
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Juling Jitu menatap tanpa kedip wajah Penombak Manis yang ada di bawahnya, dalam jarak yang begitu dekat. Hidung pesek Penombak Manis memang sedikit merusak suasana hati Juling Jitu, tapi setidaknya keberadaan Sisik Putri Samudera di kening wanita itu memberi bumbu manis pada wajahnya.
Dalam jarak yang begitu dekat itu, Penombak Manis juga tidak berkedip menatap wajah tampan Juling Jitu yang sudah menindih tubuhnya tanpa pakaian. Meski tampan, tetap saja kejulingan mata Juling Jitu sedikit merusak selera bercinta.
Namun, kini mereka sudah resmi sebagai suami istri. Juling Jitu pun sudah tidak bisa membiarkan keperkasaannya terus-terusan mengejang tanpa jelas kapan mau rileksnya. Demikian pula dengan Penombak Manis, dia juga sudah bergairah sejak ia ditetapkan sebagai calon pengantin. Ia mengajukan diri untuk menikah dengan Juling Jitu karena di hatinya memang ada rasa suka kepada si juling sebanyak sepuluh persen. Ia jatuh cinta karena Juling Jitu memang tampan di saat tidur.
Tidak peduli istrinya tak secantik Kembang Bulan atau Gagap Ayu, Juling Jitu pun memulai aksi menunggang kuda di tempat. Tidak ada alasan untuk menolak makanan di saat perut sangat lapar, makanan apa pun itu, asalkan halal tanpa perlu logo halal dari departemen mana pun.
Demikian pula bagi Penombak Manis, baginya, Kakang Juling Jitu hanya punya satu kekurangan, yaitu matanya saja. Ia pun sudah tidak mau menunggu lebih lama untuk ditunggangi.
Karena terbakar pengaruh dari pil perkasa Cumi Merah, Juling Jitu tidak pakai tahapan pemanasan lagi.
Wik wik wik! Wik wik wik!
Namun, baru saja Juling Jitu menggebah enam kali hentakan, keduanya jadi diam terkejut. Juling Jitu jadi berhenti dan menatap mata istrinya. Pasangan pengantin baru itu saling tatap tegang.
Pengantin baru itu kini berada di atas sebuah balai-balai bambu beralaskan rerumputan hijau yang ditata sebagai karpet alami. Balai-balai itu dibuat seperti model ranjang berkamar. Pada setiap sisi balai-balai dipasang dinding daun yang rapat, yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kamar daun tanpa atap. Dengan demikian, kegiatan wajib suami istri itu bisa aman dari pandangan orang dan hewan.
Yang jadi masalah bagi Juling Jitu dan Penombak Manis, ketika sang suami mulai menggebahi sang istri, ranjang asmara darurat itu berdecit "wik wik wik" dengan keras. Tampaknya ranjang asmara itu belum melalui tahapan uji coba saat dibuat, sehingga struktur bambunya berbunyi ketika digoyang kencang.
Ketika suara "wik wik wik" itu berbunyi kencang, Alma Fatara dan rekan-rekan yang sedang pesta ayam hutan dan ikan bakar jadi terkejut dan terdiam. Mereka saling pandang dengan bibir tersenyum.
Namun, sebelum ada tawa yang pecah gegara mendengar suara goyangan bambu ranjang itu, Alma cepat memberi isyarat agar diam dan menahan tawa. Alma pun saat itu sedang menahan tawa dengan kuat.
Memang, jarak ranjang asmara dengan tempat Alma berkumpul tidak terlalu jauh, tapi tidak sampai terlalu dekat.
"Suara ranjangnya berisik sekali, Kakang," bisik Penombak Manis.
"Kurang ajar si Tampang Garang, kenapa buat ranjangnya bisa berisik seperti ini?" gerutu Juling Jitu juga, tapi setengah berbisik.
"Bagaimana kalau ranjangnya roboh?" tanya Penombak Manis.
"Kau akan tetap sebagai istriku. Ah, tidak peduli. Sekali sudah malu, biar malu dan enak sekalian!" tandas Juling Jitu.
Wik wik wik ...!
Tidak mau ambil pusing dan daripada Juling Jitu kecil jadi pusing, Juling Jitu besar pun melanjutkan gebahannya, berpacu dalam melodi. Maka suara decitan ranjang bambu itu kembali terdengar "wik wik wik".
__ADS_1
"Hahahak ...!"
"Hihihik ...!"
Mendengar kembali suara "wik wik wik" yang semakin masif, Alma Fatara dan pasukannya akhirnya tidak bisa menahan tawa. Tawa mereka pecah parah.
"Mereka menertawakan kita, Kakang!" kata Penombak Manis.
"Bukan. Kau tahu sendiri, Gusti Ratu dan yang lainnya memang suka tertawa," bantah Juling Jitu tanpa menghentikan genjotannya. Intinya dia sudah tidak peduli, meski jika nanti ranjang itu sampai roboh. "Ini harus tuntas, bagaimana pun kondisinya!"
"Iya, Kakang. Aah!" ucap Penombak Manis, lalu berujung dengan *******.
Setelah tanpa sadar dia mendesah enak, Penombak Manis buru-buru membekap mulutnya sendiri.
Wik wik wik ...!
Suara decitan ranjang bambu terus terdengar.
"Ah ah ah ...!"
Suara ******* nikmat Penombak Manis semakin tidak bisa ditahan atau dibuat mode senyap. ******* itupun terdengar jelas oleh Alma dan rakan-rekan, membuat mereka semaki heboh dan terus tertawa.
"Baik, Gusti Ratu!" ucap para abdi sang ratu.
"Hahaha ...!"
Sambil tertawa-tawa, Tampang Garang, Geranda, Gede Angin, Anjengan, Gagap Ayu, dan Alis Gaib, ramai-ramai bangkit dan berlari menyerbu ranjang pengantin.
"Angkat angkat angkat!" teriak Anjengan berkomando.
Alangkah terkejutnya Juling Jitu dan Penombak Manis saat mendengar suara berisik rekan-rekan mereka yang datang mendekati ranjang asmara. Juling Jitu dan Penombak Manis jadi bergaya patung, mencoba menerka apa yang akan dilakukan oleh Anjengan cs. Mereka panik dalam keterdiamannya.
Mau tidak mau, kenikmatan yang sedang mereka bangun dengan gesekan demi gesekan, jadi terhenti dan drop total, seperti terjun ke dasar laut terdalam.
Pengangtin baru itu semakin panik ketika suara-suara teman-teman mereka terdengar jelas ada di sekeliling ranjang sambil tertawa-tawa. Anjengan cs benar-benar berada di balik dinding daun.
"Angkaaat!" seru Anjengan lantang, sampai-sampai Juling Jitu dan istrinya mengerenyit kebisingan.
"Satuuu, duaaa, tigaaa!" teriak Anjengan dan rekan-rekan menghitung, terdengar begitu semangat bergotong royog.
__ADS_1
Juling Jitu dan Penombak Manis dibuat bingung dan panik, saat ranjang pengantin mereka bergerak terangkat lalu bergerak karena digotong ramai-ramai.
"Hei, Setan Hutan! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Juling Jitu marah sambil memandangi dinding-dinding daun kamar asmaranya yang masih utuh, meski bergoyang ketika diangkatpindahkan.
"Mohon maaf atas gangguan yang kalian tidak harapkan. Semoga asmara yang tertunda sebentar ini, terbayar dengan rasa yang lebih luar biasa!" sahut Anjengan.
"Hahaha ...!" tawa orang-orang yang sedang begitu gembira mengangkat ranjang asmara darurat itu.
Wajah Juling Jitu dan Penombak Manis hanya bisa memerah kelam menahan marah, malu, dan entah rasa apa lagi.
"Turunkan!" perintah Anjengan.
Setelah perintah itu, pengantin bisa merasakan bahwa ranjang asmara mereka telah diturunkan dan tidak bergoyang lagi.
"Silakan lanjutkan, sahabatku Juling Jitu dan Penombak Manis! Hahaha!" kata Anjengan, suaranya begitu dekat di balik dinding. Lalu terdengar tawa kerasnya yang bergerak menjauh.
Anjengan dan yang lainnya bergerak cepat menjauh setelah meletakkan ranjang asmara di satu titik yang cukup jauh dari pusat bakar-bakaran.
Anjengan dan rekan-rekan pulang sambil tertawa ramai.
Lega perasaan Juling Jitu dan Penombak Manis.
"Ayo lanjutkan, Kakang!" kata Penombak Manis merengek.
"Iya, ayo. Beruntung, punyaku selalu tegang!" kata Juling Jitu, berubah semangat lagi.
"Kata Gusti Ratu, tegangnya bisa selama dua hari," kata Penombak Manis.
"Hah!" kejut Juling Jitu. "Tapi tidak apa-apa, asalkan kau kuat juga. Hahaha!"
"Hihihi!" tawa Penombak Manis pula.
Juling Jitu pun melanjutkan aksi perkasanya.
Wik wik wik …!
“Ah ah ah …!”
Kali ini, suara berisik pengarungan asmara pengantin itu sudah tidak terdengar oleh Alma Fatara dan pasukannya. (RH)
__ADS_1