dengan kesaktian di jari tangannya itu, tiba-tiba terjadi sesuatu.
“Setaaan!” teriak Suraya Kencani tiba-tiba dengan tangan kiri mengibas menghantam keras dada tua Silang Kanga.
Bek!
“Hugk!” keluh Silang Kanga dengan tubuh terlempar ke belakang.
Ternyata Suraya Kencani bisa bebas dari totokan pada tubuhnya.
“Setan babi pemerkosaaa!” teriak Suraya Kencani keras dan histeris, sambil dia berbalik dan bekelebat memburu tubuh Silang Kanga.
__ADS_1
Sreeet! Sisss!
Bsis! Bluar!
Ujung rantai beraliran sinar emas seperti listrik melesat cepat memburu tubuh Kilang Sanga. Seiring itu, tangan kiri Suraya Kencani melesatkan segumpal sinar merah gelap seperti darah kotor.
Bertepatan dengan kakinya berpijak pada tanah setelah terlempar, Silang Kanga dengan cepat melompat menghindari ujung rantai. Namun, kedatangan sinar merah gelap begitu cepat menyusul, membuat Silang Kanga hanya bisa menciptakan lapisan sinar biru jenis tenaga perisai di depan tubuhnya.
Hantaman sinar merah gelap pada ilmu perisai itu menciptakan ledakan tenaga sakti yang hebat. Terbukti, orang sesakti Silang Kanga terpental hebat sederas lesatan anak panah, menghantam satu tiang kayu besar. Sedemikian kerasnya hantamannya, tiang itu sampai terbongkar dari tancapannya di tanah. Tiang itu tumbang berdebam ke tanah.
“Setan babi pemerkosaaa!” teriak Suraya Kencani lagi sambil melesat cepat di udara, seolah tidak mau memberi Silang Kanga ruang untuk balik melawan.
Dalam lesatannya itu, Suraya Kencani memukulkan kedua tangannya ke arah bawah, seperti orang menggebrak meja.
Bruss!
Pada saat itu juga, dari dalam tanah dengan pola lingkaran besar yang mengurung posisi Silang Kanga, melesat larik-larik sinar merah panjang yang naik mengudara dengan garis lesatan melengkung ke dalam, lalu ramai-ramai jatuh menghujani posisi Silang Kanga.
Silang Kanga yang kondisinya sudah terluka dalam, tidak bisa menghindar selain mengandalkan ilmu pertahanan terakhirnya, yaitu Cangkang Keong Dewa. Silang Kanga hanya berposisi bersujud sesempit mungkin. Ada sinar hijau berwujud cangkang keong yang muncul, menutupi seluruh tubuh si kakek agar terlindung dari keganasan ilmu Hujan Bumi milik Suraya Kencani.
Blar blar blar …!
Memang tidak ada satu pun sinar merah yang mengenai telak tubuh Silang Kanga, tetapi daya ledaknya yang tinggi memberi guncangan keras pada tubuh si kakek berulang kali dalam tempo yang sangat rapat.
Setelah serangan Hujan Bumi berhenti, Silang Kanga masih meringkuk dalam sujudnya di dalam cangkang sinar.
“Setan babi pemerkosaaa!” teriak Suraya Kencani keras dan histeris lagi.
Kali ini Suraya Kencani telah membuat tangan kirinya yang lurus ke langit bersinar putih menyilaukan mata. Bola sinar putih menyilaukan berpijar seram di genggaman dan tangan hingga ke lengan bersinar putih terang.
Set set set …!
Sebelum Suraya Kencani melepaskan kesaktian pamungkasnya yang bernama Surya Putih, tiba-tiba dari sisi lain berlesatan sepuluh piringan sinar emas. Ilmu bernama Sepuluh Purnama Kematian itu dilepaskan oleh Ringgi untuk sekedar mengganggu Suraya Kencani.
Ringgi tahu bahwa kondisi guru keduanya itu sedang tidak bagus setelah dihantam serangan bertubi-tubi.
Sreeet! Tring ting ting …!
Mengetahui serangan ilmu Sepuluh Purnama Kematian yang tersohor keganasannya, Suraya Kencani cepat menghentakkan tangan kanannya. Rantai panjang yang beraliran sinar listrik emas, bergerak cepat sedemikian rupa membabat semua piringan sinar emas hinga ambyar semua. Seiring itu, rantai panjang milik si wanita gila juga berhancuran.
__ADS_1
Bsess!
Clap! Bsoass!
“Aakk!” pekik Suraya Kencani keras dengan tubuh terpental kencang ke belakang.
Apa yang dialami oleh Suraya Kencani bermula ketika tangan kirinya juga melesatkan sinar putih berpijar menyilaukan mata kepada cangkang sinar.
Namun tiba-tiba, sesosok wanita berpakaian serba jingga muncul di dekat tubuh Silang Kanga. Bersamaan dengan munculnya, satu kilatan sinar jingga menyilaukan mata pula muncul menghadang sinar putih.
Satu ledakan tenaga sakti yang dahsyat terdengar mendesis keras. Seiring itu, tubuh Suraya Kencani terpental hebat lalu jatuh keras dan terseret di tanah.
Namun, wanita gila itu cepat bangkit separuh badan untuk melihat siapa yang telah melindungi Silang Kanga.
“Hormat kami, Guru!” ucap Ringgi dan seluruh murid Perguruan Bulan Emas, saat mereka menyadari bahwa orang yang menghadang kesaktian Suraya Kencani adalah Ketua Perguruan Bulan Emas, yaitu Wulan Kencana.
Sosok wanita berpakaian serba jingga itu adalah seorang wanita beraga muda, seperti gadis berusia tiga puluhan tahun. Ia begitu cantik dengan bibir berwarna jingga pula. Wanita berkulit putih terang itu memiliki mata yang bersorot tajam dengan alis tipis tapi panjang, seperti bentangan sayap elang. Sejumlah perhiasan emas berbatu permata menghiasi kepala dan tubuhnya. Ia pun memiliki sebuah piringan logam tapi berwarna merah kejinggaan di pinggang kanannya. Wanita itu benar-benar terlihat anggun.
Wanita cantik jelita itulah yang bernama Wulan Kencana, ketua dan guru tertinggi di Perguruan Bulan Emas.
Setelah peraduan dua kesaktian itu, sebanyak sepuluh murid utama perguruan segera muncul berkelebatan di udara. Mereka semua mendarat di sekeliling Wulan Kencana. Empat wanita berposisi berlutut satu kaki di depan gurunya. Enam lainnya berdiri di sisi belakang sang guru dalam posisi siap bertarung. Sepasang tangan mereka sudah memegang piringan masing-masing.
“Kesaktianmu telah kembali, Kencani. Pergilah ke mana kau mau pergi. Jangan pernah lagi datang ke perguruan ini!” seru Wulan Kencana kepada wanita gila yang sebelumnya disebut sebagai “adik ketua” oleh Ringgi.
“Setan, setaaan!” teriak Suraya Kencana histeris dengan mulut yang penuh darah. Rupanya ia menderita luka parah karena beradu kesaktian dengan kakaknya.
“Biarkan wanita gila itu pergi. Jika kalian menghalanginya, kalian akan mati di tangannya!” seru Wulan Kencana kepada murid-muridnya.
“Setan babi pemerkosa pasti mati seribu kali di dalam neraka bajingan selamanya jadi setaaan!” teriak Suraya Kencani keras.
Wanita gila itu lalu bangkit berdiri, kemudian berlari kencang dengan tubuh yang masih terlilit rantai. Sementara rantai panjangnya yang tadi ia jadikan senjata sudah tidak ada karena hancur.
Setelah kepergian Suraya Kencani, cangkang sinar yang melindungi Silang Kanga lenyap. Kakek itu kemudian bergerak oleng ke samping dan tergeletak terlentang dengan mulut dan dagu penuh darah.
“Bawa Wakil Ketua dan panggil Ki Jandela untuk mengobati!” perintah Wulan Kencana singkat.
Setelah berkata seperti itu, Wulan Kencana tahu-tahu telah lenyap dari tempatnya berdiri. Kesepuluh pengawalnya segera berlari teratur meninggalkan tempat itu. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1