Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 12: Penghakim Agung


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


 


“Hormat kami, Penghakim Agung!” ucap Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman sambil turun berlutut dan meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah, saat melihat kedatangan Alma Fatara.


“Hormat kami, Penghakim Agung!” ucap Kepala Desa Raja Lebah Peminat sambil turun dengan kedua lututnya dan meletakkan kedua telapak tangannya di tanah, saat melihat kepada si cantik Ratu Siluman.


“Hormat kami, Penghakim Agung!” ucap beberapa kakek dan nenek warga Desa Pendekar Tua, saat melihat wajah cantik Alma Fatara.


Terkesiap Alma Fatara dan para personel Pasukan Genggam Jagad melihat penghormatan para orang sepuh itu.


Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek yang posisinya agak jauh di belakang bersama pasukan, lebih terkejut, saat mendengar sebutan “Penghakim Agung”. Tanpa sepakat, kedua pemuda itu buru-buru pergi mendekati posisi Alma Fatara dan para tetua itu.


Saat keduanya tiba dan melihat wajah jelita Alma Fatara, mereka segera turun berlutut dua kaki dan meletakkan kedua telapak tangannya di tanah.


“Hormat kami, Penghakim Agung!” ucap kedua pemuda itu.


“Apa yang kalian lakukan, para Tetua?” tanya Alma Fatara heran, tidak mengerti. “Bangunlah, Nek! Bangunlah kalian semua!”


Alma Fatara segera menghampiri Tengkorak Pedang Siluman dan mengangkat kedua lengan si nenek gemuk.


Semuanya bergerak bangkit berdiri kembali.


“Apa yang terjadi, Nek?” tanya Alma Fatara.


Ia lalu memandang kepada kedua tetua Keluarga Tengkorak dan kepada Raja Lebah Peminat yang genitnya seolah-olah raib dimakan usia.


“Gusti Ratu telah diangkat sebagai Penghakim Agung oleh Eyang Kubur Biru,” jawab Ratu Tengkorak.


“Apa itu Penghakim Agung?” tanya Alma Fatara benar-benar tidak mengerti.


“Penghakim Agung adalah kedudukan nomor dua di dalam Keluarga Tengkorak setelah Eyang Kubur Biru. Penghakim Agung adalah hakim Keluarga Tengkorak. Semua perintah dan keputusannya wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota Kelurga Tengkorak dan warga Desa Pendekar Tua, termasuk oleh Eyang Kubur Biru,” jelas Ratu Tengkorak.


Terbeliak cantiklah Alma Fatara mendengar penjelasan tersebut. Pikirnya, berarti dia diberi amanah baru oleh Eyang Kubur Biru.


Beberapa waktu sebelumnya, ketika Alma Fatara masih berada di dalam ruangan biru bersama Eyang Kubur Biru.


Setelah sinar hijau terang yang muncul dari penempelan telapak tangan Eyang Kubur Biru pada dahi Alma Fatara, tangan tua itu kemudian ditarik pulang.


“Jangan khawatir, Alma. Anggota Keluarga Tengkorak yang mendendam kepadamu tidak akan berani lagi. Aku hanya mengatakan, harga yang harus kau bayar dengan datang menemuiku adalah beban kebaikanmu akan bertambah.”


“Aku tidak mengerti, Eyang,” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Nanti kau akan mengerti dan kelak kau akan mengerti,” kata Eyang Kubur Biru penuh misteri.


Setelah obrolan itu, Alma Fatara diizinkan pamit.


Ketika dia keluar dari ruangan itu lewat pintu, tahu-tahu dia sudah berjalan di luar dari jalan masuk Tanah Kutukan. Setelah menengok sebentar ke kanan dan kiri, ia berjalan menuju ke Desa Pendekar Tua, di mana terlihat Ratu Tengkorak, Tengkorak Pedang Siluman, Raja Lebah Peminat dan yang lainnya menunggu.


Ketika Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman pertama melihat wajah Alma Fatara, mereka melihat di dahi ratu itu ada sinar hijau berpola tengkorak kepala manusia ukuran kecil. Namun, Alma Fatara tidak mengetahui adanya gambar sinar di dahinya.


Selain kedua nenek Tengkorak, Raja Lebah Peminat dan warga Desa Pendekar Tua bisa melihat tanda sinar di dahi Alma Fatara. Demikian pula kemudian dengan dua Tengkorak muda, yaitu Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek.


“Bagaimana kalian tahu bahwa aku diangkat sebagai Penghakim Agung, Nek?” tanya Alma Fatara kemudian.


“Di dahi Gusti Ratu ada gambar tengkorak yang bersinar hijau. Itu hanya bisa dilihat oleh Keluarga Tengkorak dan warga Desa Pendekar Tua,” jawab Ratu Tengkorak.


Alma Fatara lalu meraba dahinya, tetapi ia merasakan dahinya tetap licin.


“Gusti Ratu hanya bisa melihatnya dengan cara bercermin di air kelapa merah,” kata Tengkorak Pedang Siluman.


“Tapi aku butuh alasan kuat, kenapa aku, Nek. Aku terlalu muda dan aku bukan anggota Keluarga Tengkorak,” kata Alma Fatara.


“Eyang Kubur Biru adalah orang yang bijak dan selalu beralasan kuat dalam menentukan keputusan. Apalagi dalam mengangkat seorang Penghakim Agung. Meski Gusti Ratu masih terlalu muda dan bukan seorang Tengkorak, tetapi aku yakin, Eyang Kubur Biru memiliki alasan yang kuat,” kata Ratu Siluman.


“Eyang memang mengatakan, nanti kau akan mengerti dan kelak kau akan mengerti. Nanti kau akan mengerti, sepertinya sudah aku mengerti dari Nenek berdua. Kelak kau akan mengerti, seperti akan terjawab di kemudian hari atau berbilang bulan,” ujar Alma Fatara.


“Hormat kami, Penghakim Agung!” ucap serentak banyak suara kakek-kakek dan nenek-nenek.


Ternyata semua warga Desa Pendekar Tua telah berkumpul dan memberi hormat kepada Alma Fatara.


“Bangunlah, para Tetua!” seru Alma Fatara agak lantang.


Warga Desa Pendekar Tua yang berjumlah sekitar tiga puluhan saja itu, segera bangkit berdiri lagi. Ada yang masih tegak tulang punggungnya, ada yang agak bungkuk, dan sudah ada yang bungkuk seperti Ratu Tengkorak.


“Lalu bagaimana?” tanya Alma Fatara kepada Ratu Tengkorak.


“Silakan Gusti Ratu melanjutkan rencana Gusti,” jawab Ratu Tengkorak.


“Aku sudah mendapat petunjuk dari Eyang Kubur Biru. Jadi aku harus berangkat menuju Kerajaan Jintamani,” kata Alma Fatara.


Ratu Siluman lalu berjalan ke arah pasukannya beristirahat.


“Kakek Guru, apakah kau baik-baik saja?” tanya Alma Fatara saat melintas di depan Raja Lebah Peminat.


“Hehehe! Jika kepada Ratu Siluman aku masih berani genit. Namun, tidak kepada Penghakim Agung,” jawab Raja Lebah Peminat sambil tertawa cengengesan.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Lalu katanya, “Aku izin pamit, Kakek Guru.”


“Apakah tidak sebaiknya kalian makan wortel lebih dulu?” tanya Raja Lebah Peminat.


“Terima kasih. Aku tidak mau merepotkan para Tetua. Nanti kami akan makan di perjalanan saja,” kata Alma Fatara.


“Jika Gusti Ratu bertemu putra kebanggaanku itu, sampaikan salamku,” pesan Raja Lebah Peminat.


“Baik, Kakek Guru,” ucap Alma Fatara. Ia lalu menghormat kepada Raja Lebah Peminat.


“Panglima, kita berangkat ke Kerajaan Jintamani!” seru Alma Fatara kepada Anjengan.


“Baik, Gusti Ratu!” sahut Anjengan.


“Kali ini aku dan Pedang Siluman tidak akan ikut ke Jintamani,” ujar Ratu Tengkorak.


“Baik, Nek. Aku sangat berterima kasih atas bantuan kedua Nenek,” kata Alma Fatara lalu menjura hormat dengan membungkuk agak dalam.


“Seorang Penghakim Agung tidak pantas menghormat seperti itu kepada anggota Keluarga Tengkorak,” kata Tengkorak Siluman Pedang.


“Tidak apa-apa, Nek. Aku menghormat bukan sebagai Penghakim Agung, tetapi layaknya sebagai cucu kepada neneknya,” kata Alma Fatara.


Tengkorak Pedang Siluman hanya mengangguk.


“Jika Gusti Ratu memerlukan bantuan Keluarga Tengkorak, maka perintahkanlah kami, kami akan melaksanakan. Bayang Putih dan Telur Bebek akan menjadi abdi setia Gusti Ratu,” ujar Ratu Tengkorak.


“Iya, Nek. Aku sudah menguasai ilmu Titah Mimpi. Nantinya akan mudah bagiku jika aku memerlukan bantuan Nenek,” kata Alma Fatara.


“Siapa kitaaa?!”


Tiba-tiba telah terdengar teriakan Panglima Besar Anjengan di depan sana.


“Pasukan Genggam Jagad!” sahut semua personel Pasukan Genggam Jagad yang sudah berbaris rapi dan siap berangkat.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi.


“Hua hua hua!” teriak pasukan pula.


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik! Hahaha!”


Semua warga Desa Pendekar Tua melongo terperangah mendengar ramainya yel-yel tersebut. Sebelumnya Anjengan dan pasukannya memang tidak pernah beryel-yel di desa tersebut.

__ADS_1


“Berangkaaat!” teriak Alma Fatara sambil berkelebat naik ke kereta kuda. (RH)


__ADS_2